Yang Terakhir

Yang Terakhir
132. Melamarmu Lagi


__ADS_3

"Hania? Kamu mikirin apa? Tinggal jawab iya, kenapa mikirnya lama, hum?" pertanyaan Arga menarik Hania dari alam pikiran yang melayang kemana-mana.


Hania menatap lekat manik hitam Arga. Sungguh wanita itu tidak akan tega membuat pria tampan yang mengasihinya itu kecewa, tapi dirinya juga tidak ingin seolah-olah memanfaatkan cinta kekasihnya itu dengan menerima ajakan menikahnya.


"Jangan over thinking, honey. Aku sedang melamarmu sekarang ini." ucap Arga membalas tatapan Hania.


Arga tahu Hania sedang bimbang. Hingga hanya untuk menjawab lamarannya dengan jawaban 'iya' saja, wanita cantik itu berpikir cukup lama. Biasanya seorang wanita akan sangat bahagia ketika kekasihnya mengajaknya menikah dan tanpa berpikir lama-lama akan langsung menerimanya. Tapi ini Hania. Wanita dengan segala kekurangannya yang selalu over tihinking dan Arga harus ekstra sabar menunggunya. Dan sayangnya, Arga mencintainya. Pria itu memahami kekasihnya yang memiliki masa lalu yang lebih sulit darinya.


"Apa kamu masih ragu untuk melangkah sama aku Hania?" Hania mengangkat wajahnya menatap Arga, yang tadinya menunduk karena tak mampu menerima balasan tatapan pria itu.


"Bukan begitu, aku... Ini kesannya malah kayak manfaatin Mas?" Hania memgungkapkan isi hatinya.


"Maksudmu?" tanya Arga.


"Iya. Aku selalu beralasan ketika Mas ngajak aku nikah, tapi sekarang, kalau aku terima apa kesannya ngga gitu? Karena aku kayak, terpaksa nerima Mas. Karena aku udah ternoda." ucap Hania dengan suara yang bergetar.


Arga menghela napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berat. Bahkan Hania dapat mendengar hembusan napas berat itu. Arga merasa tercubit ketika Hania mengungkapkan isi kepalanya sekaligus gemas. Sudah berulang kali pria itu meminta Hania untuk tidak berpikir yang tidak-tidak, tapi nyatanya memang perasaan harga dirinya yang hancur membuat wanita itu merasa rendah diri. Pria itu gemas karena Hania tidak juga mengerti betapa dalamnya perasaannya pada kekasihnya itu.


"Jadi, kamu merasa manfaatin aku karena perasaanku yang terlalu dalam padamu?" ucap Arga menggoda Hania.


"Ngga! Bukan begitu. Hanya kesannya begitu. Aku ngga pernah manfaatin kamu, Mas. Beneran." elak Hania, Arga mengulum senyumnya.


"Kalau gitu, terima aku dong." paksa Arga seraya menatap lekat Hania.


"Tapi apa kata orang? Aku nerima Mas karena untuk menutupi aibku?" ucap Hania dengan rasa tak percaya diri.


Arga membalik tubuh Hania menghadapnya. Dengan lembut diusapnya bahu wanita cantik itu.


"Orang siapa, honey? Ngga ada yang tahu kecuali kita, Iden, bajingan itu, orang-orang kepercayaanku dan orang-orang kepercayaannya. Dan mereka ngga terhubung sama kamu." Arga menjeda kalimatnya sendiri.


"Aku tahu pasti orang-orangku dan orang-orangnya tidak suka mengungkit kejadian itu. Dan Iden, kamu bisa mempercayainya lebih dari apapun." lanjutnya.


"Jadi apalagi yang kamu khawatirkan? Apa kamu takut kalau tiba-tiba ada yang mengungkit kejadian itu?" tanya Arga.


Hania mengangguk. Iya. Wanita cantik itu khawatir jika di masa depan akan ada yang mencoba menekannya dengan memanfaatkan kejadian itu. Dia tidak pernah tahu 'kan?


