
Brug!
"Hania!"
Deg!
Arga yang baru saja menginjakkan kakinya di ruang keluarga langsung berlari ke arah suara yang menyerukan nama istrinya dengan keras. Pria tampan itu seketika merasa jantungnya seolah berlompatan ditempatnya saking berdebarnya saat mendapati Hania tergeletak di pangkuan Bu Irene.
"Hania! Honey!" suara maskulinnya bergetar begitu pula tangan dan kakinya, bahkan Arga merasa seluruh tubuhnya juga bergetar.
"Ma, kenapa bisa begini?" tanya Arga seraya berusaha menggendong Hania.
Kakinya rasanya lemas seperti jelly. Rasa-rasanya dia tak akan sanggup membawa sang istri keluar dari area dapur. Beberapa kali Arga sempat oleng namun masih bisa menguasai dirinya.
"Hania?" seru Iden yang seketika mengakhiri sambungan ponselnya.
Pria blesteran itu juga berlari ke arah Arga yang menggendong Hania.
"Dia kenapa, Ga, Ma?" ada nada khawatir yang kentara ketika Iden menanyakan keadaan Hania.
"Tadi Hania ngeluh pusing, mual-mual trus muntah-muntah. Baru aja mama tinggal, mau buatin dia anget-angetan, tau-tau udah jatuh." terang Bu Irene dengan airmata berderai.
Arga meletakkan Hania di atas ranjang di kamar yang memang sudah disiapkan untuknya di rumah Pratama.
"Bawa ke rumah sakit, Ga." saran Iden.
"Ah! Kelamaan! Panggil dokter aja ke sini!" putusnya sendiri lalu mengusap-usap ponselnya dengan cepat mencari kontak dokter keluarganya.
Sementara Arga masih berusaha menyadarkan Hania dengan menepuk-nepuk pipinya dengan lembut. Ibu Irene sudah kembali setelah tadi meninggalkan mereka, dengan minyak angin di tangannya. Dengan lincah dibalurkannya minyak angin itu ke tangan dan kaki, dan perut, tak lupa hidung putrinya itu. Dengan telaten wanita paruh baya itu memijat kaki Hania. Bersama menantunya bekerja sama membuat Hania siuman.
Iden yang sudah selesai menghubungi dokter, hanya berdiri menatap ibunya membalurkan minyak angin ke seluruh tubuh Hania.
Dug!
"Aw! Apaan, sih, lu, Ga!" serunya seraya mengusap tulang kering yang kesakitan karena Arga menedangnya.
"Liat apa lu!? Balik badan sono!" sentak Arga seraya memelototkan matanya ke arah Iden.
"Dia, adek gue, nyet! Apaan, sih?" balas Iden dengan wajah yang tampak kesal.
"Lu liat aurat dia!" ketus Arga yang tak terima Iden melihat kulit mulus istrinya.
"Ck! Ngga nafsu gue liat saudara gue sendiri!" kesal Iden yang dikira mes*m oleh Arga.
Ibu Irene hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua pria yang sama dewasanya itu sedang meributkan hal sepele. Wanita paruh baya itu tersenyum geli menertawakan Arga dan Iden yang tidak berubah sejak kecil, selalu bertingkah konyol saat bertemu, meski sudah berusia matang. Dan meskipun sering ribut tapi mereka tetap akur dan kompak, membuat Bu Irene tenang dan senang.
Sementara itu, di halaman belakang, Galih tampak terlibat obrolan serius dengan Syana.
"Kamu ngga mau minta tolong sama keluarga Pratama?" tanya Galih lagi.
"Aku sungkan Kak, rasanya ngga enak manfaatin mereka. Nanti malah ngerepotin." ungkapnya.
"Hum? Denganku kamu ngga sungkan? Ngga ngerasa ngga enak hati? Ngga ngerasa ngerepotin?" kekeh Galih.
