Yang Terakhir

Yang Terakhir
152. Permintaan Konyol


__ADS_3

"Dia hamil? Lu yakin itu anak gue?" tanya Raka pada seorang anak buahnya yang dia tugaskan mencari tahu keadaan Hania.


"Iya, Bos, dia memang sedang hamil." sahut anak buah Raka di ujung ponselnya, membuat bibirnya melengkung tipis.


"Tapi, gue ngga yakin itu anak bos apa bukan. Meski mereka termasuk baru menikah, bisa saja mereka sudah begituan duluan 'kan bos?" pendapat anak buah Raka.


"Diem lu! Jangan asal nuduh lu!" sentak Raka tidak suka dengan pendapat anak buahnya, lalu memutus sambungan ponselnya tanpa perintah seperti biasanya.


Entah kenapa dia tidak suka jika Arga juga menyentuh Hania. Tapi segala pikiran itu ditepisnya. Dia sangat mengenal Arga, setidaknya kedekatan mereka dulu membuat mereka saling mengenal satu sama lain. Setahunya, Arga akan sangat menjaga wanita yang dicintainya. Pria karismatik itu tidak akan menyentuh kekasihnya sebelum dihalalinya. Mengingat itu ada rasa lega yang menelusup di hatinya.


"Semoga aja itu memang anak gue." gumamnya dalam hati.


Senyum Raka terbit lagi, kali ini disertai helaan napas panjang dan dalam. Tanpa disadarinya, Rosa yang tadinya ingin menggodanya lagi, hanya bisa mengepalkan tangannya dengan sorot mata penuh kebencian.


"Jadi dia udah punya pengganti gue? Dan sekarang perempuan itu hamil anaknya? Cih! Pantes aja ngga pernah mau gue ajak maen lagi. Sialan! Gue harus tau siapa perempuan itu!" gerutu Rosa dalam hatinya.


Tadi, ketika hendak mengetuk pintu, lamat-lamat Rosa mendengar suara Raka. Dan wanita cantik itu semakin penasaran ketika Raka menanyakan keadaan seorang wanita, yang membuatnya menguping pembicaraan pria itu. Menguping? Tidak! Itu bukan menguping. Suara Raka saja yang keras hingga terdengar dari luar pintu.


Dengan napas memburu dan dada yang bergemuruh kencang, Rosa beranjak dari tempatnya berdiri untuk menguping.


Hari demi hari terlewati dengan berat. Setidaknya itulah yang dirasakan Arga dan Hania. Sebagai pasanagan suami istri, gairah selalu datang kala keduanya bertemu dan melepas rindu. Namun, keberadaan janin dalam rahim Hania yang bukan benihnya, membuat Arga harus menahan hasrat menggebu itu. Hania bagai tak tersentuh olehnya.


Ya. Arga tak boleh menyentuh istrinya itu hingga janin dalam rahimnya lahir. Bahkan mereka harus rela sering tidur terpisah. Hania tetap di kamar besar mereka dan Arga memilih di ruang kerjanya.


Pagi ini, ketika Hania selesai membantunya menyimpulkan dasinya, Arga mengecup bibir merah jambu istrinya itu. Karena dorongan rindu, Hania membalasnya sekilas. Tapi Arga malah mel***tnya dengan rakus. Dan kemeja tadinya rapi begitu pula dengan dasinya telah teronggok di sudut ranjang. Kucel.


Arga yang sudah lama menahan segala hasrat sek***lnya selama hampir 2 bulan itu seakan mendapat celah untuk mencicipi tubuh sang istri lebih dalam lagi. Namun, Hania seketika tersadar.

__ADS_1


"Mas...." tegurnya seraya menahan tubuh Arga untuk bertindak lebih jauh lagi.


Meskipun dirinya juga diliputi gairah namun Hania lebih bisa mengendalikan dirinya. Arga yang tersadar pun seketika menarik tubuhnya dari atas tubuh istrinya. Sungguh, dirinya sudah diambang batas. Hampir saja.


"Maaf, honey." ucap Arga suara parau seraya menatap Hania dengan mata berkabut gairah.


Tangan Arga terulur mengusap pipi mulus Hania dengan lembut yang dapat menggetarkan hati wanita cantik itu hingga sang istri menutup matanya demi merasakan halusnya usapan sang suami.


"Maaf." lirih Hania seraya menatap manik hitam mata Arga.


"Mas bisa ceraiin aku dan nikah lagi sama perempuan lain supaya ngga kayak gini terus. Aku ngga bisa liat Mas begini terus." isak Hania pilu.


