
Minggu tenang. Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Riska, model berkasus mantan istri Arga memang benar-benar menghilang bukan saja dari hadapan Arga tapi juga dari dunia hiburan sejak seminggu terakhir. Hania pun sudah mulai tenang, hingga Arga tak perlu cemas jika tiba-tiba wanita hamil itu merajuk yang berujung dirinya tak bisa mengunjungi calon bayi kembarnya.
Kasus penyimpangan dana yang membelit perusahaan tempat Galih dan Syana bekerja, yang menyeret-nyeret perusahaan Arga juga telah teratasi.
Brak!
Tiba-tiba Iden datang ke ruangan Arga dengan wajah kusut masai, seperti biasa, tanpa mengetuk pintu. Pria yang biasanya tampil keren dan mempesona itu tampak tak bersemangat.
"Kenapa lu?" suara Arga yang datar menyapa Iden yang baru datang dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa panjang. Membaringkan tubuhnya.
Arga hanya menatap Iden dari tempat duduknya, lalu menggeleng pelan. Dia tahu apa yang membuat Iden begitu.
Kasus penggelapan dana yang melibatkan perusahaannya, ada campur tangan Bela. Betapa geramnya Arga waktu itu. Apalagi Iden. Bela sudah berjanji tidak akan membantu Handoko dan Om Aris lagi tapi dia berkhianat. Entah apa yang membuat Bela tega mengkhianatinya?
Dulu, Iden pernah mendapati Bela membocorkan informasi perusahaan pada orang-orang Om Aris, tapi hal itu dilakukan Bela karena tekanan Handoko. Dengan syarat tidak akan mengulangi perbuatannya dan setia padanya, Iden membantu Bela, menutupi perbuatan Bela. Itulah sebabnya Iden tidak bisa melepas Bela keluar dari perusahaan Arga. Supaya Iden bisa terus mengawasi wanita itu dan Handoko sekaligus.
Kedekatan Iden dan Bela tidak terjadi begitu saja. Harusnya bukan Iden yang menjadi sasaran Bela, melainkan Arga. Iden hanya jalan masuk bagi wanita seksi itu untuk mendekati Arga. Tapi pria flamboyan itu punya rencana lain, maka dengan sukarela dirinya didekati Bela. Meski sering kesal karena Bela masih berusaha menarik perhatian Arga yang dingin.
Hubungan yang bermula dari sama-sama membutuhkan terciptalah hubungan romantis tanpa status. Rasa nyaman yang muncul karena Bela yang penyayang dan pengertian, membuat Iden menyayangi wanita itu. Dari sanalah dia tahu jika Bela sebenarnya wanita baik dan penurut yang dipaksa jadi jahat.
Amarah Arga yang sudah tidak bisa mentolerir tindakan Bela sempat membuat Arga dan Iden bersitegang. Tapi Iden bukanlah pria yang mudah dibutakan oleh rasa senang semata. Logikanya masih berjalan dengan baik. Sekeras apapun dirinya membela Bela, Bela tetaplah sudah mengkhianatinya.
"Kertas yang udah diremas selamanya ngga akan bisa kembali menjadi halus seperti sebelumnya. Meski lu udah nyoba untuk ngerapiin kertas itu, sisa-sisa kerutan masih tertinggal. Makin diremas makin dalam kerutan itu dan akan makin berbekas bahkan kalau lu setrika sekalipun." Kini Arga membuka suaranya setelah diam memperhatikan sahabatnya yang sedang galau.
"Gue ngga tahu pasti apa yang lu rasain ke perempuan itu. Tapi lepasin dia! Dia ngga diterima di sini!" ucap Arga saat pria itu sudah duduk di sebelah Iden. Terdengar memaksa tapi Arga memiliki insting yang tajam dalam menilai sesuatu atau seseorang.
"Gue ngga akan ngasih kesempatan untuk orang lain ngehancurin hidup gue lagi. Ngga akan pernah!" tekan Arga seraya menatap Iden yang kini telah duduk bersandar di sofa panjang. Meski memejamkan matanya, tampak Iden menganggukkan kepalanya.
"Sorry." lirih Arga.
Iden terkekeh menanggapi ucapan Arga. Minta maaf untuk apa? Yang dilakukan sahabatnya itu sudah benar. Meminta pertanggungjawaban wanita itu. Dianya saja yang ingin terus menahan Bela di sampingnya.
Iden kembali teringat pada pertengkarannya dengan Bela beberapa minggu yang lalu. Malam itu, dirinya menangkap basah Bela yang diam-diam menemui Handoko dan masih menuruti permintaan pria paruh baya itu. Padahal Iden sudah bersusah payah menenangkan Arga yang mengamuk karena mengetahui Bela lah pencuri kecil dalam perusahaannya.
"Udah gue lepasin. Tapi rasanya seperti ada yang hilang." sahut Iden tak kalah lirihnya.