"Untuk apa mengkawatirkan sesuatu yang belum pasti. Kalaupun itu nanti terjadi, kita sudah hidup bahagia dan melupakan semua kenangan buruk itu. Kita bisa saling menguatkan dan menenangkan satu sama lain. Dan bisa jadi yang kamu takutkan itu akan terjadi setelah kita ngga ada lagi di dunia ini, dan hanya akan jadi konsumsi receh anak-anak kita." Hania langsung menunduk, wajahnya merona ketika Arga mengucapkan kalimat terakhirnya.


'Anak-anak kita'? Ternyata Arga sudah berpikir sejauh itu. Tidak hanya rencana merajut bahtera rumah tangga dengannya tapi juga anak-anak mereka. Hania tersenyum membayangkan kehidupannya dengan Arga bersama anak-anak mereka. Lamunan Hania memudar ketika mendengar Arga melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau yang kamu takutkan itu ngga pernah terjadi? Sedangkan kamu terus merasa ragu untuk nerima aku? Apa kamu sanggup merasakan penyesalanmu yang selalu melewatkan kesempatan hidup bahagia? Atau kamu sedang meragukanku bisa membuatmu bahagia?" hati Hania berdesir mendengar Arga mengatakan beberapa kemungkinan yang belum terjadi.


Hania menggeleng. Dia membenarkan kata-kata pria seksinya itu. Bagaimana jika yang ditakutkan tidak pernah terjadi, sementara dirinya sudah melewatkan kesempatan hidup bahagia bersama kekasihnya itu? Dirinya pasti akan menyesalinya di seluruh sisa hidupnya. Apalagi dia percaya Arga sangat bisa membuatnya hidup bahagia. Bukan masalah materi, tapi bersama pria tampan itu dirinya sudah merasa tenang dan nyaman. Paket komplit untuk bahagia.


"Mas janji ya, akan selalu di sampingku. Aku ngga mau menyesali keputusan yang kuambil ditengah-tengah rasa bimbangku." tuntut Hania.


"Astaga, Hania! Bukankah kamu percaya aku? Apa sekarang kamu mulai meragukanku?" Hania menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan cepat.


"Sudah pasti aku akan selalu ada untukmu, honey. Aku juga sudah janji sama Tiara. Janji abadiku padanya." ucap Arga meyakinkan Hania.


"Janji? Sama Tiara? Janji apa?" kening Hania berkerut.


"Itu rahasia, honey. Hanya antara aku dan anak gadisku." ucap Arga seraya mengerlingkan matanya dan mengulas senyum menawannya.


Hati Hania berdesir. Arga menyebut mendiang Tiara sebagai anak gadisnya. Secara tidak langsung Arga sudah menganggapnya bagian dari hidupnya. Iya. Sudah seharusnya dia percaya pada pria tampan itu, sebagaimana Tiara yang masih belia, begitu mempercayai dan menerimanya


Hania memantapkan hatinya. Berkali-kali menghela napasnya dalam-dalam. Berharap kali ini keputusannya adalah benar. Benar dalam memilih seorang pria. Benar dalam mempercayai pria itu.


Drrrt drrrt drrrt!


Hania baru akan membuka mulutnya ketika ponsel Arga yang terletak di meja kerjanya bergetar, membuat fokus Arga yang sedari tadi lekat menatapnya teralihkan karena memang getarannya begitu menggelikan di telinganya.


"Yang itu bisa menunggu Hania. Cepat kasih aku jawabanmu." ucap Arga tampak tak peduli dengan permintaan Hania.


Tapi getaran ponsel yang mendengung bagai lebah itu benar-benar mengganggu fokus Hania. Wanita cantik itu menoleh ke arah ponsel, lalu ke arah Arga, lalu kembali lagi menoleh ke arah ponsel hingga getarannya berhenti.


"Astaga, honey! Liat aku dan jawab. Aku ngga akan..." ucapan Arga terpotong ketika ponselnya bergetar lagi.


"Mas, liat dulu deh. Siapa tau itu penting. Gimana kalau itu kabar dari ibu yang butuh bantuan Mas?" paksa Hania dengan raut wajah cemas.


