Yang Terakhir

Yang Terakhir
204. Teman Tapi Mesra?


__ADS_3

"Kak Galih ngapain di sini?" pertanyaan Syana menyadarkan Galih dari ingatannya yang sesat sesaat tadi lalu melepaskan pinggang ramping itu.


"Ah, aku...." Galih gelagapan menjawab pertanyaan Syana yang sangat sederhana itu.


Galih langsung mengalihkan kekikukannya dengan membuka tutup botol air mineral yang dipegangnya lalu menenggaknya hingga hampir habis. Mengurangi rasa canggung sekaligus menenangkan hasr*tnya sempat menggebu tadi.


"Haus banget kayaknya." sindir Syana.


"Iya. Sampe dehidrasi rasanya." sahut Galih sekenanya sambil terkekeh sumbang, dia masih berusaha menguasai kekikukannya.


Syana menarik sudut bibirnya merasa geli sendiri dengan sikap Galih yang tidak setenang biasanya. Dia tampak berusaha mengusai dirinya yang gusar. Apa pria itu terpengaruh dengan posisi mereka yang menempel barusan? Ah. Mana mungkin begitu. Syana menggeleng-gelengkan kepalanya, menyangkal dugaannya sendiri.


"Kak Galih ngapain di sini?" ucap Syana mengulang pertanyaannya tadi.


"Hah? Umm.... Aku liat kamu di sini, jadi aku ikut ke sini." sahut Galih sedikit grogi.


Ya. Galih berada disana karena mengikuti gadis itu. Memangnya apa lagi? Selain ke dapur untuk mengambil air dan membasahi kerongkongannya, tujuannya keluar dari kamar adalah penasaran dengan apa yang dilakukan gadis muda itu malam-malam begitu. Namun yang dialaminya malah membuat isi otaknya melayang kemana-mana.


Keduanya lalu membisu. Syana yang seperti baru mengenal Galih tapi merasa seolah sudah lama mengenal pria berwajah teduh itu. Sementara Galih, dia kepikiran bagaimana membantu mengembalikan ingatan gadis itu.


"Sebaiknya kita kembali, ini sudah terlalu malam untuk berdiri di sini menikmatinya. Angin malam ngga baik buat kesehatanmu, Syana." peringat Galih.


Syana seketika menoleh ke arah Galih demi mendengar suara pria gagah itu. Dia sepertinya pernah bahkan sering mendengar peringatan seperti itu. Sekelebat bayangan Galih yang sedang menegurnya dengan lembut melintas dalam ingatan.


"Akh! Sssh!" desis Syana seraya memegang kepalanya


Dia sampai terhuyung karena hilang keseimbangan akibat rasa nyeri yang datang tiba-tiba. Membuatnya lemas seketika.


"Syana?" Galih kembali menahan tubuh Syana.


Syana membuka matanya setelah rasa nyeri itu berkurang. Namun, pandangannya justru terasa berputar membuatnya tak kuasa menahan tubuhnya. Gadis itu hampir ambruk membuat Galih mengeratkan pelukannya.


Tak mau Syana mengalami kejadian seperti tadi sore, Galih mengangkat tubuh yang hanya berbobot 48 kg itu ke dalam gendongannya. Syana langsung menyandarkan kepalanya ke dada bidang Galih. Gadis itu tidak memberontak minta diturunkan meski tubuhnya digendong oleh seorang pria. Jika dalam keadaan sehat, gadis cantik itu pasti akan berteriak dan menghujani pria asing yang berani menyentuhnya dengan pukulan-pukulan brutal. Namun, kini kepalanya terasa berkunang-kunang membuat tubuhnya limbung.


Suasana ruangan yang dilalui Galih menuju kamar Syana tampak sepi seperti saat dirinya keluar tadi. Dengan masih menggendong Syana, Galih membuka pintu kamar Syana dan membawa gadis itu masuk.


