
Hania merasa canggung sementara Arga menikmati kecanggungan wanita cantik itu. Begitu menggemaskan meski tak belia lagi. Pria tampan itu semakin menikmati setiap kedekatannya dengan wanita pemilik mata kelinci itu. Setiap keintiman yang tercipta secara tak sengaja itu membuatnya terlatih mengendalikan dirinya. Mengendalikan kecanggungan, kegugupan, kemesuman, dan si "dia" yang frustrasi.
"Mas udah pulang? Udah makan?", tanya Hania setelah dapat menguasai rasa canggungnya.
"Hum? Aku mau ngajak kalian makan di luar", sahut Arga, Hania mengangguk setuju.
"Kalau gitu, aku siapin Tiara dulu", putus Hania hendak meninggalkan Arga.
"Han?", Arga memegang tangan Hania menghentikan langkah wanita itu.
Hania menoleh pada pria tampan itu. Menatap pria itu.
"Bisa kita ngobrol sebentar?", ajak Arga, Hania mengangguk lagi.
Arga mengajak Hania ke balkon. Pria karismatik itu menatap wanita bermata kelinci itu sejenak lalu menunduk. Sedikit ragu mengungkapkan pendapatnya. Mengingat betapa berpengaruhnya kejadian hilangnya Tiara pada emosi wanita cantik itu. Arga mengusap tengkuknya.
"Apa yang mau diobrolin Mas?", Hania menatap Arga, wanita itu jadi penasaran melihat ekspresi ragu di wajah pria tinggi dihadapannya itu.
"Soal Tiara. Anak itu masih berharap kita disini beberapa hari lagi", akhirnya Arga mengungkapkan maksudnya dengan lancar.
Hania mendesah. Menatap Arga dengan tajam. Dia tidak suka pria tampan didepannya itu mencampuri masalahnya. Meskipun hubungan mereka semakin baik dan dekat bukan berarti pria tampan itu bisa mempengaruhi keputusannya, apalagi pria itu cenderung berpihak pada Tiara. Memangnya siapa dia?
"Maaf, bukannya aku mau ikut campur dalam masalah ini Han. Aku hanya ngga tega lihat Tiara jadi murung begitu", ucap Arga melihat ekspresi ketidaksukaan Hania.
"Aku juga punya andil disini. Aku yang ngajak kalian kesini, tujuannya buat nyenengin anak itu", lanjut Arga masih berusaha mengambil hati Hania.
Hania masih menatap Arga. Dalam hatinya membenarkan ucapan pria itu. Benar. Pria tampan itu yang mengajak mereka ke kota itu. Dirinya juga yang mendukung rencana Arga. Tapi siapa yang menduga jika mantan suaminya juga berada di kota yang sama dan membuat keributan. Meski tidak suka dengan Arga yang ikut campur masalahnya, tapi tidak bisa dipungkiri berkat pria tampan itu, Tiara ditemukan dan dirinya sangat berterimakasih karenanya.
Bukannya Hania ingin mengecewakan putrinya tapi dia hanya khawatir akan bertemu lagi dengan mantan suaminya. Dia semakin takut jika mantan suaminya berbuat nekat seperti kemarin, membawa Tiara pergi dan lebih jauh lagi merebut putrinya.
__ADS_1
"Apa kamu khawatir kejadian kemarin terulang lagi?", tebak Arga.
Hania memalingkan wajahnya menatap kendaraan yang berlalu lalang dibawah. Matanya bergerak-gerak seolah mencari sesuatu.
"Dia masih disini kan?", tanya Hania, tatapan matanya masih tertuju kepemandangan dibawah sana. Dia merasa ayah kandung putrinya masih berada di kota itu.
Arga terdiam. Menatap wanita cantik yang sedang gelisah didepannya. Dia juga tidak ingin wanita bertubuh semampai itu bertemu kembali dengan mantan suaminya. Dia cemburu. Boleh kan?
"Mas? Dia masih disini kan?", Hania mengulang pertanyaannya lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.
"Iya, dia masih disini. Tapi kamu ngga bisa nuntut dia Han. Dia itu... Ayahnya... putrimu", lagi-lagi Arga merasa kesal ketika mengucapkan kata 'ayahnya putrimu', lebih tepatnya merasa cemburu.
Setiap perubahan ekspresi diwajah Hania tidak luput dari perhatian Arga. Pria itu tahu Hania sedang marah pada mantan suaminya. Dia juga merasakan ketakutan wanita itu. Dirinya pun takut jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada Tiara, gadis kecil berlesung pipi yang sudah membuatnya jatuh sayang.
"Itulah kenapa aku ingin secepatnya membawa Tiara pulang Mas. Aku ngga mau Tiara ketemu dengan ayahnya. Mas liat sendiri kan? Anak itu sampe ketakutan. Dia ngga pernah dekat dengan ayahnya", ungkap Hania dengan suara sendu, matanya sudah berkaca-kaca.
"Mungkin, sudah saatnya Tiara mengenal, ayahnya", Arga menekan kata 'ayah'.
Mata Hania langsung menyorot tajam ke arah Arga. Pria tampan itu terpaku mendapat tatapan tajam Hania.
"Mas ngga tau apa-apa!", tegur Hania sinis.
