
"Nanti kalau udah gede, aku mau jadi pengantinnya sama Raka aja." ucap seorang gadis kecil berusia 6 tahun pada seorang pria kecil yang usianya 3 tahun lebih tua darinya, yang duduk di sampingnya di halaman rumah gadis itu.
"Apaan, sih? Kita ini masih kecil. Lagian aku udah punya cewe yang aku suka, tau!" ketus pria kecil yang disebut Raka itu.
"Aaah! Raka jahat! Raka ngga suka sama aku! Hiks! Huuu huu..." gadis kecil itu mulai menangis sambil menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
Suara gadis kecil yang menangis membuat Raka menjadi kesal. Pria kecil itu tidak suka pada anak yang cengeng. Lama-lama dia menjadi gusar.
"Udah sih ngga suka nangis deh! Cengeng banget!" kesal Raka yang malah membuat tangis gadis kecil itu semakin kencang.
"Ayolah, jangan nangis lagi." bujuk Raka dengan suara lebih lembut tapi gadis kecil itu tetap saja menangis.
"Gini. Kalau kamu mau jadi cewe yang manis, ngga manja, dan ngga cengeng, aku mau jadi pengantinmu." tawar Raka.
"Beneran?" tangis gadis kecil itu seketika berhenti.
Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya menatap Raka yang kini sedang duduk di depannya.
Deg!
Mata Raka melotot.
"Hania." gumamnya.
Pria itu mematung. Kini tubuhnya sudah bertransformasi menjadi Raka dewasa, dan gadis kecil yang sedang menatapnya itu menjadi Hania.
"Raka ngga bohong 'kan? Raka! Kenapa diam aja. Raka pasti bohong! Raka pembohong! Hiks! Huaaa..." gadis kecil yang berubah menjadi sosok Hania itu kembali menangis, dan berlari meninggalkan Raka.
"Hania! Hania, denger dulu!" pekik Raka, berusaha mengejar Hania.
"Hania,.. Hania... Dengerin aku dulu." Raka tampak gelisah dalam tidurnya.
Pria itu sampai berkeringat padahal suhu ruangan itu cukup dingin. Tubuhnya bergerak gelisah seraya menyebut-nyebut nama Hania.
"Hania... Hania..." lirihnya dengan gelisah.
"Hania!" serunya tertahan, pria tampan itu terbangun.
Matanya seketika terbuka. Napasnya memburu. Raka mendudukkan dirinya. Lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia bermimpi lagi. Mimpi Hania. Tapi mimpinya kali ini berbeda. Jika biasanya mimpi yang datang menghantuinya adalah wajah Hania yang sendu dan putus asa, kali ini, pria itu bermimpi seorang gadis kecil yang berubah menjadi Hania yang menangis.
Pria tampan itu menatap nanar lurus ke depan. Siapa gadis kecil itu? Kenapa wajahnya menjadi Hania? Memikirkan mimpinya, Raka mendadak pusing. Pria itu mengacak rambutnya yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan tapi tidak mempengaruhi ketampanannya.
Raka turun dari ranjangnya lalu berjalan menuju meja di dekat jendela dan meneguk air mineral dalam botol yang tersedia di sana. Matanya menatap ke luar. Kabut masih tebal menghalangi pandangannya. Masih terlalu pagi.
__ADS_1
Setiap bermimpi tentang Hania, pria itu selalu terbangun lebih awal dari biasanya. Mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya, membuatnya gelisah dan semakin merasa bersalah.
Entah sudah berapa lama dirinya berada di vila itu. Arga tidak pernah berniat melepaskannya, dan baru beberapa kali mengunjunginya. Bukan untuk menyelesaikan masalah tapi sifat mereka yang tak jauh berbeda membuat masalah itu menggantung.
"Tolong... Raka please! Hiks!" rintihan Hania membuat Arga terbangun dari tidurnya di sofa panjang, berseberangan dengan ranjang dimana Hania terbaring.
Arga menajamkan pendengarannya dan mendekati Hania yang masih tertidur. Wanita cantik itu tengah bermimpi rupanya. Titik-titik keringat muncul di keningnya.
"Raka jangan...!" lirih Hania pilu.
Mendengar nama Raka disebut Hania dalam mimpi buruknya, Arga mengepalkan tangannya erat, hingga terdengar suara bergemeletuk.
Arga meraih tubuh Hania yang tampak gelisah dalam tidurnya. Memeluknya seraya memanggil nama wanita itu dengan lembut.
"Honey, buka matamu, sayang." ucap Arga seraya membelai rambut panjang Hania yang tergerai.
"Kamu aman sekarang. Ada aku di sini." bisik Arga membangunkan Hania dengan suara yang bergetar menahan sesak.
Hania masih gelisah dalam tidurnya seraya menyebut nama Raka. Membuat Arga semakin mengeratkan pelukannya.
"Hania. Bangun! Buka matamu, honey!" ucap Arga sedikit mengeraskan suaranya seraya menepuk-nepuk pelan pipi Hania yang tampak pias.
"Hah!" Hania membelalakkan matanya lalu dengan rakusnya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Hania." kini Arga menangkup wajah ayu yang masih ketakutan itu dengan kedua tangannya.
"Ngga apa-apa, honey. Kamu aman sekarang. Ada aku yang akan selalu ngelindungin kamu. Ngga apa-apa. Itu cuma mimpi." hibur Arga menenangkan Hania seraya mengusap punggung wanita cantik itu.
"Ngga apa-apa. Ada aku di sini." ucap Arga lagi.
