Yang Terakhir

Yang Terakhir
193. Sekeping Ingatan Yang Kembali


__ADS_3

Rosa menatap Galih dengan tatapan menghunus tajam. Rasanya pendengarannya tadi tidaklah salah. Iya. Dia tidak salah dengar. Galih melaporkannya pada pihak berwajib. Tapi apa salahnya pada pria gagah itu?


"Galih. Lu yang ngelakuin ini? Salah gue apa!?" tanya Rosa lagi untuk memastikan bahwa apa yang didengarnya barusan tidaklah salah.


"Maaf tapi gue harus lakuin ini." ucap Galih setelah berada di hadapan Rosa.


"Tapi kenapa!? Apa salah gue sama elu!? Hah!?" pekik wanita seksi itu meneriaki Galih.


"Nanti juga lu tahu. Mending sekarang lu ganti baju lu." ucap Galih datar.


Rosa sempat terpaku demi mendengar ucapan Galih yang terkesan dingin. Berbeda dengan sikapnya yang ramah dan hangat yang dirasakannya beberapa saat kemarin.


"Sebaiknya anda bergegas, Bu." tegur seorang polisi wanita di sampingnya.


Sepeninggal Rosa dan para polisi tadi, Galih menghempaskan tubuh lelahnya di sofa. Menyandar pada sandaran sofa yang empuk lalu memejamkan matanya. Beberapa malam dia tidur di hotel meninggalkan Rosa sendirian di apartemen sekedar untuk menghindari wanita itu.


Masih teringat dengan jelas di benaknya bagaimana hasratnya yang terpicu karena tingkah nakal Rosa yang menggodanya. Dirinya bahkan memimpin permainan yang diciptakan wanita itu. Ritual pemanasan sudah lengkap dan keduanya sama-sama berga***h. Dan hampir saja dia terperosok ke dalam lembah kenikmatan ketika deringan di ponselnya menariknya kembali ke dunia nyata.


Hah! Galih membuka matanya dan menghembuskan napasnya dengan berat. Lalu mengacak rambutnya. Sungguh dia menyesal karena hampir saja tergoda. Namun juga lega sekaligus, misinya selesai.


Kini ingatannya tertuju pada Hania. Sahabat yang sangat dikasihinya. Bagaimana keadaannya sekarang? Wanita cantik bermata kelinci itu sering menagis belakangan ini. Rasa kesalnya pada Arga semakin bertambah saja. Sejak mengenal pria angkuh itu, Hania banyak mendapat masalah. Meski Hania sudah menemukan tambatan hatinya lagi tapi masalah lain silih berganti menerpanya. Dulu, wanita cantik bermata kelinci itu hidup dengan tenang.


Sementara itu, Syana yang sedang kebingungan berjalan mondar-mandir di kamarnya. Sebentar duduk lalu berdiri lalu duduk lagi. Terus begitu. Jari jemarinya saling meremas.


Wanita yang mirip dengan Hania itu dilema. Semakin lama semakin merasa asing di rumah megah itu. Apalagi sikap sang pemilik rumah yang tidak menerimanya tapi juga tidak menolaknya. Dia ingin keluar dari sana tapi Handoko mencegahnya dan memberinya harapan. Iya. Dia jadi berharap. Berharap memiliki keluarga. Dia tidak ingat jika memiliki keluarga sebelumnya.


"Syana, kamu punya foto masa kecilmu? Boleh saya melihatnya?"


Permintaan dari Bu Irene beberapa malam yang lalu kembali muncul di benaknya membuatnya semakin gugup. Dia tidak membawa apapun selain bukti berupa surat keterangan hasil tes dna dari rumah sakit.


Jangankan foto, bahkan dirinya tidak ingat dimana dia tinggal dan apa yang terjadi sebelum kecelakaan dan sebelum dirinya dipertemukan dengan keluarga Pratama. Semakin mencoba, kepalanya semakin nyeri. Kepalanya sudah terasa sangat berat. Rasa nyerinya seperti dipukul ribuan martil. Sangat menyiksanya.


Syana memutuskan keluar dari kamarnya dan bergabung dengan keluarga barunya yang tarik ulur dengannya di meja makan. Di sana sudah ada Pak Pratama dan Bu Irene yang menatap kedatangannya tanpa bisa ditebak arti tatapan itu. Dan yang mengejutkannya, Rendy dan Iden juga ada di sana. Membuatnya semakin gentar.


"Syana, setelah makan, ikutlah dengan Iden! Dia akan mengantarmu ke rumahmu yang lama." perintah Pak Pratama seraya menatap Syana.


Pria paruh baya itu teringat ucapan Handoko tentang Syana yang kehilangan ingatannya pasca kecelakaan. Dia tidak akan memaksa gadis itu mengingat. Tapi dia sangat berharap menemukan titik terang tentang putrinya yang hilang itu melalui sepenggal ingatan Syana. Apakah Hania atau Syana? Ada rasa tak rela jika ternyata Hania bukanlah putri mereka. Dia sudah jatuh sayang pada wanita cantik itu sejak pertama kali bertemu. Firasatnya mengatakan Hania lah putrinya.


