Yang Terakhir

Yang Terakhir
91. Tidak Akan Mengalah


__ADS_3

Arga terpesona menatap Hania yang baru saja merias diri. Sebagai wanita dewasa, Hania tidaklah buta sama sekali tentang make up. Dia adalah tipe orang yang cepat belajar dan pandai menyesuaikan diri.


"Cantik." puji Arga tanpa sadar.


Meski pria tampan itu mengakui Hania adalah wanita yang cantik tapi dirinya tidak pernah melontarkan pujiannya secara terang-terangan seperti sekarang ini. Biasanya dia hanya akan mengungkapkannya dalam hati saja. Tapi demi melihat penampilan Hania yang berbeda dari biasanya, Arga spontan memuji wanita yamg memang cantik itu. 


"Baru sadar kalau aku cantik?" goda Hania yang mendengar pujian itu.


Sebenarnya Hania merasa senang Arga memuji penampilannya. Artinya pria tampan itu menyukai hasil polesannya yang sedikit tebal dari biasanya tapi masih terkesan natural. Sangat cocok untuk wajah Hania yang terkesan lembut. Dia juga gugup ketika Arga tak lepas menatapnya.


"Ehem! Kita berangkat?" ajak Arga setelah menetralkan kekagumannya.


"Aku siap." sahut Hania seraya tersenyum, senyum yang menular pada Arga.


Sedan mewah Arga memasuki hotel dimana mitra bisnisnya menanti kedatangannya. Kali ini dengan langkah penuh semangat Arga memasuki restoran yang juga terdapat di sana. Tentu saja sambil menggandeng Hania.


Dengan langkah penuh pesona, wajah tampan dan tubuh tinggi proporsional Arga kontan menarik perhatian kaum hawa yang lebih ekspresif menunjukkan ketertarikannya. Berbeda dengan para pria yang lebih mengagumi Hania dalam diam, meski mata melotot dan mulut menganga. Yang pastinya langsung mendapat teguran dari para pasangannya yang tidak merasa perbuatannya juga salah. Sepertinya, dimana-mana wanita tidak pernah salah.


Seorang pria paruh baya dan istrinya yang masih cantik di usianya yang tak lagi muda itu langsung berdiri ketika melihat Arga mendekat. Mengulurkan tangan yang disambut Arga dengan hangat dan jabatan yang erat. Ekspresi tak suka langsung tampak jelas di wajah dua paruh baya itu ketika melihat tangan Arga yang melingkar posesif di pinggang wanita cantik itu.


"Maaf membuat Pak Fadhil dan ibu menunggu. Saya harap belum terlambat." ucap Arga berbasa-basi.


"Ah. Ngga kok. Kami juga baru saja duduk di sini. Putri kami juga belum turun. Dia ingin tampil secantik mungkin menyambut Nak Arga." sahut Bu Fadhil yang membawa-bawa putrinya.


Hania menghela napas perlahan seraya tersenyum meskipun hatinya berdenyut. Dia cemburu.


"Apa-apaan ibu ini? Rupanya ingin mengenalkan putrinya pada pria seksiku. What!? Pria seksiku? Sudah bolehkah aku menyebutnya begitu?" monolog Hania dalam hatinya.


"Ohya, perkenalkan ini Hania, calon istri saya." Arga memperkenalkan Hania dan tidak menanggapi ocehan Bu Fadhil tentang putrinya.


Kali ini Hania merasa bangga diperkenalkan sebagai calon istrinya Arga. Tentu saja karena Arga melakukannya untuk alasan yang jelas. Pria tampan itu sudah mengakui mencintainya.


Dengan enggan kedua paruh baya itu mengulurkan tangannya pada Hania. Meski begitu Hania menerima uluran tangan itu dengan tulus.


"Silakan duduk Nak Arga." Pak Fadhil mempersilakan Arga duduk.


Arga menarik kursi dan menyesuaikannya ketika Hania sudah duduk. Semua tindakan Arga tidak lepas dari tatapan suami istri paruh baya itu.


Tak berselang lama datanglah seorang wanita muda yang cantik dan seksi dengan backless dressnya yang bagian dadanya berpotongan rendah. Sedikit saja menunduk, buah dadanya yang berisi implan itu langsung menonjol separuh. Panjangnya pun hanya sejengkal dari pangkal pahanya yang putih mulus. Tanpa memerlukan banyak gayapun aset paling berharganya yang terbungkus dalaman transparan akan terlihat. Sungguh suguhan yang menggoda iman.


Hania langsung melirik Arga yang tengah menatapnya penuh cinta. 