Hania mengangguk dalam pelukan Arga, dan semakin mengeratkan pelukannya. Wanita cantik itu merasa lebih tenang sekarang. Dia percaya Arga akan menjaganya.
Arga mengurai pelukannya dan menatap lekat Hania yang masih melingkarkan tangannya di tubuh atletisnya. Membuat wanita cantik itu mendongakkan kepalanya, balas menatap Arga.
"Jangan mikirin dia lagi. Aku ngga akan suka, honey. Cukup penuhi pikiranmu dengan aku. Cuma aku." ucap Arga dengan lembut tapi terdengar seperti perintah bagi Hania.
"Aku... Mimpi itu datang begitu aja, Mas." ucap Hania dengan suara bergetar.
"Cukup pikirin aku aja sebelum tidur. Jangan mikir yang lainnya. Yang lainnya itu biar aku yang mikirin. Oke?" tegas Arga seraya mengusap pipi tirus Hania.
Hania hanya mengangguk. Wanita itu jelas tidak menginginkan bayangan Raka dan perbuatannya mengganggunya. Tapi apalah dayanya. Bayangan itu seolah berputar sendiri secara otomatis. Hania memang belum bisa melupakan kejadian traumatik yang menimpanya beberapa waktu yang lalu. Tapi diakuinya, kehadiran Arga sangat membantunya sedikit demi sedikit menghilangkan sebagian besar bayangan itu. Dan menyisakan penggalan-penggalan ingatan yang belum bisa terhapus seutuhnya. Selain terapi yang harus dilakukannya dan obat yang terus dikonsumsinya.
Cup. Arga menyalurkan segenap rasa rindu dan kasih sayangnya pada wanita yang sangat diinginkannya dalam hidupnya itu dengan mengecup keningnya. Sebuah kecupan yang cukup lama hingga membuat wanita itu memejamkan matanya, menikmati rasa yang menjalar ke dalam hatinya.
__ADS_1
Tak sebatas kening. Dari sana Arga mulai mel***t bibir merah jambunya Hania. Merasa Hania tak membalas, Arga menjauhkan bibir seksinya dari bibir Hania lalu menyatukan kening mereka.
"Honey, balas aku." ucap Arga seraya mengusap tengkuk Hania.
Pria tampan itu kembali mel***t bibir lembutnya Hania. Dengan lembut. Sedikit mengg*g*t bibir merah jambu itu membuat Hania membalas lum*t*nnya. Semakin lama semakin dalam. Namun, di tengah lum*t*n yang menimbulkan gairah itu, Hania melepas tautan bibirnya.
"Pikirin aku, honey. Please!" pinta Arga dengan suara lirih yang terdengar serak, tangannya menahan tengkuk Hania agar tak menjauh.
"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu." bisik Arga di sela-sela napasnya yang memburu.
Ya. Arga merindukan sentuhan Hania. C**man mesra yang mereka lakukan selalu terputus di tengah jalan. Tidak bisa menghapus rasa rindunya. Bayangan tragedi itu masih menghantui Hania. Dan itu sangat mengganggu Arga. Kini, pria tampan itu bertekad akan membuat Hania merasa nyaman dengan kegiatan mereka. Meski sedikit memaksa. Dimulai dari sekarang.
Arga kembali mel***t bibir Hania seraya memberinya sentuhan-sentuhan di sekitar tengkuk dan telinganya, membuat wanita cantik itu terbuai dan mulai membalas lum*t*n Arga.
Sekuat tenaga Hania melawan bayangan Raka yang hadir di sela-sela aktifitasnya bersama Arga. Berusaha menggantikan sosok yang selalu menyelinap ke dalam benaknya itu dengan sosok Arga. Meski bayangan Raka dan Arga timbul tenggelam di benaknya, setidaknya wanita cantik itu tetap membalas lum*t*n Arga yang semakin menuntut dan lama-lama ikut terbuai.
Arga terus menyalurkan rasa rindu dan hasratnya melalui c**man panasnya yang kini telah berpindah ke leher jenjang kekasihnya itu. Sedikit memberikan h*s*pan yang meninggalkan bercak kemerahan di sana, membuat Hania sedikit mend*s*h. D*s*han yang membuat Arga menginginkan sesuatu yang lebih. Apalagi 'jendral jack'nya sudah berdiri tegak.
"Aku menginginkanmu, Hania." bisiknya dengan suara serak dan berat.
Hania pun tak kalah bergairahnya. Tapi wanita cantik itu masih sadar. Mereka sedang berada di rumah sakit. Dan mereka belum menikah.
"Mas...." ucap Hania seraya mengusap pipi Arga dan mengecupnya.
"Aku tau. Kita belum sah." potong Arga.
Terdengar nada kecewa dari suara Arga yang masih terdengar serak dan berat itu.
"Kalau begitu kita menikah besok." putus Arga, membuat Hania membelalakkan matanya.
"Tidak ada penolakan!" tegas Arga.
"Tapi ibu 'kan belum sadar, Mas." ucap Hania.
"Kita akan adain pestanya setelah ibu bangun." putus Arga seraya mengusap rambut Hania.
"Please! Aku udah nungguin lama untuk menjadikanmu pendampingku." pinta Arga sungguh-sungguh.
Arga sudah bertekad dan tidak akan mengalah lagi. Besarnya rasa cintanya pada Hania, membuat pria tampan itu menginginkan wanita itu menjadi miliknya seutuhnya. Selain itu, rasa cemburunya membuatnya ingin menghapus semua jejak Raka dari pikiran Hania. Hingga Hania tidak perlu lagi mengingat-ingatnya.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Dukung terus karya ini ya....
🤗🤗🤗😘