Yang Terakhir

Yang Terakhir
206. Hadiah Tak Terkira


__ADS_3

Arga menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia tak suka dan keberatan jika Hania harus dilibatkan dalam masalahnya Syana. Meskipun hanya identitasnya saja.


"Gue udah ngomong sama Hania dan dia ngga keberatan. Identitasnya doang, bro. Orangnya masih di sini ngelonin elu." rayu Galih seraya menyindir Arga yang langsung dihadiahi lirikan tajam pria karismatik itu.


Iden menghela napasnya. Masih menimbang untuk setuju atau menolak gagasan Galih seperti Arga. Baginya kecurangan yang merugikan orang lain merupakan tindakan yang tak termaafkan. Dan hal itu menimpa Syana. Gadis cantik yang kini menjadi bagian dari keluarganya. Rasa peduli yang muncul seiring terkuaknya latar belakang Syana, menimbulkan rasa sayang pada gadis itu seperti adiknya sendiri. Seperti yang pernah diucapkannya dulu. Dia seperti menemukan sosok mendiang Inka dalam diri Syana.


"Kalau Hania setuju, apa salahnya kita coba?" ucap Iden dengan tenang.


Galih seketika melebarkan senyumnya sementara Arga menghunuskan tatapan tajam seolah ingin membelah tubuh Iden.


"Lu tau sendiri, nyari bukti kecurangan dalam sebuah perusahaan besar itu ngga gampang. Perusahaan lu aman-aman aja karena ada orang kepercayaan lu yang setia, gue." ucap Iden seraya menunjuk dadanya dan tersenyum miring, membanggakan diri, membuat Arga memutar bola matanya.


"Orang luar ngga bisa ngelakuin itu. Kita hanya perlu orang yang kerja di sana, satu aja, yang ngerti seluk beluk keuangan perusahaan itu. Minimal mengetahui laporan keluar masuknya aliran dana di perusahaan itu. Jabatannya ngga usah tinggi-tinggi. Cukup sebagai stafnya aja." lanjut Iden mengemukakan pendapatnya.


"Syana menguasai bidang ini. Dulu, dia salah satu staf divisi keuangan dan udah kerja 3 tahun di sana. Apa menurut lu itu ngga lebih dari cukup untuk mencari tahu? Dia pasti menguasai bidang ini. Dan tahu akan melakukan apa untuk melacak penyelewengan dana perusahaan itu. Dia yang menyusun laporan keuangan di perusahaan itu. Dan karena posisinya itu juga dia dimanfaatkan oknum itu." imbuh Galih.


Semalaman pria berwajah manis itu tidak bisa memejamkan matanya. Pengaruh tindakannya yang sudah menindih tubuh Syana, membuat otaknya jadi membayangkan yang enak-enak. Pikirannya juga jadi bercabang kemana-mana. Termasuk kasus tuduhan korupsi yang mencemarkan nama baik yang menimpa gadis itu, yang akhirnya menjadi fokusnya berpikir.


Semalaman Galih memikirkan berbagai rencana. Dia membutuhkan orang dalam untuk membantu tapi dia tidak punya kuasa di dalam divisi keuangan. Yang ada nanti malah menimbulkan kecurigaan dan berakhir gagal total dan oknum yang ingin dijeratnya malah menyadari bahwa dirinya sedang diawasi. Dan yang dianggapnya masuk akal adalah memasukkan Syana kembali ke perusahaan itu. Tapi bagaimana?


"Siapa sangka, Syana akan kembali ke sana dengan wajah dan identitas Hania. Ngga akan ada yang mengenali Syana. Mukanya aja udah beda. Tapi dia tetep butuh identitas 'kan?" ucap Galih lagi memberi keyakinan.


Arga masih enggan bersuara. Pria tampan itu masih keberatan dengan rencana kedua pria di depannya yang akan melibatkan Hania. Dia juga kesal pada istrinya itu yang membuat keputusan tanpa melibatkannya.


"Ayolah, Ga. Hania tahu tindakannya. Dia hanya ingin menolong seseorang yang sudah menjadi keluarganya. Apa salahnya? Syana udah jadi adek ipar lu. Siapa lagi yang bakal bantuin dia selain kita. Syana hanya punya kita." tekan Iden yang sudah memutuskan berpihak pada Galih.


Arga bergeming. Dia adalah sosok pecinta keluarga. Tapi menolong keluarga dengan mengorbankan anggota keluarga lainnya sangat tidak ingin dilakukannya.


"Kenapa ngga minta salah satu karyawan kita untuk menyamar di sana? Kirim yang terbaik!" tekan Arga pada Iden.


"Itu pasti butuh penyesuaian yang lama." ucap Iden lagi yang diangguki Galih.


Arga masih belum menyetujui gagasan Galih. Pria itu masih memikirkan cara lain. Sebisa mungkin dia menghindarkan Hania untuk terlibat.


Arga beranjak meninggalkan Iden dan Galih tanpa kata mufakat. Membuat kedua pria itu harus berpikir ulang. Memasukkan Syana atau memilih salah satu karyawan Arga?


Beberapa hari berlalu tanpa bahasan mengenai masalah Syana. Bahkan Iden harus ke luar kota mewakili Arga. Dan baru kembali.


"Kamu udah siap, honey?" tanya Arga yang baru kembali lagi ke kamarnya.


"Ibu udah siap?" bukannya menjawab pertanyaan Arga, Hania malah bertanya balik.

__ADS_1


"Iya. Dan jangan bikin ibu tambah keriput nungguin kamu dandan." goda Arga, tangannya sibuk menggulung lengan kemejanya.


"Mana pernah, sih, Mas, aku dandan lama." Hania mengerucutkan bibirnya menyangkal ucapan Arga yang menggodainya.


