Yang Terakhir

Yang Terakhir
136. Dia Tidak Bersalah


__ADS_3

Sepeninggal Arga, Raka hanya tergolek lemas di ranjang besar nan empuk. Susah payah dia berjalan sambil terhuyung menuju tempat tidur yang bisa membuatnya lebih nyaman itu. Arga memang menghadiahinya beberapa pukulan yang membuatnya tak lagi bisa membalas.


Ya. Arga sudah tidak sanggup lagi menahan emosi yang bergejolak di hatinya. Pria karismatik itu semakin sakit hati melihat Raka yang sepertinya tidak menyesal telah menghancurkan dirinya, terutama Hania.


Arga dan Raka sempat beradu otot tanpa ada yang melerai. Namun, Arga bukanlah tandingan Raka. Meskipun pria itu juga memiliki kemampuan bela diri yang baik, tapi kemampuannya itu tidaklah cukup untuk memgalahkan Arga. Jangankan mengalahkan, untuk menyamai kemampuan Arga saja dirinya harus berusaha sekuat tenaga. Arga sudah dilatih oleh sang paman yang alih-alih ingin mencelakainya tapi justru membuat sang keponakan menjadi semakin tangguh.


Meskipun beberapa kali berhasil memukul mundur dan membuat wajah mantan sahabatnya itu memar dan terluka, tapi tetap saja dirinya tidak bisa benar-benar mengalahkannya. Justru dirinya yang menjadi bulan-bulanan Arga. Sial!


Raka menghembuskan napas berat. Matanya lekat menatap langir-langit kamar berwarna putih. Bayangan tubuh Hania yang terlihat menggairahkan di matanya ketika dirinya menggagahi wanita cantik itu kembali terlintas di benaknya. Membuat sesuatu di dalam hatinya bergetar. Namun, bayangan itu perlahan pudar. Berganti dengan bayangan Hania yang menangis dan memohon padanya dengan wajah sendu.


Raka lagi-lagi menghembuskan napas berat. Kedua bayangan itu sepaket. Melintasnya selalu bersamaan. Membuat hatinya menjadi sesak. Mengingat wajah sendu wanita cantik itu, pria tampan itu merasa bersalah. Entahlah.


Disatu sisi Raka merasa puas telah bisa menghancurkan Arga. Tapi disisi lainnya, rasa bersalah yang bercokol di hatinya kian membesar. Semacam merasa menyesal telah menyakiti Hania. Merasa tidak seharusnya dia memperlakukan wanita lembut itu begitu.


"Aaargh!" pekiknya, mencoba menghalau rasa yang bercampur aduk di dada.


Sejak awal Raka bertemu Hania, pria tampan itu merasakan sesuatu yang berbeda. Wanita cantik itu terlihat lebih menarik dibandingkan wanita-wanita cantik dan seksi yang sering dijumpainya. Hania terkesan 'mahal' di matanya.


Dan setelah dirinya merasakan tubuh wanita itu, membuatnya semakin yakin jika Hania memanglah 'mahal'. Membuatnya merasa dirinya amatlah bejat. Perasaan yang tidak pernah muncul meskipun sudah meniduri beberapa perawan yang disodorkan padanya.


"Maafin aku Hania." batin Raka, hatinya semakin sesak setiap menyebut nama itu.


Klek!


Raka mengalihkan tatapannya ke arah pintu yang terbuka dari luar. Sosok Rizal, dokter tampan yang selalu tampil kalem itu muncul lagi di kamarnya.


"Kenapa ngga minta maaf dan akui kesalahan lu aja, sih?" ucap Rizal seraya membersihkan luka-luka di wajah Raka.


Dinasehati begitu, Raka hanya melirik sahabatnya itu sekilas lalu mendengus.


"Untung Arga ngga lepas kendali. Cuma bikin lu babak belur doang. Kalau gue jadi dia, udah gue cekek lu." lanjut Rizal yang juga kesal pada sahabat keras kepalanya itu.


"Lu ngga tau apa-apa. Lu cuma liat dari sudut pandang dia doang. Lu ngga ngerasain gue." sergah Raka datar.


Rizal menghentikan kegiatannya lalu menatap Raka. Benar. Dia hanya melihat kejadian itu dari sudut pandang Arga saja. Tapi dirinya tetap tidak membenarkan perbuatan pria itu. Raka dianggapnya sangat keterlaluan.


"Apapun alasan lu, lu tetap aja salah. Siapapun akan menilai kalau lu salah. Jadi stop ngomong gue ngga tau apa-apa. Ngga ngerasain yang lu rasain. Apa lu lupa? Kita ini berlima kemana-mana selalu bareng. Ngga jarang kita nginep bareng-bareng di apatemen Darren. Apa-apa kita lakuin bareng-bareng. Siapapun yang lagi kasmaran, kita dukung rame-rame. Termasuk lu. Dan kalau patah hati kita juga hibur rame-rame. Bagian mananya yang gue ngga tau? Sebagai sahabat, gue ini ngerti banget sahabat-sahabat gue itu gimana. Termasuk lu." ucap Rizal panjang lebar menegaskan siapa dirinya.


