Yang Terakhir

Yang Terakhir
81. Hadiah Tak Terkira


__ADS_3

Hania memasuki ruangannya dengan senyum mengembang di bibir merah jambunya. Tangannya membawa nampan berisi makanan kesukaan pria tampan itu. Di belakangnya mengekor seorang waitres, ikut membawalan nampan berisi minuman.


Arga mengangkat sebelah alisnya demi melihat hidangan yang tersaji. Semua menu kesukaannya. Padahal dirinya belumlah memesan apa-apa pada Hania. Wanita cantik itu memperlakukan dan memperhatikannya dengan baik. Membuatnya merasa dihargai.


"Mas belum makan kan?" tanya Hania seraya tersenyum semanis madu, sementara Arga hanya menatapinya saja.


"Aku masak spesial nih buat, Mas." lanjutnya seraya menyodorkan piring berisi nasi dan lauk pauk, senyumnya tetap mengembang dan Arga masih menatapinya.


Melihat sikap Hania itu, hati Arga semakin berdenyut nyeri. Bagaimana bisa orang sebaik Hania dibenci dan dikatai wanita penggoda. Dirinya yang lebih mengenal wanita itu merasakan betapa sulitnya mendekati wanita itu. Bagaimana bisa orang lain yang tidak mengenalnya bisa berpikir buruk tentangnya. Menurutnya, Hania sangat pandai menjaga dan menghargai dirinya.


"Mas? Kok diem aja? Ngga suka ya?" Hania menatap Arga yang sedang menatapnya.


Arga mendesah pelan. Lalu tersenyum semanis madu. Menenangkan hatinya sendiri.


"Kamu nyogok aku?" goda Arga.


"Iya. Aku mau mastiin aja perut Mas kenyang sebelum kuajak ke sekolah Tiara." balas Hania. Arga terkekeh mendengar kata-kata Hania.


"Kalau mau nyogok aku jangan pake makanan, Han." batin Arga. Pria itu tersenyum memikirkan sikap Hania. Menurutnya lucu.


"Memangnya ada acara apaan di sekolah Tiara, sampe-sampe kamu ngajakin aku?" tanya Arga lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Kegiatan di sekolah Tiara itu macem-macem. Salah satunya bertema 'Ayah'. Aku mintabtolong sama Mas buat dampingin Tiara. Aku minta maaf ngerepotin Mas, dan pastinya mengganggu pekerjaan Mas. Tapi aku ngga tau mau minta tolong siapa lagi. Ferry ngga bisa bantu pastinya." terang Hania.


"Tadi pagi Tiara udah murung aja. Setiap hari ini tiba, dia selalu ngga semangat." wajah Hania sendu. Hati Arga semakin perih.


"Aku cuma kenal baik sama Mas Arga aja." ucap Hania lirih.


Arga tersenyum ketika Hania mengakui hanya dekat dengannya saja. Hatinya berbunga-bunga. Dan seketika merasa sangat dibutuhkan oleh wanita itu, dia merasa bangga.


"Dulu, kalau Galih sempat, aku selalu minta tolong dia." Arga menggelengkan kepalanya, meski sekarang itu sudah berlalu tapi rasanya dia tak rela Hania meminta pertolongan pada pria lain.


"Mulai sekarang mintalah tolong hanya padaku, Han. Aku ngga suka kamu mengandalkan orang lain sementara ada aku yang akan selalu membantumu." ucap Arga menegaskan keberadaannya. Tangannya menggenggam tangan Hania.


Mata Arga menatap lekat mata kelinci wanita cantik itu. Dia benar-benar tulus membantu Hania terlepas dari rasa cintanya pada wanita cantik itu. Sementara itu, Hania menatap balik mata Arga. Meyakinkan dirinya bahwa pria tampan di hadapannya itu tulus. Matanya sampai berkaca-kaca merasakan betapa dirinya sangat beruntung memiliki teman sebaik Arga.


"Kamu mau kan?" tanya Arga meyakinkan Hania. 


Wanita itu menganggukkan kepalanya. Entah yang keberapa kalinya ketika Arga memintanya untuk percaya padanya. Hania mempercayainya, membuatnya merasa aman dan dilindungi.


Tepat jam 1 siang, mobil mewah Arga terparkir rapi di parkiran sekolah Tiara. Arga dan Hania berjalan bersisian memasuki halaman yang luasnya sampai setengahnya lapangan sepak bola. Arga mengedarkan tatapannya ke penjuru sekolah Tiara. Pria dewasa itu langsung dapat mengenali gadis kecil yang membuatnya jatuh sayang itu.


