
Tap tap tap!
Terdengar ketukan sepatu pantofel beradu dengan lantai granit di lorong sebuah perusahaan yang sudah sepi karena jam kerja telah berakhir meninggalkan beberapa karyawan saja untuk kerja lembur. Temponya menunjukkan bahwa pemilik sepatu itu sedang terburu-buru.
Klek!
Daun pintu sebuah ruangan terbuka tanpa meminta izin pada yang punya ruangan. Pemilik ruangan hanya melirik sekilas.
"Ada apa, Hendry? Terburu-buru banget sampai ngga sempat ketok pintu?" tanya si empunya ruangan tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptopnya.
"Pak Arga sudah tahu kalau anda membantu Bu Rosa menjebak dirinya. Sekarang Pak Arga sedang dalam perjalanan kembali ke ibukota." sahut pria yang disebut Hendry itu.
"Apa dia juga tahu keterlibatanku dalam kasus kemarin?" tanya sang atasan.
"Itu... Sepertinya mereka mulai curiga." sahut pria bertubuh tinggi proporsional itu.
Pria tampan yang tengah menatap layar laptopnya itu mendesah lalu mengalihkan tatapannya pada Hendry.
"Dimana Rosa sekarang?" tanyanya setelah hening sesaat.
"Ada di apartemen anda." sahut Hendry lagi.
"Bu Rosa baru menemui Ibu Hania." imbuhnya.
"Untuk apa?" pria tampan itu mengernyitkan keningnya.
"Saya rasa urusan antar wanita. Bu Rosa ingin Bu Hania melepaskan Pak Arga." Hendry mengutarakan pendapatnya.
Brak!
Pria tampan itu menggebrak meja di depannya hingga menimbulkan suara menggema di ruangan luas yang hening itu. Hendry sampai berjingkat saking terkejutnya. Tidak biasanya atasannya itu begitu emosi mendengar laporannya tentang Arga. Tapi ketika ada wanita yang terobsesi pada sahabat atasannya itu, sang atasan akan marah-marah tidak jelas. Seperti saat ini.
Drrrt drrrt drrrt.
"Mama! Om Arga telpon!" teriak Tiara dari ruang tengah memanggil Hania yang sedang berada di dapur.
Hania segera menyeka tangannya yang basah lalu bergegas menghampiri Tiara. Mendengar nama Arga, hatinya bergejolak. Ada rindu yang tertahan di dalam sana.
"Honey, aku udah di Jakarta tapi masih ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan dulu." ungkap Arga setelah suara lembut Hania menyapanya.
"Mas ngga mampir dulu?" tanya Hania.
"Oom, kok ngga pulang-pulang sih? Aku 'kan kangen. Mama juga katanya." serobot Tiara.
Sudah lama Tiara merindukan pria dewasa itu. Gadis kecil itu selalu saja menanyakan Arga. Membuat Hania jengah.
"Benarkah? My little princess kangen? Oom juga kangen, sayang. Tapi maaf ya, Oom belum bisa ngajak Tiara main sekarang." Ada rasa bersalah yang menelusup di hati Arga manakala dirinya tidak bisa meluangkan waktunya untuk Tiara belakangan ini, namun sekaligus perasaan bahagia ketika dirinya merasa dibutuhkan seperti sekarang ini.
"Iya, Tiara ngerti kok. Oom 'kan lagi sibuk. Nanti kalau udah ngga sibuk, Oom pasti nemuin Tiara sama Mama 'kan?" suara Tiara terdengar seperti sebuah harapan, harapan pada orang yang akan selalu ada untuknya.
__ADS_1
"Iya, sayang. Itu pasti." senyum Arga menggembang sempurna, hatinya menghangat.
"I miss you, Oom. Tiara sayang Oom Arga." ucap Tiara lagi membuat mata Arga mengembun.
"Oom juga sayang Tiara. Miss you too, sayang." balas Arga.
"Mama mana, sayang? Oom mau bicara sama Mama ya." pinta Arga.
"Love you." ucapnya lembut setelah memastikan yang di seberang ponselnya kali ini adalah Hania.
"Mas hati-hati ya. Love you more." ucap Hania sebelum memutus teleponnya.
