Yang Terakhir

Yang Terakhir
114. Kepergian Tiara


__ADS_3

Ingin rasanya Arga menghancurkan peralatan penunjang hidup Tiara yang suaranya seperti berdecit di telinganya. Meski pria dewasa itu diam dan menatap tajam ruangan steril itu, namun dirinya cemas luar biasa. Arga hanya berdiri lalu duduk di sofa yang tersedia di luar ruangan itu, lalu berdiri lagi. Gerakan konsisten yang dilakukannya berulang kali. Hanya ada Iden dan Ferry yang ada di sana.


Sementara Hania, wanita cantik itu masih tertidur setelah dokter Faisal memberinya obat. Dirinya belum mengentahui kondisi terkini putrinya. Ah, seandainya dia tahu, sudah pasti wanita itu tidak akan mau meninggalkan Tiara, apalagi sampai tertidur begitu.


"Pak Arga, kondisi putri anda belum bisa dibilang stabil. Kondisinya up and down. Namun saat ini anak Tiara sudah mulai sadar. Dia mengigau menyebut nama anda terus. Sebaiknya bapak mengajaknya berbicara. Terus berikan rangsangan baik itu suara ataupun sentuhan." pinta dokter Mita tadi.


Arga duduk di kursi di samping ranjang Tiara. Tangan besarnya dengan lembut memberi elusan di punggung tangan gadis kecil itu.


"Sayang, Oom di sini lagi. Tiap ke sini, kamu masih tidur. Padahal Oom pengen dipeluk sama Tiara lho. Trus denger Tiara cerita, ketawa. Bangun dong, sayang. Oom sama mama nungguin kamu bangun." suara Arga bergetar menahan isaknya.


Sungguh pria itu merindukan tawa riang Tiara yang selalu menyambutnya. Diciumnya punggung tangan mungilnya Tiara cukup lama. Menyalurkan segenap rasa rindu di hatinya pada gadis kecil itu.


"O...om." lirih Tiara.


Arga seketika menatap wajah Tiara. Arga bergeming. Menatap lekat mata gadis kecil kesayangannya itu yang masih menutup. Dirinya tidak mungkin salah dengar. Telinganya masih dalam kondisi prima seperti anggota tubuhnya yang lain. Barusan pria karismatik itu mendengar Tiara memanggilnya.


"Sayang? Tiara?" ucap Arga meyakinkan bahwa pendengarannya tidaklah salah.


Arga menghela napas dalam. Tiara masih menutup mata dan diam saja. Mungkin saja benar jika dirinya berhalusinasi. Mungkin saking rindunya pada gadis kecil berlesung pipi itu hingga terbawa dalam angan-angan.


"O... om Ar... ga." kali ini suara gadis kecil itu jelas menyebut namanya, bahkan Tiara membuka matanya meski hanya segaris.


"Sayang, kamu udah bangun?" lirih Arga dengan senyum yang mengembang lebar.


"Aku... kangen... O...om." ucap Tiara terbata.


Tanpa dapat dibendungnya, airmata Arga mengalir di sudut mata tajam itu. Pria tampan itu luar biasa bahagia. Penuturan gadis kecil itu membuatnya terharu. Setelah terbangun dari tidur panjangnya, dirinya lah yang dicari gadis kecil itu dan menyatakan perasaan rindunya.


"Iya, sayang. Oom juga kangen. Tiara cepat sembuh ya, nanti kita jalan-jalan lagi, main bareng lagi. Oom bakal luangin waktu yang banyak buat nemenin Tiara." ucap Arga disela isaknya.


Tiara terdiam dan menggeleng. Tampak napasnya tersengal. Dia baru bangun dari tidur panjangnya. Berbicara sedikit saja sudah membuatnya lelah. Arga membawa tangan mungil Tiara ke wajahnya. Ditempelkannya tangan itu ke pipinya. Biasanya gadis kecil itu akan tergelak karena rasa geli yang dirasakan di telapak tangannya ketika menyentuh bulu halus di wajah Arga. Namun kini gadis kecil foto kopian ibunya itu hanya terdiam dan sedikit menggerakkan jari-jarinya.


"Tiara... capek... O... om. Badan...Tiara ...sakit... semua. Rasanya... lemes, ba-nget." lirih Tiara terbata.


"Tiara capek? Kalau gitu sekarang istirahat dulu ya?" pinta Arga.


Gadis kecil yang baru tersadar itu mengangguk.


"Iya, aku... mau is... tirahat. Tapi, Oom... janji ya, Oom... bakal... jagain mama." Arga termangu mendengar ucapan gadis kecil yang sudah dianggap putrinya sendiri itu.