"Valerie, sini Sayang." sambut Pak Candra dan meminta putrinya yang bernama Valerie itu duduk di sebelahnya. Itu artinya duduk di sebalah kanan Arga.

__ADS_1


Hania semakin panas saja karena duduk Arga bersebelahan dengan wanita itu. Apalagi tampaknya wanita itu benar-benar memanfaatkan posisi itu dengan menempel-nempel pada Arga.


"Hai Mas Arga, apa kabar? Lama ngga ketemu ya kita, jadi kangen." sapa Valerie dengan genitnya seraya mengulurkan tangannya dan hendak mencium pipi Arga tapi pria tampan itu langsung menghindar.


Arga enggan menerima uluran tangan Valerie tapi tetap menerimanya. Tangan Valerie langsung menggenggam tangan Arga dan menahannya lebih lama hingga Arga menariknya dengan paksa dengan tatapan datarnya.


"Eh? Maaf maaf. Aku kebawa suasana. Abisnya udah lama ngga ketemu." senyum Valerie seraya mengedipkan sebelah matanya, membuat Arga semakin jengah.


"Ehem! Kenalkan, ini Hania. Dia calon istri saya." Arga tak ingin berbasa basi terlalu lama dengan wanita bernama Valerie itu.


"Calon istri?" tanya Valerie tak percaya.


"Iya. Calon istri saya." sahut Arga mantap.


"Ma, Pa? Kok bisa?" Valerie menatap orangtuanya, wanita itu masih sulit menerima bahwa Arga memiliki calon istri.


"Sudah-sudah, ayo kita makan dulu. Keburu dingin nanti." ucap Bu Fadhil memecah ketegangan.


Mereka menikmati makan malam yang sudah dipesan sesaat setelah Arga datang tadi dengan banyak drama.


"Ohya. Nak Hania ini bekerja? Dimana?" tanya Bu Fadhil memecah keheningann tapi lebih seperti mengejeknya.


Hania menghela napasnya perlahan. Wanita cantik itu tahu kemana arah pertanyaan nyonya Fadhil Chandra itu. Meski dibalut suara yang lembut dan wajah yang ramah tapi terasa sekali jika pertanyaan itu menyudutkannya.


"Milik sendiri?" tampak sekali jika wanita paruh baya itu mencari letak kelemahannya.


"Ah. Ya. Kebetulan milik sendiri." jawab Hania seraya tersenyum.


Sementara Hania disibukkan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaannya Bu Fadhil, Arga dibuat jengah oleh tingkah laku Valerie.


"Mas Arga coba ini deh, ini wagyu kualitas baik di restoran ini." tawar Valerie seraya meletakkan steak wagyu ke piring Arga.


"Ohya? Tapi maaf saya tidak makan itu, ngga suka." Arga langsung memindahkan steak wagyu ke piring Hania.


"Kamu yang suka steak, kamu coba ini ya, Han?" pinta Arga dengan suara lembut seperti biasanya ketika pria itu berbicara pada Hania, membuat wanita yang sedang mengobrol itu menoleh.


Wajah Valerie langsung berubah masam. Wanita seksi itu menatap sinis pada Hania. Arga bahkan memanggil wanita itu 'honey'. Apa bagusnya dia sih? Valerie mendengus kesal.


"Mas, aku dan mama papa masih di sini besok sebelum berangkat ke Swiss. Besok temeni aku ya. Aku mau shopping, trus abis itu kita nonton." rayu Valerie sambil melingkarkan tangannya ke lengan Arga dan menempelkan *********** ke lengan berototnya Arga yang langsung ditepis oleh Arga.


Hania hanya berusaha menahan kesal dalam diam demi menyaksikan Arga digoda di depan matanya. Ekspresi wajahnya berubah-ubah. Kadang mendelik, memberengut, mencebik, yang membuat Arga gemas. Ingin rasanya mencubit pipi mulus itu atau menciumnya. Lalu wanita cantik itu akan mengomel. Membayangkan Hania mengomel, pria tampan itu tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.


Ya. Pria tampan itu tak lepas memperhatikan Hania. Lirikan matanya selalu mengarah pada wanita cantik itu.

__ADS_1


"Maaf, saya sibuk belakangan ini. Tidak ada waktu untuk main-main." tolak arga dengan nada datar.


"Sepulang kerja deh." rayu Valerie sembari mengelus lembut lengan kokoh Arga.


Arga mendelik. Dia tidak suka kontak fisik yang berlebihan dengan wanita manapun kecuali Hania. Pria berkarisma itu menghela napasnya lalu melepaskan tangan Valerie yang masih mengelus-elus lengan Arga dengan sedikit sentakan. Tentu saja Valerie terkejut. Membuat wajahnya semakin masam.


