Yang Terakhir

Yang Terakhir
187. Bantuan Galih? Yes or No?


__ADS_3

Arga memijit pelipisnya. Kepalanya terasa berdenyut. Selama ini dirinya melupakan keberadaan Rosa. Wanita itu seperti menghilang tak ada gaungnya sejak kematian Raka. Baru kini dia teringat wanita cantik yang pernah mengisi hari-harinya dulu.


"Rosa selama ini di Singapura, Ga." ucap Iden.


"Dia bangkrut 'kan? Siapa yang biayain dia di sana? Mantannya ngga mau tanggung jawab lagi sama dia. Dan selama ini Raka lah yang nanggung hidupnya. Tapi sejak gue akuisisi perusahaannya, gue stop semua aliran dana ke rekening dia." telisik Arga.


"Siapa lagi? Orang-orang licik akan berteman dengan orang-orang licik 'kan?" sahut Iden lalu menghisap rokoknya dengan hisapan yang dalam.


"Lu ngga mau?" tawar Iden menyodorkan sebungkus rokok berwarna merah putih bermerk boro-boro itu ketika Arga hanya menatapnya sedang menikmati hisapan demi hisapan sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas dalam.


"Gue masih pingin hidup sehat puluhan tahun lagi, Man, biar bisa menikmati masa-masa indah punya istri sah." tolak Arga diselipi sindiran pada pria flamboyan yang setia melajang itu.


Iden terkekeh mendengar sindiran sahabatnya itu. Arga memang terkenal dingin dan arogan serta tak kenal kompromi jika menyangkut lawan bisnisnya. Tapi untuk masalah cintanya yang kini sudah tertambat pada sang istri, pria itu sangat mau berkompromi. Termasuk menghentikan kebiasaannya merokok dan meminum minuman beralkohol.


"Bucin lu! Tai kucing udah rasa coklat belum, Ga?" ledek Iden lalu tergelak.


"Sialan lu! Gue masih realistis kali! Nikah sana!" Arga melemparkan kotak rokok yang tadi diletakkan di depannya ke arah Iden membuat pria itu semakin tergelak karena ekspresi kesalnya Arga.


Hingga malam menjelang, kedua pria tampan itu masih saling melempar gurauan dan sindiran di sela-sela merencanakan aksi mengungkap kebohongan Handoko yang diotaki Oom Aris.


"Intinya, Oom Aris tetap pingin gue hancur gimanapun caranya." simpul Arga memecah keheningan.


"Bener. Ternyata rencana mereka sekali mendayung 2 3 pulau terlampaui." timpal Iden dengan raut kesal.


"B*ngs*t 'kan Oom gue?" umpat Arga seraya menatap Iden yang duduk di seberangnya.


Iden terkekeh mendengar Arga mengumpati pamannya sendiri.


"Pak." Reza menyerahkan tablet yang sedari tadi dipegangnya pada Arga.


Arga menoleh dan menerima tablet itu. Matanya memicing ketika melihat foto Darren yang sedang berpose bersama Galih, sahabat istrinya.


Siapa sangka! Guess what!?


Begitu tulis Darren.


"Apa-apaan ini, Za!? Ngga penting banget!" seru Arga yang auto kesal ketika melihat wajah tampan Galih sedang tersenyum.


"Perhatikan baik-baik, Pak." Reza memperbesar foto yang dikirimkan Darren padanya.


Arga menegakkan posisi duduknya yang tadinya bersandar malas-malasan. Iden pun merapatkan diri berpindah duduk di sofa tunggal di sebelah Arga. Pria itu jadi penasaran.


Reza memposisikan foto itu fokus pada seorang wanita cantik dan seksi yang sedang duduk di belakang Darren dan Galih.


"Rosa!?" gumam Arga dan Iden bersamaan.


"Darren di Singapura?" tanya Arga tak percaya.

__ADS_1


Setahunya sahabatnya itu berada di negeri kanguru. Mengurus usaha barunya dengan sang istri.


"Kenapa tanya gue? Telpon lah!" Iden menyahut dengan gemas seraya menarik tubuhnya menjauhi Arga.


Kadang Arga suka tak masuk akal jika suasana hatinya sedang tak baik. Seperti saat ini. Karena baru saja melihat wajah Galih dalam foto yang dikirim Darren, otak cerdas pria tampan itu menjadi sedikit tumpul.


Arga menoleh pada Reza, mengisyaratkan agar pria itu menghubungi Darren.


"Benar, Pak. Pak Darren sedang di Singapura." sahut Reza tanpa menghubungi salah satu pria dalam foto itu.


"Tahu darimana? Kamu bahkan belum telpon anak itu!" kening Arga berkerut.


"Bukankah Ibu Rosa ada di Singapura, Pak? Kalau mereka bisa 1 frame begini, itu berarti Pak Darren dan Pak Galih juga berada di sana, bukan?" terang Reza sedikit menyindir atasannya itu.


Sungguh. Pria berkacamata itu ingin sekali menertawakan atasannya itu. Bibirnya saja sudah dilipatnya dengan rapat.


"Iya juga, sih." gumam Arga yang mendadak merasa bodoh.


Akh! Itu gara-gara dia melihat wajah Galih tadi. Tunggu! Galih di Singapura? Bukankah itu bagus? Itu artinya pria itu berada jauh dari Hania. Bukankah dia bisa sedikit bernapas lega sekarang?


"Kenapa lu? Kesambet? Senyum-senyum ngga jelas begitu. Ngeri gue!" tegur Iden seraya beranjak pindah lagi ke tempat duduknya semula di seberang Arga.


