
"Aaargh!" pekik Raka seraya memukul setir mobilnya.
Raka mengepalkan tangannya. Tatapannya nanar menatap jalanan lengang di depannya. Ancaman Arga membuatnya kesal. Apalagi pria itu terang-terangan akan memisahkannya dari anaknya kelak.
Dia juga kesal anak buah Arga harus muncul saat dirinya hanya ingin menyalurkan rasa rindunya pada calon anaknya walau hanya dengan menatapnya dari kejauhan. Perasaan yang muncul begitu saja dari seorang calon papa pada calon anaknya. Meski hanya dengan menatap ibu dari calon anaknya, baginya sudah cukup. Dia senang melihat Hania baik-baik saja.
Raka mendesah lalu mengusap wajahnya dengan gusar. Teringat lagi kejadian yang tidak disengajanya.
Malam itu, tidak ada niatan dalam benaknya untuk menodai Hania. Tapi entah kenapa gairah lelakinya tidak bisa berhenti hanya sampai menggodanya saja. Nyatanya dirinya yang tergoda. Bayangan raut wajah Hania yang memelas dan memohon padanya terus menghantuinya. Pria tampan itu menyesal dan merasa bersalah. Dia ingin menebusnya. Sementara rasa tubuh Hania yang menurutnya berbeda, tidak bisa dihilangkan begitu saja. Membayangkannya saja membuat hatinya bergetar dan darahnya berdesir. Itulah sebabnya, Raka ingin merebut Hania. Bukan semata-semata karena benih yang dikandung Hania adalah benihnya saja.
Bayangan Arga mengusap perut Hania kembali melintas, membuatnya cemburu. Entahlah.
Perasaan yang Raka sendiri tidak dapat mengartikannya. Yang jelas setiap teringat pada Hania, jantungnya berdetak kencang dan darahnya selalu berdesir. Apalagi setelah mengetahui wanita cantik itu mengandung benihnya. Membuatnya ingin memiliki wanita itu. Bahkan perasaannya pada Rosa, kini tidak berarti apa-apa. Berdekatan dengan wanita seksi itu sudah tidak lagi menimbulkan getaran di hatinya. Bahkan dirinya merasa risih jika Rosa terus merayunya. Dan menghindar membuat perasaannya lebih baik.
Diraihnya ponsel dalam saku celananya dan mulai mencari kontak seseorang yang belum dihapusnya. Arga.
Drrrt drrrt drrrt!
Raka menyugar rambutnya. Pria itu mulai tidak sabaran. ponselnya terhubung namun tidak segera dijawab.
"Mau apa lu!?" tanya Arga terdengar dingin.
"Ternyata lu masih simpen kontak gue." kekeh Raka mencibir Arga.
"Ngga ada alasan buat lupa sama orang brengsek kayak lu!" Arga menekan setiap kata-katanya membuat Raka menghela napasnya.
Ya. Raka pun mengakui jika dirinya brengsek. Menodai kekasih sahabatnya dan kini sedang berusaha merebutnya. Tapi dia tidak peduli lagi. Keinginan untuk memiliki anaknya dan rasa yang timbul di hatinya pada Hania, benar-benar membuatnya berubah menjadi pria yang serakah.
"Masih berani lu hubungi gue!? Saat ini lu masih bisa keliaran bebas tapi gue pasti nemuin lu. Saat itu tiba, gue ngga bakal biarin lu lolos lagi, bangsat!" ancam Arga dengan penuh tekanan.
Raka terdiam. Dia sangat mengenal Arga. Dari nada bicaranya, Raka tahu mantan sahabatnya itu tidak bercanda dan pasti bisa mewujudkan kata-katanya. Tapi dia harus memiliki calon anaknya dan juga ibu dari calon anaknya. Menurutnya Hania dan janinnya adalah miliknya. Mereka sepaket.
"Gue tau, istri lu hamil anak gue. Anak itu milik gue! Apa yang harusnya jadi milik gue akan jadi milik gue!" ucap Raka datar namun bergetar.
Ada perasaan khawatir dan lega sekaligus ketika Raka mengungkapkan perasaannya. Dia takut Arga tidak akan dengan mudah membiarkannya memiliki Hania meski istrinya itu tengah mengandung benihnya. Arga sangat mencintai istrinya. Dan dia tahu Arga sangat keterlaluan jika sudah mencintai seseorang.
"Jangan mimpi! Seujung rambutnya pun, elu ngga bakal bisa sentuh mereka! Gue jamin itu!" sergah Arga, membuatnya memejamkan matanya.
Dugaannya benar. Arga tidak akan dengan mudah membiarkannya memiliki Hania dan calon anaknya. Raka tersenyum kecut ketika Arga memutuskan sambungan ponselnya sepihak.
"I-i- itu tadi...." ucap Hania terbata-bata.