Entah kenapa, Iden merasa hampa ketika menyerah membantu Bela dan menyerahkannya pada Arga untuk mengurusnya. Apalagi ketika wanita seksi itu hanya mengatakan maaf.
"Lu suka dia? Bukan. Lu kayaknya udah mulai nerima dia. Umm.... Jatuh cinta?" Iden mengangguki tebakan Arga.
Wait? What? Jatuh cinta? Iden buru-buru menggelengkan kepalanya. Namun kemudian mengendikkan bahunya. Dia tidak tahu apa perasaannya selama ini bisa dibilang cinta atau hanya sekedar peduli dan rasa nyaman saat bersama?
Arga menghela napas panjang. Mengumpat dalam hati. Bodoh sekali sahabatnya itu. Masak tidak menyadari perasaannya sendiri? Paling tidak, Iden bisa merasakan perbedaan sikapnya pada wanita itu dengan wanita-wanita lain yang pernah dekat dengannya.
__ADS_1
Pria karismatik itu merasakan miris atas apa yang dialami sahabat terbaiknya itu. Sebagai pria tampan yang dikenal flamboyan, yang tidak cukup hanya dengan 1 wanita, sepertinya Iden baru terkena batunya. Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.
"Gue selalu siap dengerin curahan hati lu, Man. Tapi sekarang kita harus balik. Udah sore. Gue ngga mau kena omel nyokap lu di acara makan malam nanti gara-gara terlambat." ucap Arga bergurau lalu beranjak dari duduknya.
"Mama mertua lu itu, Man!" sentak Iden yang tak terima ibunya dibicarakan, membuat Arga terkekeh.
Gedung perusahaan Arga sudah mulai lengang saat Arga dan Iden melangkahkan kakinya di lobi perusahaan. Hanya beberapa orang karyawan yang harus bekerja lembur menyelesaikan tugasnya agar tidak menempuk besok-besok hari.
"Mas baru pulang? Kenapa terlambat?" sambut Hania ketika pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria yang sudah dinantinya sejak 2 jam yang lalu.
Cup.
Bukannya menjawab, Arga malah menghujani istrinya dengan kec*pan di kening, pipi kanan dan kiri, dagu, hidung dan bibirnya. Rutinitas yang belakangan senang dilakukannya. Seolah dengan hanya mengec*pi tiap bagian wajah sang istri bisa membuat rasa penatnya menghilang dan rasa rindunya terbayar.
"Mas, ih! Buruan mandi! Nanti kita terlambat ke rumah Mama. Bisa panjang ngomelnya." omel Hania tapi tidak menolak setiap kec*pan sang suami.
"Sebentar, honey. Aku masih kangen." ucap Arga seraya menarik Hania ke dalam pelukannya dan menghirup aroma rambut istrinya yang harum.
Tak lupa, Arga menyapa calon bayi kembarnya dengan sapaan, pertanyaan, dan usapan lembut diperut buncit Hania. Dan tedangan beruntun 2 kali yang didapatnya membuatnya merasa buah hatinya membalas sapaannya.
"Aku mandi dulu." Arga melepas pelukannya.
"Ngomong-ngomong, kenapa pake dress itu? Belahan dadamu terlalu rendah, honey. Bagian bawah juga terlalu naik, pahamu jadi keliatan. Ganti yang lain, aku ngga suka!" peringat Arga yang saat baru masuk tadi sempat memperhatikan penampilan sang istri.
Lebih segar memang dan selalu cantik. Apalagi belahan dada itu. Ah. Arga tidak akan rela berbagi pemandangan indah dengan pria lain di rumah mertuanya nanti.
Hania menghela napasnya. Pakaian yang dikenakannya memang terlihat lebih terbuka di bagian paha dan dadanya. Tapi itu efek dari perutnya yang semakin besar dan kelenjar asi yang semakin berisi. Merasa risih sendiri, Hania pun bergegas mengganti pakaiannya dengan gaun panjang semata kaki dan berkerah bulat.
Arga sudah rapi dengan setelan pakaian santai yang dipilihkan Hania. Seperti biasa, pria itu selalau tampan dengan segala pakaian yang dikenakannya. Bahkan jika hanya mengenakan kaos oblong dan sarung saja, Arga masih tetap terlihat menawan.
"Pakai sweeter, honey! Anginnya agak kencang di luar." perintah Arga seraya mengangsurkan sebuah sweeter berwarna biru langit, senada dengan gaun yang dipakainya.
Arga dan Hania tiba di kediaman keluarga Pratama bersamaan dengan Iden. Pria itu baru saja keluar dari mobil sportnya saat Arga memarkirkan sedannya tepat di sebelahnya.
"Dia yang bikin aku pulang telat, honey." celetuk Arga dengan suara yang sengaja dikeraskan seraya menunjuk Iden dengan dagunya. Sementara Iden hanya berdecak menanggapi ucapan Arga.
"Dia masih galau." Hania lantas terkekeh mendengar lanjutan ucapan Arga yang masih sengaja dikeraskannya.
