
Rosa tercengang begitu memasuki unit apartemen yang cukup berkelas. Bukannya norak, wanita seksi itu hanya tidak menyangka jika Galih semampu itu untuk memiliki tempat tinggal yang cukup mewah itu.
Dirinya memang tidak tahu menahu tentang pekerjaan Galih. Yang dia tahu Galih pastilah orang berduit, melihat dari kamar hotel yang mereka tempati selama mereka menginap di Singapura dan juga barang-barang bermerk yang melekat di tubuhnya. Dan sekarang dirinya semakin yakin jika Galih memang orang kaya.
"Lu tinggal di sini?" tanya Rosa berbasa basi.
"Iya. Lu juga bisa tinggal di sini." sahut Galih.
Galih kini menempati apartemen yang sudah disiapkan Arga. Apartemen milik Galih sudah disewakannya ketika dirinya dipindahkan ke Bandung dulu. Pria berwajah manis itu mengajak Rosa tinggal di sana. Wanita itu mengatakan tidak punya tempat tinggal di tanah air sejak kepindahannya ke negara singa putih.
Tadi, seorang sekuriti memberikan kartu akses masuk ke unit apartemen itu sesuai perintah Arga. Dan dari foto yang dikirimkan padanya, sekuriti itu mengenali Galih.
"Lu di kamar yang itu, gue di sana." Galih menunjuk kamar yang akan ditempatinya dan juga kamar Rosa.
"Umm... Kita ngga sekamar?" Rosa sedikit protes ketika Galih memintanya menempati kamar yang terpisah.
Iya. Rosa agak keberatan tidur terpisah dengan Galih. Pasalnya pria itu sudah membuatnya nyaman dan terpuaskan selama 4 malam terakhirnya di Singapura. Dia pikir, akan merasakan malam-malam seperti itu lagi selama ikut Galih pulang ke Indonesia.
"Ngga. Gue akan tidur di kamar yang itu." tekan Galih lagi seraya menunjuk kamar yang dimaksud.
"Tapi...." ucapan Rosa menggantung.
"Lebih baik sekarang kita istirahat dulu." potong Galih.
Beberapa hari terakhirnya di negara singa putih itu, energi Galih terforsir. Selain harus bekerja dia juga harus menyelidiki Rosa dan latar belakang wanita itu. Belum lagi dia harus berjuang menahan hasratnya ketika berduaan dengan wanita seksi itu. Dia normal dan tidak kuper tentang pergaulan bebas. Disuguhi wajah cantik dan tubuh seksi menggoda sungguh bukan hal yang mudah untuk ditolak. Meski begitu, dirinya tidak pernah berakhir di ranjang yang sama dengan Rosa. Benar-benar menyita waktu dan pikirannya.
Pria bertubuh atletis itu lalu meninggalkan Rosa sendiri di ruang tengah. Galih sengaja memberinya batasan. Lebih baik menghindarinya saat ini. Apalagi dia tidak dapat menjamin akan bisa bertahan jika sering-sering disodori sajian lengkap nan menggiurkan begitu. Pria itu langsung memasuki kamar yang dipilihnya. Senyumnya mengembang ketika melihat jendela kamar yang terhubung dengan balkon.
"Tau aja selera gue." gumamnya sambil berjalan menuju balkon.
Angin dingin langsung menyambutnya ketika pintu kaca penghubung itu terbuka. Letaknya yang berada di lantai 12, membuat angin berhembus sedikit kencang. Tapi itu tak masalah buat Galih. Apalagi, suasana di atas sana terasa lebih tenang karena suara deru mesin dan klakson kendaraan tidak sampai ke atas sana.
Dirinya merasa lebih tenang lagi karena tidak akan mendapat gangguan dari wanita yang kini bersamanya ketika ingin menikmati kesendirian. Balkon kamar yang satunya, kamar yang ditempati Rosa, tidak menghadap ke arah yang sama dengan kamar yang dipilihnya.
Tok! Tok! Tok!
Galih mengalihkan tatapannya ke arah pintu kamarnya yang diketuk. Itu pasti Rosa, tapi Galih memilih mengabaikan wanita itu. Alih-alih membukakan pintu, pria ganteng itu malah masuk ke kamar mandi. Membiarkan Rosa menunggu di depan pintu kamarnya.
Rasa geramnya pada perbuatan Rosa di masa lalu membuatnya enggan menemui wanita itu. Pengakuan wanita cantik dan seksi itu seolah langsung membalik penilaiannya pada Rosa. Siapa sangka wanita secantik dan seanggun Rosa bisa bertindak kejam begitu.
Sementara itu, di kediamannya, Pak Pratama dan Bu Irene sedang menikmati makan malam bersama Syana. Lebih tepatnya mencoba menikmati. Hanya bertiga saja. Tanpa kedua putranya. Dalam keadaan normal saja, baik Rendy maupun Iden jarang sekali bisa makan malam bersama orangtuanya apalagi saat ini. Kehadiran Syana membuat suasana di rumah keluarga Pratama semakin canggung.