Mendadak perasaan Arga menjadi was-was. Perasaan yang tadinya sudah mulai tenang kini kembali bergejolak. Pria tampan itu kembali cemas luar biasa.


"Oom, mau, kan... janji... sama, Tiara?" suara khas anak-anak itu kembali terdengar, menyadarkan Arga dari lamunannya.


"Kita akan jagain mama sama-sama, sayang. Oom juga akan jagain Tiara." Arga mencoba mencairkan suasana hatinya yang mendadak tegang.


Tiara menggeleng lagi.


"Oom, ngga usah...jagain aku. Aku nanti... dijagain Allah. Oom, jagain mama... aja. Temenin mama, gantiin... aku." airmata Arga sudah menggelayut di pelupuk matanya, sekali kedip saja airmata itu akan luruh begitu saja, jadi pria dewasa itu mendongakkan kepalanya menatap langit-langit ruang intesif itu.


"Oom? Janji ya? Aku... sayang sama... Oom Arga. Mama juga... sayang... sama Oom. Oom sayang 'kan... sama...mama?" Arga sudah terisak saja bahkan tergugu.


Pria tampan itu menangis sesenggukan seraya menggenggam tangan mungil Tiara. Hatinya berdenyut nyeri. Tak sanggup rasanya melepas gadis kecil kesayangannya itu. Ah. Itu pasti hanya perasaannya saja. Hiburnya pada dirinya sendiri. Pria itu mengusap airmatanya dan kembali tersenyum menatap Tiara yang sedikit membuka matanya.


Iden dan Ferry masih menatap interaksi Arga dan Tiara. Sebenarnya merasa heran dan penasaran, seorang Arga yang terkenal dingin dan arogan di hadapan lawan bisnisnya, bisa menangis sesenggukan begitu. Terlihat dari bahunya yang naik turun tak beraturan dan sebentar-sebentar mengusap airmatanya.


"Anak itu baik-baik saja 'kan?" tanya Iden begitu Arga keluar dari ruang ICU itu.


Arga mengangguk lalu menggelengkan kepalanya. Membuat Iden dan Ferry saling menatap. Namun tidak ada yang bertanya lagi. Melihat bahasa tubuh Arga, kedua pria bertubuh atletis itu sudah bisa menduga.

__ADS_1


"Apa perlu gue panggil Mba Hania kesini?" tawar Ferry.


Pria macho itu jadi ikut gelisah demi melihat ekspresi Arga.


Arga dan Iden menoleh ke arah Ferry bersamaan. Arga yang tengah duduk di sofa dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kedua sikunya bertumpu di atas pahanya, langsung mendongakkan kepalanya ke arah Ferry. Begitupun Iden yang duduk di samping kanan Arga, langsung menoleh ke arah kiri, ke arah Ferry, yang berdiri di sebelah kiri Arga.


"Gue rasa Hania perlu tau kondisinya Tiara, man. Gimanapun juga dia itu ibunya." sahut Iden diplomatis seraya menatap Arga.


"Gue tau. Tapi gue khawatir sama kondisinya dia." ucap Arga.


"Gue yakin, Mba Hania itu perempuan yang kuat. Sebaiknya, Mas aja yang ngomong sama dia." timpal Ferry.


Iden terkekeh mendengar Ferry menyebut Arga dengan sebutan 'Mas'. Membuat Arga dan Ferry gantian menatap pria blesteran itu dengan kening berkerut.


"Sorry. Gue ngerasa lucu aja lu manggil dia 'mas'." ucap Iden disela kekehannya.


Arga yang awalnya terbiasa dipanggil 'mas' oleh orang-orang di sekitar Hania jadi tersadar. Pria karismatik itu menatap Ferry seraya menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya.


"Kenapa? Ngga salah kan gue? Umur lu 'kan 5 tahun lebih tua dari gue. Gini-gini, gue masih punya sopan santun, anjay!" gerutu Ferry.


"Lagian 'kan lu deket sama Mba Hania. Orang yang udah gue anggep kakak perempuan gue!" imbuhnya dengan kesal.


Arga mendesah lalu menggelengkan kepalanya. Seulas senyum terbit di sudut bibirnya, nyaris tak terlihat. Selama ini jiwa posesifnya selalu berdering nyaring jika ada pria lain dekat-dekat dengan Hania. Tapi barusan, pria yang selama ini tidak disukainya karena dekat dengan kekasihnya itu sudah menganggap Hania sebagai saudarinya. Dia bisa bernapas agak lega sekarang mengenai keberadaan pria macho yang diakuinya juga tampan itu.


"Kenapa ngga ngabarin aku, Han? Coba aja aku ngga ke Jakarta, mana tau kalau kamu di rawat di sini." alarm tanda waspada Arga langsung berdering begitu mendengar suara pria lain di ruang rawat Hania.


