
Reza mengerutkan keningnya. Bosnya itu suka sekali berubah pikiran. Ditambah belakangan ini suka memberinya tugas diluar jobdesknya. Barusan pria yang diseganinya itu memberi perintah baru. Membereskan masalah di Platinum coffeeshop. Hah. Dia kenapa lagi? Bukannya bersama Hania? Kepalanya mendadak pusing saja. Belum juga perintah mengantar mobil Hania selesai, sudah menyusul perintah baru. Kode segera. Artinya sekarang juga. Kesal juga sebenarnya, tapi bawahan bisa apa?
Sesampainya di Platinum coffeeshop, Reza hanya menemukan manager supermarket itu di sana. Kemana Arga?
"Selamat siang, Pak Reza." sapa manager supremarket itu sembari mennganggukkan kepalanya.
Bagi manager supermarket itu, Reza dianggap memiliki kedudukan penting. Pria itu adalah orang kepercayaan Arga. Jadi dia menghormatinya layaknya menghormati Arga.
Tadi, manager supermarket itu terkejut saat akan menyelesaikan keributan yang dilaporkan padanya. Begitu tiba di lokasi, pria sedikit tambun itu seperti kebingungan ketika berhadapan dengan Arga, pemilik saham terbesar ke 2 di perusahaan yang menaungi supermarket itu setelah pimpinannya. Iya. Citraland supermarket adalah anak perusahaan dari Citraland Building Company. Dan Arga memiliki saham di sana. Bahkan bisa dikatakan Citraland Building Company adalah perusahaan yang dibangunnya sendiri bersama sahabatnya Darren. Tapi karena kesibukannya memimpin dan mengurus perusahaan keluarganya, Darren lah yang mengurusi perusahaan yang juga tengah berkembang dengan baik itu.
"Siang." balas Reza tanpa senyuman seperti biasa.
"Jadi, kekacauan apa yang dibuat bosmu, Pak Wisnu?" tanya Reza seraya menebar pandangan ke seluruh sudut coffeeshop itu.
Pria sedikit tambun yang dipanggil Wisnu itu hanya menoleh ke arah meja dan kursi yang berantakan di sudut coffeeshop itu. Tanpa diberitahu pun sebenarnya Reza sudah paham hanya dengan melihat rusaknya beberapa perangkat di sana.
Reza melangkah menuju meja kasir dengan tatapan dingin, aura yang sama dengan yang ditampilkan Arga, membuat para karyawan kelu dan serba salah.
"Dimana manager kalian?" tanya Reza pada seorang wanita yang duduk di depan meja kasir.
"Umm... Sebentar, Pak, Bu Risa sedang dalam perjalanan." sahutnya takut-takut.
"Maksudmu, saya harus nunggu gitu?" tekan Reza. Tatapannya sungguh mengintimidasi.
Darimana lagi dia belajar mengintimidasi dengan baik kalau bukan dari Arga?
"Ya sudah, berapa kerugian kalian?" tanyanya seraya mengeluarkan buku cek, siap menuliskan angka di sana.
Kasir itu segera mengeluarkan buku catatannya lalu menyebutkan deretan angka pada Reza.
"Ini. Pastikan sampai pada manager kalian. Sampaikan permintaan maaf kami pada manager kalian." ucap Reza datar tanpa senyuman.
"Pak Wisnu! Tolong diawasi!" tegasnya pada Wisnu.
"Baik, Pak Reza, akan saya perhatikan." sahut pria sedikit tambun itu.
Reza segera berlalu meninggalkan supermarket itu melanjutkan tugas yang belum selesai tadi. Mengantar mobil Hania.
__ADS_1
Di tempat lain, Ferdi yang merasa patah hati sedang duduk diam menatap langit biru dari dalam ruangannya yang dibatasi jendela kaca besar. Beberapa kali pria tampan itu mendesah berat, membuang segala resah dalam hatinya.
Perkataan Arga yang mengatakan dirinya sebagai calon suami Hania terus terngiang di telinganya. Sepertinya Arga berkata sebenarnya mengingat tadi Hania hanya diam saja dan tampak menerima pengakuan Arga. Wanita cantik yang membuat hatinya bergetar itu pasti akan langsung menolak dan menghindar jika tidak suka. Hania tidak suka didekati dan dirayu. Dia tahu itu, karena dulu dia pernah berjuang mendekati wanita lembut itu dan merasakan sulitnya mendapatkan hati Hania.
Sementara Ferdi larut dalam kecewa, lain halnya dengan Arga yang sedang merasa bahagia. Pria itu terus saja tersenyum mengingat Hania yang merona dan salah tingkah karena protesnya malah berbuah ciuman lembut di bibir merah jambunya. Bahkan berujung pernyataan cintanya. Meski Hania belum bisa membalas perasaannya tapi wanita pujaannya itu memberi Arga kesempatan untuk meluluhkan hatinya.
Tadi, mereka sedang menikmati malam cerah berbintang di halaman belakang rumah Hania. Tiara sudah tertidur lelap tak lama setelah menyelesaikan PR dari sekolahnya tadi.
"Mas ih, kan aku udah bilang jangan ngaku-ngaku jadi calon suamiku deh." protes Hania ketika Arga menanyakan siapa Ferdi.
"Kenapa? Kamu juga ngga rugi kan?" ucap Arga enteng.
"Tapi orang akan berpikir berlebihan, Mas. Aku ngga mau dikata-katain orang lagi." suara Hania mulai bergetar.
Arga mendesah pelan. Dia ingat bagaimana kejamnya mulut orang-orang yang mengatai Hania sebagai wanita penggoda. Dia saja sakit hati mendengarnya apalagi Hania.
"Han, kamu percaya kan kalau ucapan itu juga doa? Aku sedang berharap ucapanku terkabul." ucap Arga seraya memegang kedua bahu Hania.