"Kesambet jin cerdas mandraguna! Puas lu!?" kesal Arga.


"Ya abis lu senyum-senyum sendiri. Ngajak-ngajak kek!" sembur Iden.


"Kita bisa minta Galih deketin Rosa. Rosa ngga kenal dia 'kan?" cetus Iden membuat semua mata tertuju pada pria flamboyan itu lalu beralih pada Arga.


Minta bantuan Galih? Sebenarnya, Arga menyukai ide itu. Pria bertubuh tegap itu pasti langsung setuju membantu jika itu menyangkut Hania. Selain itu, Rosa tidak mengenal Galih. Dan akan mudah bagi pria gagah itu untuk menjebak Rosa. Tapi masalahnya, pria itu adalah Galih. Pria yang mencintai istrinya. Apa iya, dirinya bisa berterimakasih padanya jika rencananya berhasil? Ih! Gengsi lah!


"Apa ngga ada orang lain yang bisa kita mintai bantuan selain dia?" Arga mencoba bernegosiasi.


"Siapa? Rosa ngenalin kita, keluarga kita, teman-teman kita, circle kita, Man! Kebetulan Galih juga sudah ada di sana. Lagipula dia ganteng dan proporsional. Rosa 'kan suka laki-laki ganteng yang punya badan bagus." ucap Iden meyakinkan Arga, tak lupa pria blesteran itu menaik turunkan alisnya menggoda sahabatnya, membuat Arga meliriknya tajam.


"Benar, Pak. Lagipula Pak Galih tidak akan bersinggungan dengan Bu Hania, kalau itu yang anda khawatirkan." timpal Reza.


Pria berwajah manis itu sudah ikut-ikutan gemas melihat sikap atasannya yang merasa tidak aman ketika bersangkutan dengan Galih karena rasa posesifnya terhadap istrinya.


"Oke. Gue setuju. Lu bilang sama Darren untuk minta bantuan laki-laki itu!" perintah Arga pada Iden.


"Kok gue? Ya elu lah! Diantara kita semua, elu yang paling kenal sama Galih 'kan?" todong Iden.


"Ini semua demi Hania, Ga. Posisi dia dalam keluarga gue bakal kegeser sama Syana kalau lu lelet!" ucap Iden menyemangati Arga.


"Bener, Pak. Kasian Bu Hania kalau sampai hal itu terjadi. Keluarga yang sebenarnya hilang di tangan." timpal Reza.


"Hilang dari genggaman!" koreksi Arga membuat Reza meringis.

__ADS_1


"Iya. Anda bener. Hilang dari genggaman." ralat Reza dengan raut wajah kembali ke setelan pabrik, datar dan minim ekspresi.


Arga bangkit dari sofanya. Berjalan ke ruangan lain dalam rumah berlantai 2 di tepi jurang buatan itu. Seraya memandang keluar jendela menembus gelapnya malam, ditempelkannya benda pipih berwarna hitam itu ke telinganya ketika samar-samar terdengar sahutan dari ujung ponselnya.


"Gue butuh bantuan lu." ucapnya datar.


Hania langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Matanya tidak melihat mobil suaminya terparkir di sana.


"Belum pulang, ya?" gumamnya lalu menghela napas dalam dan berlalu dari sana setelah memastikan pintu mobilnya terkunci dengan benar.


"Bi, Mas Arga belum pulang ya?" tanya Hania pada Bi Sumi yang sedang membereskan dapur.


"Eh, Mba Hania sudah pulang. Mas Arga belum pulang, Mba. Mba Hania mau makan sekarang?" tanya Bi Lastri.


"Nanti aja deh Bi kalau saya lapar, ambil sendiri aja. Bibi abis ini istirahat ya." perintah Hania.


Wanita cantik itu berlalu dari dapur menuju kamarnya. Baru sampai di pertengahan anak tangga, langkah Hania terhenti demi mendengar suara mobil Arga memasuki halaman rumahnya. Wanita cantik itu kembali turun, membukakan pintu yang terhubung dengan garasi. Menyambut sang suami dengan senyum semanis madunya.


Tangannya langsung melingkar di pinggang Arga ketika pria itu sudah berdiri menjulang di hadapannya. Cup. Sebuah kecupan mendarat di keningnya.


"Kangen." ucapnya manja sembari mendongakkan kepalanya menatap mata suaminya.


"Aku di sini, honey. Terserah mau kamu apakan. Aku pasrah." ucap Arga menggoda Hania.


"Mas ngga kangen aku?" sungut Hania seraya melepaskan pelukannya di pinggang Arga.


"Kangen. Selalu." ucapnya seraya menarik pinggang Hania agar tubuh ramping itu menempel lagi padanya.


"Mau mandi bareng?" bisik Arga dengan bibir yang menempel di telinga Hania membuatnya meremang.


Hania hanya menganggukkan kepalanya, terbuai pada kemauan Arga. Berada dalam dekapan suaminya membuatnya merasa nyaman. Hari ini tubuhnya juga terasa lebih penat dari biasanya. Sejak tadi pikirannya tertuju pada seorang wanita yang dilihatnya di mall pagi tadi.


"Mas." Hania memecah keheningan.


"Hum." gumam Arga.


"Tadi, aku liat perempuan yang mirip banget sama aku di mall xx." cerita Hania ketika Arga mengeringkan rambutnya.


"Lisa juga liat." lanjutnya.


Deg!


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2