
Sementara itu, di ruangannya, Arga tengah disibukkan oleh tumpukan berkas yang harus di periksa dan ditanda tanganinya. Sejak pagi, dia fokus dengan pekerjaannya. Dibantu Adi dan Dian.
Tok tok tok.
Sang sekretaris muncul sambil membawa tumpukan kertas yang sudah diperiksanya sesuai perintah Arga.
"Letakkan disitu saja.",perintah Arga menunjuk sudut kanan mejanya.
Tak berselang lama, pintunya diketuk lagi, lalu muncullah Adi yang juga membawa tumpukan kertas seperti Dian tadi. Meninggalkan kantor dalam kurun waktu seminggu membuat Arga harus kerja maraton memeriksa dan menandatangani berkas-berkas itu.
"Ehem, maaf, Pak, jam 11 Bapak ada janji dengan utusan dari Ligna Store di Rasa Sayang Resto, saya sudah reservasi disana." kata Dian mengingatkan, Arga menyugar rambutnya, dia hampir lupa.
Dimana tadi? Rasa Sayang Resto? Bagus. Setidaknya dia bisa bertemu Hania di sana sekaligus. Senyumnya terbit walau setipis benang.
"Setelah itu, jam 3 rapat dengan divisi keuangan." lanjut Dian.
"Hanya itu, Pak." ucap Dian.
"Tolong rapat dengan divisi keuangan kamu undur jam 4." perintahnya, Dian mengangguk.
"Sekarang sudah jam 10 lebih 15 menit Pak." Dian mengingatkan lagi.
"Kamu siapkan berkasnya!" perintah Arga pada Dian, yang langsung keluar dari ruangan Arga.
"Kamu pergi sama saya." tunjuknya pada Adi yang menggantikan Reza, pria itu langsung mengangguk.
Kedatangan Arga di Rasa Sayang Resto sontak membuat heboh para karyawannya. Apalagi, Arga datang menemui seorang wanita cantik dengan penampilan bak model. Hania lama-lama jadi gerah juga. Bukan karena Arga menemui wanita itu, tapi lebih ke kicauan para karyawannya.
"Dasar perempuan ganjen! Tau ngga? Masak tadi perempuan itu pegang-pegang tangan Pak Ganteng sih...? Kan aku ngga rela." ucap seorang karyawati yang baru datang dari ruang privat yang dipakai Arga.
"Iya lho. Ih, udah gitu bajunya kurang bahan lagi, mana suaranya dibikin mendesah-desah lagi. Sok seksi banget deh." Hania menaikkan alisnya menanggapi komentar karyawan satunya, pasalnya wanita yang ditemui Arga memang cantik dan seksi betulan.
"Aku doain Pak Ganteng mendadak rabun dan tuli sementara, biar mata dan telinganya ngga terkontaminasi." timpal karyawan lainnya membuat Hania terkekeh.
"Bu, Bu Hania kok diem aja sih? Itu lho... Pak Gantengnya ditempelin ulet keket." tegur karyawan tadi.
Mendengar karyawannya menyebut wanita itu sebagai ulat keket, Hania tertawa geli. Dirinya membayangkan bentuk ulat keket itu seperti apa, benar-benar hewan yang tidak bisa diam dan menggelikan. Dia juga membandingkan dengan wanita itu. Gerak tubuhnya begitu sensual, menebar pesona di hadapan Arga, menimbulkan gerakan-gerakan manja yang tidak perlu menurut Hania.
Ya. Dia sudah melihat wanita itu. Memang bahasa tubuhnya menunjukkan ketertarikan pada Arga, pria seksinya. Apa!? Pria seksinya!? Kenapa jadi pria seksinya? Pikirannya menekankan kata "nya" dibelakang kata seksi. Hania menggeleng-gelengkan kepalanya menyadari pemikirannya.
"Bu? Ih Bu Hania malah ngelamun sih. Itu lho Pak Gantengnya..." karyawan tadi malah merengek.
__ADS_1
Haduh. Karyawannya itu. Memangnya kenapa jika Arga didekati wanita cantik? Terus kenapa juga karyawannya mengadu padanya? Dia 'kan bukan kekasihnya Arga. Jadi, apa haknya dia melarang-larang Arga ketemu wanita lain?
