Yang Terakhir

Yang Terakhir
165. Menemukanmu


__ADS_3

Brak!


Hentakan pintu mobil yang ditutup oleh Raka membuat Hania tersentak dari tidur pulasnya. Wanita cantik itu seketika membuka matanya lebar-lebar. Yang pertama dilihatnya adalah parfum mobil yang terpasang di dashboard. Dia mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar. Keningnya mengernyit saat menyadari dimana dirinya berada. Di dalam sebuah mobil. Tapi mobil siapa?


Seingatnya tadi dirinya sedang berada di sebuah mall. Hania membelalakkan matanya ketika teringat dirinya bertemu Raka, pria yang sangat ingin dihindarinya. Lalu dia tidak tahu apa yang terjadi kemudian, tahu-tahu sudah berada di dalam mobil saja. Apakah yang ditumpanginya adalah mobil Raka? Tubuhnya seketika gemetar. Dia panik dan takut.


Hania membuka pintu mobil itu dan berusaha keluar. Tubuhnya yang masih lemas semakin lemah. Tapi dia harus segera pergi mumpung pria yang dianggapnya brengsek itu tidak ada di sana. Namun baru saja menurunkan sebelah kakinya, tangannya tiba-tiba dicekal dan ditarik paksa dari luar.


Hania meronta sekuat tenaganya dan berusaha kembali masuk ke dalam mobil. Tapi tenaganya yang sudah lemah itu tentu saja kalah besar dengan tenaga pria berbadan kekar yang menariknya. Wanita cantik itu kalah kuat tapi masih terus bertahan. Tiba-tiba hidungnya dibekap dari belakang dan lagi-lagi dirinya tak sadarkan diri. Pria besar tadi menggendong tubuh Hania seperti karung beras. Hanya dipikul di pundaknya.


"Bangun! Heh! Putri tidur! Ayo bangun!" tepukan kasar di pipinya membangunkan Hania dari pingsannya, lamat-lamat terdengar suara pria yang menyebutnya putri tidur dengan suara beratnya yang terkesan kaku.


Hania menyipitkan matanya lalu perlahan melebarkan matanya dan menyesuaikan penglihatannya yang masih kabur dengan cahaya lampu yang menyilaukan.


Seorang pria paruh baya, seorang pria bertubuh kekar yang menariknya dari dalam mobil, dan beberapa pengawal yang berjaga di dalam ruangan itu, salah satunya yang menepuk pipinya dengan kasar tadi, terlihat sedang menatap dirinya.


Hania mencoba berteriak tapi mulutnya ditutup dengan lakban. Pun ketika hendak bergerak, kaki dan tangannya diikat dengan tali tampar pada sebuah kursi yang didudukinya. Terasa sekali ikatan di mulut dan anggota tubuhnya sangat erat.


"Mmmph! Mmmph!" wanita cantik itu berseru seraya memelototkan mata kelincinya seolah berkata, lepaskan!


"Akhirnya kita bertemu, Hania." ucap seorang pria paruh baya yang sepertinya adalah pimpinan para pria bertubuh kekar itu.


"Mmmph! Mmmph!" Hania tidak bisa membalas ucapan pria tua itu.


"Buka penutup mulutnya! Dia sepertinya ingin menyapaku." perintah pria paruh baya tadi.


"Akh!" lirih Hania ketika pria bertubuh kekar yang tadi membangunkannya membuka lakban yang menutup mulutnya dengan kasar.


"Lepasin saya! Saya ngga kenal anda! Kenapa anda menculik saya!? Anda siapa!? Apa saya mengenal anda!?" hardik Hania seraya menatap pria paruh baya itu lekat.


Wajah pria paruh baya itu mirip dengan suaminya, Arga. Tapi dirinya tidak pernah bertemu dengannya. Pun Arga tidak pernah membicarakannya. Tapi kenapa pria tua itu menculiknya? Sebenarnya apa yang terjadi? Dan yang paling mengganjal di pikirannya, apa hubungan pria tua itu dengan suaminya?


"Rupanya Arga tidak pernah bercerita tentangku ya. Dasar anak tidak tau balas budi!" seru pria tua itu, membuat Hania mengernyitkan keningnya.


"Aku Aris. Oomnya Arga." Hania menaikkan alisnya.


"Pantas saja mirip." batin Hania.


"Kenapa menculik saya? Bukankah harusnya anda tau, saya ini istrinya keponakan anda?" rasa penasarannya membuatnya terus mencerca pria tua bernama Aris itu.


Oom Aris tertawa terbahak-bahak. Hania hanya menatapnya dengan wajah datarnya. Apanya yang lucu?


"Aku minta maaf, Hania. Tapi kamu memang harus terlibat dalam urusanku dengan suamimu." ucap Oom Aris dengan serius.


"Ngga adil ya? Tapi suamimu itu memang harus mendapat pembalasan dariku." lanjutnya penuh tekanan.


