
"Mama!" Hania tersentak dari tidur lelapnya.
"Dia di sini? Suaranya jelas banget." batinnya seraya menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan mata yang sudah mengembun dan jantung yang berdebar membuat napasnya tersengal.
Hanya ruangan temaram karena lampu dari balkon yang menembus sela-sela gorden yang tersingkap yang dilihatnya. Wanita cantik itu menoleh lagi ke arah kanannya. Wajah tampan suaminya begitu dekat dengan wajahnya. Masih terlelap dengan pulas. Tangan kokohnya setia melingkar di perutnya, memeluknya, yang membuatnya merasa aman.
Namun rasa gundah di hatinya membuatnya semakin tidak nyaman. Perlahan, disingkirkannya tangan kokoh itu dari atas perutnya. Saking lelapnya, pria itu tidak merasakannya.
Hania duduk di tepian ranjang seraya menatap foto di atas nakas di sampingnya lalu meraihnya. Hania bangkit menuju pintu besar yang mengarah ke balkon. Membuka pintunya dan keluar ke sana. Berdiri di tepian pagar pembatas balkon seraya memandang jauh ke atas langit hitam bertabur bintang. Wanita cantik bermata kelinci itu menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Namun begitu, tidak mengurangi rasa gelisahnya. Bahkan air matanya sudah mulai menitik di sudut matanya.
Setelah sekian lama, Tiara hadir di mimpinya. Apa karena saking sibuknya dengan segala permasalahannya, dirinya sampai tidak sempat memikirkan mendiang putrinya? Hingga sang mendiang putrinya harus mengetuknya dulu, dengan begitu dia ingat kembali? Dan kini rasa yang bernama rindu itu menyiksanya. Begitu sesak hingga hatinya serasa ingin meledak.
"Apa anak mama kangen sama mama? Maaf ya, sayang, mama sampe lupa dateng ke rumah Tiara." lirihnya seraya mengusap foto mendiang Tiara.
"Mama juga kangen, sayang." lirihnya lagi di sela isak tangisnya yang tertahan, lalu mendekap foto itu.
Tiba-tiba sepasang tangan kokoh Arga melingkar di pinggangnya. Memeluknya posesif dari arah belakang. Sebuah kecupan juga mendarat di belakang kepalanya.
"Kenapa keluar? Ngga bangunin aku?" tanya Arga dengan suara serak.
Arga yang terbangun tidak menemukan Hania di sampingnya membuat kantuknya hilang seketika. Diedarkannya pandangannya ke seluruh ruangan hingga dilihatnya gorden pintu balkon melambai-lambai tertiup angin. Pikirannya langsung tertuju pada Hania. Apakah wanita pujaan hatinya itu ada di luar sana? Di balkon?
Benar saja. Begitu Arga menyingkap gorden itu, tampak istrinya yang membelakanginya. Lamat-lamat terdengar gumaman wanita itu. Arga juga mendengar isakannya. Dia menangis?
Hatinya berdenyut nyeri melihat istrinya menangis sendirian. Ingin menyodorkan dada bidangnya sebagai tempat wanita itu bersandar dan berbagi keluh kesah dengannya tapi diurungkannya. Arga ingin memberi ruang pada istrinya untuk menyendiri. Mungkin saat ini, itulah yang dibutuhkannya. Dirinya masih merasa cukup untuk mengawasinya dari tempatnya berdiri sekarang, dalam diam.
"Tiara." lirih Hania seraya mengusap pipinya
Deg!
Arga tidak salah dengar. Hania memang menyebut nama mendiang anak sambungnya. Apakah wanita itu merindukan mendiang putrinya? Tapi kenapa harus dipendam sendiri? Ah. Salahnya juga yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan masalah yang terjadi belakangan hingga tak sempat memperhatikan istrinya. Ternyata dalam diam dan rona ceria yang ditunjukkan padanya selama ini tersimpan berjuta rasa yang tak diketahuinya.
Pria itu tersenyum kecut. Merasa dirinya lengah. Mendadak rasa rindu juga menggerayapi hatinya. Bahkan matanya juga sudah berkaca-kaca. Arga kembali mengecup belakang kepala Hania bahkan membenamkan hidungnya di sana.
