Yang Terakhir

Yang Terakhir
96. Mantan Bikin Gregetan


__ADS_3

Arga menggenggam tangan Hania yang menggenggam tangannya dengan erat. Wanita cantik itu tampak gugup. Tangannya terasa dingin. Tapi meski begitu, Hania berusaha menguasai keadaan. Langkahnya menyesuaikan langkah Arga. Atau sebaliknya, Arga yang menyesuaikan langkahnya? Dengan kepala tegak dan tatapan lurus ke depan. Hania terlihat mencoba tampil percaya diri. Entah kenapa pria tampan itu merasa bangga berjalan di samping wanita cantik itu.


Kedatangan Arga yang dikenal sebagai pengusaha muda berbakat dan sukses yang sering masuk dalam rangking 100 pengusaha sukses se asia itu kontan menarik perhatian. Apalagi kali ini dia tidak datang sendiri. Ada seorang wanita cantik dan anggun yang mendampinginya. Yang tak kalah menarik perhatian.


Arga berjabat tangan dengan beberapa pengusaha yang dikenalnya, tapi tidak berniat mengenalkan Hania pada mereka meski mereka sempat berbincang lama. Tatapan mendamba yang ditampilkan di depan Arga cukup membuat Arga kesal. Dia tidak ingin wanitanya ditatapi begitu oleh pria-pria itu. Tapi Arga akan dengan bangga memperkenalkan Hania pada pengusaha yang matanya tidak jelalatan. Bahkan wanita cantik itu sesekali ikut menimpali obrolan yang bertema bisnis itu. Apalagi? Jika para pengusaha bertemu, sudah pasti yang jadi topik utama adalah bisnis.


"Arga?" suara  seorang wanita menyebut namanya, membuat Arga menoleh. Pun Hania.


Seorang wanita cantik langsung memeluk Arga tanpa sempat pria tampan itu mengelak. Hania membelalakkan matanya. Terkejut Arga dipeluk seorang wanita cantik dengan gaun yang terbuka di bagian dada dan punggungnya. Matanya tajam menatap Arga yang tengah menatapnya dengan cemas. Dadanya bergemuruh menahan kesal. Atau cemburu?


Melihat Hania yang menatapnya tajam, Arga jadi cemas. Dengan sedikit sentakan dia melepaskan diri dari pelukan wanita itu.


"Rosa?" gumam Arga seraya menatap datar wanita itu.


"Apa kabar? Ngga berubah ya kamu. Tetep mempesona." sapa wanita yang dikenal Arga sebagai Rosa.


"Aku baik." sahut Arga datar, matanya masih menatap Rosa.


"Kamu ngga mau nanya gimana kabar kekasihmu yang dulu ini?" tanya wanita itu seraya melirik Hania.


Arga langsung melirik Hania. Wanita cantik bermata kelinci itu juga menatapnya.


"Tapi aku seneng ketemu kamu di sini." senyum wanita itu seraya mengusap lengan Arga namun pria itu segera menyingkirkannya.


"Aku kangen kamu. Kita bisa ngobrol-ngobrol setelah ini 'kan? Ke tempat favorit kita dulu?" Rosa terus merayu karena Arga tidak menunjukkan reaksi apapun.


"Sekalian kita nostalgia." wanita itu mengedipkan sebelah matanya dengan senyum menggoda.

__ADS_1


Wanita cantik yang dulu pernah menjadi bagian hidup Arga. Mantan kekasihnya yang meninggalkannya karena memilih pria lain yang lebih matang dan sukses darinya yang hanya seorang mahasiswa S2. Arga menghela napasnya.


Arga melirik Hania yang sedang menatapnya tajam. Wanita itu tampak sedang marah padanya. Apakah dia cemburu? Bolehkah dia senang, wanita yang dicintainya mulai menunjukkan perasaannya? Arga mendesah.


"Ngga ada yang perlu diingat-ingat lagi. Hidup Gue udah banyak masalah, jadi Gue ngga akan menyia-nyiakan waktu Gue dengan menggali masalah yang udah berlalu!" Arga menolak ajakan Rosa dengan kata-kata penuh sindirin.


Matanya menatap wanita itu tajam seakan ingin mengulitinya hidup-hidup. Berani-beraninya dia muncul dan merusak suasana hati orang yang ingin dijaganya.


"Hania! Kamu juga di sini?" suara seorang wanita yang menyapa Hania, mengalihkan perhatian Arga. Pria tampan itu menoleh ke arah Hania yang sedang cipika cipiki dengan wanita yang ternyata Mba Niken.


Ah. Tentu saja. Ini kan resepsi anak pengusaha kaya raya dan terpandang, sudah pasti Mas Harry akan diundang juga. Kenapa baru menyadarinya?


"Hai, Ganteng." sapa Mba Niken yang langsung mencium pipi kanan dan kiri Arga.