Tiara sedang duduk di bangku panjang di taman dekat ruang guru seorang diri. Gadis kecil berlesung pipi itu sedang fokus menatapi teman-temannya yang sudah didampingi kedua orangtuanya. Wajahnya murung. Dia tidak bisa seperti teman-temannya. Dulu, Galih lah yang akan mendampinginya. Tapi kini, dia tidak berani berharap. Tadi pagi dirinya sempat merajuk pada ibunya. Memintanya menghubungi Arga agar mau mendampinginya. Tapi mengingat Arga sangat sibuk, dia jadi ragu.


Arga mengamati dari kejauhan. Pria itu dapat melihat kemana arah tatapan mata Tiara. Membuat hatinya berdenyut nyeri. Ingin rasanya segera memeluk gadis kecilnya. Pria karismatik itu mengajak Hania yang masih celingukan mencari keberadaan putrinya untuk mendekat.


"Sayang, Tiara?" gadis kecil yang disapa Tiara langsung menoleh begitu mendengar suara yang sangat dihafalnya.


Gadis kecil itu bukannya langsung menghampiri dan memeluk Hania tapi pria dewasa yang datang bersama ibunya. Arga.

__ADS_1


Kehadiran Arga di sekolah Tiara sontak menarik perhatian. Tubuhnya yang gagah dan wajahnya yang tampan sungguh menghipnotis. Tatapan kagum dan mendamba sangat kentara di wajah-wajah para wanita bergelar ibu di sekolah Tiara, membuat Arga ditatap sinis oleh para suami.


Kasak kusuk mulai terdengar menelusup ke pendengaran Arga. Sangat menyakitinya. Apalagi Hania. Pria itu menoleh pada Hania yang sedang menatapnya dengan bibir yang tersenyum manis, tapi pria itu tahu Hania sedang menahan tangis. Dia berharap Tiara tidak mendengarnya apalagi memahaminya.


"Siapa pria itu? Pacar barunya mama Tiara kah? Haduh, mentang-mentang cantik ya, gonta-ganti pasangan. Kasihan kan yang lakinya. Yang sebelumnya juga ganteng, eh sekarang ganti lagi. Yang diincer yang ganteng-ganteng, maklum janda jablay." kata-kata negatif mendengung bagai lebah yang mengganggu. Dasar tak punya ahklak!


Meskipun selentingan miring seperti itu sering didengarnya tapi tetap saja rasanya sakit sekali. Apalagi yang membicarakannya sesama orangtua murid. Di hadapannya bermulut manis tapi menusuk di belakangnya. Ingin rasanya menangis tapi dia tidak mungkin menangis di sana. Dia harus tegar dan kuat menahan perasaan sedihnya demi Tiara.


Genggaman erat dan hangat dirasakannya dapat memberikan ketenangan dan tambahan kekuatan dari Arga. Hania yakin pria karismatik itu juga mendengar kasak kusuk di antara para wali murid yang menggosipinya. Tapi pria itu diam saja. Berusaha untuk tidak terpengaruh dengan ujaran-ujaran negatif di sekelilingnya, Hania menyunggingkan senyum manisnya menutupi lukanya.


Hania dan Arga mendampingi Tiara memasuki aula yang disiapkan untuk acara bulanan bertema 'Ayah' itu.


Di acara itu, setiap murid akan mempersembahkan karya untuk para 'Ayah', atau memamerkan hasta karya yang dibuat bersama ayah mereka, atau menampilkan karya bersama ayah. Teman-teman Tiara kreatif-kreatif. Mereka bergiliran menampilkan persembahan menarik mereka. Sendiri atau bersama ayah mereka. Hingga tibalah giliran Tiara. Gadis kecil itu jelas tidak punya persiapan untuk mempersembahkan sesuatu untuk seorang ayah. Jika bersama Galih, Tiara akan membuat hasta karya. Tapi kini, dirinya bahkan tidak menyangka Arga akan ikut hadir di acara itu. Meski demikian, putri Hania itu tetap bersemangat.


Arga mengajak Hania duduk berdampingan di barisan terdepan. Arga ingin menunjukkan pada Tiara bahwa dirinya akan selalu ada untuk gadis kecil itu. Pria dewasa itu fokus menatap Tiara yang sudah berdiri di panggung.


"Hai semua. Aku Tiara. Hari ini, aku mau bercerita saja. Karena sebenarnya aku ngga punya persiapan." sapa Tiara memulai penampilannya.