"Saya ngga bisa menyia-nyiakan waktu untuk hal yang ngga penting!" tolak Arga penuh sindiran, tapi pria itu tetap mengontrol emosinya demi menghormati pasangan suami istri di hadapannya.


"Tapi Mas punya waktu untuk dia!" tuding Valerie ke arah Hania seraya menatapnya tajam, membuat Arga mengeraskan rahangnya.


Hania langsung menoleh ketika dituding Valerie. Wanita lembut itu menatap Valerie. Dia tak percaya wanita itu begitu kukuhnya menarik perhatian Arga yang jelas-jelas sudah menolaknya. Dasar tak punya malu!


Kali ini, Hania tidak akan mengalah. Dia menyukai Arga, bahkan mencintainya. Dia akan mempertahankan pria seksinya itu siapapun rivalnya. Dia tidak mau terluka lagi. Wanita cantik itu menelusupkan tangannya ke lengan Arga dan mengusap-usapnya dengan lembut. Dia tahu Arga sedang menahan emosinya menghadapi tingkah Valerie.


"Bukannya kamu sudah tau, dia ini calon istri saya. Sudah pasti akan menjadi prioritas dalam hidup saya, Valerie." ucap Arga datar.


Semua tingkah Arga dan Valerie tidak lepas dari perhatian kedua orangtua Valerie. Melihat penolakan Arga yang terang-terangan itu, pasangan suami istri itu tidak suka.


"Ohya, Nak Arga. Soal kucuran dana yang pernah saya tawarkan beberapa waktu yang lalu, masih bisa kamu pertimbangkan. Pikirkan baik-baik kesempatan itu. Dengan begitu Nak Arga ngga perlu pusing-pusing lagi mencari investor." ucap Pak Fadhil memecah ketegangan.


Arga mengalihkan tatapannya ke arah Pak Fadhil. Dia tahu  pasti maksud dari ucapan pria tua di hadapannya itu. Keinginannya untuk menjodohkannya dengan putrinya membuat pria itu tidak segan menekan mitra bisnisnya. Bahkan yang sekelas dengan Arga. Meskipun terbilang muda, tapi kesuksesannya setara dengan pengusaha yang lebih berumur darinya. Pria tua itu terbiasa memanfaatkan situasi mitra bisnisnya. Tapi dia Arga. Pria mandiri yang tidak mudah terintimidasi.


Arga tersenyum lalu menunduk. Meraih tangan Hania, menggenggamnya lembut, lalu membawanya ke atas pangkuannya. Hania langsung menoleh menatap pria tampan di sampingnya itu dan membalas genggaman itu seolah mengerti jika Arga membutuhkan dukungannya. Sedikit menyerongkan tubuhnya ke arah Arga. Wanita cantik itu mengusap lengan pria yang mencintainya itu.


"Bukannya tujuan kita menjalin kerjasama ini untuk berkembang dan maju bersama, Pak Fadhil? Andapun juga sudah merasakan hasilnya." ungkap Arga sambil menekan emosinya.


Sebenarnya Arga ingin memaki mitra bisnisnya itu dan putrinya sekaligus. Berani-beraninya pria tua itu menekannya. Tapi usapan-usapan lembut jari-jari Hania seolah menenangkan emosinya yang bergejolak.  


"Saya berharap kerjasama kita tetap berjalan dengan baik, meskipun ada tujuan yang ingin kita raih secara pribadi tidak tercapai." ucap Arga diplomatis.


"Dan lagi saat ini perusahaan sudah mulai stabil dan kedepannya akan lebih baik lagi. Saya bisa jamin itu." Arga berucap mantap seraya menyunggingkan senyumnya menatap pria tua di hadapannya.


Pria paruh baya itu tersenyum meski terkesan dipaksakan. Berita bagus yang didengarnya dari Arga tak lantas membuatnya lega karena sebenarnya bukan itu tujuannya datang menemui pria muda itu. Apalagi melihat wajah putrinya yang cantik itu sudah menekuk tak karu-karuan. Pak Fadhil ingin hubungan kerjasama itu berubah menjadi hubungan keluarga yang aka.n memperbesar perusahaannya.


Dia melirik Hania. Apa lebihnya wanita itu? Tetap lebih unggul putrinya. Sudah cantik, lulusan S2 Cambridge University pula. Sudah pasti lebih berkelas dibanding wanita yang dipilih Arga itu.


******


Thanks for reading!


Like dan favoritkan supaya ngga ketinggalan ceritanya.


Jangan lupa vote tiap hari SENIN 🤗🤗😘

__ADS_1


__ADS_2