Galih membaringkan Syana di salah satu sisi ranjang lalu duduk di sampingnya. Menyelimuti tubuh ramping yang terbungkus gaun tidur yang cukup seksi itu sebatas dada agar imannya yang setipis kabut itu tidak tergoda. Dia mengatur napas sebentar seraya menatap wajah Syana yang pucat.


"Apa masih nyeri? Apa kamu butuh sesuatu, Syana?" tanyanya lembut.


Syana menggeleng lalu mendudukkan dirinya. Galih membantunya dengan menumpuk bantal di belakang Syana agar gadis itu merasa nyaman saat bersandar di sandaran ranjang.


Tindakannya menumpuk bantal ini membuat jarak keduanya berdekatan. Tanpa disengaja pipi Galih menempel pada pipi Syana membuat keduanya menoleh bersamaan. Saking dekatnya tanpa disengaja lagi, hidung keduanya bertemu. Syana yang terkejut langsung memalingkan wajahnya yang terasa memanas. Dan kini hidung Galih berganti menempel di pipi Syana yang tampak bersemu. Entah dorongan dari mana, bukannya menghindar, Galih malah ikut menempelkan bibirnya dan mengec*p pipi pucat yang sedikit merona itu.


Syana menoleh dengan gerakan perlahan ke arah Galih. Menatap pria berwajah manis yang juga sedang menatapnya lembut seraya menyunggingkan senyum tipisnya.


"Aku sebaiknya kembali ke kamarku. Kamu istirahat ya." ucap Galih.


Pria itu hendak beranjak dari duduknya namun Syana menahan lengan kokohnya. Pegangan Syana membuat Galih urung bangkit.

__ADS_1


"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Galih perhatian.


Syana hanya menggelengkan kepalanya tapi tak melepas tatapannya dari wajah teduh Galih. Merasakan kec*pan Galih di pipinya barusan membuat Syana merasa pernah merasakan kec*pan seperti itu. Dan dia ingin memastikannya.


"Ci*m aku!" ucap Syana lirih.


"Hah?" Galih terkejut dengan permintaan gadis di depannya.


Apa-apaan dia? Kenapa menantangnya begitu? Dia tidak tahu saja, Galih sudah sekuat tenaga menahan diri untuk tidak meneruskan kec*pannya tadi. Gadis itu benar-benar membuatnya resah sekarang.


"Ci*m aku, Kak!" kini bukan hanya ucapan yang terlontar, tapi tangannya juga mulai mengusap lembut wajah ganteng Galih yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.


Jantung Galih jelas berdetak tak karuan. Seandainya organnya terbuat dari benda padat macam seng dan aluminium, pastilah sudah terdengar sangat berisik. Pria itu sampai menahan napasnya. Matanya bahkan terpejam. Demi merasakan lembutnya usapan gadis cantik itu. Dia pria normal, sangat normal malah. Dan sentuhan merangs*ng seperti itu sudah cukup lama tak dirasakannya.


Mata Galih kembali terbuka. Kini tatapannya mulai redup. Tampak sekali dirinya mulai dikuasai has*rat yang menggelora. Tangannya terangkat. Balas mengusap pipi Syana lalu mengusap bibir mungil gadis itu cukup lama. Perlahan tangannya berpindah ke tengkuk Syana lalu menariknya mendekat.


Cup.


Tidak hanya kec*pan singkat tapi Galih memberinya lum*tan lembut. Bahkan Galih juga menjelajah jauh ke dalam. Bermain-main di sana cukup lama. Semakin lama semakin menuntut.


Namun Galih segera menghentikan cumb*annya saat mendengar Syana mendes*h. Pria ganteng itu tiba-tiba tersadar karena suara keramat Syana. Dan segera bangkit dari tubuh ramping gadis yang sudah ditind*hnya itu. Syana juga ikut bangkit dari posisi rebahannya. Membenarkan gaun tidur yang sudah tersingkap. Tangan pria dewasa di depannya itu cekatan juga. Tahu-tahu sudah meremas buah d*d*nya dengan lembut membuatnya mendes*h. Sungguh dia terbuai.


