Yang Terakhir

Yang Terakhir
105. Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

Klek!


Pintu terbuka dari luar. Sosok Arga yang tinggi menjulang muncul dari baliknya. Wajahnya dingin menatap ke dalam ruangan tanpa ekspresi. Datar. Hingga langkahnya berhenti tepat di hadapan 2 orang yang berhasil di sandera anak buahnya. Kaki tangan Oom Aris.


Kakinya menendang salah satu kaki anak buah Oom Aris yang melotot menatapnya. Cukup keras mengenai tulang kering preman itu hingga pria bertampang sangar itu mengerang.


"Aku mengenalimu. Katakan! Apa alasannya!?" bentak Arga ketika melihat preman yang tadi kakinya ditendangnya.


Seorang anak buah Arga mendekat lalu membuka lakban yang menutupi mulut preman itu.


Cuih!


Bukannya menjawab pertanyaan Arga, preman itu malah membuang ludahnya ke sampingnya.


Bugh!


Sebuah tinju Arga bersarang di pipi kirinya sangat keras hingga mengakibatkan bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar. Preman itu kembali meludah tapi bukan untuk mengejek Arga melainkan membuang darah di mulutnya.


"Katakan! Atau aku akan menghancurkan apa saja yang penting bagimu!" ancam Arga dengan wajah yang mengeras. Arga menatap preman itu seakan-akan ingin mengulitinya hidup-hidu


"Tidak ada yang penting bagiku selain kesetiaanku. Anda cuma buang-buang waktu dan tidak akan mendapatkan informasi apapun dariku." sahut preman itu datar.


"Ohya?" senyum sinisnya muncul di sudut bibirnya.


"Reza!?" panggil Arga pada Reza.


Pria manis berkaca mata itu menganggukkan kepalanya lalu mendekat dan menyerahkan tablet pada atasannya itu.


Arga mengutak-atik tablet itu sejenak lalu memperlihatkannya pada preman tadi. Seketika matanya melotot demi melihat video yang diputar di tablet itu.


"Bagaimana? Mereka keluargamu 'kan? Apa mereka ngga penting?" tanya Arga tapi lebih terdengar seperti mengejek.


Melihat preman itu seperti tak terpengaruh, Arga tidak kehilangan akal. Dengan kemampuannya mengintimidasi, Arga terus menekan preman itu. Pria cerdas itu tidak asal menggertak. Dia sudah menempatkan anak buahnya di sekitar tempat itu. Menggunakan keluarga sebagai sandera memang bukan keputusan yang baik tapi dia tidak punya pilihan. Preman-preman itu orang yang setia. Dan tidak ada yang ditakutinya.


"Orang-orangku ada di sana. Aku tinggal perintah, mereka akan melakukan apapun perintahku." ancamnya lagi dengan nada datar.


"Lepaskan mereka. Mereka tidak ada hubungannya denganku." ucap preman itu datar.


"Benarkah?" Arga menyeringai.


"Apa kamu tahu? Sahabatku itu sudah menghianatiku. Padahal aku dan dia sudah seperti saudara. Bagaimana denganmu? Menurutmu, apa dia akan menolongmu dariku? Kamu itu hanya anak buahnya. Dia bisa dengan mudah meninggalkanmu. Menjadikanmu tamengnya. Kamu sendirian saat kamu sudah ditanganku. Dan temanmu ini? Nasibnya sama denganmu." Arga mulai mempengaruhi preman itu.


"Sialan!" geram preman itu.


Preman itu melirik ke arah temannya yang masih tak sadarkan diri. Sepanjang ingatannya, bosnya itu memang licik. Tampangnya saja yang terlihat tampan mempesona dan baik. Tapi jika menginginkan sesuatu dia bisa melakukan apa saja. Bahkan sahabat yang sudah dikenalnya sejak lama pun dihianati. Lalu apa kabar dirinya yang hanya seorang kacung? Hah!


Arga menatap preman itu datar. Pria tampan itu tahu siapa pria berwajah sangar itu. Dia salah satu bodyguard sahabatnya. Mengetahui kenyataan bahwa sahabatnya malah membantu sang paman membuatnya bersedih.


Dia ingat bagaimana wajah iba Reza saat menemuinya kemarin. Pria manis berkacamata itu sempat ragu ketika akan menyampaikan informasi yang baru didapatnya dari Jojo.


"Pak." Reza mendekat.


Reza terdiam sejenak dan menundukkan kepalanya. Atasannya itu pasti akan terkejut dan kecewa ketika mengetahui kabar yang akan disampaikannya.


"Ada apa, Za? Kenapa ragu? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Arga yang tak sabar karena dia harus berpacu dengan waktu.


"Ngng... Anu. Pak." Reza merasa lidahnya kelu.


"Sialan, Jojo! Kenapa jadi Gue sih yang harus nyampaiin berita ini!?" gerutu Reza dalam hatinya.

