Yang Terakhir

Yang Terakhir
95. Memilih Gaun


__ADS_3

Arga memasuki sebuah butik milik sahabatnya. Itu adalah butik yang menyediakan pakaian wanita. Tentunya pengunjungnya mayoritas wanita. Biasanya yang datang ke butik itu adalah wanita-wanita cantik, kaya, dan berkelas.


Kedatangan Arga yang tampan itu langsung menarik perhatian para wanita yang berada di dalam butik itu. Pemandangan itu tentu saja membuat para wanita itu makin betah berlama-lama di sana. Sebuah keuntungan untuk butik itu juga tentunya. Karena demi bisa berlama-lama di sana, para wanita yang sedang mencari perhatian Arga itu akan membeli lebih banyak pakaian.


"Ci Viola." sapa Arga pada seorang wanita cantik berusia 40 tahunan yang datang menghampirinya.


Wanita cantik yang dipanggil Arga Ci Viola itu adalah kakak dari Darren, sahabat Arga. Dulu, mereka juga selalu nongkrong bersama. Hingga mereka pun juga bersahabat.


"Gue seneng Lu mampir." sambut Ci Viola seraya mencium pipi kanan dan kiri  pria tampan itu.


"Ya iya lah. Gue di sini, dagangan Lu laku keras, Ci." cibir Arga.


Sahabat Arga itu tergelak. Lalu meninggalkan Arga yang sudah duduk manis di ruang tunggu yang dikhususkan untuk tamu khusus.


"Jadi, apa yang bawa Lu kesini?" tanya Ci Viola seraya menyuguhkan minuman dingin untuk Arga.


"Gue mau minta bantuan Lu." pinta Arga lalu meneguk minumannya.


"Dengan senang hati. Apa yang bisa Gue bantu?" wajah sahabat Arga itu berubah serius.


"Gue mau satu set dress pesta komplit." Arga menyebutkan keperluannya.


Ci Viola mengernyitkan dahinya. Apakah untuk ibunya? Tapi kenapa repot-repot datang kesini sendiri? Atau untuk kekasihnya? Tapi setahunya pria tampan itu tidak sedang dekat dengan wanita manapun.


"Ukuran?" wanita itu bertanya sekaligus menelisik Arga.


"7." sahabat Arga itu jadi makin curiga, jelas ini bukan untuk ibunya.


"Sepatu? Stiletto? Wedges?" lanjutnya bertanya.


"38. Stiletto." jawab Arga lagi. Dia ingat Hania sering memakai stiletto.


Hum. Arga hafal ukuran wanita itu. Jadi siapa wanita yang beruntung itu? Dia main rahasia-rahasiaan rupanya. Sahabat Arga itu memicingkan matanya. Masih menelisik Arga.


"Warna apa?" tanya Ci Viola seraya berjalan meninggalkan Arga.


"DC nya hijau." sahut Arga.


Tak berselang lama, Ci Viola datang lagi dengan setumpuk dress cantik kekinian. Satu per satu dress-dress cantik itu diperlihatkan pada Arga.


Satu dress hijau mint dengan potongan dada rendah yang akan menonjolkan sedikit payudara pemakainya. Arga melotot membayangkan Hania memakai dress itu.


"Jangan yang itu." tolaknya datar.


Ci Viola kembali menunjukkan dress panjang hijau terang tanpa lengan, berkerah turtleneck, dengan belahan sampai paha bagian atas. Kaki jenjang nan mulus Hania akan terekspos sempurna ketika wanita cantik itu berjalan. Arga menelan ludahnya membayangkan mata pria lain ikut menatapinya.


"Terlalu seksi." Arga menggelengkan kepalanya.


Sebuah dress berlengan panjang hijau botol berbahan beludru, sangat mewah dan anggun. Tertutup bagian depan dan terbuka bagian belakang hingga punggung Hania yang putih akan terlihat kontras dan indah dalam balutan dress itu. Arga mengacak rambutnya frustrasi. Membiarkan punggung Hania diekspos seperti itu, pria tampan itu tidak rela. Dia saja belum pernah melihat punggung wanita cantik itu. Tidak boleh!


"Dia bisa masuk angin, Ci." Ci Viola mencibir penolakan Arga.


Sebuah dress hijau alpokat model ikan duyung, berkerah sabrina dan berbahan velvet adalah dress cantik berikutnya yang ditunjukkan Ci Viola pada Arga. Pria itu sempat menyukainya tapi setelah melihat dengan teliti dari atas hingga ke bawah. Barulah dia menyadari jika dress itu tidak cocok untuk Hania. Terlalu terbuka di bagian bahunya. Itu sama saja memamerkan bahu Hania pada semua pria yang hadir di pesta itu.