__ADS_1
Eh? Syana menundukkan kepalanya.
Rasanya Galih gemas sekali melihat reaksi Syana yang seketika menundukkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya. Gadis cantik itu pasti merasa malu dan tak enak hati sekarang.
Iya. Syana memang jadi malu dan tak enak hati karena meminta bantuan pada Galih tanpa merasa sungkan. Entah kenapa dirinya lebih nyaman meminta bantuan pria berwajah manis itu daripada pada keluarga Pratama yang telah mengadopsinya.
Dalam keadaan amnesia, bagi Syana orang-orang yang ditemuinya serasa orang asing semua. Termasuk Galih. Tapi entah kenapa dirinya merasa lebih mengenal pria itu. Apa mungkin karena Galih pernah mengatakan jika mereka satu tempat kerja dan Galih cukup mengenalnya? Tapi Handoko juga pernah mengatakan jika dirinya lah orang yang mengenalnya karena kecelakaan yang disebabkannya. Nyatanya pria paruh baya itu hanya memanfaatkannya. Tapi tidak dengan Galih. Syana percaya saja pada ucapan pria berkulit sawo matang itu.
"Maaf, Kak. Tapi aku hanya berani minta tolong sama Kak Galih aja." ucap Syana lirih.
"Tapi mereka keluargamu sekarang, Syana. Kenapa ngga nyoba untuk dekat sama mereka? Bukannya sekarang mereka udah nerima kamu dengan terbuka? Aku lihat Mama Irene dan Papa Tama mulai sayang sama kamu. Aku yakin mereka pasti bantuin kamu. Sedangkan aku? Kita hanya rekan satu kantor dan kebetulan aku cukup mengenalmu." bujuk Galih agar Syana mau meminta bantuan keluarga barunya.
Bukannya pria gagah itu tidak mau menolong Syana. Siapalah dirinya yang hanya punya jabatan manager pemasaran di perusahaan orang lain. Apalagi dirinya masih terhitung baru di kantor yang merupakan cabang dari perusahaan itu. Belum lagi saat ini, dirinya sedang ditugaskan di cabang perusahaan yang baru di negeri singa putih. Jadi, akan sulit baginya untuk membantu Syana.
"Tapi aku merasa masih asing di sini, Kak. Tolong mengerti. Bagiku semua orang terasa asing. Cuma Kak Galih yang bisa kupercaya. Ngga tau kenapa bisa begitu. Tapi aku merasa memang mengenal Kakak. Apalagi Kakak pernah bilang kalau kakak mengenalku karena kita satu tempat kerja. Aku jadi tambah yakin kalau aku kenal Kakak sebelumnya." ungkap Syana panjang.
"Foto Kakak.... Yang ada di kamarku...." ucapan Syana terputus-putus.
Nyut!
Syana meringis seraya memegang pelipisnya. Saat mengingat foto Galih yang ditemukan di kamarnya, mendadak kepala Syana berdenyut. Bayangan wajah pria yang kini duduk di depannya itu melintas bagai pita film yang diputar cepat di kepalanya.
Wajah Galih yang tersenyum, berbicara, dan menatapnya, terbayang silih berganti. Membuat kepalanya semakin berdenyut nyeri.
"Sebenarnya hubungan apa yang aku miliki dengan Kak Galih? Kenapa rasanya aku akrab sekali dengannya? Kenapa bayangannya saja yang terus melintas di ingatanku? Kenapa juga aku menyimpan fotonya di kamarku." batin Syana seraya memegangi kedua sisi kepalanya.
"Akh! Sssh!" desis Syana saat merasa tidak lagi bisa menahan denyut nyeri di kepalanya.
Saking sakitnya nyeri di kepalanya, Syana sampai merasa seperti telinganya berdengung, bibirnya sampai ikut berkedut dan air matanya meleleh tanpa bisa dikontrolnya. Bahkan perutnya terasa mual.