__ADS_1


Pria itu membenarkan letak kacamatanya yang tidak berubah posisinya. Jelas pria itu gugup, merasa tak enak hati dan bersimpati pada Arga.


"2 orang yang kita tangkap itu... mereka... Ngng... Anu..." Reza menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


"Kamu kenapa sih, Za? Kayak lagi minta dilamarin cewek aja kamu." seloroh Arga seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya dan menatap Reza.


Meski mencoba bergurau tapi ekspresi Arga tampak tegang. Pria itu menunggu apa yang akan disampaikan asistennya dengan berbagai dugaan memenuhi benaknya.


"Begini, Pak. 2 orang itu, salah satunya pasti anda pernah bertemu. Dia itu, orangnya salah satu sahabat anda." ucap Reza lirih.


"Apa?" Arga mengerutkan keningnya.


Arga memutari preman itu.


"Jadi, kamu mau aku bagaimana? Nyatanya kamu sendiri sekarang." Arga terus menekan preman itu.


"Hanya aku yang bisa menyelamatkanmu. Paling tidak, kamu ngga akan menghabiskan seumur hidupmu di penjara." tawar Arga.


"Yang di sana itu, meski kamu mengingkarinya, kamu ngga bisa membohongiku. Kamu mencintai mereka 'kan?" Arga menjeda ucapannya.


"Kalau demi kesetiaanmu yang ditinggalkan, rasanya sayang sekali pengorbananmu itu." tekan Arga lagi.


"Semakin lama kesabaranku semakin menipis. Aku juga tidak bisa terus menghindari polisi. Apalagi yang bisa kulakukan selain mengkambing-hitamkanmu?" pungkas Arga lalu berbalik hendak meninggalkan ruangan itu.


"Kamu tahu bagaimana aku. Membuat skenario agar aku dan perusahaanku terbebas dari kasus ini bukan hal yang sulit buatku." ancam Arga lagi lalu pria itu benar-benar pergi dari ruangan itu.


Pria tampan itu sudah putus asa saja. Sudah 2 hari berada di Surabaya tapi belum bisa membuktikan perusahaannya tidak terlibat. Anak buahnya bahkan sudah menghajar kedua preman tadi tapi rasanya susah sekali membeli kesetiaan mereka. Sial!


Tok tok tok!


Arga masih mengurut pelipisnya. Kepalanya terasa pening. Ketukan di pintu ruangannya diabaikan hingga sosok Reza masuk sambil menyeret seorang pria paruh baya, mengalihkan perhatiannya. Arga menegakkan duduknya yang semula bersandar di kursi kebesarannya.


Bruk!


"Dia mata dan telinga Pak Aris yang tersisa di sini." lapor Reza.


"Dia tahu semua rencana penyelundupan itu dan pihak yang melaporkan pengiriman kita." lanjut Reza lagi.


Sejam sebelumnya...


Reza sedang berjalan melewati ruangan-ruangan kosong yang telah ditinggalkan para karyawan. Hari memang sudah semakin sore. Suasana perusahaan itu terasa sepi dan lengang. Tidak ada tujuan, hanya menenangkan pikirannya yang penat.


"Gimana bisa Jarot sama Gembil ketangkap Arga?" ucapnya dengan ponsel menempel di telinganya.


"Tapi tenang saja, Pak, semua berjalan sesuai rencana. Perusahaan ini sedang di sorot. Sahamnya juga mulai turun. Selama kedua preman itu tutup mulut dijamin semua terkendali." lanjutnya.


Pria paruh baya itu terdiam sambil terus mendengarkan suara di seberang ponselnya.


"Sejauh ini sepertinya mereka belum mendapatkan bukti apapun. Kita masih aman, Pak." sahutnya lagi.


Reza masih berdiam diri di balik pintu ruangan yang terbuka sedikit. Mendengarkan dengan seksama percakapan pria paruh baya itu dengan seseorang yang di panggilnya 'pak' di seberang ponselnya. Bahkan pria manis itu merekam percakapan pria paruh baya itu.


"Baik, saya akan memberitahukan perkembangannya pada anda." pria itu memasukkan ponselnya ke saku celananya setelah hubungan ponselnya terputus.


Brak!


Reza merangsek masuk ke ruangan itu dan langsung mencekal kerah kemeja pria itu. Wajahnya seketika memucat ketika melihat orang kepercayaan Arga sedang menatapnya tajam penuh curiga.


"Jadi begini sikapmu pada orang yang memberimu makan? Atau sejak awal kakimu sudah berpijak di 2 tempat dan lidahmu bercabang?" ucap Reza penuh tekanan.

__ADS_1


Reza membenci penghianatan sama seperti Arga. Dia tidak akan mentolerirnya apapun alasannya.


"P-Pak Reza? Anda salah paham. Ini tidak ada kaitannya dengan perusahaan ini?" elak pria paruh baya itu.