Hania kembali sibuk menyiapkan bekal yang akan di bawanya ke pantai. Hari itu, wanita cantik itu mengajak Tiara berlibur. Wanita lembut itu akan mengendarai sendiri mobilnya bersama Tiara.
"Ma, udah lama ya kita ngga liburan bareng Oom Arga. Lama banget sih Oom ngga pulang-pulang." ucap Tiara lirih ketika mobil Hania sudah meluncur di jalan raya, berbaur dengan kendaraan lain.
"Kerjaan Oom Arga itu banyak banget, sayang. Jadi butuh waktu yang banyak juga untuk nyeleseinnya. Kamu sabar ya. Doain Oomnya sehat terus dan dilancarkan semua urusannya biar cepet balik, ya?" Hania mencoba lagi memberi Tiara pengertian sambil tetap fokus ke jalanan di hadapannya dan gadis kecil itu hanya menganggukkan kepalanya lesu.
Hania melirik putri semata wayangnya itu. Wajah gadis kecil itu masih terlihat tak bersemangat. Bibirnya masih memberengut. Namun, wanita cantik itu enggan untuk merayunya dan memilih membiarkan Tiara. Dia sudah terbiasa mendapati protes putrinya karena ketidakhadiran Arga.
Namun raut tak bersemangat itu berubah ketika mobil Hania sampai di tujuan.
"Yeee... Sampai!" serunya.
Di sana sudah ada Ferry dan gebetan barunya menanti kedatangan Hania dan Tiara. Ada juga Lisa dan pacarnya. Yang datang dengan kendaraan masing-masing.
"Oce, boskyu!" seloroh Ferry yang mendapat lirikan setajam silet dari Hania membuat pria macho itu tergelak.
Hania menatap punggung Ferry yang berlari menjauh menyusul Tiara yang sudah di gelandang Lisa dan gebetannya barunya Ferry. Kedua gadis itu merasa gemas pada Tiara yang dianggap mirip boneka jika diam saja. Dalam hatinya, Hania bersyukur dikelilingi orang-orang baik dan peduli padanya.
"Hania?" Hania menoleh ke arah suara yang menyebut namanya.
Deg.
"Ferdi?" gumam Hania, matanya menatap pria menawan yang tengah tersenyum padanya.
"Kamu di sini?" tanya Ferdi, senyum lebarnya tak surut dari bibir tipisnya.
Sudah sepatutnya Ferdi merasa beruntung datang ke pantai itu. Demi memenuhi profesionalitas dalam pekerjaannya, dia harus ikut turun tangan langsung mensurvey lokasi acara yang akan di tanganinya karena mendadak asistennya berhalangan. Berdua dengan sekretarisnya, Ferdi berangkat dengan setengah hati. Pasalnya, sang istri selalu mencurigainya dan itu membuatnya malas kemanapun.
Namun, siapa sangka, kemujuran berpihak padanya. Akhirnya dirinya bertemu Hania di pantai itu. Wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta, yang sudah lama ingin dijumpainya. Ferdi akan terus berusaha meyakinkan Hania. Meski dia tahu ada Arga yang akan menjadi perintangnya.
"Boleh aku nemeni kamu? Sekalian kita ngobrol. Udah lama kita ngga ketemu 'kan?" pinta Ferdi.
"Please." imbuhnya dengan wajah memelas.
Hania bimbang. Jujur, wanita cantik itu tidak ingin bertemu lagi dengan pria tampan itu. Mengingat bagaimana istri pria itu menyebutnya pelakor, Hania jadi kesal dan ingin mengusir pria itu. Tapi sepertinya Ferdi tidak suka di tolak. Buktinya pria itu pantang menyerah, terus mendekatinya setiap ada kesempatan.
"Mas Ferdy ngapain di sini?" tanya Hania sambil celingukan mengedarkan pandangan mencari keberadaan istri Ferdi.
__ADS_1
"Kamu nyari siapa?" bukannya menjawab pertanyaan Hania, Ferdi malah balas bertanya karena melihat gelagat wanita pujaannya itu.
"Pawang Mas Ferdi!" ketus Hania yang membuat Ferdi tergelak.
