Yang Terakhir

Yang Terakhir
65. Ingatan Galih


__ADS_3

Hania menatap kepergian Arga hingga mobil mewahnya hilang di ujung jalan, padahal pria tampan itu sudah melarangnya keluar. Wanita cantik itu bersedekap merasakan hembusan angin yang menerpa kulit putih mulusnya. Rambut panjang yang ikatannya sudah tak rapi lagi bergoyang-goyang searah hembusan angin.


Hah. Hania mendesah. Dirinya kesal karena tidak bisa bersikap tegas pada Arga. Seperti pada pria-pria lain yang ingin mendekatinya. Pada Arga, dirinya seperti sangat membuka diri menerima kehadirannya dan bahkan menikmati sentuhan-sentuhan lembut yang menimbulkan gairah dari pria seksi itu. Pria tampan itu membuatnya tidak berdaya. Dan kini membuatnya susah. Dia menyukai pria tampan itu sekaligus takut mengetahui kenyataan jika ternyata pria itu tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.


Wanita cantik itu tidak tahu seperti apa perasaan Arga padanya meskipun pria tampan itu sering bersikap mesra. Dia takut pria itu bersikap mesra karena terbawa suasana. Bagaimanapun, Arga seorang duda. Pasti pernah merasakan surga dunia. Dan sudah lama tidak menikmatinya. Seperti dirinya.


Hania takut pria itu memang hanya bersikap baik padanya dan dirinya salah paham dengan kebaikan pria tampan itu. Arga memang baik. Tidak hanya padanya. Meski kadang sikapnya berubah dingin ketika berhadapan dengan wanita yang menggodanya. Dan sepertinya wanita bermata kelinci itu salah paham.


"Ma?", suara khas anak-anak membuat Hania menoleh, Tiara sedang berdiri didepan pintu sambil memeluk boneka hello kitty nya.


"Sayang, kok kamu bangun sih?", tanya Hania seraya mendekat.


"Tiara mimpi buruk", keluh gadis kecil itu.


"Hmm... Kamu ngga berdoa ya tadi? Ayo mama temani", ucap Hania sambil mengelus rambut putrinya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di kamar, Tiara meneguk air mineral yang sudah tersedia diatas meja belajarnya. Lalu merebahkan tubuh kecilnya diranjang hello kitty berwarna pink. Hania ikut berbaring disebelahnya. Mengajak gadis kecil itu berdoa dan ikut terlelap di ranjang putrinya.


Tit tit tit tit.


Jam digital yang duduk manis di atas nakas disamping ranjang Arga akan berbunyi di angka 06.00. Pria bertubuh atletis yang tertidur tengkurap itu mengangkat kepalanya dengan mata yang setengah terpicing. Digesernya tubuh berotot ideal itu agak ke tepi ranjang. Tangannya terulur dan mematikan suara yang mengganggu tidur nyenyaknya. Baru kali ini Arga langsung bisa tertidur begitu tubuhnya rebah di ranjang empuknya, setelah sekian lama selalu dibayangi wajah Hania yang mengganggu tidurnya. Tertidur kembali. Rasanya tubuhnya lelah sekali. Beberapa hari belakangan, tenaga dan pikirannya terforsir mengurusi perusahaannya.


Tok tok tok.


Terdengar suara pintu kamarnya diketuk tapi pria tampan itu mengabaikannya. Dia masih enggan bangun dari tidurnya.


Tok tok tok.


Ketukan dipintu terdengar lagi dan Arga masih mengabaikannya. Tak lama berselang terdengar pintunya terbuka. Namun, Arga tidak ingin tahu siapa yang masuk kekamarnya.


"Ya ampun... Arga! Gimana mau cepet dapat pasangan lagi, kalau jam segini aja masih ngorok!", suara nyaring yang sudah dihapal diluar kepala oleh Arga langsung memenuhi telinganya.


Arga memicingkan matanya karena silau ketika sang ibu menyingkap gorden kamar dan membuka pintu balkon. Pria tampan itu melirik jam digital di atas nakas. Jam 7 lebih. Hah. Dia kesiangan kali ini. Pastinya akan terlambat berangkat ke kantornya. Pantas saja ibunya mengomel pagi-pagi. Tapi, sejak kapan ibunya tiba? Pagi sekali wanita paruh baya yang sangat dihormatinya itu datang ke rumahnya.


"Ayo bangun, Ga. Kamu bisa terlambat ke kantor", perintah ibunya persis membangunkan anak sekolah agar tidak terlambat.