Hania kembali menatap Oom Aris dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa paman suaminya itu begitu membenci keponakannya sendiri? Bukankah mereka sekeluarga? Dan lagi, apa kesalahan suaminya hingga membuat sang paman begitu murka padanya?


"Apa pantas seorang oom menaruh dendam pada keponakannya sendiri, Oom? Memangnya apa salah Mas Arga?" tanya Hania lagi.


Selama ini, di matanya, Arga adalah sosok penyayang dan baik hati. Dirinya juga tidak pernah mendengar kabar buruk menyangkut prilaku suaminya. Memang Arga dikenal dingin dan terkesan arogan tapi itu hanya di kalangan tertentu saja. Baginya, Arga pria yang hangat dan perhatian.

__ADS_1


"Menjawab pertanyaanmu hanya akan membuka luka lamaku, Hania. Tapi yang jelas, aku hanya ingin sebuah keluarga bertindak adil terhadap semua anggotanya. Tidak pilih kasih dan saling menghargai. Itu saja. Selama ini, itu tidak kudapatkan dari keluargaku, Hania. Dan hasilnya adalah yang kamu lihat sekarang ini. Aku terpuruk di sini, sedangkan mendiang ayah mertuamu beserta anak dan istrinya hidup tentram!" terang Oom Aris dengan ekspresi wajah dinginnya.


Hania menggelengkan kepalanya. Sungguh sulit mempercayai ucapan pria paruh baya di hadapannya itu. Dirinya sudah merasakan kehangatan Arga dan ibu mertuanya. Tidak mungkin mereka tega berbuat kejam pada anggota keluarganya sendiri.


"Ngga mungkin! Mas Arga ngga mungkin menelantarkan Oom kalau Oom ngga salah. Pasti anda sudah membuat kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Iya 'kan!?" ucap Hania menyudutkan Oom Aris.


"Diam! Ternyata banyak omong juga kamu!" bentakan Oom Aris membuat Hania tersentak.


Wanita cantik itu tidak terima jika suaminya dianggap menelantarkan keluarganya sendiri dan harus bertanggung jawab pada nasib sang paman kini. Dia merasa harus membela sang suami. Namun bentakan sang paman membuatnya sedikit gentar. Ekspresi Oom Aris yang tadinya datar berubah menjadi lebih dingin. Hania takut jika pria paruh baya itu bertindak kasar padanya.


Membayangkan dirinya adalah wanita dan sendirian ditengah-tengah para pria bertubuh kekar membuat bayangan saat dirinya disekap Raka kembali berkelebat di benaknya. Rasa panik kembali menyerangnya. Tubuhnya gemetar dan matanya berkaca-kaca.


"Lepasin saya! Lepasin saya! Tolong! Tolong!" Hania histeris dan mulai menjerit ketakutan.


"Berisik!" bentak Oom Aris lagi.


"Anda ngga bisa berbuat begini ke saya! Lepasin! Tolong!" Hania memberontak.


"Diam! Aku bilang diam, Hania!" bentak pria paruh baya itu lagi seraya menggebrak meja kecil di sampingnya.


Namun bentakan itu bukannya membuat Hania diam, malah membuatnya semakin histeris. Oom Aris yang sudah terpancing emosinya langsung berdiri dan mendekati Hania. Pria tua itu mencengkeram pipi Hania dengan kencang, membuat tubuh Hania semakin gemetaran. Air matanya sudah menganak sungai tanpa bisa di cegah.


"Kenapa kamu juga menyebalkan begini, Hania!? Dengar! Kali ini kamu harus berguna! Setidaknya suamimu itu membalas jasa-jasaku!" ancam Oom Aris dengan raut wajah dinginnya.


Hania menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu maksud perkataan Oom Aris barusan. Meski dirinya panik, alam sadarnya masih bekerja dengan cukup baik. Mengingat karakter suaminya dan ibu mertuanya, dia dapat menyimpulkan bahwa pria paruh baya itu tidak merasa puas dengan bagiannya. Pria tua inilah yang serakah. Suaminya tidak bersalah.


"Akh!" Hania mengerang ketika Oom Aris melepaskan cengkeramannya dengan sedikit mendorongnya.


"Jangan! Lepasin!" Hania mencoba memberontak.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi mulusnya membuat Hania seketika terdiam. Saking kerasnya tamparan itu, bibirnya sampai berdarah. Pria bertubuh kekar itu dengan kasar menutup kembali mulut Hania dengan lakban. Kemudian memeriksa setiap ikatan di tubuh Hania, lalu meninggalkan Hania di ruangan itu sendiri.


Sepeninggal pria kekar itu, Hania menatap ke sekeliling ruangan tempatnya di sekap. Sebuah kamar berukuran 4x4 m². Cukup bersih dan terawat. Tampak sekali jika tempat itu juga merupakan sebuah tempat tinggal. Entah siapa yang tinggal di sana.