Mendengar suara Hania yang bergetar, Arga seketika sadar jika Hania mengetahui siapa lawan bicaranya. Pria tampan itu terkejut ketika menoleh ke arah Hania, wanita cantik itu sudah berurai airmata. Sembrono! Dia benar-benar tidak menyadari jika Hania mendengarkannya. Iya. Istrinya itu pasti mendengar setiap perkataannya tadi.
"Honey. Maaf. Aku tadi sedikit emosi. Kamu seharusnya ngga perlu dengerin yang tadi." ucap Arga menenangkan Hania seraya mengusap airmata Hania.
"Di-dia ada di sini? Ap-apa dia akan menggangguku lagi?" racau Hania terbata dengan suara bergetar.
Digenggamnya tangan Hania yang terasa dingin di tangannya. Istrinya itu pasti ketakutan dan cemas. Arga mulai khawatir jika istrinya akan histeris lagi. Dia merasa bersalah.
"Kamu ngga usah khawatir, honey. Ada aku yang akan jagain kamu. Aku ngga akan biarin dia ganggu kamu lagi. Aku janji. Kamu percaya aku 'kan?" Hania menganggukkan kepalanya, membuat Arga sedikit lega.
Sudah beberapa bulan rasa takut dan cemas berlebihnya tidak lagi muncul, namun hanya dengan mendengar Arga berbicara dengan ekspresi dingin pada seseorang di ponsel, membuatnya seketika menegang dan ketakutan. Suaminya itu tidak akan berbicara dengan nada begitu kecuali pada orang yang telah berbuat salah padanya. Dan diapun menduga orang itu pastilah Raka.
__ADS_1
"Akh! Aduh!" rintih Hania seraya memegang perutnya.
Arga yang baru akan melajukan mobilnya seketika menginjak pedal rem dalam-dalam. Rintihan Hania membuatnya mengurungkan niatnya.
"Honey? Kenapa? Mana yang sakit?" panik Arga.
"Ssshhh! Aduh!" Hania meringis menahan nyeri di perutnya, sementara Arga terus mengusap perut Hania yang terasa menegang di telapak tangannya.
"Akh! Mas... Sakit." lirih Hania masih memegang perutnya dan satu tangan mencengkram pergelangan tangan Arga.
Cengkraman Hania di pergelangan tangannya menunjukkan betapa sakitnya yang dirasakan sang istri, membuatnya panik. Dan pria itu semakin panik ketika melihat darah yang mulai merembes di dress istrinya.
"Kita ke rumah sakit!" putus Arga yang hanya diangguki Hania seraya meringis.
Keringat dingin mulai bermunculan di kening Hania. Wanita hamil itu merasakan perutnya mulas dan melilit sekaligus.
Arga mengendarai mobilnya dengan perasaan tak menentu. Pria tampan itu takut pembicaraannya dengan Raka mempengaruhi kesehatan dan kandungan istrinya. Apalagi wanita cantik itu masih dalam masa pemulihan.
Lagi-lagi Arga harus menunggu dengan perasaan khawatir dan gusar di depan ruang persalinan sambil berharap Hania dan calon bayinya baik-baik saja.
"Ga?" suara bariton yang dikenalnya membuatnya menoleh.
"Den." sapa Arga.
"Hania kenapa lagi?" tanya Iden yang tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
Iden langsung meluncur ke rumah sakit setelah pertemuannya dengan kliennya berakhir. Pria flamboyan itu juga mengkhawatirkan istri sahabatnya itu. Meski intensitas pertemuannya dengan Hania tidaklah sering, tapi pria blesteran itu cukup mengenal wanita cantik itu. Dialah yang mencari tahu segala informasi tentang wanita itu dulu. Jadi, secara tidak langsung, dialah yang lebih dulu mengenal Hania. Perasaan lebih mengenal Hania itulah yang membuatnya merasa khawatir.
"Apa dia ketemu Raka?" tebak Iden.
"Dia denger obrolan gue sama si brengsek itu. Hania ketakutan dan panik." ucap Arga.
"Lu ketemu dia?" tanya Iden lagi seraya menatap Arga penuh rasa ingin tahu.
"Dia...." ucapan Arga terpotong oleh kemunculan seorang perawat.
"Sus, gimana keadaannya? Apa mereka baik-baik saja?" cecar Arga pada perawat yang berjalan dengan tergesa-gesa.
"Maaf, Pak. Saya belum bisa memberitahukan keadaan pasien." sahut perawat itu lalu meninggalkan Arga.
Arga menyugar rambutnya yang sudah acak-acakan. Wajahnya tampak kusut. Iden memperhatikan penampilan sahabatnya yang biasanya tampil klimis itu. Barulah disadarinya, kemeja Arga terkena noda darah yang tampak mulai mengering. Pria yang tak kalah tampan itu lalu berinisiatif menghubungi dan meminta Reza membawakan pakaian ganti untuk Arga.
"Ah. Kenapa lama sekali?" keluh Arga dalam hati seraya mengacak-acak rambutnya.
Arga melihat jam mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam 5. Sudah hampir 1 jam berlalu namun Hania belum juga selesai ditangani. Tak berselang lama perawat tadi kembali lagi sambil membawa beberapa kantong darah.