__ADS_1


Arga menggaruk kepalanya yang terasa gatal. Lalu menyibak selimut dan meninggalkan ibunya sendirian di kamarnya. Menuju kamar mandi.


"Jangan lama-lama, ibu tunggu di bawah. Kita sarapan bareng!", teriak ibunya didepan pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Wanita yang masih cantik diusia senjanya itu meninggalkan kamar Arga setelah merapikan ranjang putranya, melipat selimut dan meletakkan baju kotor Arga yang tergeletak diranjang ke dalam keranjang.


Setengah jam berlalu. Arga yang sudah rapi dengan setelan kerjanya yang simpel tapi berharga mahal, menuruni tangga sambil menerima panggilan dari Reza. Wajahnya tampak serius, nada bicaranya terdengar dingin dan tak senang. Sepertinya Reza menyampaikan kabar yang tidak baik. Sang ibu yang tengah duduk dimeja makan menunggunya pun sampai menoleh. Pria tampan itu berjalan kearah meja makan dengan ponsel menempel ditelinganya.


"Kenapa bisa begitu!?", suara Arga meninggi, pria berkarisma itu tampak geram.


"Pak Aris juga punya saham di perusahaan anda, dan kita belum mengambil alih saham itu", suara Reza tetap terdengar datar di telinga Arga.


"Kenapa bisa luput!? Harusnya itu sudah diurus setelah dia ketauan berbuat curang!", Arga berbicara seraya berkacak pinggang seolah sedang memarahi karyawan didepan matanya.


"Saya ngga mau tau gimana caranya, ambil alih saham itu!", perintah Arga lalu menutup panggilan itu tanpa menunggu jawaban Reza.


Sudah pasti pria berwajah sama dinginnya dengan atasannya itu hanya bisa patuh dan berusaha semaksimal mungkin mengerjakan perintah atasannya.


Arga menoleh pada sang ibu yang masih menatapnya. Pria itu agak menundukkan pandangannya karena tubuh tingginya itu masih berdiri tegak disamping kursi ibunya. Dia sampai tidak sempat mendudukkan tubuhnya.


"Oom Aris mengajukan banding", sahut Arga seraya mengisi piringnya dengan nasi goreng.


Sang ibu menatap Arga. Pikirannya sudah dipenuhi berbagai dugaan. Arga meraih tangan ibunya dan mencium punggung tangan yang sudah berkerut itu, menenangkannya.


"Ibu tenang aja. Ada aku yang akan membereskan masalah ini", ucap Arga lembut seraya menatap ibunya, meyakinkan sang ibu.


Sang ibu hanya bisa tersenyum memberi dukungan pada Arga. Wanita paruh baya itu mempercayakan semua urusan keluarga termasuk perusahaan pada putra semata wayangnya itu.


Jika Arga mengawali hari dengan emosi yang meninggi, berbeda dengan Hania. Pagi-pagi sekali Galih datang ke rumahnya bahkan pria itu sarapan disana, dan bersedia mengantar Tiara ke sekolahnya. Semalam, wanita cantik itu tidak bisa berbincang semestinya dengan pria gagah yang jadi sahabatnya itu. Ada Arga yang selalu memonopolinya. Membuatnya bingung dan salah paham.


Galih menemui Hania di restorannya setelah mengantar Tiara. Suasana restoran masih sangat lengang. Restoran belum mulai beroperasi tapi kesibukan diarea dapur sudah tinggi. Hania dan stafnya sibuk menyiapkan bahan pelengkap dan mengolahnya. Sebagian karyawan sibuk membersihkan dan menata ruangan. Sementara Galih setia menunggu di lantai dua. Duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Pagi ini pria itu tidak ada kegiatan. Tugasnya sudah selesai kemarin dan akan kembali ke Bandung sorenya. Jadi dia ingin menghabiskan hari yang singkat itu dengan sahabat sangat dirindukannya.


Jam 9. Hania masuk ke ruangan yang menjadi kantornya, akan menemui Galih. Tangannya membawa nampan berisi secangkir kopi hitam dan secangkir kopi krim.


"Sorry ya, lama nunggunya", suara Hania yang lembut mengalihkan tatapan Galih dari ponselnya, pria itu tersenyum menyambut Hania seraya membenarkan posisi duduknya.

__ADS_1


"Aku yang mengganggu disini, harusnya aku yang minta maaf", ucap Galih lalu terkekeh.