Ferdi selalu bisa menjadi dirinya sendiri dan bersikap seadanya ketika bersama Hania. Itulah sebabnya Ferdi merasa nyaman berada di dekat Hania.
"Pawang?" Ferdi bertanya lagi di sela tawanya.
"Iya. Istri Mas Ferdi! Aku ngga mau ya, nanti tiba-tiba ada yang nunjuk-nunjuk aku pelakor." sungut Hania tidak suka.
"Ngga lah. Aku ke sini sama sekretarisku tadi. Urusan kerjaan." terang Ferdi sembari terkekeh.
Pria itu merasa menyesal dengan tindakan sang istri dan menyayangkan tindakan tidak berkelas istrinya beberapa minggu yang lalu. Dia ingat bagaimana Hania di maki dengan kata-kata yang tidak seharusnya ditujukan pada wanita cantik itu. Dan bagaimana tak berdayanya dia yang tidak bisa membela wanita yang dicintainya itu. Hingga harus menelan rasa cemburu ketika pria lain membela Hania.
"Hania, yang aku katakan bahwa aku mencintaimu itu benar adanya. Kamu cinta pertamaku. Sungguh." ungkap Ferdi sambil menggenggam tangan Hania.
"Aku ngga bisa, Mas. Aku punya Mas Arga dan aku mencintainya. Lagipula, istrimu itu cinta banget sama kamu." tolak Hania seraya menarik tangannya dari genggaman Ferdi.
Meski Hania melihat ketulusan di mata Ferdi ketika menyatakan perasaannya, tetap saja Ferdi berstatus suami orang dan dia tidak memiliki perasaan yang sama drngan pria menawan itu. Ferdi menghela napasnya perlahan. Hatinya berdenyut nyeri. Lagi-lagi ungkapan cintanya ditolak.
"Kami ngga saling mencintai. Pernikahanku karena perjodohan. Sekeras apapun aku berusaha mencintainya, tetap ngga bisa. Bukankah cinta ngga bisa dipaksa?" ungkap Ferdi tentang pernikahannya.
"Kenapa Mas cerita masalah rumah tangga kamu ke aku? Itu 'kan sama aja aibmu Mas." kesal Hania.
"Aku bukan sedang menyebarkan aibku. Aku sedang memberitahumu tentang perasaanku. Padamu." sanggah Ferdi.
"Makasih. Mas. Tapi selama kita kenal, aku ngga pernah punya perasaan yang gimana-gimana sama Mas. Bukankah perasaan ngga bisa dipaksakan?" tegas Hania.
Jleb!
Ucapan Hania yang membalik kata-katanya membuat Ferdi mati kutu. Lidahnya kelu seketika. Apakah itu berarti dirinya sudah tidak memiliki kesempatan untuk memiliki Hania? Apakah usahanya memperjuangkan cintanya harus berhenti? Tidak. Tidak boleh! Sebelum janur kuning melengkung, wanita cantik itu masih boleh ditikung. Ferdi larut dalam pikirannya yang melayang kemana-mana.
"Pak Ferdi? Anda di sini rupanya. Klien anda akan undur diri Pak. Mereka mencari anda." seorang wanita cantik datang mencari Ferdi.
"Dia sekretarisku." ucap Ferdi seraya mengerlingkan matanya karena melihat Hania memperhatikan wanita itu lekat.
Hania langsung memalingkan wajahnya. Dia merasa tidak nyaman dengan perlakuan Ferdi. Apa-apaan itu? Mengedipkan sebelah matanya? Genit! Wanita berhati lembut itu menggerutu di dalam hatinya.
"Sampai ketemu lagi Hania." pamit Ferdi yang hanya diangguki Hania.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata terus mengawasi interaksi keduanya selama perbincangan tadi. Dan kini tampak melakukan panggilan pada atasannya.
"Bagus. Kalau ingin menghancurkan dengan mudah, hancurkan hatinya dulu." seringai seorang pria tampan terbit setelah menerima laporan dari anak buahnya.
*******
Thanks for reading!
Like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh. Untuk terus dukung karya author ini ya 😘😘😘
__ADS_1