Deg!


"Rumah?" lirih Syana.


Apakah dia akan dikembalikan? Dan tidak diakui sebagai putri keluarga itu? Jantung Syana berdebar kencang saat memikirkan perkataan Pak Pratama. Dia tidak rela jika tempatnya digeser orang lain. Dialah putri keluarga itu! Hasil tes dna itu buktinya!


"Iya." namun yang terucap berbeda dengan yang diteriakkannya di dalam hati.


Keesokan harinya, sebuah sedan mewah berhenti tepat di sebelah mobil jeep di parkiran kantor polisi. Arga tak langsung keluar dari sedannya ketika melihat Galih yang sedang bersandar pada jeep seraya menatap ke arahnya. Tak lama, sebuah mobil sport berhenti di sebelahnya. Arga beralih menatap ke arah mobil sport berwarna merah itu dengan membuka kaca jendelanya. Begitu pula Galih.


Iden keluar dengan wajah datar tanpa menoleh ke arah Arga maupun Galih.

__ADS_1


"Keluarlah!" ucap Iden pada seseorang di dalam mobilnya.


Pintu sisi lain mobil sport itu terbuka. Arga terpaku menatap seorang wanita yang baru saja keluar dari mobil Iden.


"Dia benar-benar mirip Hania." batin Arga.


Galih bahkan sampai menegakkan tubuhnya yang tadinya bersandar santai pada mobil jeepnya. Mungkin dengan posisi tubuh yang lebih tegap dia dapat mengenali wanita itu dengan lebih baik.


"Hania?" gumamnya dalam hati.


Sementara itu, Syana yang baru mengangkat wajahnya terkejut saat bersitatap dengan Galih. Seketika bayangan tentang pria gagah itu berkelebat di benaknya. Matanya sempat terbelalak tadi. Namun segera dialihkannya pandangannya ke sembarang arah. Kepalanya mendadak pusing.


"Dia kayak familiar. Kenapa tiba-tiba muncul di kepalaku, sih? Foto-fotonya juga ada di rumahku. Tatapan matanya, aku kayaknya pernah liat tatapan mata kayak dia. Tapi dimana?" batin Syana sembari meremas jari jemarinya sendiri, kepalanya sudah terasa nyeri.


Tatapan mata Syana teralih pada sosok Arga yang baru keluar dari sedan mewahnya.


"Dia siapa lagi? Keren banget. Apa mungkin temannya Mas Iden? Apa mereka bertiga berteman?" monolog Syana.


"Ayo! Reza sama Pak Sam udah nungguin kita." ajak Arga.


"Tuh 'kan? Mereka temenan. Circle orang ganteng isinya memang ganteng-ganteng. Tapi sayang, dingin dan datar. Untung licin, kayak keramik." ucap Syana yang sempat memuji ketiga pria itu sekaligus mengatainya.


Di dalam, Reza dan Pak Sam sedang berbincang berdua. Melihat kedatangan Arga, Reza dan Pak Sam berdiri dan langsung menyambutnya.


"Selamat pagi, Pak Arga." sapa Pak Sam diikuti Reza.


Syana memperhatikan interaksi mereka.


Entah kenapa hatinya menghangat hanya dengan menatap wajah itu. Namun tiba-tiba bayangan wajah Galih yang sedang tersenyum seraya mengerling padanya terbersit di benaknya.


"Akh! Sssh!" desisnya seraya memegang pelipisnya.


Kelima pria yang sedang serius berbincang itu langsung menoleh pada Syana.


"Kamu ngga apa-apa?" tanya Iden yang berdiri di sisinya.


"Kepalaku sakit, Mas." sahut Syana.


"Minum obatmu! Kamu bawa obatnya?" tanya Iden lagi memberi perhatian pada gadis itu.


Tak dipungkiri dirinya sedikit khawatir akan kondisi Syana. Dia tahu gadis itu kehilangan ingatannya. Kepalanya akan sakit jika mengingat terlalu keras. Yang terpenting, jangan sampai gadis itu pingsan saat ini. Kesaksiannya sangat dibutuhkan.


Syana langsung menelan 3 butir tablet pereda nyeri di kepalanya. Setelah itu, dia bersandar pada sandaran sofa, sejenak mengistirahatkan dirinya agar tidak berpikir macam-macam.


2 jam telah berlalu. Arga sudah selesai memberikan kesaksiannya. Begitu pula dengan Galih. Sementara itu, Iden, dan Pak Sam yang mendampingi Syana bersama seorang dokter belum juga keluar.


"Saya memang kehilangan ingatan, Pak. Tapi yang hilang hanya kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi." tekan Syana saat para penyidik meragukannya.


"Saya tidak ingat asal usul saya, masa kecil saya, keluarga saya, bahkan saya tidak ingat dimana saya tinggal sebelum kecelakaan itu." ucapnya lagi dengan mata yang sudah mulai mengembun.

__ADS_1


Ada rasa nyeri di hatinya ketika mengingat dirinya seorang diri di dunia ini. Kemarin Iden membawanya ke rumahnya sebelum dia bertemu keluarga Pratama.