"Lambe turah, lu!" umpat Iden yang langsung berlalu dari hadapan pasutri itu membuat Arga dan Hania terkekeh bersama.
Hania melingkarkan tangannya ke lengan kokoh Arga. Dia meringis merasakan perutnya mengencang dan sedikit nyeri.
"Perutnya nyeri lagi ya?" Arga menghentikan langkahnya lalu ikut mengusap perut buncit Hania saat merasakan lengannya diremas Hania.
__ADS_1
Beberapa hari belakangan, Hania merasa perutnya sering mengencang dan sedikit nyeri. Meski hanya sesekali dalam sehari, rasa nyeri yang ditimbulkannya membuatnya tak nyaman. Namun hari ini, entah sudah berapa kali rasa nyeri disertai perut yang mengencang itu muncul. Ingin memberitahu Arga tapi Hania tidak ingin suaminya itu panik dan berlari pulang ditengah pekerjaannya yang menumpuk.
"Ayo masuk. Kamu bisa istirahat di kamar, ngga usah ikut makan malam." ucap Arga.
"Udah ngga apa-apa kok, Mas. Nyerinya cuma datang sekali-kali. Ngga terus-terusan. Lagian kita udah sampe sini, masak ngga ikut makan malam sekalian. Rugi dong aku." tolak Hania sambil melontarkan gurauan agar Arga tak lagi cemas.
Seperti biasa, kedatangan Arga dan Hania akan disambut hangat oleh Ibu Irene dan juga Pak Pratama. Dan makan malam dimulai.
Ibu Irene sengaja mengadakan makan malam bersama semua anggota keularganya. Dia ingin merayakan berhasilnya operasi yang dilakukan Syana untuk mengembalikan wajah aslinya. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya mereka memilih untuk kembali ke dokter yang pernah mengoperasi wajah Syana dulu. Beruntung dokter itu tidak benar-benar mengubah total wajah Syana dan hanya menanamkan implan di beberapa bagian, termasuk di dagunya yang terbelah. Meskipun tidak kembali 100 persen karena tulang pipi yang sudah terlanjur ditiruskan, gadis cantik itu sudah merasa puas.
"Ada yang mau aku sampaikan." ucap Galih yang tiba-tiba.
Kini semua mata tertuju padanya. Tentu saja membuat Galih sedikit merasa kikuk.
"Aku ingin melamar Syana." Suasana masih hening, semua orang hanya diam dan saling melempar pandangan.
Semula Galih mengira Arga dan Iden akan langsung mencibirnya, namun sikap kedua pria matang yang jika berkumpul tak ubah layaknya sekelompok pemuda tengil itu hanya menatapnya datar. Sungguh membuatnya kehilangan kepercayaan dirinya.
Sementara Syana, gadis cantik berdagu belah itu langsung terbatuk-batuk. Dia tidak menyangka Galih akan melamarnya. Bahkan pria gagah itu tidak pernah menyatakan perasaannya padanya. Jujur, gadis itu menjadi bimbang. Takut menjadi pelarian Galih.
"I love you, Syana." Syana membelalakkan matanya. Baru saja dirinya membatin jika Galih tidak pernah menyatakan perasaannya. Tapi seolah tahu apa yang dipikirkannya, Galih mengungkapkan perasaannya, di depan keluarganya.
"Maaf, aku baru menyadarinya." lanjut Galih yang kini sudah berdiri di depan Syana.
Arga menyenggol kaki Iden dengan ujung sepatunya. Membuat pria flamboyan itu melirik jengah pada tatapan Arga yang seolah berkata, contoh itu!
Iden kembali menatap Galih yang kini tengah menyematkan cincin permata ke jari manis Syana. Pria itu mendesah. Dia melewatkan bagian Syana mengangguk menerima lamaran Galih.
Suasana masih hening. Sepertinya semua yang hadir masih terkejut. Saking terkejutnya sampao kehilangan kata-kata.
"Selamat, Bro. Akhirnya lu berani juga nyatain cinta lu ke Syana. Memang bagusnya begitu daripada lepas dulu baru dicari." ucap Arga yang mengandung sindiran untuk Iden memecah keheningan suasana lamaran yang tiba-tiba itu.
Iden yang tersindir hanya bisa berdecak kesal. Beruntung tidak ada yang menyadari maksud Arga. Karena semua orang di ruangan itu lantas bergantian memberi selamat pada Galih dan Syana.
"Aduh duh! Aw! Sssh. Akh!" rintih Hania seraya memegang perutnya. Wanita cantik itu sedari tadi terdiam sambil menahan rasa tegang dan nyeri di perutnya yang mulas.
Suasana yang tadinya riuh dengan ucapan selamat dan canda tawa kini berubah menjadi tegang. Setegang perut Hania.
"Apa sudah waktunya?" tanya Ibu Irene dengan wajah panik yang kentara.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Jangan lupa tap like, vote ya... Mau komen? Boleh dong. Mau kasih krisan? Monggo. Mau kasih hadiah? Mau banget!
🥰🥰🥰