Yang Terakhir

Yang Terakhir
68. Bertemu Wanita Penggoda


__ADS_3

"Bukan urusanmu. Dan tidak akan pernah menjadi urusanmu", sahut Arga datar dengan ekspresi yang berubah dingin.


 


Hania masih diam saja memperhatikan interaksi Arga dan wanita seksi itu. Matanya masih menilai penampilan wanita cantik itu. Dari pakaiannya, wanita itu sudah pasti mengenakan pakaian bermerk. Riasan bold nya sungguh cocok dengan penampilannya malam itu. Hanya saja pakaiannya yang terbuka di tempat terbuka merupakan pemandangan yang kontras. Hawa malam ini terasa dingin. Apakah wanita itu tidak kedinginan? Dirinya yang memakai dres selutut dengan kerah shanghai saja, kedinginan.


Melihat reaksi Arga, sepertinya pria tampan itu merasa terganggu dan tidak suka dengan kehadiran wanita itu. Tapi wanita itu mengenal Arga, pun Arga. Siapa lagi wanita itu? Hah. Hania mendesah pelan.


"Maaf Pak, bukan begitu maksud saya. Hanya saja bertemu Pak Arga di tempat seperti ini, rasanya mustahil", kekeh wanita seksi itu masih dalam mode genit.


Hania jengah mendengar wanita itu berbicara, terkesan dibuat-buat. Apalagi bahasa tubuhnya, kentara sekali jika dia sedang menarik perhatian Arga. Hah. Hania jadi makin kesal. Wanita bermata kelinci itu mengalihkan tatapannya ke sembarang arah mencari keberadaan putrinya.


"Memangnya tempat ini tempat seperti apa?", Arga semakin tidak suka pada wanita seksi itu, ditambah dia mulai menilai lingkungan Arga.


"Oh, ya ampun Pak Arga. Taman ini kan untuk hiburan kelas menengah ke bawah. Ngga ekslusif seperti tempat-tempat yang biasa bapak kunjungi", ucap wanita itu seraya mendekati Arga, tangannya sudah akan menyentuh lengan pria idaman wanita itu tapi reflek Arga memundurkan langkahnya. Ekor matanya melirik Hania.


Hania yang mendengar perkataan wanita itu memutar bola matanya dengan malas lalu bersedekap. Dia menatap wanita penggoda itu dengan sinis.


"Saya berada dimanapun itu tidak penting. Yang penting dengan siapa saya disana", Arga mengucapkan kalimat terakhirnya seraya menatap Hania yang berdiri disampingnya yang sedang menatapnya juga.


Jujur Hania merasa GeEr ditatap Arga bersamaan dengan kalimat yang Arga ucapkan barusan. Wanita itu sampai merona saking salah tingkahnya. Melihat Hania yang kikuk membuat Arga menjadi gemas, ingin rasanya mencubit pipi mulus itu.


Sekretarisnya Iden menatap tak suka pada Hania yang disanjung pria idamannya. Apa lebihnya wanita itu sih? Jelas-jelas dirinya lebih unggul dari segi penampilan. Dan mungkin juga kelas sosialnya. Karena memang sebenarnya sekretarisnya Iden berasal dari keluarga kaya. Ayahnya seorang kepala salah satu rumah sakit ternama di ibukota dan ibunya seorang manager salah satu televisi swasta.


Wanita cantik dan seksi itu menyukai Arga membuatnya melamar pekerjaan di perusahaan Arga. Saat itu lowongan yang tersedia hanya sekretaris. Mujur dirinya pernah menempuh pendidikan sekretaris dan  public relation. Sikap percaya dirinya membuat Iden tertarik, terlebih wanita itu cantik dan seksi. Betul-betul tipenya Iden. Dan disanalah dia berada. Di sisi Iden.


Satu hal yang tidak diduganya. Jerat Iden sungguh memikatnya hingga dirinya tidak bisa melepaskan diri dari pria blesteran yang tak kalah tampan dan seksi itu. Dia takluk dihadapan pria flamboyan itu tapi hatinya masih mengarah pada Arga.


"Ma?", suara khas anak-anaknya Tiara mengalihkan perhatian ketiga orang dewasa yang sedang larut dalam pikirannya masing-masing.


Arga langsung menggendong Tiara dan membisikkan sesuatu. Hania langsung curiga saja. Apalagi ketika putrinya itu melirik sektetarisnya Iden.


"Siapa tante ini, Pa?"


Duar!


Hania langsung menoleh pada Arga. Kecurigaannya benar-benar terjadi. Pria tampan itu pasti meminta Tiara memanggilnya 'papa'. Hania mendengus seraya melempar tatapan tajam kearah pria itu. Arga tidak ingin menatap Hania. Dia tahu wanita cantiknya pasti langsung kesal padanya. Jadi dia hanya menatap sekretarisnya Iden dengan datar.


