Yang Terakhir

Yang Terakhir
180. Memastikan Sekali Lagi


__ADS_3

Hania menghembuskan napasnya kasar. Wanita cantik itu kesal sekaligus malu melihat suaminya terus menyunggingkan senyum nakal ke arahnya. Seolah memamerkan kesuksesannya sekali lagi mereguk kenikmatan yang hanya bisa diraih dengan bekerjasama dengannya tadi.


Meski awalnya menolak karena merasa tubuhnya masih lelah, pada akhirnya Hania hanya bisa pasrah. Sentuhan Arga begitu membuatnya kepayang dan larut dalam tiap buaian yang suaminya berikan. Ah. Pria itu tahu betul bagaimana membuatnya bergai**h. Dan pagi cerah yang cenderung dingin itu berubah menjadi panas dan berkeringat. Racauan dan desa**n yang meluncur bebas dan tak terkendali dari mulutnya pagi tadi, menandakan dirinya sangat menikmati kegiatan mereka. Teringat itu, wajah Hania bersemu merah.


"Haduh... Kenapa malah inget yang tadi, sih?" gumam Hania di dalam hatinya seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Honey. Diem aja. Ayo dimakan nanti keburu dingin ngga enak." tegur Arga.


Hania hanya menyahuti dengan anggukan. Membuat Arga semakin gemas saja. Pria itu tahu, istrinya itu merasa malu. Yang awalnya menolak tapi justru istrinya itu yang paling menikmati kegiatan panas mereka barusan. Tak dipungkirinya, setiap suara yang keluar dari mulut Hania terdengar seksi di telinganya dan itu semakin memacu has**tnya. Mengingat dirinya dan Hania terpuaskan, senyumnya merekah. Seperti bunga matahari.


"Kamu seksi tadi, honey. Aku suka." puji Arga mengungkapkan isi hatinya.


Uhuk! Uhuk!


Hania tersedak mendengar pujian Arga. Dasar suaminya itu. Saat ini dirinya tidak banyak berbicara karena ingin menghindari topik pagi tadi. Dia benar-benar malu. Eh! Suaminya malah memujinya dengan gamblang, mengatakan dirinya seksi. Membuatnya semakin malu saja.


"Mas, iih! Ganggu orang makan aja!" kesal Hania setelah meraih gelas berisi air mineral yang diulurkan Arga padanya.


"Lho? Ganggu gimana, honey? Aku 'kan cuma muji kamu." ucap Arga tanpa merasa bersalah.


"Bikin aku malu tau, Mas." rengek Hania.


"Hahaha.... Kamu ini, udah sering juga, ngomongin beginian masih malu-malu. Gimana aku ngga gemes coba?" Arga tergelak seraya mengusap pipi Hania yang mulai tembem.


Tak jauh dari tempat Hania dan Arga saling mengingat adegan panas mereka dengan caranya masing-masing, sepasang mata tengah memperhatikan dengan senyum yang mengembang tipis.


Pria tampan khas impor itu sudah sejak beberapa menit yang lalu berdiri di pintu masuk ruang makan rumah Arga. Niatnya ingin menyerahkan berkas yang membutuhkan tanda tangan atasan sekaligus sahabatnya itu. Tapi pemandangan yang terjadi tampaknya lebih penting daripada dokumen perjanjian kerjasama bernilai fantastis yang dipegangnya.


"Mas Iden, kok cuma berdiri di sini?" tegur Bi Lastri yang tidak tahu menahu kejadian yang sedang menjadi tontonan Iden dengan suara berbisik.


Bisikan Bi Lastri yang kini juga ikut memperhatikan Hania dan Arga tentu mengejutkan Iden. Pria blesteran itu langsung menempelkan jari telunjuknya di bibirnya meminta Bi Lastri diam.


Bi Lastri spontan menggerakkan tangannya seperti meresleting dan mengunci mulutnya dengan gerakan memutar lalu membuang anak kunci. Tapi tetap berdiri di samping Iden.


"Bi Lastri ngapain masih di sini?" bisik Iden seraya memelototkan matanya menatap Bi Lastri.


"Eh? Iya ya, Mas? Ngapain saya kok ikut berdiri di sini?" tanya Bi Lastri masih berbisik.


"Malah nanya. Ya mana aku tahu, Bi!" bisik Iden yang merasa gemas dengan art rumah Arga itu.


Kasak-kusuk di sekitarnya membuat kedua sejoli itu menoleh. Keduanya saling melirik ketika mendapati Iden dan Bi Lastri tengah bisik-bisik.


"Ehem!" deheman Arga yang menggema di ruamg makan yang hening itu membuat Iden dan Bi Lastri menoleh bersamaan.

