Yang Terakhir

Yang Terakhir
31. Makan Siang Bersama


__ADS_3

Drrrt drrrt drrrt.


Getar ponsel Adi terdengar mendengung seperti lebah di dalam ruangan Arga yang sedang hening. Arga melirik seolah berkata, cepat angkat!


"Maaf Pak, saya terima panggilan ini dulu", Adi meminta izin dan segera meninggalkan ruangan Arga setelah atasannya itu memberinya izin.


Sekeluarnya Adi dari ruangannya, Arga memilih menyibukkan diri dengan berkas berkas yang sudah antri dihadapannya. Menenggelamkan diri diantara kertas kertas penuh huruf dan angka.


Tok tok tok.


Ketukan dipintu tidak mengalihkan perhatiannya dari kesibukannya. Hingga langkah kaki berheel tinggi itu berhenti didepan mejanya. Arga sudah tahu siapa yang masuk ke ruangannya.


"Sudah waktunya istirahat Pak, Bapak akan makan diluar atau memesan saja?", tawar Dian.


Arga meletakkan kertas dan bolpoin yang sejak tadi dipegangnya. Meregangkan otot otot tubuhnya, lalu menyandarkan tubuhnya.


"Saya makan diluar saja, sekalian ke galeri", putusnya.


"Baik Pak", Dian mengundurkan diri.


Arga menekan interkom yang terhubung ke ruangan Reza yang juga ruangan Adi. Meminta pria berwajah manis itu menyiapkan mobilnya. Seperti katanya, dia akan makan siang di luar.


Ketukan dipintu ruangannya mengalihkan perhatiannya dari kesibukannya. Ditatapnya Adi yang sedang berjalan mendekat.


"Maaf Pak, ada kabar dari Pak Reza. Beliau meminta Bu Nadin untuk ke Surabaya, untuk kepentingan penyelidikan", lapor Adi.


"Minta Dian membuatkan surat tugasnya", perintah Arga pada Adi, Adi mengangguk.


"Mobil sudah siap Pak, anda berangkat sekarang?", tanya Adi sebelum meninggalkan ruangan atasannya.


"Tunggu saya di bawah", perintah Arga.


Sepeninggal Adi, Arga meraih ponselnya yang sedari tadi tidak disentuhnya. Menghubungi Hania. Tiba tiba dia merindukan wanita cantik itu. Tentu saja berharap bisa bersantap siang ditemani wanita yang hangat tubuhnya membuatnya ingin merasakannya lagi.


Senyum Arga muncul bagai bunga matahari, terlalu lebar, karena pesannya langsung berbalas. Hania menunggunya.


Sesampainya di restoran Hania, Arga disambut karyawan yang lama lama dihafalnya. Arga langsung menuju ruang privat, sementara Adi menduduki salah satu meja pengunjung di bagian outdoor.


"Han, temani aku makan", Arga mengirimkan pesan pada Hania.


Bahasanya semakin menunjukkan dirinya mendekat selangkah lagi. Tidak ada balasan. Semenit, sepuluh menit, lima belas menit. Dilihatnya pesannya lagi. Centang dua, tapi belum dibaca. Apa dia sangat sibuk? Padahal Arga sengaja datang ketika jam makan siang sudah berlalu. Arga melemparkan pandangannya ke taman bermain melalui jendela kaca disamping kanannya.


Tok tok tok.


Dua orang waitres memasuki ruangannya sambil membawa nampan berisi pesanannya. Lalu menatanya. Arga hanya menatapi makanan yang sudah tertata. Benar benar menu yang menggugah selera. Tapi tidak bagi Arga. Dia menatap malas pada makanan makanan itu. Dia berharap Hania menemaninya makan siang ini.


Hingga pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan membuatnya menoleh. Seketika senyumnya terbit. Hania muncul dengan apron masih melekat ditubuh rampingnya. Dengan segera Arga berdiri menyambut wanita itu. Ditariknya kursi untuk Hania. Hania duduk dengan kikuk. Sebenarnya dia malu bertemu Arga karena drama pelukannya kemarin. Wajahnya sedikit merona.