"Pak, Bu. Ada yang mau saya bicarakan. Apa Bapak dan Ibu bisa meluangkan waktu?" ucap Syana takut-takut membuka percakapan.
Meski dirinya datang dengan membawa bukti bahwa dia adalah putri keluarga Pratama, tapi Syana tidak berani menyebut kedua paruh baya di depannya itu dengan sebutan papa dan mama, seperti Rendy dan Iden menyebutnya. Sikap kedua paruh baya dan kedua pria tampan itu juga seolah tidak menerimanya, menciptakan jarak yang membentang luas diantara mereka.
__ADS_1
"Selesaikan dulu makanmu. Nanti kita bicara." ucap Bu Irene datar.
"Aku duluan, Ma." Pak Pratama menyudahi makan malamnya.
"Setelah selesai, datang ke ruang kerja saya!" perintah Pak Pratama pada Syana dengan nada bicara yang datar kemudian berlalu.
"Baik, Pak." sahut Syana seraya menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya Syana tidak tahan lagi. Sejak kedatangannya, terhitung sudah hampir 2 minggu, kedua paruh baya itu bersikap datar-datar saja. Bahkan sejak itu pula, kedua pria yang katanya adalah kakak-kakaknya itu tidak menampakkan batang hidungnya. Lama-lama dia bingung. Apa benar dirinya putri dari keluarga itu yang telah lama hilang? Ah. Dia sendiri tidak ingat jika pernah berpisah dari keluarganya. Dia tidak ingat apapun.
Dirinya pun pernah bertanya pada Handoko, pria paruh baya yang membawanya masuk ke keluarga itu. Tapi Handoko hanya mengabaikannya saja.
"Jangan bodoh! Mereka itu keluargamu! Sudah seharusnya kamu ada di sana! Kamu punya buktinya!" tegas Handoko saat dirinya ingin pergi dari keluarga Pratama.
Syana menghembuskan napasnya dengan kasar sesaat sebelum memutar gagang pintu ruang kerja Pak Pratama. Dia sendiri. Bu Irene sudah menyusul suaminya lebih dulu.
"Malam Pak, Bu." sapa Syana yang hanya dibalas anggukan oleh Pak Pratama.
Sedikit ragu, Syana mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal di hadapan pasangan suami istri yang katanya orangtua kandungnya.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?" akhirnya Pak Pratama membuka suaranya setelah tiba-tiba suasana menjadi hening.
"Sa-saya.... Saya bingung. Apakah sikap saya menyinggung bapak dan ibu? Saya pikir saya benar-benar menemukan keluarga saya. Seperti yang Pak Handoko bilang jika saya adalah putri kalian yang telah lama hilang. Tapi.... Kenapa sepertinya saya tidak diterima di keluarga ini?" ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca menahan sesak.
Suasana kembali hening. Ibu Irene malah menahan isak tangisnya.
"Bagaimana kamu bertemu Handoko, Syana?" akhirnya dengan suara bergetar, Bu Irene menanyakan pertanyaan yang selama ini ingin diutarakannya.
Syana menerawang, mengingat kembali kepingan kejadian yang mempertemukannya dengan Handoko. Sebenarnya dia tidak ingat kejadian sebelum di rumah sakit.
"Waktu itu, saya terbangun di sebuah rumah sakit. Wajah dan kepala saya diperban. Saya panik waktu itu tapi kemudian Pak Handoko datang bersama seorang dokter dan menjelaskan jika saya habis mengalami kecelakaan yang cukup parah. Hingga saya mengalami kerusakan pada hidung, pipi, dagu, dan beberapa bagian anggota tubuh, jadi dokter harus melakukan serangkaian operasi untuk memulihkannya." Syana memulai ceritanya dari sejak dia terbangun di rumah sakit.
"2 bulan kemudian, Pak Handoko mempertemukan saya dengan kalian. Katanya dna saya sama dengan dna kalian." lanjut Syana.
"Apa kamu punya foto-foto masa kecilmu? Boleh saya melihatnya?" sepertinya level penasaran Bu Irene mulai meningkat.
Wanita cantik yang mirip Hania kecuali mata kelincinya itu terdiam, mencoba mengingat kembali apakah dirinya memiliki foto-foto itu?
"Ssh! Akh!" desisnya tertahan sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.
Pasangan paruh baya yang masih menunggu penjelasan Syana saling menatap seraya mengernyitkan dahinya.
"Kamu ngga apa-apa? Sebaiknya kamu istirahat dulu. Kita bicara lagi besok." putus Pak Pratama.
Syana hanya bisa pasrah ketika Pak Pratama memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan mereka esok hari. Syana bergegas meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya. Dia harus segera meminum obat anti nyerinya jika tidak ingin berakhir tak sadarkan diri.