Di dalam kepalanya hanya suara berisik yang berdentum dan memekakkan telinganya dan menimbulkan rasa nyeri yang teramat sangat.
"To-long! Sa-kit!" lirih Syana.
Galih mengangkat wajah Syana yang tertunduk. Pria gagah itu sungguh terkejut, wajah gadis itu sudah seputih kapas. Pucat sekali. Apa sesakit itu? Sebenarnya apa yang dipikirkannya? Kenapa bisa mendadak sakit kepala begitu?
Tubuh lungkai Syana terhuyung jatuh di pelukan Galih membuat pria itu seketika sadar dari lamunannya. Merasakan tubuh Syana yang semakin berat, pria gagah itu tahu jika Syana setengah tak sadarkan diri. Dia bergegas mengangkat tubuh lunglai itu ke dalam rumah.
"Ma! Hania! Tolong!" seru Galih yang memanggil siapa saja yang diingatnya membuat suaranya menggema di ruang keluarga yang besar itu.
Iden dan Ibu Irene langsung menghambur keluar dari kamar Hania saat mendengar suara Galih yang menggema. Terdengar nada panik dari suara Galih yang bergetar.
"Syana kenapa?" tanya Iden seraya menuruni anak tangga dengan sedikit berlari.
"Bawa ke kamarnya aja. Sini!" pinta Ibu Irene yang melihat Galih akan membaringkan tubuh Syana di sofa.
Galih langsung menerobos masuk ke dalam kamar yang ditempati Syana setrlah Ibu Irene membukakan pintunya. Lalu perlahan membaringkan gadis itu di ranjangnya.
Bibi yang tadi hendak menyapu lantai ikut gugup ketika melihat Galih menggendong Syana. Lalu mengikuti mereka ke kamar Syana tapi hanya berdiri di pintu. Bibi cukup dekat dengan Syana. Selama tinggal di rumah itu, Bibi lah teman Syana bercengkrama.
"Bi, tolong ambilkan minyak kayu putih, ya!" perintahnya saat melihat Bibi berdiri di pintu.
"Ssssh!" Syana terus mendesis menahan sakit di kepalanya, tangannya terus mencengkram rambutnya membuat Galih menarik tangan itu ke dalam genggamannya.
__ADS_1
"Syana, dimana obatmu?" tanya Iden yang peka dengan keadaan gadis itu sambil mengacak-acak isi laci nakas di samping tempat tidur.
Sejak mengetahui latar belakang gadis itu, Iden menjadi lebih memperhatikan dan peduli padanya. Dia merasa iba pada nasib Syana. Sudah sebatangkara, amnesia, dan dimanfaatkan lagi oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Menyebalkan sekali menjadi Syana. Dirinya pasti akan sering berkeluh kesah jika itu menimpanya.
"Obat? Obat apa? Syana tergantung pada obat?" batin Galih yang sedari tadi tangannya digenggam Syana, dia sedikit terkejut, dia tidak tahu separah apa sakitnya.
Melihat Syana yang terus kesakitan dan Iden tidak kunjung menemukan obatnya Syana, Galih pun langsung membantunya mencari obat itu. Dia membuka laci di meja rias Syana, membuka kotak kosmetiknya, bahkan mencarinya di lemari pakaian, dan menemukannya di tas slempang yang sering dipakai gadis itu.
"Apa yang ini?" tanyanya menunjukkan sekantung obat dan menyerahkannya pada Iden.
"Ah, iya. Itu dia." sahut Iden langsung menyambar obat itu dari tangan Gakih dan segera membukakannya bertepatan dengan Bibi yang datang membawa minyak kayu putih dan segelas air mineral.