"Hari ini, aku ngga semangat pergi ke sekolah karena papaku ngga bisa hadir nemenin aku. Aku iri ingin seperti teman-teman yang datang sama mama dan papanya." Tiara mulai bercerita tentang moodnya yang buruk sejak pagi.


Suasana aula yang tadinya berdengung karena ada saja wali murid yang bergosip mendadak sunyi. Semua mata menatap Tiara.


Hania yang mendengar ucapan putrinya, matanya sudah berkaca-kaca. Dia ingat bagaimana tadi pagi Tiara merajuk tidak mau berangkat ke sekolah dan bagaimana usahanya merayu putrinya itu. Hatinya berdenyut nyeri melihat putrinya harus menghindar dari kegiatan yang seharusnya menyenangkan. Tapi, ketidakberdayaannya menghadirkan ayah kandung Tiara, membuat putrinya itu jadi kehilangan semangat.


Dan dengan keberanian yang dikumpulkan sejak semalam, Hania menghubungi Arga. Memintanya menemaninya ke sekolah Tiara. Beruntung pria baik hati itu bersedia meluangkan waktunya. Wanita itu sempat meneteskan air mata saking terharunya tadi.


"Papaku ngga bisa hadir. Tapi mamaku selalu menyemangatiku. Aku merasa bersalah karena tadi bersikap ngga baik sama mama. Maaf Ma. Aku sayang mamaku. Jadi aku ngga maksa mamaku buat manggil papaku." gadis kecil itu mengusap air mata yang meleleh di pipi cubby nya.


"Meskipun papaku ngga bisa hadir, aku masih punya sosok yang menggantikan papaku. Oom Arga! Dia udah seperti papaku." ucap Tiara seraya menatap ke arah Arga.


Kontan saja semua mata penonton yang hadir ikut menoleh ke arah Arga. Tapi, baik Arga maupun Hania tetap fokus menatap Tiara. Senyum pria dewasa itu terbit bagai bunga matahari. Lebar.


"Aku baru mengenal Oom Arga tapi dia baik dan sayang sama aku dan mamaku. Oom Arga selalu nemenin aku main, jalan-jalan, nonton, makan es krim, dan masih banyak deh, aku lupa." kontan seisi ruangan aula itu riuh dengan kekehan penonton.


"Emm... Oom Arga ngga pernah bilang ngga sama aku. Dia selalu ada kalau aku lagi kangen. Tapi waktu aku ngga kangen, dia juga ada kok." lagi-lagi ruangan aula itu riuh dengan kekehan, membuat Tiara menjeda ceritanya.


"Seperti sekarang ini, Oom Arga datang ke sekolahku. Aku ngga nyangka karena Oom Arga itu sibuk banget. Kata mamaku, Oom kerjaannya banyak. Tapi tadi katanya, Oom Arga ada di sini, ninggalin kerjaannya untuk nemenin aku. Makasih ya Oom. Aku seneng banget." ucap Tiara sambil tersenyum diselingi isak tangisnya. Tangannya juga sibuk mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Membuat para penonton ikut terharu.


Mendengar setiap penuturan Tiara, hati Arga menghangat. Pria itu tidak menyangka dirinya sebegitu berartinya bagi gadis kecil berlesung pipi itu. Matanya sudah berkaca-kaca. Dia terharu. Sangat.


Pria tampan itu sudah tidak lagi mengharapkan ucapan selamat ulang tahun dan hadiah apapun lagi dari Hania. Penampilan Tiara yang menuturkan sosoknya di mata gadis kecil itu sudah dianggapnya sebagai hadiah yang tak terkira. Baginya, Tiara sudah menerima kehadirannya sebagai sosok pengganti ayahnya sudah membuatnya sangat bahagia. 


"Itu tadi ceritaku hari ini. Terimakasih sudah mendengarkan." ucap Tiara menyudahi ceritanya.


Arga langsung bangkit dari duduknya berjalan cepat menuju depan panggung. Pria dewasa itu mengulurkan kedua tangannya pada Tiara dan langsung menggendong putri Hania itu ketika mendekatinya. Memeluknya dengan erat. Entah apa yang ada dalam benaknya. Pria tampan itu sangat ingin memeluk gadis kecil yang sudah disayanginya itu. Saking bahagianya dadanya serasa akan meledak. Tanpa disadarinya air matanya sudah mengalir di sudut matanya.