Kini tubuhnya sudah sepenuhnya mengungkung tubuh Hania dalam dekapannya. Tangannya menyilang di depan dada Hania dan menempelkan pipinya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus di pipi Hania yang terasa dingin.
"Aku, kangen Tiara." sahut Hania setengah berbisik dengan suara bergetar yang serak membuat Arga semakin mengeratkan dekapannya.
"Besok kita ke sana?" Hania tidak menjawab tapi senyumnya melengkung.
Hania menoleh ke arah suaminya demi mendengar tawarannya. Jarak yang terlalu dekat membuat hidungnya menempel di pipi sang suami ketika menoleh.
"Makasih." ucap Arga bermaksud menggoda Hania.
"Untuk apa?" tanyanya masih dengan suara serak.
"C*uman singkatnya." sahut Arga.
"Aku ngga ny*um Mas." sangkal Hania lalu memalingkan muka.
__ADS_1
"Yang barusan?" Arga masih ingin menggoda istrinya.
"Ngga, Mas. Aku ngga ny*um. Cuma nempel aja. Mas iih!" kesal Hania seraya meengerucutkan bibirnya.
"Begitu?" Hania menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu c*um yang bener!" pinta Arga.
"Tuh 'kan? Mas modus. Modusin aja terus!" gerutu Hania yang seketika membuat Arga tergelak.
Itulah tujuannya. Membuat Hania melupakan kesedihannya. Dan sepertinya berhasil. Wanita cantik bermata kelinci itu sudah bisa mengomelinya.
"Apanya yang lucu!?" sungut Hania seraya melepaskan tangan Arga yang melingkar di pinggangnya lalu meninggalkan pria itu.
Arga masih tergelak sambil mengekori istrinya masuk ke kamar. Pria itu menutup kembali pintu yang mengarah ke balkon dan menyusul Hania naik ke ranjangnya.
"Mau kemana sekalian?" tanya Arga yang dibalas gelengan kepala oleh Hania.
"Ibu masih Semarang ya, Mas?" Arga hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Hania.
"Kamu kangen Ibu?" kali ini, Hania yang mengangguk.
Arga mendekatkan tubuhnya dan menarik Hania dalam dekapannya. Dia tahu hati wanita itu sedang rapuh. Meski semalam bibir wanita itu selalu tersenyum bahkan tergelak dengan mata yang dipenuhi pancaran kebahagiaan, hatinya tidak bisa bohong. Ada yang kosong di sudut ruang hatinya.
Huek! Huek!
Huek!
"Honey? Kamu kenapa?" tanyanya mendekat.
"Perutku mual, Mas. Huek!" Hania kembali memuntahkan isi perutnya tapi tidak ada yang keluar.
Arga memijit tengkuk istrinya, sesekali memberi usapan lembut di punggungnya untuk memberi rasa nyaman. Meski tidak berefek langsung pada mualnya, paling tidak saat ini Hania merasa lebih baik.
"Kita tunda dulu, ya, ziarahnya. Kamu lemes begini." ucap Arga lembut.
"Jangan! Aku ngga apa-apa." tolak Hania.
"Aku kangen Tiara, Mas." lirihnya dengan wajah memelas. Arga menghela napasnya, dia jelas tidak tega melihat raut wajah itu.
"Kamu pucet, honey. Yakin ngga apa-apa? Ngga ngerasa pusing atau perih perutnya?" cemas Arga sambil menuntun sang istri keluar dari kamar mandi.
Pria itu membaringkan istrinya di ranjang dan menyelimutinya. Diliriknya jam digital di atas nakas di sisi seberang ranjang. Jam 5. Masih terlalu dini untuk beraktifitas. Di luar masih gelap. Jika dulu, dia akan berlari pagi berkeliling komplek atau fitness di ruangan yang sudah tersedia di rumahnya. Iya dulu, sebelum dirinya menikahi Hania. Setelah menikah, dia lebih senang berolahraga berdua dengan sang istri di atas ranjang besarnya. Tapi kini, partner berolahraganya sedang tidak enak badan.
"Kita periksa dulu kalau begitu. Buat mastiin kamu ngga apa-apa." putusnya.
"Ngga usah, Mas. Aku udah ngga apa-apa. Abis muntah tadi aku udah ngerasa baikan. Beneran. Aku cuma masuk angin." tolak Hania.