__ADS_1


Tatapan tajam Arga hanya di sambut cengiran oleh Bi Lastri. Secepat kilat wanita paruh baya itu meninggalkan ruangan itu setelah menganggukkan kepalanya tanda mohon diri.


"Ngapain lu bisik-bisik sama Bi Lastri tadi?" tanya Arga datar dengan tatapan mengintimidasi setelah Iden duduk di seberangnya.


Iden hanya menanggapi dengan mengendikkan bahunya. Lalu meletakkan berkas yang dibawanya di hadapan Arga.


Sementara Hania tampak mematung menatap Iden dengan lekat. Jantungnya berdebar dan darahnya berdesir. Dadanya sampai-sampai terasa akan meledak saking sesaknya.


"Hai, Hania. Udah baikan?" sapa Iden.


"Aku? I-iya. Udah kok. Iya, udah baikan." sahut Hania yang tersadar dari lamunannya gelagapan.


Wanita cantik itu mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menetralkan debaran jantungnya yang semakin tak terkendali.


"Umm... Mas Iden udah sarapan? Aku ambilin ya?" tawar Hania dengan kekikukan yang masih kentara.


"Honey." tegur Arga yang tidak suka istrinya perhatian pada pria lain.


"Ngga usah. Aku udah makan tadi. Lagian sekarang ini udah lewat jam makan pagi, Hania." tolak Iden halus seraya menyunggingkan senyum manisnya.


Pria tampan nan flamboyan itu seketika merasa lebih dekat dengan Hania. Sambutan wanita cantik bermata kelinci yang memiliki warna manik mata yang sama dengannya itu selalu berhasil membuatnya merasa diterima.


Pletak!


"Apaan sih, lu, Ga!? Rese!" sentak Iden seraya mengusap rambutnya.


Sret!


Di tempat lain, Rendy membuka gorden ruang kerjanya. Matanya reflek memejam karena cahaya matahari yang sudah sangat menyilaukan. Semalam pria itu tertidur di sana dalam posisi duduk dan terbangun karena alarm ponselnya yang lupa di atur ulang. Sepulang dari rumah sakit dimana Hania dirawat, pria yang 90% mirip dengan Iden itu tidak dapat memejamkan matanya. Tidurnya gelisah, membuat sang istri yang kelelahan mengurus bayi baru mereka, terganggu. Dan akhirnya pria tampan itu terusir dari kamar tidur mereka dengan tenang. Dan semalam terulang lagi. Dirinya terusir lagi dari kamarnya sendiri.


Rendy menghela napas panjang. Pria yang juga berwajah blesteran itu meregangkan otot-otot tubuh atletisnya. Dia merasa kaku dan pegal di beberapa bagian tubuhnya. Setelahnya kembali melamun.


Pikirannya kembali melayang pada sosok wanita muda yang sudah 2 malam ini menguasai benaknya, Hania. Setelah mendengar penuturan Iden dan kedua orangtuanya, Rendy ingin sekali menemui wanita cantik bermata kelinci itu. Sekedar ingin memeluknya. Namun, niatnya harus dikesampingkan tatkala melihat Ibu Anna dan seorang pria gagah selain Arga berada di ruang rawat Hania. Rendy memilih pergi daripada sikapnya malah menimbulkan tanda tanya yang banyak di benak Ibu Anna dan pria itu. Karena pastinya, dirinya tidak akan bisa menahan diri untuk memeluk Hania.


Rendy mendesah. Pria itu mengusap wajahnya dan mengacak rambutnya. Mengingat kembali wajah Hania yang selalu tampak tenang, hatinya semakin berdenyut nyeri.


"Apakah kamu baik-baik aja selama ini? Maaf, aku dan papa mama ngga nyari keberadaanmu selama ini." gumamnya dalam hati.


"Sekarang gimana caranya ngasih tahu kamu supaya kamu ngga terluka dan nyalahin kami?" monolognya lagi.


Rendy menghembuskan napasnya dengan berat. Lalu menyudahi pikirannya yang terpusat pada Hania. Diliriknya jam digital di salah satu sudut meja kerjanya. Jam 10 pagi. Seketika dirinya tersentak. Hah. Lagi-lagi dia harus terburu-buru mempersiapkan diri mengikuti rapat dengan para investor. Tunggu! Rapat dengan para investor? Apa Arga akan hadir di sana? Apa pria itu akan mengajak istrinya?


"Jadi ke restoran?" tanya Arga menghentikan langkahnya, urung membuka pintu bagian depan sedan mewahnya.

__ADS_1


Pria tampan itu ingin memastikan kemana saja sang istri pergi selama tidak berada di sekitarnya.