"Kamu ngga papa? Pipimu merona", tegur Arga setelah duduk kembali dikursinya,

__ADS_1


yang membuat Hania menundukkan wajahnya.


Hania langsung memegang pipinya. Dia gugup sekarang. Bayangan dirinya yang dipeluk Arga melintas bagai rekaman video. Hania mengerjapkan matanya berkali kali untuk meghilangkan bayangan itu.


"Ah dia ini, kenapa perhatian sekali sih?", keluh Hania dalam hati.


"Han?", Arga yang tidak mendapat respon Hania, memanggil namanya sambil menyentuh tangannya.


"Ya?", jawab Hania seraya menatap pria tampan didepannya.


"Kamu ngga papa?", Hania hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Apa aku mengganggu?", tanya Arga yang merasakan sikap Hania yang canggung.


"Oh, ngga, ngga kok Mas. Aku udah nyantai", jawabnya sambil tersenyum, senyum kikuk.


"Kalau gitu temani aku makan. Ngga enak makan sendiri", pinta Arga lagi.


Hania hanya bisa menurut. Arga menyerahkan sepiring spagetti carbonara pada Hania.


"Aku kurang tau seleramu, tapi kata karyawanmu, kamu suka spagetti ini", ujar Arga.


"Iya, ini sudah cukup", sahut Hania.


Kebetulan sekali, Hania memang sedang ingin memakan olahan mie asal negara pizza itu. Dan Arga seperti tahu apa yang sedang diinginkannya.


Arga yang mendengar Hania berterimakasih padanya, menaikkan sebelah alisnya. Bukankah seharusnya dia yang berterimakasih karena wanita cantik itu bersedia menemani makan siangnya?


"Untuk apa? Seharusnya aku yang makasih sama kamu. Aku yang ganggu waktumu dan memaksamu makan siang denganku", ujar Arga.


"Bukan itu Mas. Ini kebetulan sekali. Aku sedang ingin makan ini", terang Hania yang langsung membuat Arga senang, dia tidak salah pilih menu. Lagi lagi senyumnya mengembang.


Tidak banyak obrolan yang tercipta karena memang pada dasarnya mereka belum terlalu akrab. Hingga acara makan siang bersama itupun berakhir, mereka hanya fokus pada makanannya masing masing.


"Apa Mas sering begini? Meminta chef menemani Mas makan juga kalau sedang makan di restoran lain?", akhirnya Hania tidak tahan untuk tidak bertanya.


Arga langsung menggelengkan kepalanya karena mulutnya sedang mengunyah.


"Apa cuma sama aku Mas begini?", tanya Hania lagi.


"Iya", sahut Arga setelah meneguk air mineralnya.


"Kenapa?", Hania semakin penasaran.


"Ngga tau, pengen aja ditemeni kamu", jawab Arga asal.


Dia tidak mungkin memberitahu alasan yang sebenarnya, bisa lari nanti Hania. Sekarang saja wanita cantik bermata kelinci itu masih menjaga jarak dengannya apalagi jika dia tahu bahwa dirinya mendekati wanita itu karena tertarik padanya. Wanita yang dengan cepat merebut perhatiannya itu pasti sulit membuka hatinya untuk pria baru.


Arga tahu benar bagaimana kondisi psikis Hania. Sama dengannya yang diselingkuhi pasangannya. Tapi Hania harus menahan semua kesedihan sambil merawat buah hatinya tanpa ada orangtua yang memberinya dukungan. Tidak bisa melampiaskan kesedihan sesuka hatinya. Dirinya lebih beruntung dari wanita cantik itu. Disaat dia terpuruk, sang ibu selalu setia mendampingi.

__ADS_1


Arga dapat merasakan kokohnya benteng yang diciptakan Hania untuk melindungi dirinya agar tidak lagi mengalami kesakitan yang sama. Hingga membuat wanita cantik yang telah mengisi hatinya itu menjadi anti pada pria yang ingin mendekatinya. Termasuk dirinya.