Dokter yang sudah selesai memeriksa Hania langsung ditarik ke kamar Syana. Bukan dokter yang biasa memeriksa Syana sebenarnya tapi tak apalah, pikir Iden, sebagai pertolongan pertama sembari menunggu dokternya Syana. Tadi pria tampan itu sudah menghubunginya dan masih harus menunggu lama karena dokter itu baru pulang dari tempat praktiknya yang lokasinya bisa memakan waktu 30 menitan berkendara jika keadaan jalanan lancar.
Syana sudah tertidur setelah dokter keluarga memeriksanya. Mungkin efek dari 3 butir obat yang diminumnya tadi. Galih, Iden, dan Ibu Irene keluar dari kamar Syana.
"Sayang, kamu udah bangun?" sapa Bu Irene pada Hania yang sudah siuman.
Ibu Irene langsung menuju kamar Hania setelah Syana tertidur. Ada rasa lega yang terpancar dari wajahnya. Di waktu yang hampir bersamaan Hania dan Syana jatuh pingsan. Membuat wanita paruh baya itu panik luar biasa.
"Tadi ada apa, Ma? Kenapa Galih teriak-teriak?" tanya Arga yang mau tak mau terpengaruh juga dengan suara ribut-ribut di lantai bawah tapi dia tidak mau meninggalkan istrinya sendiri.
"Syana. Kepalanya sakit lagi sampai pingsan. Tapi sekarang udah tidur sehabis minum obatnya." terang Ibu Irene.
"Kamu, gimana keadaannya, sayang? Apa udah enakan? Masih mual? Pusing? Mau muntah?" cecar Bu Irene.
Hania hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Sebenarnya dia masih merasa sedikit pusing tapi itu dianggapnya wajar saja.
Malam itu, meja makan Ibu Irene sepi. Hanya Ibu Irene, Pak Pratama, Iden, dan Galih yang duduk saling berhadapan menikmati makan malam itu. Sedangkan Arga dan Hania memilih makan malam di kamarnya, karena merasa masih lemas wanita cantik bermata kelinci itu enggan turun. Begitu pula Syana. Setelah diperiksa dokter sarafnya, dan di injeksi obat penenang, gadis itu tertidur lagi.
"Galih, kamu tidur sini aja, ya. Ini udah malam, lagian seharian tadi kamu ngga istirahat. Pasti capek 'kan? Pake kamar di sebelah kamarnya Syana. Tadi udah diberesin Bibi. Mama mau tidur. Udah ngantuk." pinta Ibu Irene lalu meminggalkan para pria yang masih sanggup melek.
Galih hanya mengangguk. Ingin menolak pun tidak enak hati. Wanita paruh baya itu bersikap perhatian padanya, masak iya dia akan mengecewakannya. Saat ini, Arga sudah bergabung bersama Iden, Galih, dan Pak Pratama di ruang tengah. Mengobrolkan bidang yang sama memang mengasyikkan. Hingga malam terus merangkak naik.
"Udah. Papa mau istirahat duluan. Jangan begadang!" pesan Pak Pratama yang bangkit dari duduknya hendak menyusul istrinya yang sudah berlalu sejak tadi.
Entah siapa yang memulai tapi ketiga pria dewasa itu kompak pindah tempat mengobrol. Dimana lagi selain di halaman belakang rumah besar itu. Di gazebo tepi kolam renang dengan aksen air terjun mini. Suara gemericik air membuat suasana di sana lebih syahdu dan bikin siapapun betah duduk berlama-lama di sana. Apalagi sambil mengobrol santai.
"Sebenernya Syana sedang terlibat kasus korupsi di perusahaan tempat gue dan dia bekerja dulu." ucap Galih membuka obrolan.
"Apa!?" ucap Arga dan Iden bersamaan.
"Cuma kalian yang bisa bantu dia. Gue bakal carikan koneksi yang bisa bantu kita." lanjutnya.
*******
Thanks for reading!
Jangan lupa tap like, vote ya...
Mau komen? boleh dong.
Mau kasih krisan? monggo.
__ADS_1
Mau kasih hadiah? mau banget!
🥰🥰🥰