Klek!


Arga membuka pintu ruangan itu perlahan dan wajah tanpa ekspresi meski sebenarnya jauh di lubuk hatinya sudah banjir lahar panas. Pria itu tak lain adalah Galih. Pria yang dulu sangat dekat dengan Hania. Bahkan mungkin sekarang pun masih dekat, mengingat persahabatan mereka yang terjalin sejak lama. Mengetahui latar belakang itu membuat Arga bertindak posesif pada Hania


"Ada aku di sini. Kurasa Hania ngga perlu repot-repot ngabarin kamu." ucap Arga yang dibuat sedatar mungkin seraya mendekati Hania.


"Ck!" Galih berdecak tak suka.


Sahabat Hania itu merasa tersisih dengan kehadiran Arga. Tak dipungkiri dirinya cemburu. Sekian lama memendam rasa pada sahabatnya itu, namun perasaannya harus bertepuk sebelah tangan. Sementara Arga, pria itu baru dikenal Hania tapi sudah bisa mengalihkan perhatian sahabat tercintanya itu. Bahkan sukses merajai hati Hania.


"Orang baru datang, ditanyain kabarnya kek? Apa kek? Tokek kek? Ini? Malah diajakin ribut!" gerutu Galih seraya mendudukkan dirinya di sofa di sebelah Lisa.


"Kalau maunya ditanyain kabar dan segala macemnya, kenapa ngga pulang ke rumah orangtuamu?" tukas Arga.


"Mas?" Hania segera meraih tangan Arga dan mengelusnya lembut di sana.


Wanita cantik itu tahu Arga sedang menampakkan kuasanya atas miliknya. Merasa terancam.


Arga menoleh pada Hania karena teguran wanitanya itu. Lalu mengecup kening Hania dan mengucapkan kalimat 'i love you' melalui gerak bibirnya. Tentu saja Hania tersipu malu. Wajahnya yang masih pucat terlihat sedikit merona. Apalagi Lisa dan Galih. Kedua insan beda kelamin itu langsung membuang muka melihat Arga memamerkan sikap romantisnya. Galih yang kesal dan Lisa yang malu.


"Gimana Tiara, Mas?" tanya Hania setelah dapat menguasai sikap salah tingkahnya.


"Kamu mau ngomong sama dia?" bukannya menjawab, Arga malah memberi Hania sebuah tawaran yang membuat wanita cantik itu mengernyit.


"Dia udah bangun, honey. Aku barusan ngobrol sama anak itu." ucap Arga menyakinkan Hania.


Pria itu harus menekan gejolak di hatinya yang berdenyut nyeri. Apalagi mengetahui Tiara yang sudah tidak punya semangat hidup lagi. Mungkin gadis kecil itu merasakan tubuhnya tidak mampu lagi.


"Kamu mau ikut liat Tiara?" tawar Hania pada Galih yang tentu saja dalam hatinya Arga tak setuju.


"Jelas dong. Aku mau liat keponakan tersayangku." ucap Galih seraya melirik Arga yang tengah menatapnya tajam.


Hania langsung masuk ke ruangan intensif dimana Tiara tengah berjuang bertahan hidup. Lagi-lagi airmata Hania tidak dapat dibendungnya setiap kali wanita cantik itu melihat tubuh putrinya tergolek tak berday dengan berbagai peralatan menempel di tubuhnya.

__ADS_1


"Tiara sedang ngga baik-baik aja 'kan?" cecar Galih yang merasa bahwa Arga sedang menyembunyikan sesuatu terkait kondisi Tiara.


Arga dan Galih sedang menunggu di luar ruangan itu. Arga menoleh sekilas ke arah Galih tapi tak berniat menjawab pertanyaan pria itu. Hatinya membenarkan pria berwajah manis yang berdiri dengan posisi yang sama dengannya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya. Lisa yang juga ikut mengekor Hania, hanya bergeming melihat reaksi Arga yang seolah membenarkan pertanyaan Galih.


Iden dan Ferry sudah tidak tampak di sana. Sebelum Arga meninggalkannya, Arga meminta kedua bujangan tampan itu menyusul Reza.


"Sayang, ini mama, nak. Ajak mama ngobrol dong, sayang." lirih Hania.


Wanita itu tidak berniat membangunkan Tiara yang tampaknya sedang tidur. Dirinya hanya memberitahukan putrinya tentang keberadaannya di ruangan itu. Jari-jari lentiknya mengusap-usap punggung tangan Tiara dengan perlahan seolah takut sentuhannya akan melukai kulit putrinya.


"Ma... ma." lirih Tiara.


"Sayang? Iya, nak, ini mama." sahut Hania.