"Ck! Kenapa bajunya kebuka semua gitu sih, Ci? Dia ngga akan suka." keluh Arga.


Ci Viola menghela napasnya kasar.


"Bilang aja Lu yang ngga suka." cibir Ci Viola.


"Yang Lu cari itu yang seperti apa sih, Ga?" Ci Viola sudah kehabisan ide.

__ADS_1


Biasanya wanita cantik dan berkelas menyukai rancangannya yang terbuka itu. Dan bukankah seharusnya dia bangga bisa menunjukkan wanitanya yang mempesona dengan balutam dress rancangannya? Aneh sekali. Ci Viola menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mau Lu yang gimana?" akhirnya Ci Viola mencoba menuruti keinginan Arga.


"Dia, perempuan lembut dengan harga diri yang tinggi, simpel tapi berkelas." sahut Arga dengan wajah berbinar membayangkan Hania. Senyumnya seketika terulas lebar di bibir seksinya.


Ci Viola lagi-lagi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Arga yang tampak sekali seperti tengah mengagumi seorang wanita.


"Ish! Jatuh cinta nih orang." gumam Ci Viola.


"Jadi penasaran." batinnya.


Ci Viola meninggalkan Arga lagi untuk mencari dress yang cocok dengan kepribadian wanita yang disebut Arga barusan. Dibenaknya, dia membayangkan wanita cantik yang ramping dengan tinggi sebatas dagu Arga, berkulit putih bersih, berambut panjang, dan memiliki sifat yang lembut. Feminin? Ci Viola berpikir sejenak, lalu memasuki ruangannya dan mengambil satu dress yang baru saja selesai dikerjakannya. Untung sekali dress itu berwarna hijau pinus.


"Semoga yang ini cocok." harapnya dalam hati.


Arga langsung menegakkan duduknya begitu melihat sebuah dress yang masih dipajang di manekin, diangkat-angkat Ci Viola seorang diri. Dia suka dress itu. Meski transparan dibagian lengan tapi modelnya sopan. Senyumnya mengembang.


Sebuah long dress umbrella berbahan sifon dipadu organza pada bagian lengan model balon menambah kesan manis dress itu.


"Gue ambil yang ini." ucap Arga mantap.


"Cih! Bilang aja Lu ngga mau kekasih Lu itu jadi pusat perhatian." Ci Viola berdecih melihat pilihan Arga, lalu meninggalkan pria itu lagi.


Arga menatap dress hijau pinus itu. Pria tampan itu sudah dapat membayangkan Hania yang memakai dress itu. Anggun. Senyum tipis kembali terukir di bibir seksinya.


Ci Viola kembali lagi menemui Arga dengan sebuah clutch dan sepatu stiletto berwarna hitam, juga 1 set perhiasan berupa anting, kalung, dan cincin dengan batu permata berwana hijau mint.


"Mau diantar kemana?" tanya Ci Viola sembari memasukkan clucth dan sepatu ke dalam kotaknya.


"Gue bawa sendiri aja." ucap Arga.


"Gue siapin dulu dressnya deh." Ci Viola beranjak meninggalkan Arga lalu terdengar suaranya memanggil karyawannya untuk membantu men dry cleaning  dress itu.


"Kenapa? 'Kan Lu ngga perlu repot-repot dating sama perempuan-perempuan itu lagi." tanya Ci Viola.


"Belum. Gue pasti ngenalin dia ke nyokap tapi nanti, kalau dia udah siap." sahut Arga.


Ci Viola hanya menganggukkan kepalanya. Tanda wanita yang lebih tua dari Arga itu mengerti. Wanita cantik itu juga sering dimintai bantuan untuk mengecoh wanita-wanita yang dijodoh-jodohkan dengannya.


"Apa Gue pernah ketemu?" tanya Ci Viola penasaran.


Arga menggelengkan kepalanya.


"Gue juga baru ketemu, tapi langsung menarik seluruh perhatian Gue." Arga terkekeh mengingat bagaimana dia bertemu Hania.


"Smoga berjodoh ya." ucap Ci Viola seraya tersenyum.


"Siapa sih? Ah kepo deh." gumam Ci Viola dalam hatinya.


Tin tin!


