
"Ehem!" dehem Hania mengusik anak lelaki tadi.
Anak lelaki yang sedang sibuk memasukkan botol-botol plastik ke dalam karungnya yang sudah kumal itu menoleh ke arah datangnya suara. Terlihat raut ketakutan dan cemas di wajahnya. Lalu spontan beringsut mundur sambil memegang erat karungnya.
Hania mendekat perlahan sambil tersenyum membuat wajah anak lelaki itu tidak setegang tadi. Sepertinya senyum Hania mampu mengusir rasa takutnya.
"Hai, sedang apa?" sapa Hania.
Bocah itu hanya melirik sisa tumpukan botol yang masih teronggok dibawah kakinya sebagai jawaban.
"Sendirian?" bocah itu menganggukkan kepalanya.
"Ini sudah sore, kamu ngga pulang?" tanya Hania lagi yang kali ini dijawab dengan gelengan.
"Sudah mau malam lo, kamu pulang ya, besok ke sini lagi tapi jangan lewat sini tapi lewat sana." bujuk Hania sambil menunjuk pintu belakang restoran.
Bocah itu menggelengkan kepalanya lagi lalu menunduk, dia masih takut melihat wajah Hania.
"Kenapa?" Hania penasaran.
Hania menduga orangtua bocah itu mungkin tidak peduli pada bocah itu, buktinya mereka membiarkan bocah itu bekerja memulung barang bekas seorang diri, bukannya menemaninya. Bocah itu kan masih kecil. Melihat perawakan dan bahasa tubuh bocah lelaki itu, Hania merasa iba.
"Saya harus membelikan emak obat dan makanan karena emak lagi sakit Bu.", akhirnya bocah kecil itu berani membuka mulutnya.
Deg.
Hania tertegun. Hatinya pedih demi mendengar perkataan bocah tadi.
"Sedangkan barang bekas yang saya kumpulkan belum bisa menghasilkan cukup uang kalau ditukar. Masih kurang banyak." Hania semakin iba pada bocah itu.
"Kalau gitu, ayo ikut saya dulu." ajak Hania.
Walau awalnya menolak, akhirnya bocah pria itu mengekori Hania juga, dan waitres yang mengikuti Hania sejak tadi berjalan di urutan paling belakang. Mereka tiba di halaman belakang restoran yang biasa digunakan para karyawan untuk beristirahat.
Hania mengajak bocah itu duduk di salah satu kursi panjang. Dia meninggalkan bocah itu, masuk ke dapur restoran lalu menyiapkan sepiring makanan lengkap dengan lauk pauknya. Kemudian meminta salah seorang karyawan membungkuskan 3 bungkus makanan yang sama dengan yang disiapkannya. Dia kemudian keluar meninggalkan dapur.
Bocah pria tadi langsung berdiri begitu melihat kedatangan Hania. Hania menyerahkan piring berisi makanan pada bocah itu. Bocah itu hanya menatap piring yang disodorkan padanya. Dia malu menerima piring itu.
"Sudah, kamu makan dulu ini, abis itu lanjut lagi kegiatan kamu." Hania memaksa.
"Terimakasih Bu." akhirnya dengan perasaan antara sungkan dan senang, bocah itu menerima piring berisi makanan untuknya.
Tak lama berselang seorang karyawan Hania datang membawa plastik berisi beberapa bungkusan yang diminta Hania. Lalu menyerahkannya pada atasannya. Setelah bocah itu menyelesaikan makannya dengan malu-malu, Hania menyerahkan plastik itu padanya.
"Terimakasih Bu." ucap bocah itu lagi yang disambut tawa renyah Hania.
"Ini, buat beli obat ibu kamu biar cepat sembuh ya." Hania menyodorkan selembar uang berwarna merah pada bocah itu.
__ADS_1
"Ngngng... Ngga usah Bu." tolak bocah itu tulus.
"Ibu sudah banyak ngasih saya makanan." lanjutnya.
