
"Ugh!" Arga melenguh menandakan dirinya siuman.
Pria itu membuka matanya perlahan. Rasa pusing langsung terasa, membuatnya meringis seraya memegang kepalanya dengan sebelah tangannya. Dia merasa tangannya terhalang dan rasa nyeri timbul di punggung tangannya. Tentu saja, tangan kanannya terpasang jarum infus. Arga menoleh ke sisi kirinya. Tampak kepala seorang wanita bertumpu di tepian ranjangnya. Pria itu lalu mengedarkan pandangannya ke arah penjuru ruangan itu.
"Rumah sakit?" batinnya.
Arga menoleh lagi ke arah tepian ranjangnya. Memastikan sosok yang tertidur di sana. Pria tampan itu memiringkan lagi kepalanya agar bisa melihat wajah wanita itu. Feelingnya mengatakan itu Hania.
"Dia di sini?" batinnya lagi. Seulas senyum terbit di bibir seksinya.
Diusapnya rambut wanita yang mirip Hania itu, membuat si empunya menggeliat. Terganggu dengan sentuhannya.
"Mas Arga udah bangun? Haus?" tanya wanita yang memang Hania itu.
Seraya membenarkan ikatan rambutnya, Hania berdiri mengambilkan air mineral untuk Arga. Pria itu tertidur sejak semalam. Kini, jarum jam tepat di angka 11 siang.
"Kamu sendirian?" tanya Arga lemah seraya berusaha bangkit dari posisi berbaringnya.
Arga menatap Hania yang terlihat tetap cantik meski baru bangun tidur dengan rambut yang sedikit berantakan. Terlihat seksi di matanya.
"Tadinya ada Ferry sama Mas Rizal." sahut Hania seraya menyodorkan gelas berisi air mineral pada Arga.
Hania membantu Arga duduk. Wania cantik itu sibuk menyusun bantal agar Arga nyaman bersandar di sana. Pria itu mencondongkan tubuhnya agak ke depan agar memudahkan Hania mengatur bantal-bantal itu membuat posisinya berdekatan dengan Hania. Dapat dirasakannya lengannya bersentuhan dengan dada Hania yang lembut, menimbulkan getaran yang membuat darahnya berdesir. Arga menelan salivanya. Mendadak rasa hausnya meningkat berkali lipat. Arga meminum airnya dengan tegukan besar hingga air dalam gelas tandas.
"Aku, aku ingin ke toilet." ucap Arga.
"Aku bantu. Mas masih pusing 'kan?" tawar Hania seraya menerima uluran gelas kosong dari tangan Arga.
Hania menunggu pria itu di depan pintu toilet. Tak berselang lama, Arga keluar. Kembali ke ranjangnya. Dituntun Hania. Pria itu merasa masih pusing.
"Kamu tau aku di sini? Kamu tidur di sini? Kamu ngga ke restoran? Gimana Tiara? Kalau kamu di sini, dia sama siapa?" Arga memberondong Hania dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
__ADS_1
Hania tersenyum dan tidak segera menjawab pertanyaan Arga. Pertanyaan pria tampan di depannya itu membuatnya geli. Kenapa sakit begini dia masih saja cerewet, sih? Dalam lubuk hatinya, wanita itu senang karena pria yang mulai disukainya itu tetap perhatian padanya dan putrinya kendati dirinya juga dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Hania baru akan menjawab pertanyaan Arga ketika pintu ruangan pria tampan itu dirawat terbuka, membuat Hania dan Arga menoleh ke arah pintu. Sosok Reza dan Rizal muncul di sana.
"Pak?" Reza mengangguk hormat pada Arga lalu melangkah masuk.
"Bu?" Reza juga mengangguk hormat pada Hania, membuat wanita cantik itu tidak enak hati.
Rizal yang memperhatikan perlakuan Reza terhadap Hania semakin yakin saja dengan dugaannya. Wanita cantik itu pasti istimewa bagi Arga.
"Kapan kau datang?" tanya Arga pada Reza. Kehadiran Reza kontan menarik perhatian Arga.
"Apa semua berjalan lancar?" tanyanya lagi.
"Apa itu?" Arga menatap paper bag yang dibawa pria berwajah manis itu.
Arga sepertinya hobi bertanya sejak sadar dari tidur panjangnya.
"Dan, ini, pakaian ganti anda." Reza mengangsurkan paper bag itu pada Arga namun diterima Hania.
"Apa anda akan keluar sekarang?" tanya Reza lagi.
