
Tok tok tok.
Ketukan dipintu mengalihkan perhatian Arga dari tumpukan berkas yang perlu diperiksa dan ditanda tanganinya. Lalu kembali fokus pada kertas-kertas putih itu setelah Dian muncul dari balik pintu.
"Maaf pak, sudah waktunya istirahat. Bapak akan makan diluar atau delivery order?" sekretaris cantiknya mengingatkan Arga akan jam istirahatnya, wanita cantik itu tidak ingin kena getahnya lagi.
Dulu, Arga pernah memarahinya karena tidak mengingatkannya akan jam istirahatnya. Pria tampan itu sedang banyak pekerjaan waktu itu. Meski sibuk, dirinya tidak pernah terlambat makan. Lambungnya dalam kondisi tidak baik-baik saja akibat alkohol yang dulu rutin dikonsumsinya. Tapi karena Dian juga sibuk, jangankan untuk mengingatkan bosnya, dia sendiri saja lupa dengan jam istirahatnya. Akibatnya asam lambung Arga meningkat yang membuatnya mual dan muntah, disertai nyeri yang sangat. Dan harus bedrest selama 3 hari. Sudah dapat dipastikan Dian kena amukan sang ibu negara dan tentu juga Arga setelah pria berkarisma itu sembuh.
"Delivery aja. Sepertinya saya ngga sempat kemana-mana hari ini," sahutnya tanpa menoleh.
Dian segera meninggalkan ruangan atasannya begitu mendapat perintah. Lalu menghubungi restoran langganan Arga dan memesan beberapa menu yang biasa dipesan atasannya.
Tak berselang lama, terdengar lagi ketukan dipintu ruangan Arga. Dian datang sambil membawa nampan berisi makanan pesanan Arga bersama piring dan sendok sekaligus. Pria itu hanya melirik kedatangan sekretarisnya itu. Lalu meletakkan bolpoin yang sedari tadi dijepit disela-sela jarinya. Rasa-rasanya jarinya akan kapalan akibat terlalu lama menjepit bolpoin.
"Silakan Pak, makanan anda sudah siap." ucap Dian setelah menurunkan seluruh isi nampan tadi di atas meja tak jauh dari meja kerjanya.
Arga bangkit dari duduknya. Sedikit meregangkan ototnya dengan merentangkan kedua tangannya lalu melangkah mendekati meja.
"Kamu sudah makan?" tanya Arga seraya menggulung lengan kemejanya sebatas siku tanpa menoleh pada Dian.
"Setelah ini, Pak." ucap sekretaris cantik itu seraya tersenyum meski atasannya itu tidak melihatnya.
"Kamu boleh pergi!" perintah Arga yang diangguki Dian.
Sepeninggal Dian, Arga mulai menyantap makanan yang terhidang. Keningnya tampak berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu menyendokkan sendoknya lagi ke hidangan lain. Keningnya berkerut lagi. Arga mendesah.
"Ck! Dimana sih, si Dian pesen makanan ini? Rasanya ngga pas. Beda banget sama masakan Hania." keluh Arga.
Sekarang, makanan apapun yang disantapnya akan selalu dibandingkan dengan masakan Hania. Namanya kasmaran. Semua terasa berbeda tergantung sudut pandang orang yang sedang kasmaran.
Arga berjalan ke meja kerjanya dan menekan tombol interkom yang terhubung ke meja Dian. Berharap sekretarisnya masih disana.
"Kemari!" perintah Arga setelah mendengar sahutan diujung sana.
Dian yang mendapat panggilan, jantungnya sudah dag dig dug. Ada apa dengan bosnya? Dari nada suaranya sepertinya pria dingin itu sedang tidak senang.
Tok tok tok.
Dian memasuki ruangan Arga dengan takut-takut. Apalagi melihat wajah masam atasannya itu.
"Dimana kamu pesen makanan ini?" tanya Arga to the point membuat Hania cemas.
"Di restoran langganan Bapak." cicit Dian, nyalinya menciut.
"Yang dimana?", tanya Arga lagi.
"Di jalan C. Simanjuntak, Pak." Dian semakin gugup.
"Ngga enak!" Dian melongo mendengar ucapan Arga.
Bagaimana bisa tidak enak? Bukannya makanan itu salah satu makanan kesukaannya? Dan tidak pernah berkomentar buruk tentang makanan itu. Kenapa sekarang jadi tidak enak? Berbagai pertanyaan bermunculan dibenak Dian.
__ADS_1
"Tapi, makanan itu yang sering bapak pesan dan anda menyukainya." Dian mencoba membela diri. Memesan berdasarkan kebiasaan Arga.