Sementara Raka hanya mampu mendengarkan lontaran kalimat-kalimat Rizal. Pria itu membenarkan setiap ucapan dokter itu.


"Gue yang paling ngga pernah menilai elu. Tapi kali ini dengerin gue. Apa yang terjadi sama Rindy, itulah yang dipilih cewe itu. Dia bisa saja memilih jalan lain kar'na selalu ada pilihan. Dan lu ngga harus merasa bersalah apalagi bertanggung jawab membalaskan kematian cewe itu. Arga ngga salah. He's absoloutely right! Dia nolak cewe itu udah bener. Kar'na Arga ngga suka dia, percuma kalau cuma pura-pura. Dia tahu perasaan lu. Lu cinta sama cewe itu. Jadi dia ngga langsung ngerespon saat itu juga. Selain dia ngga mau cewe itu malu atau sakit hati, dia ngehargain elu." Rizal mencoba membuka mata dan hatinya Raka.


"Gue juga nyayangin sikap lu yang pengecut. Terlalu lembek untuk ukuran cowo yang jatuh cinta sama cewe. Ngga serius berjuang." cibir Rizal seraya membereskan alat-alat yang dibawanya untuk mengobati Raka.


"Gue tahu dia cinta sama Arga. Makanya gue ngga bisa ngungkapin perasaan gue ke dia. Gue takut, setelah dia tau kalau gue cinta sama dia, hubungan kita jadi renggang." akhirnya Raka mengungkapkan ketakutannya selama ini.

__ADS_1


"Itu kar'na lu ngga mau berjuang. Dan ketakutan lu bener-bener terjadi. Hubungan kalian jadi renggang dan lu bahkan kehilangan dia selamanya." timpal Rizal lagi.


"Dulu lu punya kesempatan jadiin Rindy milik elu tapi lu sia-siain. Harusnya lu berusaha mengalihkan perhatiannya dari Arga atau dari bullyan teman-temannya dengan melimpahinya dengan kasih sayang yang elu punya buat dia, tapi lu ngga peka. Keadaan yang seharusnya bisa lu jadiin sebagai peluang buat merebut hati cewe itu malah lu sia-siain. Mungkin waktu itu lu justru sibuk menyusun strategi membals Arga." Rizal mencibir Raka lagi.


Dulu, Raka memang lebih banyak berkumpul dengam para sahabatnya daripada mendampingi Rindy. Apalagi berusaha merebut perhatian dan melimpahi gadis itu dengan kasih sayangnya. Hubungannya dengan Arga masih baik-baik saja sampai gadis cantik berkacamata itu ditemukannya sekarat di kamarnya. Dari situlah rasa bencinya pada Arga mulai bersemi.


Sudah 4 hari sang Ibu menempati ruang icu itu. Keadaannya masih sama. Belum sadarkan diri. Hania yang kini sedang berada di dalam ruangan itu, masih menggenggam jemari sang Ibu.


"Bu, pasti Mas Arga udah bilang sama Ibu, kalau aku nerima lamarannya. Berkali-kali aku selalu nolak ajakannya menikah, aku jadi ngerasa bersalah. Waktu itu, aku cuma ngga pede dan over thinking aja sama kondisiku. Tapi Mas Arga selalu yakinin aku untuk percaya sama dia. Umm... Bukan. Dia maksa aku untuk percaya sama dia." ucap Hania seraya tersenyum dan menggenggam tangan wanita paruh baya itu.


"Ibu juga selalu dukung aku. Ngga pernah nganggap aku sebelah mata. Bahkan ibu menyayangiku dengan tulus. Membuat aku semakin yakin kalau aku akan baik-baik saja nerima lamaran Mas Arga." lanjutnya seraya mengusap air matanya yang sudah berlinang.


"Mas Arga kasih aku cincin ini." Hania meletakkan jari telunjuk ibunya Arga di atas cincin pemberian Arga dan menggerakkannya di atas cincin itu.


"Cincinnya manis 'kan Bu?" tanya Hania yang pasti tidak akan mendapat jawaban.


"Ibu tau? Dia ngasih ini 2." Hania terkekeh lalu mulai bercerita bagaimana Arga melamarnya dengan detil, tidak ada yang terlewatkan.


"Ngga tau konsep darimana dia ngelamar kayak gitu." Hania lagi-lagi terkekeh, wanita cantik itu merasa geli ketika membayangkan momen ketika Arga melamarnya.


Ketika Hania sedang mengenang cara Arga melamarnya, tiba-tiba jari jemari sang Ibu yang masih dalam genggamannya bergerak sangat halus, membuatnya reflek melepas genggamannya. Saking halusnya Hania sampai sangsi. Tapi indera perabanya tak pernah salah.


Wanita cantik itu sensitif dengan gerakan atau sentuhan sekecil apapun yang akan membuatnya geli. Hania menatap telapak tangannya. Hania masih bisa merasakan geli di sana karena gerakan halus sang Ibu.