"Iya. Aku udah lama ngga ke sana. Kangen." sahut Hania dengan tangan yang masih bergelayut manja di lengan Arga.


"Nanti siang Mas nyusul, ya. Kita makan siang bareng." pinta Hania seraya menatap Arga.


"Aku usahain, ya. Aku ngga tahu meetingnya selesai jam berapa. Tapi begitu selesai aku pasti nyusul." Arga jadi sedikit merutuki jadwal pertemuan dengan para investor yang jatuh hari itu.


"Umm.... Atau aku nyusul ke kantor Mas aja? Aku nunggu di sana?" tawar Hania yang langsung disambut anggukan kepala dan senyum yang mengembang.


Sepeninggal Arga, Hania kembali ke dalam rumah besar bergaya minimalis itu. Namun langkahnya pasti, menuju ruang kerja Arga.


"Dimana ya kira-kira Mas Arga nyimpan berkas-berkas pentingnya? Pasti ada di sini." gumam Hania.


Tangannya terampil memilah satu persatu berkas yang tersusun rapi tanpa membuatnya berantakan. Tujuannya ingin menemukan amplop coklat berukuran besar. Beberapa waktu yang lalu, dia pernah tanpa sengaja melihat isinya. Sama persis dengan yang dilihatnya di rumah keluarga Iden. Wanita cantik itu ingin memastikan sekali lagi apa yang pernah dilihatnya beberapa malam yang lalu.


Malam itu, sekembalinya dari toilet, mata Hania menangkap foto-foto seorang gadis kecil. Matanya bergerak cepat menatap satu persatu foto dalam lemari kaca.


Dada Hania mendadak merasa sesak dan berdenyut nyeri. Yang ada di hadapannya adalah foto mendiang Tiara namun dengan gaya dan pakaian yang berbeda. Gambar-gambar dalam etalase itu seperti potret lawas. Otaknya dengan cepat memindai setiap foto. Wanita cantik itu sama sekali tidak mengenali latar belakang foto itu.


Yang lebih menyesakkan lagi, dibandingkan dengan mendiang Tiara, gadis kecil dalam foto itu lebih mirip dirinya ketika masih seusia mendiang putrinya. Hidung yang tak terlalu mancung, bibir mungil, rambut lurus kecoklatan, dan bentuk mata kelinci seperti dirinya. Dan masih banyak foto-foto lainnya yang menyerupai dirinya sewaktu masih bayi hingga seusia mendiang Tiara.


Hania bingung dan ingin menangis. Namun pada saat akan meninggalkan tempat itu, matanya menatap sebuah amplop coklat berukuran besar yang terbuka. Sebuah foto sedikit tersembul dari dalamnya. Membuat rasa penasarannya semakin dalam. Diraihnya amplop itu.


Hania menarik foto yang tersembul sedikit tadi. Matanya langsung membulat sempurna. Yang kini dipegangnya adalah fotonya. Ada apa dengan dirinya? Kenapa keluarga Iden memiliki fotonya? Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar membuatnya semakin ingin tahu jawabannya yang kemudian mendorongnya untuk mengeluarkan kertas-kertas dari dalam amplop coklat itu.


"Ngga mungkin." lirihnya seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


Tubuh Hania bergetar, kakinya terasa lemas seperti jelly. Hampir saja dirinya terjatuh jika tidak bersandar pada dinding di belakangnya. Matanya sudah mengembun. Dapat dipastikan dalam sekali kedipan mata, airmatanya akan berderai.


Merasa kepalanya bertambah pusing, Hania segera meletakkan kembali amplop coklat itu dan berlalu dari tempat itu. Lalu semua menggelap.


Hampir setengah jam Hania membolak balik kertas-kertas dan membuka tutup laci dan pintu lemari penyimpanan di ruang kerja suaminya. Namun amplop yang dicarinya tak juga ketemu. Hingga akhirnya menyudahi pencariannya. Ketika akan menutup pintu lemari terakhir di ruangan itu, matanya tanpa sengaja melihat sebuah amplop coklat berukuran besar seperti yang dicarinya. Terletak di bagian paling bawah lemari itu. Sebenarnya dalam sekali lihat, sudah ketahuan dimana letak amplop itu. Hanya saja mungkin Hania sedang terburu-buru jadi terlewatkan olehnya. Hania menghela napasnya.


"Disini rupanya." gumamnya seraya meraih amplop itu.


Dengan tangan gemetar, wanita cantik itu mengeluarkan isinya dan mulai membacanya dengan teliti. Namun ditengah keseriusannya membaca, telinganya mendengar namanya disebut.


Klek!


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.


🤗🤗🤗😘


__ADS_2