"Kamu ngomong apa!? Udah kubilang aku ngga sepicik itu! Cuma gara-gara hak biologisku ngga terpenuhi lantas aku akan berpaling!?" sentak Arga.


Pria itu kesal. Sudah beberapa kali Hania memintanya untuk meninggalkannya karena tidak bisa melayaninya.


"Aku ngga akan pernah ninggalin kamu! Inget itu!" Arga langsung turun dari ranjang besarnya dan meninggalkan Hania yang masih dalam keadaan polos.


Tak berselang lama Arga sudah keluar dari kamar mandi di dalam kamar besar itu. Wajahnya tampak lebih segar dari setengah jam sebelumnya. Dengan handuk yang menutupi separuh auratnya, pria bertubuh atletis itu malah berdiri di depan pintu kamar mandi seraya menatap Hania yang masih menangis sesenggukan dengan bahu mulus yang terekspos sempurna karena istrinya itu hanya menutupi tubuh polosnya sebatas dada. Seketika rasa bersalah menelusup ke dalam hatinya. Pria itu menyesal telah membentak wanita cantik itu. Tidak seharusnya dia begitu. Harusnya, meskipun kesal, dia harus bisa menahan diri. Istrinya itu pasti tertekan dan merasa bersalah karena tak bisa melakukan tugasnya. Hingga memintanya untuk mencari penggantinya saja. Itu tidak mungkin! Dan tidak akan pernah!


Dengan perlahan Arga mendekati ranjang besarnya. Saksi percintaan panas mereka beberapa bulan yang lalu. Sekaligus saksi berton-ton air mata yang mereka tumpahkan bersama.


Arga mengecup pundak Hania dengan lembut dan penuh rasa cinta, dan mengusapnya. Pria itu langsung memeluk tubuh yang masih rampingnya sang istri meski sedang hamil.


"Maafin aku, honey." bisiknya di puncak kepala sang istri membuat Hania semakin tersedu.


"Sampai kapanpun selama hidupku, aku ngga akan ninggalin kamu. Jangan mikir macam-macam. Jangan khawatirin aku. Aku akan baik-baik aja selama kamu ada di sampingku." lanjut Arga lalu mengurai pelukannya.

__ADS_1


"Ini yang terakhir kamu memintaku untuk ninggalin kamu! Aku ngga mau dengar permintaan konyolmu ini nanti atau besok! Paham?" tekan Arga memberikan ultimatumnya.


Konyol. Bukan hanya dirinya saja yang menganggap permintaannya itu konyol, Arga pun berpikiran sama dengannya. Hania mengangguk dan tersenyum.


"Aku tahu kamu ngga tega padaku. Kamu takut aku kecewa, marah, dan sedih. Tapi kamu yang paling tau gimana-gimananya aku. Mulai sekarang belajarlah tega denganku." lagi-lagi Hania mengangguk.


Dia tidak sepenuhnya paham bagaimana caranya mengacuhkan Arga. Melihat pria itu kecewa dengan tatapan penuh harap, membuatnya akan dengan segera menyetujui permintaan pria tampan itu. Hah. Dia begitu lemah jika berhubungan dengan Arga. Atau memang dirinya saja yang terlalu mencintai suaminya itu.


"Bantu aku pake dasi lagi. Dan kali ini lakukan dengan bener." goda Arga mengalihkan tema seraya menoel hidung bangir khas wanita asianya Hania yang disambut kekehan kecil oleh wanita cantik itu.


"Siap, Pak Dirut." ucap Hania mencoba untuk menanggapi lelucon sang suami.


"Mau sekalian aku pake in atasan sama bawahannya juga ngga, nih?" tanya Hania mulai berani menggoda Arga.


"No, thank you!" tolak Arga seraya berjalan menjauh.


"Kalau itu, nanti aku bisa khilaf lagi." Arga berbalik lalu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum semanis madu.


Hania sempat mematung. Mendapat kerlingan dan senyuman yang menawan dari Arga membuat hatinya selalu bergetar. Ah. Pria itu tak pernah gagal tebar pesona di hadapan Hania. Dalam hatinya, wanita cantik itu bersyukur bisa menjadi bagian hidup dari Arga. Pria tampan yang baik hati dan mencintainya begitu dalam.


"Honey. Tunggu apa lagi?" kepala Arga menyembul keluar dari pintu ruang ganti.


********


Thanks for reading!


Selamat hari raya Idul Fitri bagi yang merayakan... Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. 🤗🤗

__ADS_1


Dukung terus karya ini ya.... Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.


🤗🤗🤗😘


__ADS_2