Galih meraih cangkir kopi dihadapannya lalu menyesapnya perlahan. Kopi seduhan Hania yang dirindukannya. Di Bandung, dia belum menemukan rasa kopi seperti buatan Hania.


"Aku minta maaf semalam ngga bisa nemenin kamu ngobrol dan suasananya ngga nyaman buat kamu", Hania menatap Galih, ada rasa sesal dimata indah itu.


Galih hanya menanggapinya dengan senyum manisnya. Jujur pria itu juga kesal dengan Arga yang menghalang-halanginya berbincang dengan sahabat cantiknya. Dia tidak suka dengan sikap pria yang dianggapnya berwibawa sebelumnya. Dia cemburu. Arga terlihat tidak ingin berbagi perhatian Hania. Pria berkarisma itu tampak kekanak-kanakan semalam.


"Sudah lama mengenal Arga?", rasa penasaran Galih mengalahkan rasa cemburunya.


"Humm... Beberapa minggu sebelum kamu pindah ke Bandung", terang Hania.


"Cukup lama ya? Jadi kamu ngga kesepian. Ada yang gantiin aku nemenin kamu disini", hati Galih berdenyut nyeri ketika mengucapkan kalimat terakhir.


"Kamu tetep sahabatku, ngga tergantikan. Mas Arga, dia... orang baru yang bisa kuterima kehadirannya, sepertimu", Hania masih bingung menjelaskan siapa Arga baginya.


"Dia menyukaimu", pungkas Galih to the point seraya menatap Hania.


Mata Hania sedikit terbelalak mendengar kata-kata Galih barusan. Benarkah? Atau itu hanya dugaan Galih saja? Wanita cantik itu diam saja tak menanggapi perkataan Galih. Dia tidak ingin memikirkannya. Takut terbuai  dan GeEr.


"Aku ngga tau", ucap Hania ingin mengakhiri obrolan mengenai Arga.


Galih masih menatap sahabatnya itu. Pria gagah itu tahu Hania juga menyukai Arga tapi wanita cantik itu menampiknya. Galih tahu sahabatnya itu masih trauma dengan kehidupan percintaannya yang lalu. Menyakitkan memang, mengetahui orang yang dicintai ternyata mencintai wanita lain dan memilih pergi dengan wanita itu. Dirinya saja ikut merasa sakit apalagi wanita berhati lembut itu.


Suatu sore beberapa tahun yang lalu, Hania datang pada Galih, memamerkan pria tampan dan berkelas padanya. Ryan. Pria berusia 3 tahun lebih tua darinya. Ryan tampak begitu jatuh cinta pada Hania. Menjalin hubungan selama 4 tahun, Hania dengan yakin menjawab "ya" atas lamaran kekasihnya itu. Tapi diusia pernikahan mereka yang akan menginjak angka 3, Ryan menghianati Hania. Dirinya adalah saksi hidup betapa hancurnya wanita cantik itu.


5 tahun berlalu, Hania tampak santai dan bahagia dengan kesendiriannya sambil merawat dan membesarkan putri semata wayangnya. Rasa sedihnya dikurungnya didasar hatinya. Wanita berhati lembut itu selalu menampakkan wajah bahagia dihadapan sang putri.


Galihlah pria yang selalu berada di samping Hania. Satu-satunya yang dekat dengan wanita cantik itu. Tapi statusnya hanya sahabat.


Lalu Arga yang entah sejak kapan berhasil menjinakkan hati Hania, masuk ketengah-tengah dirinya dan wanita cantik itu. Membuatnya merasa tersaingi dan cemburu. Hah. Sepertinya pria berwajah teduh itu tidak rela berbagi Hania. Namun, dia harus merelakan Hania bertemu dan menjalin hubungan dengan pria yang benar-benar mencintainya dan dicintai sahabatnya itu. Apakah pria itu Arga, atau yang lainnya. Yang terpenting pria itu mencintai sahabatnya itu.


Meski tak rela, Galih harus tahu diri. Sedari dulu Hania menganggapnya sahabat. Dirinya yang memang menyukai Hania sejak awal bertemu, harus berbesar hati kala hanya menjadi lahan curhat sahabatnya itu. Namun, sepertinya kali ini, wanita cantik itu belum ingin bercerita apapun tentang Arga, pria yang dicemburuinya. Dirinya akan selalu menerima dan mendukung apapun keputusan Hania. Dia menyayangi wanita itu. Apapun yang membuat wanita itu bahagia, pasti akan didukungnya.


*********

__ADS_1


Thanks for reading!


__ADS_2