Hania menengadah menatap Arga. Dari jarak sedekat itu, pria tampan itu tampak menjulang di depannya.
Ucapan mana yang dianggap Arga sebagai doa yang diharapkannya terkabul? Apakah pria itu berharap menjadi pendampingnya? Apakah dia sedang menggombalinya? Hania mengerjapkan matanya mendapati pikiran yang melayang kemana-mana.
Arga mendesah pelan seraya menatap wanita cantik di depannya. Astaga Hania! Kenapa wanita itu masih saja membentengi hatinya?
"Apa kamu ngga ngerasain apa yang aku rasain?" tanya Arga, tangannya masih memegang bahu Hania.
"Me- memangnya apa yang Mas rasain?" Hania gugup demi melihat perubahan aura di wajah Arga yang berubah sayu.
Jari tangan kanan Arga mulai menelusuri wajah Hania, mengelus wajah halus itu. Sentuhan jari Arga membuat mata wanita cantik itu terpejam sesaat. Hania merasakan sentuhan jari Arga begitu lembut membuatnya terlena dan merasakan getaran yang aneh di hatinya.
Sementara tangan kiri Arga sudah berpindah ke pinggang Hania. Menariknya mendekat ke tubuhnya. Merengkuh pinggang ramping itu dengan lembut, membuat Hania serasa melayang tak berdaya. Bahkan kedua tangan Hania sudah meremas pinggang Arga dengan lembut. Entahlah. Berada di dekat Arga membuatnya nyaman. Sentuhan Arga membuatnya selalu terbuai.
Arga memdekatkan wajahnya ke wajah Hania. Sedikit menundukkan wajahnya. Lalu dengan lembutnya menempelkan bibirnya di bibir merah jambunya Hania. Merasakan tidak ada penolakan bahkan wanita itu memejamkan matanya, Arga mel***t dengan lembut bibir lembut Hania. Hati Arga bersorak riang ketika pria tampan itu merasakan Hania membalas lum***n lembutnya. Arga segera mengakhirinya ketika merasa ci**man itu semakin menuntut.
"Sekarang apa kamu ngerasa apa yang kurasain?" tanya Arga seraya menatap mata Hania yang berubah sayu. Kedua tangannya menangkup wajah cantik Hania.
"A-aku bingung, Mas." ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya sudah beralih memegang tangan Arga.
__ADS_1
"Ada apa Han? Kenapa kamu masih jaga jarak sama aku? Kamu pasti tahu gimana perasaanku ke kamu. Kamu pasti menyadarinya kan?" tuntut Arga.
Apa dia sedang menyatakan perasaannya? Hah. Hania semakin gugup.
"Aku..." Hania menggantung ucapannya.
Sungguh Hania merasa bingung. C***an Arga membuatnya mulai meragu dengan perasaannya. Apakah tidak apa-apa jika dia menerima pria tampan itu? Benarkah pria itu sungguh-sungguh menyukainya? Dirinya sedang tidak salah paham kan?
"Aku? Ada apa, Han?" Arga seperti tidak sabar menunggu lanjutan kata Hania yang menggantung.
"Aku, aku takut salah paham, Mas. Selama ini kamu baik sama aku dan Tiara. Aku ngga mau menyalah artikan kebaikanmu dan menganggapmu menyukaiku." Hania akhirnya mengungkapkan ganjalan di hatinya.
Arga terkekeh mendengar penuturan wanita cantiknya.
"Aku bahkan mencintaimu Hania." ucap Arga mantap.
Mata Hania membola tapi wajahnya merona. Sungguh menggemaskan di mata Arga. Wanita itu pasti belum yakin dengan pernyataan cintanya. Tidak apa. Yang penting Hania tahu bagaimana perasaannya pada wanita berhati lembut itu.
"Tapi aku, aku bingung, Mas. Ini cepet banget. Aku ngga tau harus gimana. Aku masih ngga yakin." Hania masih terkejut dengan ungkapan cinta Arga, selain itu masih ada ketakutan untuk membuka hatinya. Dia masih takut terluka.
"Maaf." ucapnya sendu.
Arga tersenyum meski dalam hatinya berdenyut nyeri. Dia tahu Hania belum siap membuka hati untuknya.
"Kenapa? Apa kamu takut terluka? Kamu takut aku nyakitin kamu?" tanya Arga lirih.
Sungguh Hania tidak tega melihat wajah Arga yang berubah sendu. Dia juga menyukai pria tampan itu, mungkin juga mencintainya dan tidak bermaksud menolaknya, hanya saja saat ini, bayang-bayang sakit hati masih menghantuinya.
"Maaf." ucap Hania lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Ngga apa-apa, Han. Ngga apa-apa. Aku mengerti. Tapi kamu mau kan mencoba menerimaku? Kasih aku kesempatan. Aku akan bantu kamu menerimaku. Kamu percaya aku kan?" Arga meyakinkan Hania untuk menerimanya.
Sedikit memaksa memang tapi begitulah Arga. Jika pria itu sudah meyakini sesuatu, dia akan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh.
Arga langsung memeluk Hania begitu melihat wanita itu mengangguk. Sungguh pria itu merasa lega luar biasa. Wanita itu sudah membiarkannya mendekatinya saja sudah membuatnya girang, apalagi sekarang Hania bersedia memberinya kesempatan.
Hania tidak dapat membendung air mata yang menggelayut manja di pelupuk matanya. Pernyataan cinta Arga padanya membuatnya syok. Dia belum siap membuka hati karena bayang-bayang masa lalunya. Wanita cantik itu menangis sesenggukan di pelukan Arga. Antara bingung dan perasaan takut yang terus membayangi.
__ADS_1
*******
Thanks for reading!