Yang Terakhir

Yang Terakhir
216. Bahagia Bersama


__ADS_3

Arga memalingkan pandangannya ke sembarang arah saat Iden menatapnya dengan tatapan tajam setajam silet. Sementara Viona hanya menggelengkan kepalanya.


"Pak Ganteng. Si kembar dicariin Yangti sama Omanya." ucap Lisa yang menyusul Arga dan di kembar.


Meski sudah mengenal Arga, pria tampan yang dulu selalu tampil dingin dan tak pernah tersenyum, Lisa tetap memanggilnya Pak Ganteng. Dia lebih suka memanggilnya begitu. Dan Arga maupun Hania tidak mempermasalahkannya.


"Jangan sia-siain usaha gue, Man. Susah payah gue ngerayu dia buat balik kesini. Demi elu." bisik Arga mengingatkan Iden kemudian meraih Sashi dalam gendongannya dan mengisyaratkan Lisa menggendong Bintang lalu meninggalkan Iden dan Viona.


2 minggu yang lalu sebelum Arga melakukan perjalan bisnis ke kuar kota, pria itu sempat mengunjungi Jerman bersama Hania dan Ibu Irene. Ibu mertuanya itu ingin Hania mengenal kampung halaman sang Mama.


Di sana, secara tak sengaja, Arga bertemu Viona. Gadis cantik yang pernah dan masih bertahta di hati Iden. Yang menjadi sebab sahabatnya itu tidak pernah mau serius menjalani hubungan romantis dengan lawan jenisnya.


Dari cerita Viona, Arga tahu alasan wanita itu meninggalkan Iden. Karena wanita cantik itu sedang sakit dan tidak tahu bisa sembuh atau tidak. Viona tidak ingin memberi harapan pada Iden dan tidak ingin Iden menunggu. Viona tidak ingin mempunyai beban atas hubungan yang tak pasti.


Kenapa sampai Jerman? Berobat pastinya. Setelah ayahnya meninggal, hati Viona tergerak untuk sembuh. Hanya ibunya yang dimilikinya saat itu, pun sang ibu, hanya Vionalah miliknya. Ibunya sangat berharap dia sembuh seperti keinginan mendiang ayahnya juga.


Bertahun-tahun berobat, kesehatannya mulai membaik tapi juga kadang sempat menurun. Tapi itu bukan masalah serius. Dengan cepat keadaannya akan membaik lagi karena keinginannya untuk sembuh juga kuat. Walaupun sudah membaik, wanita cantik itu tidak ingin kembali ke tanah air. Dia terlanjur merasa bersalah pada Iden.


Atas bujuk rayu Arga yang dibantu Hania dan Ibu Irene, Viona akhirnya mau kembali. Apalagi setelah kematian sang ibu setahun yang lalu, dia hanya tinggal sendiri di negara itu.


"Aku minta maaf, beb." ucap Viona yang masih memanggil Iden dengan panggilan sayangnya.


Saat ini, mereka tengah duduk di kamar tamu. Satu-satunya tempat paling pribadi bagi Iden dan Viona untuk bertemu dan berbicara dari hati ke hati. Dan jauh dari gangguan pastinya.


"Aku ngga mau php in kamu." imbuhnya lagi.


"Sampe sekarang pun aku belum bener-bener sembuh. Aku masih nunggu donor tulang sum-sum. Dan itu ngga pasti waktunya. Mungkin juga aku ngga bisa bener-bener sembuh. Pengobatan ini cuma manjangin umurku aja." Viona menghentikan ucapannya seraya mengusap air matanya.


Mata Iden sudah berkaca-kaca. Lidahnya kelu. Hatinya berdenyut nyeri. Rasanya menyakitkan mendengar cerita Viona. Dirinya sudah salah mengira selama ini. Viona selingkuh? Cih! Dia mengumpati dirinya sendiri. Apa yang dilihatnya dulu bukan selingkuhan Viona tapi dokter yang merawatnya. Wanita itu menggunakan dokter itu untuk menjauhkan Iden darinya. Andai dia tahu dari dulu. Andai dia mencari tahu dari dulu.


Mendadak Iden merasa bodoh dan lemah. Merasa tidak pernah berjuang demi wanita yang dicintainya. Benar kata Arga. Dia tidak boleh melewatkan kesempatan ini agar tidak menyesal untuk kedua kalinya. Kali ini, dia akan memperjuangkan Viona. Iden tidak akan menyia-nyiakan perjuangan Arga yang telah membawa Viona kembali.


Melihat Viona menangis, hatinya serasa diremas. Rasanya ngilu. Secara impulsif, pria blesteran itu menarik Viona ke dalam pelukannya dan membiarkan wanita cantik itu semakin menangis.


"Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, beb. Kamu pasti ngga yakin sama aku waktu itu, makanya kamu milih jauhin aku." ucap Iden seraya mengusap rambut pendek Viona.


"Mulai sekarang, bergantunglah padaku. Aku yang akan jagain kamu." imbuh Iden lagi dengan suara bergetar menahan emosi.