Arga mendesah. Wanita itu mulai tak ramah padanya. Kini dirinya menyesal sudah mengungkapkan pendapatnya yang terakhir barusan. Dirinya jadi semakin tidak suka pada mantan suami Hania. Pria yang juga tampan itu pasti menorehkan luka yang begitu dalam pada wanita cantiknya. Tangannya mengepal.
"Maaf", ucap Arga lirih seraya menatap Hania sendu, dia merasa tidak enak hati.
Hania memalingkan wajahnya menghindari tatapan Arga. Wanita cantik itu merasa Arga sudah ikut campur terlalu jauh tapi juga merasa dirinya terlalu kasar pada pria itu. Dia sadar, dirinyalah yang memberi peluang pada pria itu untuk semakin dekat dengannya. Membiarkan pria bertubuh atletis itu ikut andil dalam masalahnya, terutama yang bersangkutan dengan Tiara.
Diliriknya pria seksi yang masih menatapnya sendu itu. Hatinya mendadak sesak. Arga, sosok pria asing yang tanpa disadarinya masuk dalam kehidupannya. Memberinya banyak getaran. Membuatnya merasa nyaman, diperhatikan, dan dihargai. Menawarkan perlindungan dan sandaran untuknya. Secara tak langsung memintanya bergantung. Dan dirinya menerima kehadiran pria tampan itu. Mengingat kebaikan pria itu Hania jadi merasa bersalah karena berlaku tak ramah.
__ADS_1
"Han? Maaf kalau aku terlalu ikut cam...", ucapan Arga terpotong.
"Mas ngga salah. Aku yang terlalu sensitif", ungkap Hania.
"Maaf, aku... aku cuma ngga mau Mas terlalu memanjakan Tiara. Dia udah terbiasa mandiri, aku ngga mau dia terlalu bergantung pada orang lain", lanjut Hania masih dengan nada sinis.
Hati Arga berdenyut nyeri. Hania menganggapnya sebagai orang lain? Hah. Wanita didepannya itu ternyata masih jauh dari gapaiannya.
"Siapa yang kamu anggap orang lain!? Aku!?", tanya Arga seraya menunjuk dirinya dengan suara yang meninggi, membuat Hania menatap pria tampan itu.
"Kita udah mengalami banyak hal bersama, Han. Apa kamu ngga menganggap banyak hal yang kita lalui itu berarti? Apa kamu ngga menyadari kita itu saling menguatkan? Aku selalu ada disekitarmu, apa itu juga ngga kamu sadari? Dan sekarang kamu bilang aku orang lain?", Arga jadi sedikit emosi karena Hania tidak menganggapnya.
Hania mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir seksi Arga. Dirinya terkejut pria tampan itu jadi emosional begitu. Apa yang dikatakannya salah? Dirinya hanya tidak ingin putrinya bergantung pada orang lain. Jelas Arga adalah orang lain menurutnya. Meski tak dipungkiri hubungan mereka semakin dekat dan hangat, bahkan mulai melibatkan perasaan. Ah bukan. Hanya dirinya saja yang memakai perasaan, Arga tidak. Tapi kenapa pria itu marah dianggap orang lain? Hania jadi bingung.
Arga mendesah kasar. Lalu berbalik meninggalkan Hania. Pria tampan yang sedang emosi itu memilih pergi dari hadapan wanita cantik itu. Dia kecewa karena wanita itu tidak menyadari perasaannya.
Hania semakin terkejut ketika pria tampan itu meninggalkannya. Hatinya berdenyut nyeri. Dia hanya mengungkapkan apa yang dipikirkannya saja. Tidak ingin bergantung pada pria itu. Tidak ingin salah paham dengan kebaikan pria itu. Dia tidak ingin nantinya mencintai pria yang tidak mencintainya lagi. Pria itu belum tentu memiliki perasaan yang sama dengannya. Tidak mungkin pria seperti Arga menyukainya. Dia hanya tidak ingin terluka lagi.
Melihat pria itu meninggalkannya dengan emosi membuat dadanya sesak, membuatnya ingin menangis. Dia merasa bersalah tapi bingung bagaimana mengungkapkan kegalauannya.
Arga menghentikan langkahnya lalu membalik tubuhnya lagi. Menatap wanita cantik yang masih berdiri terpaku ditempatnya. Menatap mata kelinci wanita itu, mata yang membuatnya terpikat. Mata itu berkaca-kaca. Hatinya merasa perih melihatnya. Seketika dia menyesal sudah bersikap emosional pada Hania.
"Kita makan di luar, bersiaplah", ucap Arga dengan suara yang melembut lalu menghilang dibalik pintu kamarnya.
Hania mengerjap-ngerjapkan matanya menahan air mata yang sudah menggenang. Menghela napas dalam-dalam dan melepaskannya dengan perlahan. Hatinya masih berdenyut nyeri membuat air matanya menggenang lagi. Dan akhirnya luruh juga. Dia memasuki kamar yang ditempatinya, menghapus jejak air mata dipipi dan merias diri seperlunya untuk menutupi mata sembabnya. Lalu membantu Tiara bersiap. Arga mengajaknya makan siang di luar.
*******
Thanks for reading.
__ADS_1