Yang Terakhir

Yang Terakhir
181. Dia Lagi!


__ADS_3

"Astaghfirullah! Mba Hania!" spontan Bi Sumi memekik karena terkejut ketika tiba-tiba pintu ruang kerja Arga terbuka sementara dirinya baru akan mengetuknya.


"Eh, maaf, Bi. Maaf." ucap Hania merasa bersalah seraya mengelus tangan Bi Sumi yang tampak bergetar.


"Iya, Mba. Ngga pa-pa. Bibi aja yang kagetan." sanggah Bi Sumi.


"Tadi Bibi manggil saya?" tanya Hania tidak melupakan tujuannya keluar dari dalam ruang kerja suaminya.


"Iya, Mba. Habisnya bibi cari dimana-mana ngga ketemu. Saya ketuk kamarnya juga ngga ada sahutan." terang Bi Sumi.


"Anu, itu, Mba. Ada tamu. Laki-laki, tinggi, gagah." lanjut Bi Sumi membuat Hania mengernyitkan keningnya.


"Bibi ngga kenal." imbuhnya.


Hania menuruni tangga rumahnya dengan cepat saat menduga tamunya adalah Galih. Senyumnya langsung terbit demi melihat punggung pria itu.


"Galih?" pria yang disapa langsung menoleh.


"Hania." Galih langsung berdiri dan menghampiri Hania yang berjalan menghampirinya.


Galih langsung mengecup pipi kiri Hania membuat Hania seketika membeku.


"Hm. Sorry. Kebiasaan. Belum bisa hilang." ucap Galih menyadari sikap Hania dengan mimik wajah serius.


"Ah, iya. Ngga apa-apa. Aku, kita udah lama ngga begini. Aku ngga mau suamiku salah paham." balas Hania kikuk.


Suasana menjadi canggung seketika. Entah mengapa, Hania merasa Galih semakin menjauh darinya. Atau dirinya yang mulai menjaga jarak? Tapi apa yang dilakukannya barusan karena dirinya ingin menjaga marwahnya sebagai istri orang. Hingga secara impulsif, Hania menciptakan batasan yang tegas ketika berhubungan dengan pria lain.


"Maaf, ya Hania, aku ngga bermaksud begitu." ucap Galih lagi seraya menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya.


"Ck! Dia yang insecure kenapa aku yang dicemburuin, sih? Aku kesannya kayak lagi godain istri orang." protes Galih berseloroh mencoba mencairkan suasana, membuat Hania terkekeh.


Bukan benar-benar berseloroh. Pria itu sedang mengungkapkan apa yang dipikirkannya. Karena sikap Arga yang cemburu padanya, hubungannya dengan Hania seolah terlarang. Padahal sudah ditegaskan berkali-kali jika dirinya dan Hania hanya memiliki hubungan sebatas sahabat. Ya, meski hingga sekarang dirinya masih mencintai Hania, sih. Apa Arga bisa membaca pikirannya? Hah. Peka sekali pria arogan itu.


"Maaf, ya. Mas Arga begitu karena dia trauma." bela Hania merasa tak enak hati pada sahabatnya itu.


"Aku ngerti kok. Jangan pikirin perasaanku. Aku seneng kamu nemuin laki-laki yang selalu waspada jagain kamu." ucap Galih bijak, meskipun saat mengatakan kalimat itu hatinya terasa nyeri.


Satu jam lebih Hania dan Galih berbincang melepas rindu. Rasa canggung yang sempat tercipta, menguap begitu saja. Layaknya sahabat yang terpisah lama, mereka tak kehabisan bahan untuk diobrolkan.


"Setelah ini aku balik ke Bandung. Ohya, mulai bulan depan aku pindah ke Singapura." ada nada sedih dalam ucapan Galih.


"Hah? Kenapa jauh banget, sih? Kita bakal jarang ketemu dong. Yang cuma di Bandung aja sulit, apalagi di sana." keluh Hania dengan mata berkaca-kaca.


"Hei, jangan gini dong, Han. Aku cuma di Singapura. Ngga sampe 2 jam dari sini ke sana itu. Tinggal gimana kamu bujuk dan yakinin suami posesifmu itu." hibur Galih seraya mengusap rambut Hania.

__ADS_1


Hania mendesah. Rasanya sulit memberi pengertian pada suaminya.


"Kamu kesini cuma mau ngomong ini?" Galih menganggukkan kepalanya membuat Hania mendesah lagi.


"Aku pikir karena ada kerjaan di sini." ucapnya lagi dengan wajah sendu.


Galih merengkuh bahu Hania dan menyandarkan kepala wanita cantik itu di bahunya.


"Aku janji, begitu aku libur aku pasti nemuin kamu." yakin Galih lirih.


"Beneran?" tanya Hania masih dengan suara sendu.


"Kamu bisa pegang kata-kataku, Hania." ucap Galih lagi meyakinkan Hania.


Sementara itu, sepasang mata mengawasi pertemuan kedua sahabat beda jenis kelamin itu dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Cemburu, rasa bersalah, dan kesal bercampur aduk. Arga masih terdiam dengan mata lekat menatap layar tabletnya.


"Dia lagi!" gumamnya seraya mengeratkan giginya menahan kesal.


Sejak kejadian buruk yang menimpa Hania beberapa waktu yang lalu, Arga menjadi lebih ketat menjaga Hania. Selain beberapa anak buah yang ditugaskan mengawasi sang istri, pria tampan itu juga memasang kamera pengintai di beberapa titik di kediamannya.