Iya juga. Arga memang menyukai hidangan yang tersaji di depannya. Tapi entah kenapa lidahnya seperti menolak untuk menyukainya sekarang.
"Coba kamu icip yang ini!" perintah Arga.
Hah? Dian menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. Dengan ragu dia mengerjakan perintah Arga. Wanita cantik itu mengambil sendok plastik dalam kemasan lalu mulai mencicipi hidangan tersebut.
Arga mengawasinya seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan bersedekap.
"Gimana?" tanya Arga.
"Enak kok, Pak." sahut Dian lirih.
"Ya sudah, kamu aja yang makan ini. Semua!" perintah Arga.
Dian menatap atasannya dengan bingung. Yang benar saja. Wanita itu selalu melakukan diet ketat agar tubuhnya selalu ideal. Tiba-tiba disuruh makan makanan berat begitu, rasanya sekretaris cantik itu ingin menghilang saja dari hadapan Arga.
"Makanan itu baru saya icip sesendok. Jadi bukan bekas saya." tegas Arga yang melihat ekspresi Dian yang bingung dan ragu.
"Pesankan saya makanan yang lain dari restorannya Hania!" perintah Arga kemudian.
Restorannya Hania? Restoran mana itu? Siapa lagi itu Hania? Dian menggali ingatannya tentang restorannya Hania. Kapan dan dimana dia pernah mendengar atau melihat restoran itu. Tapi bukannya ingat, kepalanya malah jadi pusing. Lagi-lagi ekspresi Dian seperti orang bingung membuat Arga tersadar jika salah menyebutkan nama restoran.
"Ehem... Maksud saya, Rasa Sayang Resto." Arga segera meralat nama restoran yang dikehendakinya, dengan ekspresi datarnya untuk menutupi kekikukannya.
Oooh... Rasa Sayang Resto. Tapi siapa Hania? Pemiliknya kah? Bagaimana pria dingin itu bisa mengenal pemilik restoran itu? Mengingat jarangnya Dian memesankan makanan dari sana. Apakah teman wanita Pak Arga? Tapi setahunya pria berkarisma itu tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Dian mulai menebak-nebak.
Dian segera keluar dari ruangan besar yang mendadak seram itu sambil membawa beberapa kotak makanan yang sudah dipesan Arga tadi. Rencananya akan dia bagikan pada beberapa rekannya. Jelas Dian tidak akan memakan makanan berat itu.
"Hai Han, aku baru saja meminta sekretarisku memesankan makanan di restoranmu. Aku mau kamu yang masak." pinta Arga setelah mendengar suara lembutnya Hania.
"Ngga bisa Mas, aku masih nemuin ayah kandungnya Tiara." sahut Hania.
"Apa? Maksudmu, dia ada disana? Kalian ngapain aja?" terdengar kekehan Hania diujung ponselnya Arga.
"Jangan nethink deh Mas. Aku cuma ngobrol aja." jelas wanita itu menenangkan Arga tapi bukannya tenang Arga malah seperti kebakaran jenggot.
"Apa kalian masih lama?" tanya Arga menggebu. Hatinya sudah panas, jantungnya berdetak kencang, dan napasnya memburu.
"Mungkin?" jawaban Hania semakin membuat Arga emosi. Dadanya bergemuruh. Dia cemburu.
Untuk apa pria yang dianggapnya sialan itu datang menemui wanitanya? Apa akan mengajak Hania rujuk? Atau apa? Aargh! Arga frustrasi dengan pikirannya sendiri.
"Jangan lama-lama, Han," ucapnya dengan lembut meski dirinya sedang emosi dan cemburu, Arga menekan suaranya agar tidak meninggi. Dia takut berselisih lagi dengan Hania.
Klotak! Arga memutus sambungan ponselnya dan melemparkannya ke atas meja kayu jati beralaskan kaca itu. Jelas saja dirinya tidak tenang. Pria yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Hania itu kini sedang berdua-duaan dengan wanita lembut itu. Membuat pikirannya melayang kemana-mana, menduga yang tidak-tidak. Tidak tahan dengan pikirannya yang menduga-duga negatif, pria tampan itu bangkit dari duduknya. Meraih ponsel dan menyimpannya kedalam saku celananya. Lalu menyambar kontak mobilnya. Dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu.
Arga melewati meja sekretarisnya begitu saja tanpa meninggalkan pesan. Sementara sekretarisnya menatap dengan bingung pada atasannya yang berjalan tergesa-gesa. Sepertinya akan pergi.
"Eh. Pak? Bapak mau kemana? Itu makanannya sudah dipesankan." tegur Dian setelah menyadari bahwa atasannya akan pergi.