Hania hanya memperhatikan dari tempat duduknya. Tangannya sesekali mengusap air mata yang masih menetes di pipinya. Dia sangat terharu. Penuturan Tiara membuatnya mengingat kembali awal mula pertemuannya dengan Arga. Pria itu memaksa berteman dengannya, menawarkan bantuan, bersikap baik padanya, menenangkannya, mempedulikannya, meminta Hania percaya padanya. Arga begitu tulus. Semua sikapnya membuat Hania merasa diperhatikan, disayangi, dan dimiliki. Sungguh kehadiran pria karismatik itu mewarnai hidupnya. Segamblang itu penilaian Tiara terhadap Arga, menyadarkannya betapa Arga berarti untuknya dan Tiara.


Binar bahagia tidak hilang dari wajah tampan itu. Sambil menggendong Tiara dan menggandeng Hania. Arga mengajak kedua wanita beda usia itu meninggalkan sekolah Tiara meskipun acara belum sepenuhnya usai. Pria itu masih kesal dengan penilaian buruk tentang Hania. Dia tidak ingin suasana hatinya terganggu.

__ADS_1


Hari sudah larut sore ketika mobil Arga tiba di rumah Hania. Pria itu menggendong Tiara yang tertidur dan Hania membukakan pintu.


Arga keluar dari kamar Tiara setelah menidurkan gadis kecil itu di ranjang hello kitty nya. Sementara Hania sudah melenggang ke dapur.


"Mas makan malam di sini aja ya?" jelas saja tawaran itu tidak akan ditolaknya. Pria tampan itu mengangguk sambil menerima uluran gelas berisi air mineral dingin lalu meminumnya hingga tinggal separuh.


"Boleh aku mandi di sini? Badanku rasanya lengket semua." Arga merasa risih dengan tubuhnya. Sejak siang beraktifitas di luar ruangan membuatnya berkeringat lebih banyak.


"Ah. Iya. Pasti ngga nyaman ya. Mas mandi dulu aja deh. Biar aku siapin makannya." ucap Hania.


"Nanti aku bantu." Arga berlalu meninggalkan Hania, mengambil pakaian yang selalu disiapkannya di mobilnya dan mandi.


Tak berselang lama Arga sudah tampil lebih segar dan wangi. Pria itu menghampiri Hania yang masih sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka.


1 jam berlalu. Seluruh hidangan sudah siap. Terdengar sayup-sayup adzan maghrib berkumandang.


"Kamu mandi dulu aja, ini biar aku yang terusin." perintah Arga.


"Tapi, nanti Mas kotor lagi." tolak Hania.


Hania enggan membiarkan Arga meneruskan menata makanan di meja makan dan membereskan sisanya. Pria kaya itu pasti tidak pernah melakukan pekerjaan itu. Dia terbiasa dilayani.


"Udah. Buruan mandi. Abis itu kita jama'ah dulu." Arga memaksa dan mengajaknya beribadah bersama membuat Hania menurut.


Setelah beribadah bersama. Mereka memulai makan malam bersama. Tiara juga sudah duduk manis dan cantik setelah tadi dibangunkan Hania dan mandi. Bahkan gadis kecil foto kopian ibunya itu ikut beribadah bersama.


Makan malam berlangsung penuh syukur bagi Hania. Dia bahagia. Arga membawa keceriaan di wajah Tiara. Wanita cantik itu memperhatikan keakraban putrinya itu dengan pria tampan yang diam-diam mengisi hatinya tapi mati-matian ditepisnya.


Lalu tiba-tiba.


Klek! Lampu di rumah Hania mendadak padam.


"Oom? Aku takut. Gelap banget" Tiara langsung menubruk tubuh Arga yang duduk di hadapannya di sofa ruang tengah.


"Tenang ya, ada Oom di sini." ucapnya menenangkan Tiara.


"Mama mana ya, Sayang?" gumam Arga. Dia mencemaskan Hania karena tak kunjung muncul.


Lalu tiba-tiba seberkas cahaya datang dari arah dapur. Kemudian muncul sosok wanita cantik yang dicemaskan Arga sambil membawa nampan berisi kue dengan hiasan lilin di atasnya.


Wanita cantik itu tersenyum semanis madu. Arga semakin terpesona. Bukan hanya pada cantiknya wanita pujaannya itu tapi juga dengan kejutan dramatisnya.


"Wah... Lilinnya banyak!" seru Tiara yang sudah tidak takut lagi karena ruangan itu sudah sedikit terang.


"Make a wish, Mas." pinta Hania, Arga menurut. Lalu meniup lilin-lilin itu. Seketika keadaan gelap lagi.


"Mama!" jerit Tiara.


********

__ADS_1


Thanks for reading!


Mumpung senin, vote yang banyak yaa...


__ADS_2