"Kamu pikir aku tuli? Pendengaranku bahkan lebih sehat darimu pak tua!"  hardik Reza.


"Sebaiknya siapkan kata-kata rayuanmu untuk majikanmu! Oh, aku lupa kalau kamu punya majikan yang lain." sindir Reza lagi.


"Mungkin, tepatnya majikan yang dihianati." ucap Reza.


"Bela dirimu sebisamu. Aku ngga jamin Pak Arga akan melepasmu. Kamu tahu bagaimana dia 'kan? Bahkan Pak Aris saja dipenjarakannya, semua fasilitasnya ditarik, keluarganya diusir, dan dia sengsara di dalam sana!" bisik Reza di akhir kalimatnya.


Pria paruh baya itu menelan ludahnya dengan susah payah. Dia jadi teringat akan anak dan istrinya yang selama ini membanggakannya. Dia tahu bagaimana keadaan paman sang atasannya setelah penghianatannya terbongkar. Jelas dia tidak ingin mengalami hal serupa. Apalagi berimbas pada keluarganya.


Hah. Kenapa Reza bisa berada di lantai dimana ruangannya berada dan mendengar percakapannya barusan? Sedang apa dia? Apa mungkin sang asisten itu sudah mencurigainya? Tidak mungkin 'kan jika hanya berjalan-jalan saja. Dia memejamkan matanya. Mungkin menyesal sudah sangat terlambat kini.


Pria tua itu tersadar dari lamunannya ketika tarikan di kerah kemejanya terasa mencekik lehernya. Dengan gontai, dia mengikuti saja kemana Reza menariknya. Dia tahu Reza bisa bersikap kejam sama seperti Arga. Tubuhnya yang tinggi dan tegap, ditambah usianya yang masih muda, tentu tenaganya jauh lebih besar darinya. Membuatnya tak ingin melawan. Dia sudah ketahuan.


Reza memutar rekaman suara pria tua itu yang tadi sempat direkamnya. Jelas sekali pria itu bersekongkol dengan seseorang. Dan menyerahkan ponsel milik pria tua itu pada Arga.


Arga melihat nomor terakhir yang dihubungi pria tua itu, sesuai petunjuk Reza.


Deg.


Arga tahu nomor ponsel siapa yang dihubungi pria penghianat itu. Pria itu hapal semua nomor ponsel sahabatnya. Seketika dadanya terasa nyeri. Tangan mengepal dan wajahnya mengeras menahan kecewa dan amarah yang melebur menjadi satu.


"Ternyata masih ada yang belum belajar dari kasusnya pamanku." ucap Arga datar dengan wajah tanpa ekspresi.


Pria karismatik itu bangkit dari duduknya mendekati pria tua itu. Berdiri menjulang di depannya seraya menatapnya tajam.


Dug!


Kaki panjangnya menendang dada pria tua itu hingga terjengkang.


Uhuk! Uhuk!


Tendangan Arga cukup keras rupanya. Hingga pria tua itu terbatuk-batuk. Sebelah tangannya masih memegang dadanya yang tampak terasa nyeri, pria itu bergerak dengan lututnya mendekati Arga. Lalu memeluk kaki panjang itu.


"Ampun, Pak. Maafkan saya. Saya khilaf. Saya terpaksa." rengeknya.


Arga menepiskan tangan pria tua itu. Kakinya kembali menendang pria itu hingga terjengkang lagi.


Arga mencengkram kerah meneja pria itu dan menariknya hingga berdiri.


Bugh! Bugh! Bugh. Dug!


Dengan sisa-sisa kesabarannya, Arga melayangkan pukulan demi pukulan ke arah pria tua itu. Pipi kanan kiri, hidung, dagu, dada, perut, punggung, kaki. Rasanya tidak ada bagian yang terlewat dari pukulan pria atletis itu. Reza hanya menonton saja. Dirinya tahu atasannya itu tidak suka diganggu ketika sedang memberi pelajaran pada pengganggu.


"Bawa dia!" perintahnya dengan napas terengah-engah antara emosi dan kelelahan akibat menghajar pria tadi.


"Ampuni saya,. Pak. Saya khilaf. Kasihani saya, Pak." pria tua itu masih terus meraung memohon belas kasihan Arga.


Arga memilih mengabaikannya. Sambil berjalan ke arah sofa, Arga merapikan kemejanya yang berantakan lalu menyugar rambutnya.


"Bawakan saya kopi!" perintahnya pada Reza yang akan meninggalkan ruangan Arga sambil menyeret pria tua itu.


"Ah, Hania. Seandainya kamu di sini. Pasti sentuhanmu yang lembut itu akan menenangkanku." batin Arga sembari menerawang.


*******

__ADS_1


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... krisan juga boleh. Sebagai bentuk dukungan kalianvuntuk karyaku ini 🤗🤗🤗😘😘


__ADS_2