"Tapi aku sakit. Aku ngga mau buat kamu berharap banyak sama aku. Aku takut kamu makin sedih karena aku ngga sesuai harapanmu." ucap Viona di sela isak tangisnya.


Iden mengurai pelukannya. Menatap mata bening yang berkaca-kaca milik Viona.


"Jangan remehkan perasaanku, beb. Dari dulu rasa ini ngga pernah berubah untukmu. Aku yakin pasti bahagia denganmu." ucap Iden meyakinkan Viona.

__ADS_1


Iden merasakan betapa hampanya ditinggal Viona dulu. Saking dalamnya rasa cintanya pada wanita itu sampai-sampai tidak ada wanita lain yang bisa menggesernya. Meski mendiang Bela sempat mengisi kekosongan itu, rasa cintanya pada Viona terbukti tak luntur. Sejak ditinggal Viona, Iden tidak lagi merasakan bahagia karena memiliki seseorang di sisinya


Cup.


Iden mengec*p bibir Viona lalu mel***tnya lembut. Cukup lama pria itu merasai manis yang sudah lama tidak disesapnya. Menuntaskan rasa rindu yang membutuhkan pelampiasan. Semakin lama, l***tan itu semakin menuntut, namun Iden segera menghentikan aksinya sebelum merembet kemana-mana. Meski dulu mereka pernah berhubungan int*m, bahkan keduanya sama-sama merasakan pengalaman itu untuk pertama kalinya, Iden tidak akan gegabah merayakan pertemuan mereka malam itu dengan melakukannya tiba-tiba.


Hari-hari penuh senyum bagi Iden karena kekasihnya telah kembali. Dengan kembalinya Viona ke sisinya, dunia pria itu kembali terpusat pada wanita cantik itu. Dan dengan sendirinya kehidupan malamnya berakhir.


"Mas! Udah ih! Tinggal bantuin naikin resleting aja, tangannya kemana-mana. Buruan sih, ntar kita telat, bisa ngomel lama Galihnya nanti." omel Hania pada Arga.


"Abisnya kamu se*si banget, honey. Sekali lagi ya?" ucap Arga seraya membalik tubuh ramping Hania.


"Ngga! Semalam udah, barusan juga udah. 'Kan udah lebih dari sekali, Mas! Ayo buruan diresletingin!" omel Hania lagi seraya membalik tubuhnya membelakangi Arga lagi.


Arga pasrah dengan penolakan Hania. Dia sendiri bingung sejak kembali dari urusannya di luar kota, hasr*tnya pada sang istri semakin besar. Apa karena seminggu tidak bertemu?


"Mas? Jangan lesu gitu deh. Ngga enak banget dilihatnya." ucap Hania seraya mengusap rahang Arga dan mengec*p pipi kirinya.


Matanya terbelalak saat tangan Hania menyentuh 'jendral Jack'nya. Arga menunduk dan mendapati istrinya menaikkan resleting celananya yang belum dinaikkannya tadi karena Hania memintanya menaikkan resleting kebayanya. Pria itu memejamkan matanya merasakan usapan lembut di bawah sana. Hania tidak sekedar menaikkan resleting celananya tapi juga memberi sentuhan yang membuatnya semakin pusing.


"I'm yours tonight." bisik Hania manja lalu mengedipkan sebelah matanya.


Arga mendesah.


"Penggoda!" ucap Arga membuat Hania tertawa.


"Lu kenapa, sih? Jangan nervous banget gitu lah! Ntar hapalan ijab qobul lu ilang trus lu malah salah sebut nama, 'kan berabe urusannya. Si Syana nya ngambek." ucap Iden.


"Bahaya tuh kalau Syana ngambek. Bisa batal nikah lu sama dia." celetuk Ferry yang langsung mendapat lemparan korek dari Galih. Beruntung dia bisa menghindar dan malah tertawa. Arga, Iden, dan Darren pun ikut tertawa.


"Doain gue jelek lu!" sergah Galih.


Klek!


Pintu terbuka. Kelima pria itu menoleh bersamaan. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik muncul dari balik pintu. Ibunya Galih. Ibu Arum namanya. Ditatap lima pria tampan, Ibu Arum langsung menyunggingkan senyumnya.


"Udah siap? Penghulunya udah datang." ucap Ibu Arum seraya melangkah masuk lalu sedikit merapikan pakaian Galih.


Kulit sawo matang Galih memang cocok dengan pakaian adat jawa yang dipakainya. Menambah aura gagah dan jantan. Dengan digandeng sang ibu dan diiringi 4 pria menawan, Galih melangkah dengan yakin menuju ruangan untuk acara ijab qobul.


Galih menarik napasnya dan menahan debaran jantungnya sebelum menjabat tangan penghulu yang juga berperan sebagai wali hakim untuk Syana.


"Saya terima nikahnya Syana Saraswati binti Teguh Mulya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." ucap Galih lantang dan lancar dalam sekali tarikan napas.