Melihat Tiara yang terbangun, Arga dan Galih sama-sama bergeming dan fokus menatap ke dalam ruangan serba steril itu.


"Ma... Aku... capek. Badanku... sakit semua. Ngga kuat, ma." keluh Tiara terbata.


"Yang sabar ya, sayang. Mama tau anak mama ini anak yang kuat." ucap Hania menguatkan putrinya seraya menahan isaknya.


Tiara menggelengkan kepalanya. Bernapas dengan berat. Dadanya naik turun perlahan.


"Ma, nanti... mama sama... Oom... Arga ya. Oom, udah jan... ji sama... aku untuk nemenin... mama dan... ja... jagain ma...ma." ucap Tiara membuat Hania semakin tergugu.


"Ngga, sayang. Kamu akan sembuh dan nemenin mama juga." Hania menggelengkan kepalanya seraya mengusap airmatanya.


"Tiara, ngga ku...at. Sakit semua." ucap Tiara lirih.


"Tiara...bobo dulu...ya ma, biar... ngga sakit... lagi. Tiara... sayang ma... ma... selamanya." genggaman tangan mungil Tiara melemah dan terlepas dari genggaman tangan Hania seiring matanya yang menutup.


Tiiiiiit!


Elektrokardiogram yang terhubung pada tubuh Tiara menunjukkan garis lurus dan menimbulkan suara mendecit yang panjang dan nyaring.


"Tiara? Sayang? Ngga! Jangan begini, nak! Mama ngga mau Tiara ninggalin mama. Mama mau tetep sama Tiara." seru Hania panik disela isakan tangisnya.


"Tiara! Bangun, sayang! Jangan begini!" pinta Hania seraya mengusap wajah putri semata wayangnya.


Sementara Arga dan Galih yang menunggu di luar ruangan, sudah bisa melihat yang terjadi di dalam sana. Kedua pria tinggi itu termangu dan terpukul. Bahkan Arga langsung terduduk tak kuasa menahan sedihnya. Lagi-lagi pria karismatik itu harus kehilangan anak yang sangat disayanginya meski Tiara bukan putrinya, tapi pria itu sudah menganggapnya begitu.


Dokter Mita datang dengan tergesa-gesa bersama beberapa perawat yang mendampinginya. Berusaha melakukan pemulihan terhadap kondisi Tiara. Hania dengan berat hati harus meninggalkan ruangan ICU itu dengan seorang perawat mendorong kursi rodanya.


Arga langsung berdiri begitu melihat Hania keluar dari ruangan intensif itu. Menyambut tubuh Hania yang langsung tak sadarkan diri. Wanita cantik itu langsung di bawa kembali ke ruang rawatnya bersama Lisa yang menungguinya. Gadis berkacamata itu ikut terpukul melihat kesedihan atasan yang sudah dianggapnya keluarga itu dan merasa kehilangan Tiara. Sesekali gadis muda itu mengusap airmatanya dan menyusut hidungnya.


Galih hanya bisa menatap tubuh mungil yang kini ditutup kain hingga kepalanya. Hatinya perih. Kini tak ada lagi tawa riang gadis kecil yang akan menyambut kedatangannya dengan suka cita. Dokter yang merawat Tiara sudah memastikan Tiara telah berpulang.


Arga yang kini berada di dalam ruangan ICU hanya bisa menangis sesenggukan sambil memeluk tubuh mungil Tiara. Sungguh Arga tidak peduli jika dikatakan lemah. Karena memang saat ini, dirinya merasa lemah. Sebagai seorang pria yang berjanji akan menjaga gadis kecil itu, dia merasa gagal. Takdir Tuhan berkata lain. Pria karismatik itu merasakan sakit yang sama dengan ketika dirinya kehilangan Devan, putranya.


"Sayang, maafin Oom yang ngga bisa jagain kamu. Tapi Oom janji akan jagain mamamu sebaik-baiknya. Oom tau, kamu selalu percaya sama Oom." ucap Arga seraya mengusap pipi gembil gadis kecil itu.


"Sekarang, Tiara udah ngga ngerasa sakit lagi. Bisa istirahat yang tenang di sana. Oom ihklas. Semoga mamamu juga bisa ihklas." isak Arga.


Tangan Arga mengepal menahan rasa sakit di hatinya. Perlahan amarah menguasai hati pria karismatik itu. Meski matanya berurai airmata, namun sorotnya tajam menatap nanar tubuh mungil Tiara yang sudah tak bernyawa.


"Lu harus bayar ini semua, man!" gumamnya dalam hati seraya mengeraskan rahangnya.


********


Thanks for reading!

__ADS_1


Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh, untuk terus dukung karya ini. 🤗🤗🤗


__ADS_2