Dia merasakan sikap Hania itu sejak awal dirinya bertemu Hania. Disaat wanita lain menatapnya dengan tatapan mendamba, wanita cantik itu menganggap tatapan mata mereka yang bersiborok tidak berarti apapun, padahal Arga sampai frustrasi memikirkannya.


"Hanya pingin ditemani aku?", tunjuk Hania pada dirinya sendiri, Arga mengangguk sambil melempar senyum semanis madunya.


"Ehem", Hania berdehem menetralkan jantungnya yang berdebar.


Alasan yang tidak masuk akal sebenarnya. Pria di depannya itu ingin makan siang dengannya hanya karena ingin ditemani olehnya?


"Kenapa ngga minta ditemani istri Mas aja?", akhirnya pertanyaan yang selama ini ragu ragu ditanyakannya terlontar juga.


"Uhuk! Uhuk!", Arga yang sedang minum langsung tersedak.


Dia terbatuk batuk hingga wajahnya memerah membuat Hania jadi panik. Wanita cantik itu langsung berdiri menghampiri Arga, menepuk nepuk dan mengelus punggung kokoh pria tampan itu. Setelah sedikit reda, dia mengangsurkan gelas berisi air mineral.


Elusan tangan Hania dipunggung Arga membuat pria itu merasa diperhatikan sekali lagi. Rasanya menyenangkan dan hangat. Dia dapat mencium aroma tubuh Hania dalam posisi sedekat itu. Aroma tubuh yang pernah didekapnya. Kemarin. Dan ingin mendekapnya lagi.


"Mas udah baikan?", tanya Hania memastikan dengan wajah yang masih menyiratkan kecemasan.


Arga mengangguk. Pertanyaan wanita cantik itu barusan membuatnya terkejut. Ternyata Hania belum mengetahui statusnya. Jadi, apa wanita yang sekarang jadi pujaannya itu juga merasa tak enak hati dengan status Arga yang disangka masih beristri?


"Aku duda, jadi istri yang mana yang akan aku ajak makan bersama?" ucap Arga menjelaskan statusnya.


Hania hanya menatap pria seksi itu lekat. Jadi Arga duda? Apa pria tampan itu mendekatinya karena tahu statusnya? Pria itu punya maksud tertentu? Pikiran Hania melayang kemana mana. Hania mendesah lalu menundukkan kepalanya. Lalu melirik Arga lagi. Pria itu masih menatapnya.


Tapi, dia tidak seperti pria pria lain yang memang ingin mendekatinya. Arga ini sangat berhati hati dengannya. Memperlakukannya dengan baik walau perhatiannya kadang berlebihan. Pria itu juga tidak menunjukkan sikap agresif padanya. Lagi lagi pikiran Hania melayang kemana mana.


"Han?", lagi lagi suara Arga yang memanggil namanya menyadarkannya pikirannya.


"Ya?", sahut Hania.


"Kamu mikirin apa?", tanya Arga.


"Ngga, bukan apa apa. Aku cuma ngiranya Mas punya istri. Aku ngga mau dilabrak istri orang lagi", ucap Hania dengan lirih, dia menekan kata "istri orang".


Arga terdiam. Menatap wajah Hania yang berubah sendu. Wanita itu menunduk menyembunyikan kerapuhannya. Arga menggaris bawahi kata "istri orang". Hania mengucapkan kata itu dengan penekanan, menyiratkan kebencian pada pria beristri yang merayunya.


"Apa kamu berpikir, aku ini pria beristri terus ngerayu rayu kamu?", tanya Arga sambil terkekeh.


Arga mencoba mencairkan suasana yang seketika menjadi sendu. Mencoba mencandai Hania.


"Jadi bener kamu ngiranya begitu", lanjut Arga karena Hania hanya terdiam.


Tebakan Arga membuat Hania mendongakkan wajahnya. Matanya sedikit berkaca kaca. Membuat Arga semakin merasakan hatinya perih. Wanita cantik didepannya itu terlihat rapuh. Dia ingin sekali mendekapnya, memberikan kekuatan dan tentu saja perlindungan.


*******


Dukung terus karyaku ya... dengan like favorit dan vote nya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2