Hania kagum pada bocah itu, meski hidupnya susah tapi masih punya harga diri, tidak serakah menerima pemberian orang lain.
"Ngga pa-pa, anggap aja kita berteman. Dan sekarang saya sedang bantu teman yang sedang membutuhkan." bujuk Hania dengan menawarkan pertemanan agar bocah tadi tidak sungkan menerima bantuannya.
Dengan ragu bocah itu menerima uang pemberian Hania lalu mengucapkan terimakasih lagi.
"Besok kalau ke sini masuknya lewat pintu samping situ ya." tunjuk Hania pada pintu sebelah yang memang dekat dengan pintu keluar di bagian belakang restoran yang biasa digunakan karyawan hilir mudik keluar masuk restoran agar tidak mengganggu pengunjung.
"Jadi nanti langsung ke sini. Nanti saya minta karyawan untuk memisahkan botol-botol plastik supaya bisa langsung kamu bawa." pesan Hania yang diangguki bocah itu sebelum bocah itu pamit meninggalkannya.
Hania masih berdiri di tempatnya sambil mengawasi bocah tadi berlalu dan menghilang di balik pintu. Tanpa disadarinya sepasang mata tengah memperhatikannya.
Deg.
Ketika berbalik, Hania terkejut melihat seorang pria tampan berdiri tak jauh darinya sedang menatapnya lekat. Pria yang sama dengan pria yang 2 kali menabraknya atau ditabraknya beberapa hari yang lalu. Hania mengerjapkan matanya dan menghela napas untuk mengatur ritme jantungnya. Kemudian berjalan ke arah pria bermata tajam setajam silet itu.
Pria bertubuh atletis itu masih berdiri di tempatnya sambil menatap Hania tanpa berkedip. Hania semakin berdebar saja ketika langkah kakinya semakin dekat dengan pria itu. Jantungnya memang tidak bisa bohong kalau sekarang ini Hania merasa gugup bertemu kembali dengan pria yang tanpa sadar dikaguminya itu. Karena dia tampan? Hania menggelengkan kepalanya menyadari pikirannya itu.
"Maaf, tempat ini area karyawan restoran, jika Mas mencari toilet, toilet pengunjung berada di sisi kiri restoran ini." terang Hania.
Pria tampan itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menanggapi penjelasan Hania.
"Ah, senyumnya manis sekali." batin Hania, namun sejurus kemudian menyadari kekagumannya, lalu menggelengkan kepalanya lagi.
Hania menghela napasnya dan melepaskannya dengan perlahan untuk mentralisir kekagumannya terhadap pria tampan itu.
"Jadi, apa Mas membutuhkan bantuan dan tidak menemukan waitres di depan sehingga sampai mencarinya ke sini?" tanya Hania bersikap profesional terhadap pengunjung restorannya.
"Apa Mba kerja disini?" tanya pria itu.
"Iya, saya chef disini." terang Hania.
"Apa yang membuatkan pesanan saya tadi Mba sendiri?" tanya pria itu lagi.
Hania memutar ingatannya. Sedari siang dia sudah ikut turun tangan membantu Ferry mengolah makanan. Jadi, pesanan yang mana yang dimaksud?
"Maaf pesanan yang mana ya Mas?" akhirnya Hania bertanya karena dia tidak dapat menebaknya.
"Sup gingseng asparagus, dipesan jam 3 sore tadi." ucap pria itu memberi petunjuk.
"Sup gingseng asparagus..." gumam Hania yang nyaris tak terdengar.
Mulut Hania seketika membentuk huruf O. Dia ingat siang menjelang sore tadi dia memasak sup mahal itu.
__ADS_1
"Ah, yang itu..." gumamnya tapi masih dapat didengar pria itu.
"Iya, yang itu." sahut pria tampan itu menjawab gumaman Hania.