"A-apa? Oh, jelas belum lah. Sssh! Argh!" Arga langsung memegang kepalanya seraya meringis, ekor matanya melirik Hania. Benar saja, wanita cantik itu terlihat cemas.
Rizal yang melihat gelagat sahabatnya yang mencurigakan, hanya bisa tersenyum sinis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Modus! Dokter berwajah teduh itu memilih duduk di sofa seraya menyedekapkan tangannya.
"Saya masih butuh istirahat di sini." ucapnya dengan suara lemah seperti menahan nyeri. Pura-pura nyeri. Tangannya meraih ponsel di atas nakas di samping ranjangnya.
"Carikan pakaian ganti untuk Hania. Jangan yang terbuka!!!!"
Arga mengetikkan pesan pada Reza. Meski berbentuk tulisan, perintahnya penuh tekanan. Terbukti dengan banyaknya tanda seru di akhir kalimatnya. Pria yang kadar ketampanannya tak kalah dari atasannya itu, beringsut undur diri demi memenuhi perintah Arga.
__ADS_1
"Sejak kapan Lu jadi suka modus begini?"
Rizal mengetikkan pesan pada Arga. Bukannya membalas pesan sahabatnya, pria tampan itu malah menghunus tatapan tajam pada dokter berkacamata itu. Rizal hanya bisa mengulum senyum sembari menunduk, tak ingin Hania jadi curiga.
"Lu utang penjelasan ke Gue!"
Ponsel Arga bergetar lagi. Tanpa membacanya, Arga meletakkan ponselnya di atas nakas.
Sementara itu, Iden yang tengah duduk di ruangannya sedang melamun seperti memikirkan sesuatu atau tidak sama sekali. Ingatannya melayang pada kejadian semalam.
Pagi tadi pria blesteran itu terbangun di kamar apartemennya. Seorang diri. Biasanya, jika mabuk begitu dirinya akan berakhir di ranjang kamar hotel bersama seorang wanita. Harusnya semalam bersama Bela. Tapi, kali ini dirinya merasa aneh. Dirinya hanya seorang diri di kamar apartemennya. Bagaimana dengan para sahabatnya? Setaunya Darren dan Raka sedang mabuk di temani teman-temannya Bela. Lalu Arga dan Rizal? Dimana mereka? Pria flamboyan itu sudah mencoba menghubungi keduanya tapi nihil.
Sebentar-sebentar Iden melihat ke layar ponselnya. Dirinya menunggu hasil laporan anak buahnya yang diperintahkannya mencari tahu kejadian semalam setwlah dirinya mabuk dan berakhir di kamarnya sendiri.
Tok tok tok.
Ketukan di pintu menariknya dari lamunannya. Sosok sekretarisnya yang cantik dan seksi muncul seraya memyunggingkan senyum yang menggoda dan melenggak lenggokkan tubuhnya seperti biasa. Iden melebarkan senyumnya.
Wanita cantik dan seksi itu mendekat ketika Iden mengulurkan tangannya. Menariknya ke pangkuannya. Lalu mendaratkan kec**an di tengkuk wanita itu.
"Katakan, kemana kamu semalam, hum? Kenapa pergi meninggalkanku?" bisik Iden di telinga Bela.
Bela menoleh menatap Iden. Lalu menggelengkan kepalanya. Dirinya juga tidak tahu, tiba-tiba mendapati dirinya terbangun di kamar yang di sediakan club malam itu tadi pagi.
"A-aku, aku juga ngga tau Yang. Tadi pagi aku kebangun di kamar club malam itu. Aku pikir kamu yang ninggalin aku." sahut Bela dengan wajah memelas dan suara yang yang dibuat manja.
"Semoga aja kamu ngga tau, Yang." batin Bela. Dia juga takut jika Iden mengetahui rencananya semalam yang gagal total karena gangguan 2 orang yang tidak dikenalnya.
Iden masih menduga-duga kemungkinan dalang keberadaan dirinya di apartemennya adalah Arga dan Rizal. Pria tampan itu tahu jika Arga tidak menyukai Bela, apalagi dirinya berhubungan dengan wanita itu. Sebenarnya Iden pun tidak mencintai Bela. Tidak ada kata cinta dalam hubungan yang dijalin pria flamboyan itu dengan wanita. Dia sedang mencari tahu sesuatu yang tidak bisa dikatakannya pada Arga melalui Bela.
********
__ADS_1
Thanks for reading!