__ADS_1
"Ohya, makanannya buat kamu aja." Arga berhenti dan merogoh kantongnya mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan menyerahkannya pada Dian. Lalu memasuki lift.
Lagi-lagi Dian melongo. Meski bingung diterimanya juga uang itu dengan pasrah. Hah. Dia bingung harus diapakannya makanan-makanan itu? Menu yang dipesannya adalah menu yang enak-enak. Bisa-bisa dia khilaf dan lupa dengan dietnya.
"Iiih... Pak Arga! Ribet banget sih jadi orang. Kalau mentahannya sih ngga nolak!" gerutunya dalam hati.
Disepanjang perjalanan Arga tidak tenang. Beberapa kali dia menekan klakson mobilnya. Merasa mobil didepannya berjalan lambat.
"Keong! Jalan apa ngesot sih!?" umpatnya seraya menekan klaksonnya.
Pria tampan yang biasa tampil tenang dan berkarisma itu mendadak urakan. Dia bahkan mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, menyelip dan memotong laju kendaraan lainnya. Hingga tak jarang dirinya kena semprot pengendara lain. Pria itu tidak peduli. Yang dipikirkannya hanyalah segera sampai di restorannya Hania.
Jarak yang normalnya ditempuh dalam 1 jam an, dapat dipangkas menjadi setengah jam lebih sedikit. Arga segera memarkirkan kendaraannya diparkiran restorannya Hania. Lalu keluar dari mobil dan berjalan setengah berlari memasuki reatoran itu.
Diedarkannya pandangannya menyapu seisi ruangan dalam restoran itu. Sosoknya yang tinggi atletis ditambah wajahnya yang tampan, kontan menarik perhatian sejumlah pengunjung wanita di restoran itu. Terdengar kasak kusuk para pengunjung membicarakannya tapi Arga tidak peduli. Didekatinya meja kasir. Seorang karyawan yang sudah mengenal Arga pun mendekat.
"Pak Ganteng nyariin Bu Hania ya?" tanya seorang karyawan setengah menggoda.
"Hum. Dimana dia?" sahut Arga dengan nada dingin. Rasanya ingin segera menjauhkan Hania dari mantan suaminya.
"Ngng.. . Bu Hania sedang ada tamu, Pak." ucapnya ragu-ragu.
"Iya, saya tau! Dimana dia?" Arga sudah berjalan mendekati tangga membuat karyawan itu cemas.
"Dia diatas kan?" Arga berbalik dan menatap karyawan itu dengan datar. Saking gugupnya karyawan itu hanya mengangguk.
Arga langsung menaiki anak tangga satu persatu dengan cepat. Sementara karyawan tadi hanya menatapnya dengan bingung.
"Haduh... Gimana kalau mereka ribut?" gumamnya, dia mencemaskan Hania. Lalu memilih meninggalkan ruangan itu ke dapur.
"Eh! Eh! Tau ngga?" suaranya yang sedikit nyaring mengalihkan perhatian rekan-rekannya yang sedang sibuk menyiapkan pesanan pengunjung.
"Pak Ganteng disini!" pekiknya tertahan.
"Hah! Apa!?" respon sebagian karyawan seperti paduan suara. Karyawan tadi mengangguk.
"Wajahnya serem, tapi masih ganteng sih. Kayaknya marah deh." cerita karyawan tadi seraya terkekeh.
"Maksudnya Pak Ganteng tau Bu Hania ketemuan sama mantannya?" tanya seorang karyawan yang sudah mulai kepo. Karyawan tadi mengangguk lagi.
"Waaaah!" lagi-lagi karyawan berucap bersamaan seperti kelompok paduan suara.
Sementara Arga yang sudah sampai di depan pintu ruangan Hania langsung menerobos masuk membuat Hania dan mantan suaminya terkejut. Kedua mantan pasangan itu sama-sama menoleh ke arah Arga.
"Mas?" Hania menatap Arga heran.
Arga tidak menanggapi sapaan Hania. Tatapannya justru mengarah pada Ryan yang juga menatapnya. Ada rasa kesal dan cemburu pada pria yang juga tampan itu. Tapi Arga menutupinya dengan ekspresi datarnya.
"Mas?" Hania menyentuh lengan Arga membuat pria itu baru menoleh padanya.
Hati Arga berdenyut nyeri menatap mata kelinci Hania. Mata itu seperti habis menangis. Sembab dan masih menyisakan titik air dibulu matanya yang lentik. Ingin rasanya memeluk wanita cantik itu dan memberinya ketenangan. Arga kembali menatap Ryan, kali ini pria dingin itu menghunuskan tatapan tajam.
__ADS_1
********
Thanks for reading!