Hania menatap pria tadi. Tanpa diduga pria itu masih menatapnya lekat, bahkan disertai dengan senyum semanis madunya. Seketika, Hania berdebar lagi. Ah. Dekat dengan pria tampan itu membuat jantungnya selalu berdebar seenaknya. Hania mendesah lalu mengangguk, mengiyakan pertanyaan pria tampan itu.
"Saya suka supnya, rasanya hangat." puji pria itu.
"Sepertinya menu itu akan menjadi favorit saya.", lanjutnya.
Hania hanya tesenyum dan menganggukkan kepalanya lagi. Dia bingung akan menanggapi bagaimana. Ditambah bingung lagi, pria tampan itu tidak segera beranjak dari hadapannya.
"Sebenarnya apa maunya dia sih?" batin Hania sambil melirik pria itu.
"Hah, menyesal aku datangin dia, kupikir pengunjung yang butuh bantuan." rutuknya dalam hati, mulai kesal.
"Iseng banget sih!" keluh Hania kemudian.
Hania yang selalu menjaga jarak dengan pria-pria yang mendekatinya, merasa pria tampan di depannya itu hanya modus. Dirinya mulai merasa terganggu dan tidak nyaman. Otomatis dirinya bersikap dingin pada pria tampan itu.
"Sebenarnya Mas itu mau ngapain?" tanyanya mulai ketus.
Mendapat sikap yang tidak hangat lagi, pria itu menyadari sikapnya yang memang sengaja menggoda wanita cantik bermata kelinci itu. Sebenarnya dia menyukai setiap reaksi yang muncul dari wajah yang mirip dengan wajah wanita yang ada dalam mimpinya. Rasanya gemas.
Hania geregetan pada pria yang bersikap tengil padanya itu. Rasanya ingin memakinya tapi dia ingat dimana dia berada dan dengan siapa dirinya berhadapan.
Di restorannya, tamu adalah raja yang akan mendapat jamuan yamg memuaskan. Tapi itu juga tergantung tamunya. Sejauh ini, pria tampan itu hanya berusaha berbincang saja dengannya, jadi tidak termasuk dalam daftar tamu yang kurang ajar. Dia tidak bisa memaki ataupun mengusir tamunya itu.
"Maaf, kalau tidak ada yang bisa dibantu, saya permisi, masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan." pungkasnya mengakhiri obrolan karena tidak mendapat respon, tetap dengan nada ketusnya.
"Bisakah kita berteman?" langkah kaki Hania terhenti demi mendengar permintaan pria itu.
Pria tampan itu masih menatap Hania lekat ketika Hania menatap pria itu. Senyum manis pria itu terbit lagi. Membuatnya semakin menawan saja membuat Hania semakin berdebar. Entahlah. Dirinya bingung. Di sisi lain dia terganggu akan kehadiran pria itu tapi di sisi lainnya dia juga mengaguminya.
"Tadi apa katanya? Berteman? Dia ini apa-apaan sih" monolog Hania dalam hati.
Hania memindai pria itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki kemudian ke ujung kepala lagi. Tatapan matanya yang tajam tapi teduh itu menghipnotis Hania untuk menatapnya juga. Pria itu tersenyum lagi. Dirinya kini menyadari bibir pria itu berwarna sedikit merah jambu dan... seksi. What!? Seksi!? Hania mengerjapkan matanya begitu menyadari pikirannya yang melayang-layang liar.
Entah kenapa, pria di depannya ini dengan mudahnya menarik perhatiannya. Selama ini hanya Galih yang diizinkannya mendekatinya. Tapi sepertinya pria tampan di depannya ini secara perlahan bisa meruntuhkan tembok pertahanannya yang kokoh jika sikap pria itu semanis madu seperti senyumnya yang selalu terbit di bibir seksinya.
"Tuh kan? Aku memujinya lagi!" rutuk Hania dalam hatinya.
Ah. Hania jadi salah tingkah. Dia malu dengan pikirannya.
"Saya Arga." pria tampan itu mulai memperkenalkan dirinya.
********
__ADS_1
Happy reading Novelians...
Dukung aku terus ya