Yang Terakhir

Yang Terakhir
64. Pengakuan Kecil


__ADS_3

Wanita cantik itu menaikkan sebelah alisnya sambil bersedekap menatap pria tampan itu. Sementara itu, Arga terkekeh baru menyadari dirinya terpancing pertanyaan Hania yang ternyata untuk menyudutkannya.


"Aku...?", sungguh Hania penasaran dengan kelanjutan kalimat Arga yang terputus.


Arga menatap Hania. Pria tampan itu ragu mengatakan tentang perasaannya yang sesungguhnya. Wanita cantik dihadapannya itu belum sepenuhnya membuka hati untuknya. Dia takut Hania akan menjaga jarak sangat aman darinya, menjauh. Sungguh dirinya tidak menginginkan hal itu terjadi.


"Kamu mau tahu aja atau mau tahu banget?", Arga menarik ulur jawabannya, dia ingin melihat reaksi Hania.


"Ck! Tinggal ngomong aja, pake basa-basi segala sih, Mas", keluh Hania membuat pria itu terkekeh.


"Haha... Karena ini penting. Kalau kamu cuma mau tau aja artinya kamu ngga serius pengen tau dan itu nantinya hanya akan berlalu begitu aja, umm..., ngga ada artinya. Tapi kalau kamu mau tahu banget, disini kamu bener-bener pengen tahu dan setelah tahu kamu akan mengerti kalau itu berarti", Hania melongo mendengar alasan pria tampan itu. Detil.


"Yang mana?", tanya Arga.


"Apa ada sangkut pautnya sama aku?", Hania balas bertanya, Arga mengangguk membenarkan pertanyaan Hania.


Hania terdiam. Dirinya meraba-raba, kira-kira apa yang akan dikatakan Arga. Sementara Arga memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang membuatnya tersudut. Pria tampan itu harus menyampaikannya dengan baik agar wanita itu juga merasakan apa yang dirasakannya.


"Menurut Mas, kalau itu menyangkut diriku, apa aku ngga berhak tau?", tanya Hania.


"Bener. Kamu berhak tau", sahut Arga menatap lekat wanita cantik itu.


Sungguh Arga ingin langsung menyatakan perasaannya pada wanita cantik yang sudah membuatnya takluk. Namun, pria tampan itu tahu jika wanita itu pasti akan menghindar karena belum yakin dengan perasaannya. Wanita itu pernah terluka. Luka yang sama dengannya. Bedanya, sejak bertemu Hania, rasa enggan untuk memulai hubungan baru dengan wanita, sirna. Sementara wanita itu, trauma masa lalunya membuatnya takut membuka hati untuk cinta yang lain.


"Sebenernya aku pernah nanyain hal ini sama Mas, dan itu bikin kita salah paham", ucap Hania mengingat perselisihannya dengan Arga beberapa waktu yang lalu.


"Iya. Aku inget", Arga menatap Hania.

__ADS_1


Pria tampan itu belum menemukan kata-kata yang tepat menurutnya. Dirinya takut, Hania yang akan salah paham kali ini.


"Kamu percaya sama aku?", tanya Arga sungguh-sungguh, Hania mengangguk yakin.


"Kalau aku bilang aku tulus berteman sama kamu, kamu percaya kan?", lanjut Arga, Hania mengangguk lagi.


"Makasih", ucapnya seraya menatap Hania.


Hania hanya menganggukkan kepalanya. Wanita cantik itu masih menunggu Arga mengatakan apa yang ingin dikatakan pria tampan itu.


"Jujur, sejak aku ketemu kamu, ada keinginan untuk mengenalmu lebih dekat. Ada rasa lega dan senang ketika bertemu denganmu", ungkap Arga.


Jelas dia tidak menyebut alasan sebenarnya dibalik keinginannya mengenal Hania. Pasti akan terdengar konyol. Menikahi wanita cantik bermata kelinci di dalam mimpinya. Dan wanita itu adalah Hania.


"Jadi aku memintamu jadi temanku. Karena berteman denganmu membuatku senang, aku menganggap pertemanan kita, istimewa", Arga menekan kata istimewa diakhir katanya, berharap wanita bermata kelinci yang berhasil membuatnya jatuh hati itu merasakan perasaannya.