Tapi karena tangan terampil Galih, Syana jadi bertambah yakin. Apa yang dirasanya barusan pernah dirasakannya. Sentuhan Galih serupa dengan sentuhan pria yang selalu hadir dalam penggalan ingatannya. Dan pria dalam ingatan Syana adalah Galih.


"Maaf, Syana. Sebaiknya kamu istirahat. Aku akan kembali ke kamarku." ucap Galih.


"Kak!" ucap Syana seraya menggenggam tangan Galih menahannya agar tidak meninggalkannya.


"Apa hubungan kita sebenarnya? Kenapa aku merasa Kak Galih sangat dekat denganku?" tanya Syana bergetar.


Galih menghela napasnya. Dia berbalik lagi menghadap Syana. Pria itu menatap wajah yang mirip Hania itu lekat, mencoba menemukan wajah asli gadis itu.


"Kak?" sapaan Syana seolah menuntut jawaban atas pertanyaannya tadi.


Pria ganteng itu tidak tahu harus menjawab apa. Teman? Orang yang kebetulan mengenalnya dengan cukup baik? Atau TTM? Teman Tapi Mesra?


Dia tidak bisa memungkiri kehadiran Syana dalam hidupnya akhir-akhir sebelum kepergiannya ke Singapura sudah sedikit banyak mengaburkan perasaannya pada Hania. Tapi dia juga tidak bisa bilang jika dia mencintai gadis itu. Perasaannya pada gadis itu belum sampai kesana. Dan dia tidak ingin melukai gadis yang sejak pertama sudah menarik perhatiannya itu. Karena perasaannya untuk Hania masih tertinggal di hatinya.


"Aku cukup mengenalmu dengan baik, Syana. Kamu gadis yang baik dan cantik. Seperti yang pernah kubilang dulu, kita hanya rekan kerja dan sesekali nongkrong bareng. Kenapa tanya begitu?" tanya Galih.


"Cuma teman? Tapi kenapa aku selalu ngeliat Kakak dalam potongan ingatanku? Setiap liat Kak Galih ngomong, senyum, ketawa, dan natap aku, setelahnya selalu muncul wajah Kakak dalam penggalan ingatanku. Dan setiap aku nyoba untuk memperjelas gambaran dalam ingatanku, kepalaku rasanya nyeri banget." Syana menghela napasnya, merasakan dadanya sesak.


"Aku merasa kita sangat akrab dulu. Sentuhan Kak Galih barusan sama kayak sentuhan beberapa waktu yang lalu yang pernah aku rasain. Aku mungkin lupa detil masa laluku tapi aku selalu ingat rasanya sentuhan itu. Apa hubungan kita ngga seistimewa dugaanku? Tapi aku merasa kita dekat." lanjut Syana lirih.


"Kamu bener, Syana. Hubungan kita ngga seistimewa dugaanmu." ucap Galih membenarkan ucapan Syana


Syana terdiam. Dirasanya hatinya berdenyut nyeri. Entah kenapa ucapan Galih sangat melukai perasaannya. Airmatanya bahkan sudah menggelayut di kelopak mata menahan sesak di dada. Dan tak berselang lama, gadis cantik itu menangis. Seperti yang sudah-sudah. Galih tidak akan tega melihat Syana menangis. Pria ganteng itu menarik tubuh Syana dalam dekapannya.


"Kamu percaya padaku 'kan Syana?" Syana mengangguk lalu menggeleng dalam dekapan Galih, dan pria itu bisa merasakan gerakan kepala Syana.

__ADS_1


"Aku bingung." lirih Syana dalam isaknya membuat Galih tersenyum.


Untuk percaya padanya saja, gadis yang bisa menarik perhatiannya selain Hania itu harus bingung segala. Apa yang membuatnya bingung?


"Syana. Apapun hubungan kita, sekarang ini yang terpenting adalah membantumu pulih dari amnesiamu. Ya, meskipun kita tidak bisa memprediksi seberapa lama ingatanmu bakal pulih. Sekaligus bersihin nama baikmu yang tercemar kar'na fitnah dari orang yang ngga bertanggung jawab di kantor kita dulu." bujuk Galih denan lembut.