Bukan hanya Hania saja yang terkejut. Sekretarisnya Iden pun sama terkejutnya. Apa? Papa? Tapi, sejak kapan? Pria itu kan duda tanpa anak? Lalu, anak siapa gadis kecil itu? Apa wanita disebelahnya itu? Berbagai pertanyaan berputar-putar dibenaknya. Matanya melirik Hania.


"Hum... Papa ngga kenal, setahu Papa dia kerja ditempat kerjanya Papa", akting Arga terkesan natural. Bagaimanapun dia pernah mempunyai seorang putra, jadi peran ayah mengalir alami.


"Kenapa bajunya pendek sekali? Apa tante ngga kedinginan? Nanti tante bisa masuk angin lho", ucapan polos Tiara seketika membuat Hania melototi Arga, semetara Arga mengulum bibirnya menahan tawanya dan sekretarisnya Iden mendengus kesal.

__ADS_1


Hania merasa tak enak hati dengan ucapan polos Tiara yang menegur wanita seksi itu. Wanita itu pasti kesal meskipun yang mengucapkannya adalah seorang anak kecil. Apalagi diucapkan dihadapan pria yang sedang digodanya. Haduh, Tiara.


"Saya baru tahu Pak Arga mempunyai seorang putri. Benarkah begitu? Gadis manis ini putri anda?", meski kesal sekretaris Iden mampu menguasai dirinya dan tetap menampilkan sisi genitnya.


"Hum. Sekarang kamu sudah tahu, jadi minggir!", perintah Arga.


Sekretaris Iden terbelalak disuruh menyingkir. Dirinya masih tidak percaya Arga akan mengusirnya terang-terangan. Biasanya pria yang dikenalnya dingin itu bahkan tidak menoleh kearahnya dan tidak peduli akan kehadirannya. Tapi kenapa sepertinya pria itu merasa terganggu saat ini? Apa karena wanita yang disampingnya itu? Apa dia wanita yang menelepon Arga waktu itu? Kalau melihat sikapnya yang melunak pada wanita itu, sepertinya begitu.


"Ayo, Han. Kita pulang saja. Banyak nyamuk disini!", suara Arga yang menekan kalimat terakhirnya bermaksud menyindir membuat sekretarisnya Iden tersadar dari pikirannya yang melayang-layang. Tentu dirinya tersindir dengan ucapan pedas Arga.


Hon? Honey? Sekretarisnya Iden kembali teringat, Arga pernah berbicara di ponselnya dan menyebut kata Hon. Jadi dia wanita yang disebut Honey oleh pria yang dikenalnya dingin itu? 


Tangan kanan Arga menggenggam tangan Hania dan menariknya berlalu dari hadapan wanita seksi itu. Hania hanya bisa menurut saja. Dia juga tidak suka berhadapan dengan wanita yang selalu menatapnya sinis itu. Apalagi berani menggoda Arga dengan bahasa tubuhnya. Hania menoleh menatap Arga yang berjalan disampingnya sambil menggenggam tangannya. Semoga pria berkarisma itu tidak tergoda. Hatinya berharap.


"Aku mau gula kapas!", seru Tiara yang masih dapat di dengar sekretaris Iden.


"Jangan yang itu sayang, nanti gigimu bisa rusak", cegah Arga.


"Kalau gulali?", tawar gadis kecil itu.


"Itu juga jangan.", tolak Arga.


"Humm... Es krim?", Tiara masih memohon.


"Jadi apa dong yang boleh.", keluh Tiara seranya memberengut yang membuat pria dewasa itu tergelak.


Sekretarisnya Iden masih memperhatikan interaksi Arga dengan gadis kecil yang katanya putrinya itu dan wanita berpenampilan sederhana yang berjalan disampingnya. Obrolan manis yang lamat-lamat masih didengarnya antara Arga dengan gadis kecil itu membuat wanita seksi itu kesal. Sikap Arga bisa berubah menjadi hangat dan lembut pada kedua wanita beda usia itu. Dia jadi cemburu.


Gerimis berubah menjadi hujan lebat ketika mobil Arga tiba di rumah Hania. Sayangnya mobil mewah itu tidak bisa masuk ke garasi karena mobil Hania terparkir cantik disana. Hania harus memayungi Arga yang menggedong Tiara. Gadis kecil itu pastilah kelelahan setelah seharian membantu ibunya menyiapkan acara ulang tahunnya yang sederhana hingga dia tertidur lelap sampai-sampai tidak terganggu ketika air hujan sedikit terpercik kewajahnya. Karena payung hanya ada satu saja, maka Tiara lah yang menjadi prioritas Hania dan Arga sementara dua orang dewasa itu harus rela berbasah-basahan.


Hujan yang semakin deras menahan Arga di rumah Hania. Setelah berganti pakaian yang memang selalu disiapkan Arga di mobilnya, pria tampan itu menghampiri Hania seraya mengusap rambutnya yang basah.


"Kenapa tadi Tiara manggil Mas 'papa'? Mas yang nyuruh, kan?", tanya Hania sedikit ketus begitu Arga mendudukkan dirinya disamping Hania, wanita itu masih kesal.