"Ngga penting banget, sih? Basa-busuk aja lu! Awas aja kalau sampe lu apa-apain istri gue!" gumamnya lagi mengomentari obrolan Hania dan Galih yang ikut terekam kamera pengintai.


"Honey! Kenapa kamu ijinin dia meluk kamu sih? Ngga bisa dibiarin ini!" kesalnya seraya mengepalkan sebelah tangannya.


Hah! Arga mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengacak-acak rambutnya. Pria karismatik yang cenderung dingin itu panik. Ingin segera menghilang saja lalu tiba-tiba muncul di hadapan sang istri dan sahabatnya yang dianggapnya curi-curi kesempatan itu.


Memang sejak awal melihat kamera pengintai yang tersambung langsung pada gadgetnya, Arga hanya fokus pada setiap pergerakan 2 orang yang berada di ruang tamu rumahnya. Hingga tak menyadari seseorang yang sudah memperhatikannya dan ikut mengintip layar tabletnya.


"Elu!? Sejak kapan elu disitu? Ngagetin gue aja lu, nyet!" sentak Arga mengumpati Iden yang hanya cengengesan.


"Itu Galih 'kan? Sahabatnya Hania?" bukannya menjawab pertanyaan Arga, Iden malah masih memperhatikan layar tablet Arga.


"Hum." Arga menjawab dengan deheman seraya meletakkan tabletnya.


"Lu boleh aja cemburu, man. Itu bagus. Tapi istri lu jangan terlalu dikekang. Kasih dia ruang untuk berteman dengan siapapun. Gue yakin dia tipe perempuan yang setia." saran Iden bijak.


Sementara Arga hanya menaikkan sebelah alisnya seraya tersenyum sinis.


"Gue percaya sama istri gue, tapi ngga sama laki-laki yang sekarang ini ada di rumah gue." ucap Arga datar seraya melirik layar tabletnya.


Namun beberapa saat kemudian, pria tampan itu bisa bernapas lega ketika melihat Galih meninggalkan kediamannya.


"Hah! Kenapa ngga dari tadi aja sih baliknya!?" gumamnya lalu mematikan tabletnya.


Tok tok tok!

__ADS_1


Iden yang akan bersuara lagi, urung berucap. Pria blesteran itu memilih duduk di hadapan Arga. Senyumnya mengembang ketika mengetahui siapa yang masuk ke ruangan Arga tanpa menoleh. Bunyi hak sepatu yang beradu dengan lantai marmer di ruangan itu dan langkah yang tenang menjadi penanda baginya. Entah kenapa bertemu dengan mantan kekasihnya menimbulkan keinginan untuk menggodanya.


"Hai Dian. Cakep banget sih mantan gue?" goda Iden yang langsung mendapat tatapan penuh cibiran dari Arga, sementara Dian hanya diam seribu bahasa tak ingin membalas menyapa sang mantan.


"Gimana sih rasanya ldr an? Umm.... pasti ngga enak ya? Kalau ada masalah boleh lho cerita sama gue." oceh Iden lagi.


"Iya, Pak. Banyak godaannya juga. Kayak sekarang ini. Ada laki-laki ngga punya kerjaan lagi modusin saya." ketus Dian yang telah selesai merapikan berkas yang ditandatangani Arga, membuat Arga mengulum senyumnya.


"Kamu boleh keluar." perintah Arga.


"See you." Iden menggerakkan mulutnya tanpa suara seraya menggerakkan tangannya dengan mata yang masih mengikuti wanita cantik itu hingga menghilang di balik pintu.


"Hati-hati. Istri orang pesonanya lebih sadis." sindir Arga.


Iden langsung menyambar bolpoin di atas meja dan melemparkannya ke arah Arga. Pria flamboyan itu kesal pada celetukan sahabatnya yang setengah menyindirnya.


Pletak!


"Aw! Lu apaan sih, nyet!?" seru Arga seraya memegang dahinya yang terkena lemparan bolpoin.


"Catat baik-baik. Istri orang bukan tipe gue!" tekan Iden.


"Ya, barangkali 'kan? Sebagai sahabat lu, gue cuma ngingetin aja. Jangan sampai ada lagi sahabat gue yang mupeng sama milik orang lain." ucap Arga datar.


Iden hanya melirik Arga dengan kesal. Sahabatnya itu apa-apan? Menyindirnya? Atau berusaha mengingatkan atau teringat akan miliknya yang disukai oleh mendiang Raka yang notabene adalah sahabatnya juga? Hatinya dongkol. Seumur-umur usia percintaannya, belum pernah dirinya bermain api dengan menyukai milik orang lain apalagi statusnya istri. Pria blesteran itu cukup tahu diri dan tidak ingin merana karena terbawa perasaan.


Klek!


"Ups! Sorry brothers. Gue slonongboy aja." ucap Rendy yang langsung memasuki ruang kerja Arga tanpa mengetuk pintu seraya memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi, membuat kedua pria tampan yang sedang saling menyindir itu menatapnya lekat.


"Kata sekretaris lu yang cantik itu, cuma ada kalian berdua di sini sedang ngobrol santai." lanjutnya lagi seraya tanpa merasa bersalah mendudukkan dirinya di sebelah Iden.


"Boleh gue gabung?" ucapnya lagi berbasa basi.


Ya. Sekedar basa-basi. Karena biasanya pria yg usianya lebih matang dari Arga dan Iden itu akan sulit diusir jika sudah ada maunya.


Arga dan Iden kompak melakukan gerakan memutar bola mata lalu mengalihkan tatapan mereka ke sembarang arah, seolah mengisyaratkan kata terserah.


"Gimana keadaan adek bungsu gue? Hania? Apa dia udah tahu?" tanya Rendy to the point.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2