"Aku akan mengatakan gimana hubungan kita sebenarnya kalau kamu udah ingat siapa aku, siapa kamu, dan gimana hubungan kita selama ini menurutmu." lanjutnya dengan hati-hati agar Syana tak menangis lagi.


"Kenapa harus nunggu aku ingat? Kenapa ngga sekarang aja? Kurasa aku dulu suka Kak Galih. Bener 'kan?" tebakan Syana membuat Galih terkekeh.


"Aku ngga mau dikira manfaatin situasi, ya. Mentang-mentang kamu amnesia terus aku ngaku-ngaku kita dekat. Apa yang bakal dipikirin orang, Syana?" Syana mengendikkan bahunya membuat Galih terkekeh lagi.


Syana sudah berhenti menangis. Dia pun merasa pernah merasakan pelukan semacam itu. Pelukan yang selalu menenangkannya kala dia bersedih hati maupun kecewa. Dan dia semakin yakin jika Galih bukan hanya sekedar rekan kerjanya saja. Ah, sungguh dia penasaran dengan hubungan mereka berdua sebenarnya.


"Ehem!" Galih dan Syana terkejut dan seketika melepaskan pelukan mereka saat suara deheman menggema di pintu kamar Syana.


Syana seketika menundukkan kepalanya. Galih menoleh karena posisinya yang membelakangi pintu dan melihat Arga menatapnya tajam. Pria berwajah manis itu langsung menyembunyikan Syana di balik tubuh atletisnya saat menyadari gaun tidur gadis itu cukup seksi. Dia tidak ingin Arga melihatnya.


"Ck! Kenapa ngga sekalian di ruang keluarga aja, sih mesra-mesraannya!?" cibir Arga seraya memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Arga cukup kesal saat mendapati Galih menindih Syana. Pria tampan itu sempat mengumpati sahabat istrinya itu. Katanya mencintai Hania, tapi ketika dihadapkan dengan wanita cantik lainnya, dia tak menolak. Dasar buaya!


Bahkan sekembalinya dari dapur, Arga masih melihat adegan romantis lainnya. Galih memeluk gadis yang mirip Hania itu dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya. Meski dia tahu gadis itu tengah menangis dan yang terdengar di telihganya adalah kalimat penghiburan Galih untuk gadis itu. Tapi Arga yang sudah terlanjur kesal, tetap ingin mencibirnya.


"Ayolah, bro. Ini ngga seperti yang lu liat." ucap Galih setenang mungkin karena malam sudah semakin larut.


"Emang apa yang gue liat?" tanya Arga dengan gaya tak pedulinya tapi justru membuat Galih jadi kesal.


"Ck!" Galih berdecak menanggapi ucapan Arga yang seolah memancing huru hara.


"Udah sono! Ganggu aja lu!" usir Galih seraya melangkah keluar dari kamar Syana dan menutupnya rapat-rapat.


"Cih! Gue juga mau balik kali!" ketus Arga dengan senyum seringainya.


"Udah sono! Dicariin Hania lu!" sentak Galih karena kesal melihat senyum mengejek yang ditampilkan Arga padanya.


Baru beberapa anak tangga yang dilaluinya, Arga berhenti dan menoleh ke arah Galih yang masih berkacak pinggang seraya menatapnya kesal.


"Oh ya. Kalau gue bilang sama Mama Irene dan Papa Tama, kira-kira lu bakal dinikahin ngga ya?" ucap Arga melontarkan ide jahilnya.


"Jangan ngadi-ngadi deh lu!" sergah Galih yang semakin memelototkan matanya membuat Arga tergelak tanpa menyadari suaranya menggema di ruangan besar rumah keluarga Pratama.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa tap like, vote ya... Mau komen? Boleh dong. Mau kasih krisan? Monggo. Mau kasih hadiah? Mau banget!


🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2