Klek!
Arga menatap pintu ruangan itu dengan lekat. Segala pikiran buruk sudah berkelebatan dalam benaknya. Apalagi melihat raut datar perawat tadi.
"Lu udah hubungin nyokap lu?" tanya Iden berusaha mengalihkan perhatian Arga.
"Astaga. Gue lupa." lirih Arga seraya mengusap wajahnya.
__ADS_1
Itu adalah kali kedua Arga membawa Hania ke rumah sakit dalam keadaan pendarahan. Pikirannya yang kalut dan takut dengan kondisi Hania dan janinnya, membuatnya tidak bisa memikirkan hal lainnya. Dirinya sampai lupa mengabari ibunya.
"Biar gue aja." pinta Iden yang diangguki Arga.
Perhatian kedua pria tampan itu teralih ketika seorang dokter wanita muncul dari balik pintu ruang persalinan.
Dengan raut wajah penuh kekhawatiran, Arga menghampiri dokter kandungan ynag menangani Hania selama ini. Di belakangnya, Iden mengikuti dengan raut wajah yang sama.
"Gimana istri dan anak saya, dok?" tanyanya dengan nada khawatir yang tidak bisa disembunyikan.
"Pak Arga." ucap dokter wanita itu lalu menjeda kalimatnya sejenak.
Arga yang khawatir mulai merasakan perasaannya tidak enak. Tanpa berkedip, pria karismatik itu menatap lekat dokter kandungan yang sudah dikenalnya itu. Jantungnya berdetak kencang dan dia gugup. Saat ini, Arga tidak siap mendengar berita buruk. Meskipun kemungkinan itu pasti ada.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kehamilan istri anda, tapi seperti yang kita tau kondisi Bu Hania dan janinnya sedang tidak baik. Jadi...." ucapan dokter itu terhenti.
"Dokter, lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya. Tolong selamatkan mereka." potong Arga dengan kedua tangan menangkup di depan dadanya dan matanya berkaca-kaca.
Dokter spesialis obgyn itu hanya menghela napasnya. Sementara Iden hanya bisa menenangkan sahabatnya itu dengan menepuk bahunya.
"Begini, Pak Arga. Janin Ibu Hania sudah tidak bisa diselamatkan." ucap dokter spesialis kandungan itu seraya menatap Arga dengan iba.
"Maaf, kami sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain." lanjutnya bersimpati.
Arga mematung menatap dokter di depannya dengan air mata yang sudah mengalir di sudut matanya. Ucapan dokter itu seperti petir di siang bolong. Baginya janin Hania adalah calon anaknya. Dia sudah menerimanya dan mulai menyayanginya. Kali ini hatinya lebih sakit daripada saat mengingat janin itu adalah benih orang lain. Arga luruh terduduk di lantai dingin rumah sakit itu. Kepalanya menunduk dalam, bahunya bergetar naik turun. Pria itu menangis sesenggukan.
Sang dokter mundur beberapa langkah untuk memberi ruang pada Arga. Sementara Iden ikut berjongkok di samping Arga dan menepuk punggung sahabatnya perlahan, mencoba menyalurkan ketenangan.
"Istri saya gimana?" tanya Arga mendongakkan kepalanya.
Pria karismatik itu masih terduduk di lantai. Kakinya terasa lemas.
"Bu Hania mengalami pendarahan berat dan banyak kehilangan darah. Kami masih berusaha membuatnya stabil." Arga memejamkan matanya demi mendengar keterangan dokter yang ikut berjongkok di depannya.
"Dokter." seorang perawat keluar ruang persalinan dan meminta sang dokter kembali ke dalam ruangan itu.
Sepeninggal sang dokter, Arga segera berdiri dengan dibantu Iden. Kekhawatiran masih tergambar jelas di wajah tampannya itu meski penampilannya sudah amburadul. Iden mengajak Arga duduk di sofa tak jauh dari pintu ruangan itu.
Klek!
Lagi-lagi seorang perawat keluar dari ruangan dimana Hania mendapat pertolongan. Kedua pria bertubuh atletis itu langsung berdiri ketika melihat perawat itu berjalan ke arah mereka.
"Maaf, apakah ada dari pihak keluarga pasien yang bergolongan darah AB+? Saat ini kami sedang kehabisan persediaan, begitu juga PMI. Dan pasien sedang membutuhkan donor darah secepatnya." tanya perawat tersebut dengan ekspresi tenang.
"Saya, sus. Golongan darah saya sama dengan pasien." sahut Iden mantap.
*******
Thanks for reading!
Molor lagi 🤦🏻♀️ maapkeun ya readers 🙏🏻 masih semangat kok nulisnya tapi lagi-lagi kesulitan bagi waktunya. Tapi akhirnya bisa up lagi 🤓
Di bab ini, maunya readers keturutan ya... Selamat! Eh 🙊😁
__ADS_1
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.