Sementara itu, Arga sudah tidak sabar menuju lokasi dimana Hania disekap. Sejam yang lalu anak buahnya, Kelik, memberinya kabar jika lokasi Hania yang baru sudah ditemukan dan sudah dipastikan istrinya masih disekap di sana berdasarkan informasi dari Raka.


"Caramu nyetir mobil kayak putri solo, Za!" sindir Arga.


"Ini sudah diatas rata-rata, Pak." sahut Reza membela dirinya.


Enak saja dirinya dikatai lamban oleh Arga. Atasannya itu saja yang tidak sabaran. Tapi semua kata-kata yang ditujukan pada atasannya itu hanya berani diucapkan dalam hatinya.


"Aku ngga mau kehilangan kesempatan kali ini. Dia harus membayar semua perlakuan buruknya ke aku dan Hania! Dia juga!" tekan Arga seraya menunjuk Raka yang berada di mobil yang mengikutinya di belakang dengan kepalanya.


Reza menganggukkan kepalanya. Dia siap membantu atasannya itu menyelamatkan Hania lagi. Seperti yang sudah-sudah.


Sedan mewah Arga tiba di sebuah lapangan terbuka yang jauh dari pemukiman warga. Pria tampan itu menghampiri Kelik dengan langkah lebar, begitu pula Kelik yang melihat bosnya datang pun segera menghampirinya.


"Bos." sapa Kelik.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Arga.


"Bu Hania di dalam, Bos. Ada Pak Aris juga di sana." Arga hanya menganggukkan kepalanya lalu menoleh pada Raka yang berdiri tak jauh darinya, mantan sahabatnya itu tidak berbohong.


Arga dan anak buahnya segera menyusun strategi. Dibantu Raka. Tidak dipungkiri, Raka memiliki otak tak kalah cemerlang dari Arga. Pria yang juga tampan itu lebih handal dalam menyusun siasat dibandingkan Arga. Makanya, selama dalam pencariannya, Arga sulit menemukannya.


Setelahnya, Kelik membawa rekan-rekannya memasuki rumah sederhana yang memiliki halaman luas itu dengan cepat membuat anak buah Oom Aris pun terkejut dan tidak siap menerima serangan mendadak begitu.


Perkelahian pun tidak terhindarkan. Anak buah Oom Aris agaknya kewalahan. Arga yang dikuasai amarah, dengan kemampuan beladirinya, sanggup dengan cepat melumpuhkan lawannya hanya dengan beberapa kali pukulan. Begitu pula dengan Raka. Mantan sahabat Arga itu tampak begitu semangat mengalahkan lawannya. Dibenaknya hanya terpikirkan untuk menyelamatkan Hania. Setidaknya, dirinya sudah berjuang demi wanita yang dicintainya.


Bruk!


Sebuah tendangan membuat Arga terhuyung ke belakang dan membentur punggung Raka yang baru saja berhasil melumpuhkan lawannya. Keduanya menoleh.


"Cari Hania, biar kutangani yang di sini!" ucap Raka, yang diangguki Arga.


Arga sempat menatap Raka dengan ragu. Namun, anggukan Raka selanjutnya membuatnya harus mempercayai pria itu. Ah. Seandainya mereka tidak sedang berselisih, mereka tampak sangat akur. Memikirkan hal itu, hati Arga berdenyut nyeri.


Arga memeriksa setiap sudut rumah itu. Hah. Tampaknya saja sederhana dari luar. Nyatanya, Arga harus menggeledah satu per satu ruangan di dalam rumah itu.


Brak!


Tanpa pikir panjang, Arga menendang pintu sebuah ruangan yang terkunci. Instingnya meyakini Hania berada di dalamnya. Dan benar saja. Lagi-lagi hatinya berdenyut nyeri. Karena ketamakan sang paman, istrinya ikut menjadi korban. Untung dirinya belum terlambat. Melihat kaki dan tangan Hania terikat dan mulutnya di tutup lakban, amarahnya semakin memuncak.


"Honey?" lirih Arga seraya mendekati Hania.


Hania yang sejak tadi mendengar keributan di luar sempat panik dan terkejut karena dobrakan di pintu, akhirnya bisa menghela napas lega.


"Mmmph!" airmata Hania seketika berderai.


Arga membuka penutup mulut Hania dengan hati-hati, lalu beralih pada ikatan di tangan dan kakinya. Dengan penuh rasa bersalah Arga memeluk Hania.


"Mas...." Hania membalas pelukan Arga dengan erat seolah takut jika ditinggalkan.


"I found you." lirih Arga seraya mengeratkan pelukannya.


"Maaf, honey." lanjutnya.


Prok! Prok! Prok!


Tepukan tangan yang tiba-tiba muncul di ruangan dimana Hania disekap mengalihkan perhatian Arga dan Hania.


"Tidak sia-sia aku melatihmu 'kan Arga?" ucap seorang pria paruh baya yang sangat dikenal Arga.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.


🤗🤗🤗😘

__ADS_1


__ADS_2