__ADS_1


Sah!


Sah!


Mendengar kata sah, Galih merasa lega seketika. Beban berat yang sepertinya menggelayuti tubuhnya serasa hilang. Senyum pria gagah itu mengembang sempurna di sela-sela doa penghulu. Begitu juga dengan para sahabat yang hadir dan menemaninya. Rasa tegang tidak hanya dirasakan Galih. Hania juga merasakannya. Bahkan wanita cantik bermata kelinci itu terus menahan tangisnya saat menatap sahabatnya itu duduk di depan penghulu dan mengucap ijab qobulnya. Air mata tak terbendung lagi saat Galih menyelesaikan kalimatnya.


Lika-liku percintaan pria itu, Hania yang tahu. Bagaimana dalamnya Galih mencintainya, dia juga tahu. Tapi karena bagaimanapun, jodoh tidaklah bisa diatur-atur karena sudah ditetapkan sejak manusia masih dalam kandungan. Kalau bukan jodohnya, meski dikejar tidak akan menyatu, meski berdekatan tidak akan mendekat.


"Om Alih ma ate Ana. Om Iden ma ate Io. Om Eli ma ate Ica. Papa ma Mama." celoteh si kembar bersahutan lalu bertepuk tangan sambil tertawa membuat semua yang disebut terbengong-bengong dan saling tatap.


"Wah! Parah lu, Ga. Anak-anak lu, lu ajarin ngomong apaan?" umpat Iden.


"Ngomong apaan? Emang mereka ngomong apaan? Ngga ada yang tabu 'kan dari celotehannya?" sergah Arga yang tidak terima diumpat Iden.


"Mereka lihat kita pasang-pasangan gini, dipikirnya kita kayak mama papanya, mungkin." ucap Viona menyimpulkan.


"Kode tuh!" balas Arga acuh.


Mengetahui maksud Arga, Iden langsung menoleh pada Viona. Wajah wanita itu sudah merona saja membuatnya semakin gemas. Tapi kekasihnya memilih diam. Iden tahu arti diamnya Viona. Dengan lembut digenggamnya tangan kekasihnya, menyalurkan rasa tenang dan nyaman.


"Marry me, Viona Mustika!" tiba-tiba Iden menyodorkan sebuah cincin bermata berlian pada Viona.


Kontan saja membuat para sahabatnya terkejut. Terlebih Viona. Wanita itu sudah tak mampu lagi berkata-kata. Dia tak menyangka cinta Iden padanya sangat dalam. Kebersamaan mereka baru kembali terajut seminggu terakhir. Tapi Iden dengan yakin meminangnya.


"Gue akan terima apa adanya kamu beb. Sekarang terima aja lamaranku." ucap Iden, sedikit memaksa memang tapi dia sudah yakin dengan perasaannya pada Viona.


Hania yang peka dengan situasi Iden, ikut mengusap lengan kekasih kakaknya itu dan memberikan senyumnya. Ikut meyakinkan Viona untuk menerima lamaran sang kakak. Hania tahu, kali ini Iden tak main-main. Dia ingat cerita Arga tentang keduanya. Hania menganggukkan kepalanya saat Viona menatapnya. Dan akhirnya, yang semula ragu, Viona menganggukkan kepalanya. Membuat semua yang duduk di meja yang sama itu menghembuskan napas lega.


"Nih. Ngga usah nunggu dilempar Syana bunganya." ucap Galih seraya menyerahkan hand bucket milik Syana pada Viona. Wanita cantik itu menerima bunga itu dengan senyum mengembang.


"Kayaknya gue ketinggalan berita, nih!" ucap Darren yang tiba-tiba muncul bersama sang istri membuat Arga dan yang lainnya saling bertukar pandangan.


"Iden bucin, Ren." celetuk Arga setengah meledek kakak iparnya.


Darren dan Stela menoleh ke arah Iden yang melirik Arga tajam karena kesal dikatai bucin. Pasutri itu mengulum senyum dan saling melirik seolah berkata, benarkah?


Tapi melihat bahasa tubuh sahabat flamboyan itu pada Viona seminggu terakhir, Darren setuju dengan Arga. Pria itu memang sedang bucin.


Tak ingin dijadikan bahan ledekan oleh kedua sahabatnya, tanpa berkata-kata, Iden mengangkat tangan kiri Viona. Menunjukkan cincin berlian yang melingkar di jari manis wanita itu. Tentu saja Darren terkejut dan juga senang. Akhirnya sahabatnya yang paling setia membujang itu laku juga. Sayang Rizal tidak bisa ikut merayakan kebahagiaan Iden dan Viona. Pun mendiang Raka.


"Akhirnya, gue bisa lihat wajah bahagia 2 sahabat gue ini. Gue saksi perjalanan panjang kita. Semoga seterusnya kita bahagia bersama." ucap Darren tulus.


"Aamiin!" ucap mereka bersamaan mengaminkan doa Darren.

__ADS_1


TAMAT


*******


__ADS_2