Bukan tanpa alasan Hania memaksa Arga untuk segera menerima panggilan di ponselnya. Wanita cantik itu memiliki pengalaman yang selalu disesalinya hingga kini karena mengabaikan panggilan di ponselnya beberapa tahun yang lalu.


Iya. Beberapa tahun yang lalu. Saat Hania sedang sibuk menyelesaikan tugas magangnya, wanita cantik itu mengabaikan beberapa kali panggilan pada ponselnya. Benar saja, ketika sampai di rumahnya, sang ibu sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai ruang tamu. Dan siapa sangka, itulah kali terakhir dirinya melihat sang ibu. Dan sejak itu, dia akan selalu mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya. Kecuali jika ponselnya tertinggal.


Dengan sedikit kesal Arga bangkit dari duduknya dan menghampiri meja kerjanya. Diraihnya ponselnya. Rumah Ibu. Sebuah panggilan dari nomor telepon rumah ibunya. Arga melirik Hania seraya menggeser tombol untuk menerima panggilan itu.


"Ada apa, bi?" tanya Arga begitu tau yang meneleponnya adalah asisten rumah tangga ibunya.


"Anu, Mas. Itu, Ibu. Ibu dibawa ke rumah sakit. Tiba-tiba pingsan. Bibi takut sakit jantungnya kumat, Mas." sahut bibi dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Apa!? Ke rumah sakit mana bi?" Arga mulai tampak cemas.


Hania yang terus memperhatikan Arga dari tempat duduknya ikut berdegub. Apalagi Arga menanyakan rumah sakit.


"Makasih, bi. Saya kesana sekarang." Arga langsung menyambar tas laptopnya dan berkas-berkas yang belum sempat ditandatanganinya, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Honey. Ayo!" Arga mengulurkan tangannya.


Hania yang sudah berdiri langsung menyambut uluran tangan Arga, dan berjalan mengimbangi langkah pria itu. Wanita itu tahu ada yang yang tidak beres dengan melihat ekspresi cemas Arga.


"Saya harus ke rumah sakit sekarang. Minta Reza menggantikan saya pada pertemuan dengan Daniel. Nanti saya yang bicara dengan Daniel." Arga menyempatkan untuk meninggalkan pesan pada sekretarisnya, yang hanya menganggukkan kepalanya.


"Mas? Ada apa?" tanya Hania yang sedari tadi ikut cemas tapi tidak tahu cemas pada apa atau siapa.


"Ibu dilarikan ke rumah sakit, honey. Kata bibi, ibu pingsan." sahut Arga, matanya tetap fokus pada jalanan di depannya yang terlihat padat.


"Ya Allah, Mas." lirih Hania seraya memegang dadanya.


Wanita itu terkejut. Pasalnya, sewaktu mereka berpamitan pagi tadi, sang Ibu tampak sehat-sehat saja. Dan hari-hari sebelumnya juga wanita paruh baya itu terlihat baik-baik saja. Pun tidak pernah mengeluh sakit. Kenapa tiba-tiba pingsan?


"Ibu punya riwayat sakit jantung, honey." ucap Arga dengan suara yang bergetar.


Mendengar suara Arga yang bergetar itu, hati Hania berdenyut. Pasti prianya itu sangat mencemaskan sang Ibu. Wanita cantik itu langsung mengusap lengan Arga untuk menenangkannya.


Apalagi reaksi Arga yang marah-marah tak jelas ketika lampu lalu lintas menjebaknya dalam antrian panjang.


"Sial!" umpatnya seraya memukul setir mobilnya.


"Mas? Yang sabar ya. Ibu pasti dapat pertolongan dengan baik." Arga mengangguk mendengar suara lembut Hania yang diakuinya bisa menenangkannya.


Arga menangkup tangan Hania yang mengusap lengannya. Menggengamnya dan menariknya ke arah bibirnya lalu dikecupnya tangan berjari lentik itu. Pria karismatik itu menyunggingkan senyumnya yang menular pada Hania. Arga bersyukur memiliki wanita cantik dan berhati lembut itu saat ini. Wanita itu sungguh bisa membuatnya lebih tenang.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote tiap senin, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.


🤗🤗🤗😘

__ADS_1


__ADS_2