Sebuah rumah minimalis bercat putih yang tak terawat. Kata Iden, itulah rumahnya. Setelah ibunya meninggal, Syana tinggal bersama neneknya sebelum sang nenek meninggal dunia. Kini, dia sendirian.


"Kok Mas tahu ini rumahku, dan nenekku udah meninggal dunia?" tanya Syana curiga.


"Nyari informasi tentang kamu itu ngga sulit. Kenapa? Kamu curiga?" Iden terkekeh.


"Yang ada aku yang curiga sama kamu. Kamu tiba-tiba datang ke keluargaku dan ngaku sebagai adikku." lanjut Iden membuat hati Syana seperti diremas, ngilu.


Syana masuk terlebih dahulu setelah pintu terbuka. Bagaimana Iden bisa memiliki kunci rumah itu? Tukang kunci lah! Iden meminta tukang kunci membuatkan duplikat kunci rumah Syana dengan alasan kunci yang dipegangnya hilang sementara keluarganya masih di luar kota, agar tukang kunci tidak mencurigainya. Lalu setelah mendapat duplikasinya, Iden mengganti gagang pintu 1 set, agar tidak disalahgunakan.


Begitu memasuki ruang tamu yang menyatu dengan ruang tengah, bayangan-bayangan semasa dia tinggal di rumah itu perlahan tampak jelas tapi hanya sepenggal-sepenggal. Seperti de javu. Dia merasa pernah berada di rumah itu.


Iden tampak memperhatikan dengan tenang. Sementara Syana, dia seperti baru menemukan sesuatu yang mengejutkan. Seperti foto-foto yang terpajang di atas buffet dan tergantung di dinding. Gadis dalam foto itu memang mirip dengannya, hanya hidung gadis dalam foto itu tidak terlalu mancung sepertinya, dagunya juga terbelah sementara dia tidak., tulang pipinya lebih tinggi sedikit.


"Dia Syana Saraswati." ucap Iden seraya menunjuk foto yang tergantung di dinding.


Nyut!


Syana meringis menahan kepalanya yang mendadak berdenyut. Dia bingung. Benarkah? Kalau gadis itu Syana, lalu dirinya siapa?


"Aku bingung." gumamnya lirih.


Kaki jenjang Syana kembali melangkah memasuki kamar yang hanya satu-satunya di rumah itu. Matanya lagi-lagi terbelalak ketika mendapati beberapa foto seorang pria gagah berwajah teduh.


"Wah, cowok kamu keren juga ya?" goda Iden lalu bersiul, lalu terkekeh karena Syana meliriknya sambil memberengut.


Syana meraba foto itu sambil memejamkan matanya. Sambil terus mencoba mengingat. Sekeping dua keping bayangan pria dalam foto itu tersenyum sambil mengerling padanya. Semakin lama semakin jelas, namun kepala Syana juga semakin berdenyut sampai-sampai dia duduk berjongkok seraya memegang kedua sisi kepalanya.


"Kamu ngga apa-apa, Syana? Udah ngga usah dipaksakan. Pelan-pelan aja. Waktumu masih banyak." ucap Iden yang ikut berjongkok di hadapan Syana.


Sedikit banyak Iden jadi khawatir pada keadaan Syana. Gadis itu keras kepala juga.


Iden menuntun Syana kembali ke dalam mobilnya. Pria blesteran itu juga sudah mengumpulkan beberapa foto masa kecilnya Syana dan beberapa foto dirinya yang sudah dewasa. Beberapa surat-surat penting juga sudah dibawanya, seperti akta lahir, buku nikah orangtua Syana, ijazah sekolah dan sertifikat-sertifikat pelatihan Syana.


Syana hanya tamatan SMA tapi punya banyak sertifikat pelatihan. Gadis itu terampil juga ternyata. Mengetahui tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, Syana mengikuti banyak pelatihan gratis, yang penting dia dapat sertifikat yang dapat mendongkrak nilai jualnya ketika melamar pekerjaan.


"Bukankah saksi hanya dimintai keterangan yang berhubungan dengan tersangka, Pak? Saksi hanya tidak ingat kejadian-kejadian sebelum bertemu dengan tersangka. Tapi saksi masih ingat dengan baik bagaimana dia bertemu dengan tersangka. Sebelum bertemu dengan tersangka, saksi tidak berhubungan dengan tersangka." suara Pak Sam yang membelanya menariknya dari lamunan sesaatnya tadi.


"Iya bener, Pak. Saya tidak ingat kejadian apapun sebelumnya setelah terbangun di rumah sakit." timpal Syana.


"Saat terbangun di rumah sakit Pak Handoko sendiri yang menemui saya dan mengatakan bahwa kecelakaan itu karena dirinya. Jadi dia yang akan bertanggung jawab." lanjutnya lagi.


"Apakah anda mengenal saudari Rosa?" penyidik melanjutkan pertanyaannya.


"Rosa?" gumam Syana, lalu menggelengkan kepalanya.


"Kenal atau tidak?" ulang penyidik.

__ADS_1


"Tidak." sahut Syana.


*******


__ADS_2