Seorang gadis kecil akan segera berlari keluar rumahnya menyambut kedatangannya dengan tawa riangnya. Dan Arga akan langsung menggendong gadis kecil itu sembari memberi kecupan sayang di pipi gembilnya. Yang kadang akan malah semakin tertawa geli karena bulu-bulu halus di dagunya dan wajahnya belum sempat dicukurnya.


"Oom Arga bawa apa?" tanya Tiara setelah turun dari gendongan Arga.


"Ohya. Ini buat Tiara." Arga menyerahkan sebuah paperbag pada Tiara.


Gadis kecil itu begitu bersemangat menerima pemberian Arga. Dengan cekatan mengeluarkan isinya. Sepasang sepatu flat berwarna putih dengan hiasan pita berwarna pink terlihat begitu cantik di mata Tiara.


"Aaah... Cantik banget. Makasih ya Oom. Sayang deh sama Oom Arga." ucap Tiara seraya memeluk Arga yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Melihat Tiara yang sangat menyukai pemberiannya, hati Arga menghangat. Senyumnya kembali terukir di bibirnya.


"Sama-sama, Sayang." Arga membalas pelukan Tiara dan mengusap rambut bergelombang gadis kecil itu.


Dengan riang gembira Tiara langsung memakai sepatu itu. Lalu memamerkannya pada Hania.


"Ma. Liat deh. Sepatu baruku. Bagus 'kan? Dikasih Oom Arga." pamer Tiara sembari berputar-putar di hadapan Hania.


"Iya, bagus. Bilang makasih, dong." ucap Hania mengingatkan.


"Udah kok, Ma." sahut Tiara.


Sepanjang malam itu Tiara terus memakai sepatu barunya dengan riang. Arga tidak menyangka hanya dengan sepasang sepatu, seorang gadis kecil seperti Tiara, bisa sesenang itu. Pria dewasa itu terus menatapi gadis kecil yang kini jadi kesayangannya itu dengan senyum yang terus merekah.


"Udah tidur?" tanya Arga ketika Hania baru mendudukkan dirinya di sampingnya.


Saking bersemangatnya, Tiara sampai kesulitan tidur dan harus ditemani Hania. Saat tidur itu pula lah sepatu barunya bisa dilepas. Sedari tadi gadis kecil itu selalu menolak.


"Iya. *****. Nempel bantal langsung molor." ucap Hania sembari terkekeh. Arga pun ikut terkekeh.


"Ohya, aku mau minta tolong sama kamu." ucap Arga setelah hening sesaat.


"Apa?" tanya Hania.


"Hari sabtu temenin aku ke resepsi anaknya mitra bisnisku." pinta Arga.


"Mitra bisnis?" gumam Hania.


"Iya. Ngga mungkin 'kan aku datang sendiri?" ucap Arga dengan wajah memelas.


Hania memutar bola matanya, malas menatap Arga yang bertingkah berlebihan begitu.


"Ah, iya. Ini." Arga menyodorkan beberapa paperbag yang tadi disimpannya di dalam mobilnya.


"Apa ini?" Hania menoleh sekilas pada paperbag-paperbag itu.


"DC untuk besok." sahut Arga.


"Mas, nyogok aku?" tanya Hania.


"Kalau perlu." Arga menyahuti Hania tanpa beban.


"Wah, anda putus asa sekali, Pak." ejek Hania yang disambut kekehan Arga.


Hania mengambil salah satu paperbag itu dan melihat isinya. Keningnya mengernyit ketika melihat kota perhiasan berlogo merk perhiasan internasional tertera di atasnya.


"Ini asli? Ini juga nanti aku yang pakai?" Hania ingin memastikan yang dilihatnya, dia takut jika perhiasan itu malah hilang ketika dipakainya.


"Ya, Asli lah, Han. Kamu pikir aku ini siapa? Dan iya, itu kamu yang pakai. Masa' aku?" Arga terkekeh melihat ekspresi Hania yang seakan tidak percaya.


"Serius banget deh Bapak ini nyogok aku, ya? Ini mahal lho." gurau Hania.


"Apapun untukmu, Han. Diriku dan hatiku ini pun sudah menjadi milikmu." batin Arga seraya menatap Hania.


"Iya dong, harus serius supaya kamu mau nemenin aku." sahut Arga kemudian.


"Nemenin sepanjang usiaku." gumam Arga dalam hati.


*********


Thanks for reading!

__ADS_1


Like dan jadikan favorit ya, supaya ngga ketinggalan ceritanya.


Ohya. Jangan lupa VOTE tiap hari SENIN, untuk dukung karya ini. 🙏🙏😘


__ADS_2