Arga mendesah. Pria itu sudah menduga jika Hania pasti tidak terima jika putrinya dijadikan tameng. Dia mengelus tengkuknya.


"Boleh kuminum dulu kopinya? Aku kedinginan, butuh yang hangat-hangat", ucapnya sambil mengerlingkan matanya. Hania memutar bola matanya.


"Makasih. Ini nikmat seperti biasanya", pujinya setelah menyeruput kopi hitam panas itu. Arga selalu menyukai kopi Hania.


"Memangnya siapa perempuan itu, sampe-sampe nyuruh Tiara bohong segala?", cecar Hania karena tak kunjung mendapat jawaban.


"Bukan siapa-siapa", jawab Arga enteng tanpa menoleh, malah sibuk menyeruput kopinya.

__ADS_1


"Kalau bukan siapa-siapa kenapa nyuruh Tiara bohong?", lanjut Hania.


"Aku ngga mau berurusan sama perempuan kayak dia, karena dia ngga penting sama sekali", jawaban Arga malah membuat Hania kesal.


"Terus nyuruh Tiara bohong?", tanyanya lagi seraya menatap Arga tajam.


"Sama perempuan kayak dia, ngga perlu buang-buang energi untuk menolak atau menjelaskan. Cukup dengan tindakan", jawab Arga yang membuat Hania mencibir.


"Aku kebih memilih menunjukkan hal yang paling penting kehadapannya. Biar dia lihat atau dengar sendiri. Baru dia akan percaya kalau aku ini sudah mempunyai prioritas dalam hidupku", terang Arga.


"Dia itu sekretarisnya Iden tapi aku ngga suka dia jadi sekretaris Iden. Ngga tau kenapa, dari awal aku udah ngga suka dia kerja di perusahaanku. Tapi Iden mau perempuan itu jadi sekretarisnya. Hah. Anak flamboyan itu selalu begitu. Dia ngelarang aku mecat perempuan itu", lanjut Arga, kini tangannya sudah menggenggam tangan Hania.


"Tapi dia kan genit. Masa' bosnya sendiri digoda", keluh Hania.


Arga tersenyum penuh arti mendengar keluhan Hania. Seperti ada rasa tak suka sekretarisnya Iden menggodanya.


"Iya, dia genit. Setiap ada kesempatan dia selalu godain aku. Dia bahkan melakukan tindakan yang sedikit vulgar seperti, memamerkan pahanya, membungkukkan tubuhnya hingga belahan, ehem, asetnya terlihat, hingga... ", Arga sengaja menggantung kalimatnya. Sebenarnya dirinya juga kesal untuk mengatakannya.


Hania terbelalak. Pikirannya sudah melayang-layang membayangkan apa yang dilakukan sekretarisnya Iden dihadapan Arga. Dadanya bergemuruh. Wanita itu kesal dan cemburu.


"Hingga?", rasa penasaran Hania sudah menggebu-gebu. Wanita itu sampai mengubah posisi tubuhnya jadi menghadap Arga.


Arga melengkungkan bibirnya yang dianggap seksi oleh Hania. Pria itu senang melihat ekspresi Hania. Dari suaranya wanita cantik itu kesal.


"Hingga... Berjongkok dihadapanku. Liat sendiri bagaimana cara dia berpakaian. Tidak ada bedanya dengan di kantor. Dengan rok mini dan berjongkok, tau sendiri apa yang akan terlihat", sungguh Arga merasa sebal jika harus mengingat kejadian di dalam lift beberapa waktu yang lalu.


Hania sampai melongo mendengar Arga berkata pernah melihat underwear wanita genit itu. Wanita cantik bermata kelinci itu merasa kesal dengan Arga. Sama saja, namanya juga kucing, dikasih ikan pasti noleh juga. Hatinya menggerutu. Sementara Arga sangat menikmati raut wajah Hania. Ekspresinya berubah-ubah. Kadang terbelalak, memberengut, mencibir, dan menatapnya tajam. Membuatnya gemas.


"Mas ngeliat?", Hania menatap Arga menuntut jawaban.


"Keliatan, Han. Bukan ngeliat. Aku ngga sengaja", Hania mencibir. Halah.


"Aku mana tau kalau dia akan bertindak begitu. Aku reflek menoleh waktu dia mengaduh. Kupikir dia kenapa-kenapa", terang Arga. Pria tampan itu tidak ingin Hania berpikir macam-macam.


Hania kembali mengubah posisi tubuhnya kembali menyamping. Dia kesal karena Arga tidak tegas. Membiarkan wanita genit itu masih berkeliaran disekitarnya. Jika tidak bisa memecatnya, paling tidak kan dia bisa memberi ultimatum pada wanita genit itu. Dia semakin kesal karena pastinya Arga akan bertemu wanita itu setiap hari.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa like tiap babnya ya...


Krisan juga boleh.

__ADS_1


__ADS_2