"Mba." sapa Arga dengan senyum tipisnya.


"Mas." sapanya pada suami Mba Niken yang menyusul di belakangnya.


Rosa memperkenalkan dirinya sebagai teman baik Arga. Kontan saja Mba Niken tidak suka. Dan selama perbincangan Rosa selalu berusaha melibatkan diri tapi diabaikan oleh Arga maupun Mba Niken. Dan selama itu pula sikap Hania seperti mengabaikan Arga membuat pria itu ketar ketir jika Hania akan mendiamkannya.


"Jeng, situ kan teman baiknya si Ganteng. Udah tau 'kan ya kalau dia udah ngelamar kekasihnya?" tanya Mba Niken seraya menunjuk Hania dengan ekor matanya, sengaja memberi batasan pada Rosa.


Hah? Hania melongo tapi sejurus kemudian bersikap biasa saja. Mba Niken itu, sejak kapan, Arga melamarnya? Dia 'kan hanya bercerita tentang Arga yang sudah menyatakan perasaannya. Ada-ada aja. Hania menghela napasnya.


Sementara Arga yang sudah tahu drama ciptaan Mba Niken itu bermuara di mana, hanya mengulum bibirnya seraya menundukkan wajahnya. Syukurlah Mba Niken peka. Pria itu akan nemberinya hadiah nanti.


"Ohya? Wah selamat kalau begitu." ucap Rosa seraya tersenyum masam.

__ADS_1


Arga hanya bersikap datar menanggapi ucapan selamat dari Rosa. Terkesan tidak tulus dan terkejut.


"Apa kita akan di sini saja? Belum ngucapin selamat sama pengantinnya 'kan?" ucap Mas Harry memecah ketegangan.


"Iya. Bener. Kita juga belum ke sana." Arga langsung menyambut ajakan Mas Harry seraya menatap Hania.


"Kalau gitu, saya permisi. Sampai ketemu, Ga." ucapnya seraya mengusap lengan Arga yang mendapat tatapan sinis dari pria itu.


"Han, plis dong jangan begini. Aku akan jelasin semua setelah kita sampai di rumah." rayu Arga.


Mereka dalam perjalanan pulang dari resepsi yang membuat Hania kesal. Berbagai rayuan sudah dilontarkan Arga namun wanita cantik itu bergeming. Hatinya masih berdenyut nyeri mengingat bagaimana wanota bernama Rosa tadi merayu Arga dan pria itu tidak melakukan penolakan yang berarti. Dia jadi membayangkan mantan suaminya yang dirayu wanita lain yang tak lain adalah mantan kekasihnya dulu hingga akhirnya meninggalkannya demi wanita itu.


Dan sekarang? Rosa adalah mantan kekasih Arga. Barusan wanita itu merayu Arga. Dia seperti de javu. Tanpa sadar menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menggeleng kencang. Lalu menangis tergugu. Arga yang fokusnya sudah terbagi sejak mereka meninggalkan gedung resepsi tadi, jadi terkejut. Dengan segera pria tampan itu menepikan sedan mewahnya. Berkali-kali mencoba menepi tapi selalu mendapat teguran dari pengendara di belakangnya. Akhirnya, sedan mewah itu menepi di sebuah taman. Suasana taman sudah mulai sepi, namun beberapa pedagang kaki lima masih setia menanti sisa pengunjung malam itu.


"Han? Sayang? Kamu kenapa? Hum?" tangan Arga terulur mengusap rambut Hania yang sedikit berantakan.


Hania masih menangis tergugu. Arga jadi serba salah. Dia tidak tahu apa yang membuat wanita cantik itu tiba-tiba menangis begitu pilu. Apa karena tadi Rosa memeluknya? Dan berbicara seolah-olah hubungan mereka romantis? Arga menyugar rambutnya. Mungkin. Tadi tatapan Hania begitu tajam padanya. Tatapan yang belum pernah Arga lihat karena biasanya wanita itu selalu menatapnya lembut. Kini, dia merasa bersalah. Arga menghela napas dan membuangnya dengan kasar.


"Sayang, aku minta maaf kalau aku salah. Aku ngga punya hubungan apa-apa lagi dengannya. Itu udah lama berlalu. Bahkan aku udah melupakannya sebelum aku nikah dengan mantan istriku." mohon Arga seraya mengusap bahu Hania.


"Plis, jangan begini. Kamu boleh marah sama aku. Lakukan semaumu. Tapi jangan diamin aku begini. Dan jangan menjauh dariku." rayu Arga tapi tetap saja ada intimidasi didalam kata-katanya.


Arga yang telah melepas sabuk pengamannya membawa Hania ke dalam dekapannya. Dan membiarkan Hania menangis di sana sampai puas.


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Like dan jadikan favorit ya, supaya ngga ketinggalan ceritanya.


Jangan lupa Vote tiap hari Senin 🙏😘


__ADS_2