__ADS_1
Hari-hari berlalu dengan sangat lambat bagi Rosa. Sudah 3 hari wanita itu hanya berdiam diri di dalam apartemen Galih. Pria itu tidak mengizinkan Rosa keluar. Dengan kata lain Rosa memang sengaja disekap di apartemen mewah itu. Sudah 3 hari pula Galih selalu meninggalkannya saat malam menjelang. Pria itu hanya pulang saat sore hari, membersihkan diri, lalu pergi lagi.
"Hah! Tahu gini 'kan gue ngga ngintilin dia. Sibuk banget gitu." keluhnya seraya memeluk bantal sofa di ruang tengah.
Sore itu, Rosa sedang menanti kepulangan Galih. Wanita itu sudah berdandan secantik dan semenarik mungkin untuk pria ganteng itu. Jujur, dia ingin merasakan panasnya permainan Galih lagi. Membayangkan betapa perkasanya pria itu saja sudah membuat darahnya berdesir dan pipinya terasa panas.
"Aaah! Kalau gini terus gue bisa gila...." pekiknya tertahan seraya membenamkan wajahnya ke bantal sofa yang masih dipeluknya.
Wajah Rosa berubah sendu. Dia teringat Raka. Pria tampan yang selalu bisa meluangkan waktu untuknya. Selalu membantunya. Dan mencintainya. Hatinya berdenyut nyeri. Ada sepenggal penyesalan di sana. Ada rasa tidak rela ketika pria tampan itu berubah haluan mencintai Hania. Hal yang sama terjadi lagi. Pria yang peduli padanya mencintai Hania. Tanpa disadarinya memunculkan rasa tak sukanya pada Hania.
Dia benar-benar tidak tahu diri. Tidak menyadari semua perubahan sikap itu bermuara darinya. Arga yang dihianatinya dan Raka yang diabaikannya.
Tit! Klek!
Rosa mengalihkan tatapannya ke arah ruang tamu. Dengan senyum mengembang Rosa bangkit hendak menyambut Galih. Dia sudah bertekad akan menyenangkan Galih malam ini.
"Hai, sayang. Lu baru pulang? Pasti capek ya?" sambut Rosa dengan suara manja dan dibuat seksi.
Galih sesaat sempat mematung. Pemandangan di hadapannya sungguh indah dan tentu saja menarik.
"Elu...." ucapannya terpotong.
"Ayo buruan bersih-bersih. Gue udah coba masak. Kita makan malam bareng ya." ujar Rosa bersemangat.
"Tapi...." lagi-lagi Galih menggantung ucapannya.
"Pokoknya lu ngga boleh nolak." sambar Rosa yang kekeh ingin makan malam dengan Galih.
"Please!" imbuhnya terus merayu sambil mengedipkan matanya beberapa kali tanda memohon.
Galih hanya menganggukkan kepalanya samar. Tak apalah. Sekali ini saja. Pria itu berlalu dari ruang tengah diiringi senyuman Rosa yang tampak senang.
Galih sedang duduk di sofa di ruang tengah dengan layar tivi yang menyala. Setelah makan, Rosa mengatakan ingin membuatkannya hidangan pencuci mulut. Ingin menolak tapi wanita itu lagi-lagi memaksanya menunggu. Sambil menunggu, Galih menyibukkan dirinya dengan bermain game online pada ponselnya.
Namun, tiba-tiba ponselnya direbut dari genggamannya dan berganti dengan tubuh seksi nyaris b*gil. Iya. Nyaris. Karena tubuh itu hanya tertutupi pakaian minim bahan dan sangat transparan. Tidak ada bedanya dengan tel*nj*ng. Tubuh itu duduk di pangkuannya, menghadap ke arahnya. Kontan saja asetnya yang cukup besar itu terpampang tepat di depan hidungnya yang mancung. Rupanya hidangan penutup yang dimaksud Rosa adalah tubuhnya.
Galih mendadak merasakan sesak. Sesak di dada menahan debaran jantungnya yang serasa akan copot dari tempatnya. Sesak juga di bagian celananya yang mendadak terasa menyempit karena sesuatu di bawah sana sedang mengembang sempurna. Rosa sedang mencoba peruntungannya agar dapat menyelami malam panas yang membuatnya merasa ingin lagi.
Dengan sedikit sentuhan dari jari lentiknya, Rosa sudah sanggup membuat Galih melayang dan membalas setiap permainan yang di sodorkannya. Bahkan Galih sudah membopong tubuh Rosa yang sudah p*los ke dalam kamarnya.
Ting tong! Ting tong!
Keesokannya Rosa terbangun karena suara bel pintu yang mengganggu pendengarannya. Tidak ada Galih di sana. Dengan kesal dan terpaksa, wanita itu bangkit dan berjalan keluar kamar. Kesalnya berlipat-lipat.
Klek!
__ADS_1
"Selamat siang. Ibu kami tahan karena tuntutan atas anda." ucap seorang anggota polisi pria dengan menunjukkan surat perintah penangkapan, di belakangnya ada 2 polisi wanita.
*******