Hania masih mencoba mencerna perkataan Arga. Setiap kalimat yang keluar dari bibir seksi pria tampan itu tak ayal membuatnya melambung. Pria yang disukainya itu senang berteman dengannya dan menganggap pertemanan mereka istimewa.


Lagi-lagi rasa tidak percaya dirinya menghalau pikirannya yang melayang kemana-mana. Hah. Kenapa dirinya merasa GeEr? Ya. Pasti pria itu hanya senang berteman dengannya saja dan menganggapnya sebagai teman yang menyenangkan. Itu saja. Dan dia tidak ingin salah paham.


"Aku senang Mas Arga mau berteman denganku. Makasih", ucap Hania.


Ada rasa nyeri dihatinya ketika Hania berpikir realistis. Wanita itu lama-lama terbiasa dengan kehadiran Arga disekitarnya. Meskipun baru sebentar mengenal pria yang dianggapnya seksi itu, dirinya bisa menerima Arga dan menjadi semakin dekat. Bahkan dia merasa takjub dengan dirinya sendiri yang selama ini menolak dekat dengan pria-pria yang mendekatinya. Tapi mengingat siapa dirinya dan latar belakang Arga, wanita itu takut mengakui perasaannya. Merasa tak sebanding.  Dia takut terluka lagi.


"Harusnya kamu merasakan yang kurasakan, Han. Aku mencintaimu!", jerit Arga dalam hatinya.


Arga terkekeh menanggapi ucapan terimakasih Hania. Untuk apa terimakasih itu? Yang  pria tampan itu mau adalah Hania merasakan perasaannya juga. Harusnya wanita itu bisa merasakannya karena Arga sudah sering memperlihatkannya secara terang-terangan. Dasar tidak peka! Entah apa yang dipikirkan wanita cantik bermata kelinci itu? Apakah harus bilang cinta didepannya baru dia sadar? Tapi bagaimana kalau malah menjauh? Arga mengacak rambutnya. Dia gemas.

__ADS_1


"Aku yang makasih kamu mau menerimaku", ucap Arga.


Arga mengulurkan tangannya mengusap rambut panjang Hania. Lalu menekan tengkuk wanita cantik itu agar mendekat. Lalu, cup. Sebuah kecupan mendarat dikening wanita itu.


Hania hanya memejamkan matanya. Rasa hangat menjalar dari kening turun ke hati. Kecupan lembut bibir seksi pria tampan itu sungguh membuat jantungnya berdegup kencang. Tangannya mencengkeram bantal sofa dipangkuannya untuk menetralkan kegugupannya.


Arga menjauhkan wajahnya dan menatap lekat wajah Hania seolah merekamnya dalam ingatan agar selalu teringat dengan jelas.


"Mas? Udah malam", tegur Hania membuyarkan tatapan Arga, terdengar pria itu mendesah.


Arga melihat jam dipergelangan tangannya. Ah. Benar. Sudah mulai larut. Jika boleh, dirinya akan menginap saja rasanya. Sungguh, berdua dengan Hania membuatnya nyaman. Dia enggan pulang.


"Kalau lagi seru begini, kenapa waktu cepet banget jalannya sih?", keluh pria itu.


Hah. Apanya yang seru? Adegan aneh tadi? Iya, aneh, karena hubungan mereka hanya sebatas teman dekat banget seperti yang Hania katakan tapi Arga memperlakukannya seolah dirinya adalah milik pria itu, dan Hania terima-terima saja diperlakukan begitu.


"Ya sudah, aku balik dulu", Arga bangkit dari duduknya diikuti Hania.


Hania mengantar Arga hingga didepan pintu. Sebelum keluar, pria itu membalik tubuhnya menghadap Hania lagi. Lalu, cup. Lagi-lagi kecupan yang menghangatkan hati Hania mendarat manis dikeningnya.


"Pengantar tidurku", ucap Arga seraya menyunggingkan senyumnya.


Hania terkesiap dan hanya menatap pria tampan didepannya itu. Tidak sopan. Apa dia tidak tahu, karena kecupan-kecupan itu nantinya akan membuat Hania malah susah tidur. Pengantar tidurnya katanya? Ish!


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Like di tiap babnya ya... dukung terus karyaku!


Tengkyu


__ADS_2