Wanita itu merasa tubuhnya masih lemas tapi tidak mau menuruti permintaan Arga. Dia khawatir jika dokter mengatakan dirinya tidak baik-baik saja apalagi sampai menyarankan istirahat, suaminya itu pasti akan menunda ziarahnya betulan. Tidak peduli betapa dirinya merindukan mendiang putrinya.
__ADS_1
"Masuk angin? Apa kar'na semalam kamu angin-anginan di balkon? Ceroboh!" omel Arga lalu mencubit hidung Hania.
Arga memasuki kamar besarnya dengan nampan di tangannya berisi makanan untuk istrinya itu. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang masih terlihat manis saat melihat wanita yang dicintainya masih terlelap.
"Dasar putri tidur!" gumamnya tak melepas senyum tipisnya.
Hania yang masih tertidur nyenyak, terganggu karena kecupan Arga di hidungnya, pipinya, matanya, keningnya, dan bibirnya. Tapi kelopak matanya seperti lengket. Sulit sekali terbuka.
"Ayo bangun, putri tidur!" bisik Arga seraya memainkan rambut Hania.
Hania langsung menutup mulutnya saat mencium aroma masakan. Perutnya kembali seperti diaduk. Dengan secepat kilat wanita cantik itu berlari menuju kamar mandi. Sementara itu, Arga terkejut melihat ekspresi Hania, ditambah lagi suara pintu yang ditutup dengan kasar.
"Honey? Kamu masih mual?" tanya Arga yang menyusul Hania ke kamar mandi.
"Kamu sakit?" tanyanya lagi seraya mendudukkan Hania di sofa, dimana dia meletakkan semangkuk bubur ayam yang dimintanya pada Bi Sumi tadi.
"Aku cuma mual, Mas. Mungkin masih masuk angin." sangkalnya dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan memejamkan mata.
"Kamu makan dulu deh buburnya siapa tahu bisa 'ngurangin mual." saran Arga lalu mendekatkan bubur itu di depan Hania.
"Mau kusuapin?" tawarnya karena Hania seperti tak tertarik.
"Aku ngga mau makan itu. Liatnya aja perutku udah mual, Mas." lirih Hania tanpa mengubah posisinya. Tadi dia sempat melirik isi mangkuk di depannya.
"Tapi kamu harus makan, honey. Apa mau yamg lainnya?" tawar Arga lagi.
"Aku ngga pengen makan." sahutnya membuat Arga menghela napas.
"Kalau kamu ngga mau makan, kita ngga akan kemana-mana!" ancam Arga.
Hania seketika menegakkan tubuhnya dan menatap Arga. Matanya sudah berkaca-kaca. Wanita cantik bermata kelinci itu kesal sekali dengan ancaman Arga.
"Kenapa gitu? Mas ngga tau apa? Aku tuh kangen sama Tiara. Udah lama aku ngga ngunjungin dia. Cuma gara-gara masalah sepele kayak gini aja Mas ngga bolehin aku kesana!" sentak Hania.
Arga sudah tentu terkejut. Pria tampan itu tidak menyangka reaksi Hania akan heboh begitu. Bukan reaksi seperti itu yang diharapkannya. Bukan maksudnya juga menghalangi istrinya untuk berziarah. Dia hanya ingin Hania memakan makanannya. Kalau tidak suka dengan yang dibawanya, dia akan menukarnya dengan menu yang lain.
"Iya, sih. Tiara bukan anak Mas Arga, jadi Mas ngga ngerasa kangen sama dia. Dia 'kan cuma anakku aja, jadi yang kangen cuma aku." lirih Hania lengkap dengan wajah sendunya, sementara Arga semakin melongo mendengar ucapan Hania.
"Ya salaam!" jerit Arga dalam hati seraya mengusap wajahnya.
Pria karismatik itu kehilangan kata-kata. Hanya helaan napas saja yang bisa sedikit mengurangi rasa gemasnya. Dan mungkin, elusan di dadanya.
*******
Thanks for reading...
Di like ya, di vote ya, di kasih hadiah juga mau banget!
Krisannya atau komen juga boleh 🥰🥰🥰
__ADS_1