Suster itu mengikuti saran Hania. Memeriksa sang Ibu begitu juga dengan segala peralatan yang menempel di tubuh sang Ibu. Hania yang tau diri tidak ingin mengganggu pun keluar dari ruangan itu, tapi terus memperhatikan tindakan yang dilakukan suster itu.


Tak berselang lama dokter Dana dan 2 seorang suster lagi memasuki ruangan icu itu. Tadi Hania melihat suster itu menekan alarm yang terhubung ke ruang perawat.


Setengah jam berlalu, akhirnya pemeriksaan pada sang Ibu selesai. Entah apa saja yang dilakukan dokter dan perawatnya di dalam sana, yang jelas Hania bahkan tidak bisa duduk tenang karena cemas. Entah semakin membaik atau sebaliknya keadaan wanita paruh baya itu.


Klek!


Hania langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka dari luar. Sosok pria tampan yang menjadi bahan berghibahnya dengan sang Ibu barusan tengah berdiri di balik pintu yang terbuka, menatapnya. Hania terkejut melihat luka dan lebam di wajah pria tampan itu.


"Ibu kenapa?" tanya Arga panik dan sudah akan memakai baju khusus membuatnya urung bertanya.


"Ibu baru diperiksa, Mas. Tadi jari ibu bergerak." terang Hania.


Arga menoleh pada Hania. Lalu menggantung kembali baju khusus itu di tempatnya semula.


"Kamu tahu? Apa tadi kamu masuk ke sana?" selidik Arga yang diangguki Hania.


"Tadi aku cerita ke ibu gimana Mas ngelamar aku, trus aku tunjukin cincinnya ke ibu." ucap Hania.


"Aku ngga liat langsung sih cuma kerasa di telapak tanganku, jari ibu gerak. Kerasa geli." Arga menyunggingkan senyumnya, dia tahu Hania sensitif dengan gerakan halus yang akan membuatnya geli.

__ADS_1


Dokter Dana keluar dari ruangan icu. Wajahnya terlihat lebih santai daripada saat pria yang juga tampan itu masuk ke dalam ruangan itu.


"Ibu gimana, Bang?" tanya Arga yang beralih menatap dokter itu.


"Sejauh ini perkembangannya lebih baik. Ibu udah bisa merespon suara di sekitarnya. Sering-sering aja ajak ibu komunikasi." saran Dana seraya menatap Arga lalu Hania.


"Bisa jadi karena kabar baik itu." sambung Dana seraya melirik jari Hania yang tersemat cincin berlian.


Mata Dana tak sengaja menangkap pemandangan yang sebelumnya tidak ada di sana ketika dokter itu menatap Hania barusan. Sebuah cincin berlian dengan manisnya melilit jari manis wanita cantik itu.


Arga dan Hania mengikuti arah lirikan Dana. Sebuah cincin di jari Hania. Cincin yang kemarin diberikan Arga sebagai alat pengikatnya pada wanita yang dicintainya itu. Arga menghela napas lalu mengusap tengkuknya. Pria tampan itu mendadak canggung. Begitu pula Hania.


"Aku turut berbahagia untukmu. Kita doakan ibu cepat sembuh dan ikut merasakan kebahagiaan kalian." ucap Dana lalu memeluk adik angkatnya.


Mata Dana berkaca-kaca. Pria itu terharu. Sama dengan sang Ibu, dia juga ingin Arga menemukan pasangan hidupnya lagi. Dan kini keinginannya dan sang Ibu mulai terwujud.


"Makasih, Bang. Abang juga, jangan kerja terus. Sekali-kali ambil cuti panjang trus pergi liburan. Siapa tau ketemu bidadari." Arga menekan kalimat terakhirnya membuat Dana terkekeh.


"Sudah sana. Temui Ibu!" perintah Dana.


"Ngomong-ngomong, kebiasaan lamamu kambuh lagi atau gimana? Datang ke ruanganku setelah nemuin Ibu." sambungnya.


"Selamat ya. Aku juga turut bahagia untukmu." ucap Dana seraya memegang bahu Hania, wanita cantik itu membalasnya dengan senyumnya.


"Tanganmu, Bang!" Sentak Arga.


Dana berdecak. Adik angkatnya itu sungguh posesif memang. Tapi kenapa baru sekarang bersikap begitu? Berbeda dengan mantan istrinya dulu, pria tampan itu tidak bermasalah jika dirinya memegang, cipika cipiki, bahkan saling berpelukan untuk mengekspresikan dukungannya.


"Ini kenapa, Mas? Kok bisa lebam gini, sih?" tanya Hania seraya menyentuh wajah Arga setelah Dana meninggalkan mereka.


"Ngga apa-apa, honey. Cuma lebam. Abis nagih utang aku tuh." seloroh Arga.


Hah? Hutang apa sampai babak belur begitu dalam menagihnya?


"Ngga usah mikir aneh-aneh, honey." ucap Arga lalu memeluk wanitanya.


"Aku sedang menagih utang untukmu, honey." batin Arga.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote tiap senin, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.


🤗🤗🤗😘

__ADS_1


__ADS_2