"Bu, Bu Hania harus tegasin dong, kalau Pak Ganteng itu lagi dekat sama ibu, bila perlu nih, jidatnya Pak Ganteng dikasih label." Hania membelalakkan matanya mendengar saran dari seorang karyawannya.
Benar-benar para karyawannya itu sudah salah paham tentang hubungannya dengan Arga. Untung saja Ferry hari ini libur. Pria tampan itu pasti malah menggodanya, bikin kesal saja.
Hania baru akan meninggalkan dapur ketika seorang karyawannya datang mencarinya.
"Bu, Pak Ganteng itu minta bertemu ibu." Hania memutar bola matanya, tapi tetap melangkah menuju ruang privat dimana Arga berada.
Hania mengetuk pintu itu, dan pintu terbuka dari dalam. Pak Adi sudah berdiri di sana, menganggukkan kepalanya tanda hormat pada Hania. Hah. Hania jadi tak enak.
"Silakan, Bu" Pak Adi mempersilakan Hania masuk.
Dia merasa ada yang aneh dengan sikap Pak Adi itu tapi segera ditepisnya.
"Hania?" sambut Arga sambil bangkit dari kursinya, mengulurkan tangannya pada Hania.
Perasaan anehnya makin bertambah demi melihat sikap Arga yang tak biasa. Disambutnya uluran tangan pria seksi itu, tentu dengan terpaksa, dia tidak ingin membuat Arga malu di depan wanita ulat keket itu. Ah. Entahlah. Dirinya kini bahkan tidak ingin membuat Arga malu. Melihat Arga tersenyum, diapun ikut tersenyum. Melihat senyum Arga yang tak biasa itu, hatinya bergetar.
"Arga, siapa dia?" tanya wanita itu dengan raut tak suka.
Tentu saja perlakuan istimewa Arga pada Hania mengundang tanya. Bahkan Hania pun bertanya-tanya dalam hati.
Wanita ulat keket yang ternyata bernama Marisa itu membelalakkan matanya. Wajahnya langsung merah saja. Ada amarah dan kecewa yang tersirat di wajah cantik itu. Bukan hanya Marisa saja yang terkejut. Hania pun sama terkejutnya dengan Marisa. Matanya mendelik menatap Arga.
"Arga! Ngga mungkin! Kamu pasti bohong 'kan!?" serunya masih tidak percaya.
"Selama ini kamu anggap apa aku ini!?" protes nya tak terima.
"Maaf Marisa, ngga ada yang istimewa dengan kita. Aku menganggapmu teman. Kamu yang salah paham. Selama ini aku memperlakukanmu dengan baik karena kamu baik, ngga ada alasan untukku berbuat buruk padamu. Aku udah sering mengingatkanmu tentang kita tapi kamu ngga peduli. Tapi kali ini, sepertinya aku harus sedikit tegas padamu. Jadi tolong mengertilah, pahami status kita. Dan tolong pahami statusku sekarang." terang Arga panjang lebar.
Jelas Marisa patah hati dan kecewa. Perasaannya ditolak Arga dengan cara seperti itu. Hania pun tidak menduga, pria tampan itu akan memanfaatkannya. Dia kesal juga kecewa. Dia berusaha melepas genggaman tangan Arga tapi pria seksi itu malah semakin erat menggenggam tangannya. Akhirnya Hania hanya pasrah berdiri di sana menyaksikan drama itu berlangsung.
Marisa meninggalkan ruangan itu dengan berurai air mata tanda kesedihannya. Dia merasa dicampakkan.
Hania langsung menghempas genggaman tangan Arga yang sedikit merenggang. Matanya tajam menatap Arga. Arga yang ditatap begitu, merasa bersalah karena memanfaatkan wanita cantik yang diam-diam dipujanya itu.
Menyadari sikap Hania yang disangka wanitanya Arga, Adi segera meninggalkan ruangan itu.
"Han, aku... sori, aku melibatkanmu dalam masalahku." sesal Arga.
__ADS_1
Panggilannya berubah seolah mereka sangat dekat. Aku kamu, dan tidak ada embel-embel 'Mba' lagi saat dia menyebut nama Hania.
"Jadi, sepertinya Mas suka sekali memanfaatkan orang lain, sampai-sampai Mas lupa kalau kita ngga akrab-akrab banget!" ketus Hania.
Arga terpaku menatap Hania. Mendengar kata-kata wanita cantik itu, terasa ada yang nyeri di hatinya. Dia tahu wanita bermata kelinci itu sedang marah. Salahnya juga memanfaatkan wanita pujaannya itu. Arga sangat menyadari sikapnya itu.
Tapi ada sikap Hania yang membuat Arga tetap merasa hangat. Meski sedang marah, wanita itu tetap menyebutnya "mas". Dia mengulas senyum yang hanya dia yang tahu.
"Han, aku bisa jelaskan." rayu Arga.
"Aku udah dengar tadi. Mas cuma mau manfaatin aku 'kan supaya perempuan itu menyingkir?", potong Hania.
Arga semakin ingin tersenyum lebar saja. Mereka seperti pasangan yang sedang bertengkar. Hania yang uring-uringan dan Arga berusaha menenangkan. Mereka terasa lebih akrab.
"Iya." Hania melotot mendengar Arga keceplosan.
"Hm, maksudku bukan begitu." ralat Arga gelagapan berusaha menjelaskan.
"Sudah jelas begitu, Mas masih mau mengelak?" potong Hania lagi membuat Arga frustrasi.
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wanita bermata kelinci itu ternyata galak juga. Dia sampai tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan permasalahannya. Benar-benar membuatnya kewalahan. Ingat Arga! Jangan buat wanita ini marah lagi!
Hania yang masih kesal berbalik hendak meninggalkan ruangan itu, tapi Arga yang merasa harus menyelesaikan masalah itu sekarang juga segera menghalangi Hania. Di tariknya tangan Hania.
Entah karena tarikan Arga yang terlalu kencang atau posisi Hania yang tidak seimbang sehingga Hania menabrak Arga. Arga yang hampir kehilangan keseimbangan, meraih tubuh Hania ke dalam pelukannya. Hania yang ikut limbung langsung merangkul leher Arga. Beruntung tubuh Arga membentur meja sehingga mereka tidak sampai terjatuh. Saking terkejutnya mereka tidak menyadari jika posisi mereka sedang berpelukan. Mereka hanya saling menatap. Saling mendengarkan irama jantung mereka yang berdetak kencang.
Arga yang menyadari posisi mereka terlebih dahulu, tidak ingin melepaskan pelukannya. Dia merasa nyaman memeluk atau dipeluk Hania. Tubuh wanita itu begitu pas dalam pelukannya. Dia dapat mencium aroma tubuh Hania. Begitu menenangkan.
Tak berselang lama, Hania mulai menyadari tubuhnya dalam pelukan Arga. Sontak wanita itu melepaskan dirinya. Segera berdiri sempurna, dan merapikan kemejanya. Rasa canggung begitu terasa membuatnya semakin salah tingkah. Mungkin meninggalkan ruangan itu lebih baik. Baru akan membalikkan badannya, tangannya lagi-lagi dicekal Arga, namun Hania hanya memalingkan wajahnya ke sembarang arah, tidak berusaha melepaskan diri.
"Tolong jangan salah paham denganku, Han." melihat reaksi Hania, Arga berusaha meluruskan kesalahpahaman itu.
"Aku memang ingin menyingkirkannya dengan mengenalkanmu padanya." Hania masih diam.
"Akan lebih baik kalau dia tau bahwa hatiku bukan untuknya." lanjut Arga.
"Aku sering ngomong gini ke dia, tapi karena ngga ada perempuan lain yang deket sama aku, dia ngga percaya." terangnya, Hania menoleh padanya.
"Katakan saja aku memanfaatkanmu, tapi justru kamu bantuin aku." terang Arga.
Hania masih diam saja mendengarkan Arga sejak tadi, namun hatinya mulai luluh.
__ADS_1
*******
Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan vote nya 🤗🤗🤗