"Iya, sih. Ngga dandan aja kamu udah bikin aku tergoda." gombal Arga seraya melingkarkan lengannya di pinggang Hania lalu menci*mnya.


"Udah." ucap Hania setelah mengoleskan lip tint di bibirnya.


"Jangan pake high heel! Aku ngga mau perutmu kram lagi." peringat Arga lantaran beberapa hari yang lalu perut Hania mengalami kram dan harus dilarikan ke rumah sakit karena sepatu berhak 3 centi yang dikenakannya saat mendampingi Arga memenuhi undangan makan malam bersama relasi bisnisnya.


Hania hanya menjulurkan kakinya, menunjukkan sepatu flat yang dikenakannya sebagai jawaban dari peringatan suaminya.


Hania langsung melingkarkan tangannya pada lengan Arga. Pria itu menggandeng Hania menuruni tangga rumahnya. Menuntun istrinya dengan hati-hati.


"Udah siap? Ibu dadakan banget ini nyiapin hadiah buat besan Ibu. Biasanya ibu cuma ngasih apalah gitu buat mereka. Tapi karena sekarang statusnya ganti, ya, Ibu harus mikirlah buat ngasih yang lebih berkesan." cerocos sang ibu sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas tangannya.


Kepulangan Ibu Anna dari Semarang disambut kabar yang sangat mengejutkan sekaligus membuatnya terharu. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu langsung menangis sambil memeluk Hania saat Arga memberitahukan bahwa Hania adalah putri keluarga Pratama yang hilang. Itu baru kejutan pertama. Kejutan kedua sedang menanti.


Setibanya di kediaman keluarga Pratama, mereka disambut dengan penuh suka cita. Layaknya besan yang sudah akrab, ibu Anna dan ibu Irene yang sudah bersahabat sejak lama, langsung asyik mengobrol sendiri. Sedikit mengabaikan tamu dan keluarga yang datang.


Malam itu adalah peringatan hari ulang tahun pernikahan Pak Pratama dan Ibu Irene yang ke sekian puluh tahun. Sudah melewati peringatan ke 25 tahun tapi belum sampai diusia 50 tahun. Semua keluarga dan kerabat ikut bersuka cita. Termasuk Hania dan Arga.


Malam semakin larut, satu persatu tamu dan keluarga yang diundang mengundurkan diri. Tinggal keluarga inti dan Ibu Anna. Ada juga Galih, yang mulai selalu dilibatkan dalam acara keluarga itu.


Suasana hening. Hania menghela napasnya. Belum juga mengucapkan rentetan kalimat yang ingin diucapkan, wanita cantik itu sudah ingin menangis.


"Happy wedding anniversary." Hania menjeda kalimatnya, mengatur napasnya.


"Aku bahagia bisa ada di tengah-tengah kalian, menjadi bagian dari kalian. Merasakan keberadaan kalian, kasih sayang kalian." jebol sudah pertahanan Hania.


Airmata yang ditahannya kini meluncur bebas tak terhalang. Wanita cantik itu sesenggukan seraya mengusap pipinya. Arga langsung merangkul bahu Hania. Mengusap-usapnya. Memberinya dukungan.


Bukan hanya Hania saja yang menangis. Semua mata berkaca-kaca. Terutama Ibu Irene, wanita paruh baya itu sudah sesenggukan sejak Hania menyebut namanya tadi.


"Aku bersyukur, aku belum terlambat datang ke keluarga ini. Bisa ikut mendoakan kalian. Dan berbakti pada kalian." lagi-lagi airmata Hania meluncur deras dan dia sibuk lagi mengusapnya.


"Semoga Papa Mama selalu bahagia, segala yang diharapkan tercapai, sehat selalu, dan panjang umur, supaya aku bisa bersama kalian lebih lama lagi." pungkasnya.


Ibu Irene langsung memeluk Hania. Menghujaninya dengan ci*man di kepala, kening, pipi, hidung, dagu, dan kembali lagi ke keningnya.


"Makasih, sayang. Makasih." lirihnya.

__ADS_1


Arga mendekat dan memberi pelukan pada Pak Pratama lalu Ibu Irene. Diikuti yang lainnya. Suasana haru begitu kental menyelimuti. Begitu khusyuk terasa. Tidak ada tawa canda yang berlebihan seperti beberapa hari belakangan. Semua larut dalam haru. Dihari ulang tahun pernikahannya, kedua paruh baya itu mendapat hadiah yang tak terkira besarnya. Putri mereka sudah kembali.


"Ekhem!" deheman Arga terdengar lebih nyaring di dalam ruangan yang hening itu, mampu mengalihkan perhatian seisi ruang keluarga.


"Kami. Aku dan Hania. Kami punya hadiah istimewa untuk Papa, Mama, dan Ibu." ucapnya seraya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas tangan Hania yang sedari tadi di pegangnya.


Suasana khusyuk dan haru tetap tidak berubah dan airmata yang tiba-tiba berhenti bergelayut manja di kelopak mata. Bedanya, semua anggota keluarga kompak menatap ke arah kotak berbentuk segi empat itu. Persis seperti kotak dompet. Begitu juga ketiga paruh baya itu menatap Arga dan Hania lalu pada kotak berbentuk segi empat itu dengan tatapan penasaran.


"Silakan dibuka." ucap Arga mempersilakan.


"Ngga mungkin dompet 'kan, Ga?" celetuk Ibu Anna yang disambut tawa kecil dari beberapa anggota keluarga.


"Silakan, besan aja yang buka. 'Kan yang sedang anniversary kalian." ucap Ibu Anna bijaksana.


"Ah, jangan gitu dong besan. Ini juga hadiah untuk besan dari anak mantu." sanggah Ibu Irene.


"Ya, udah. Kalau begitu kita buka sama-sama." putus Pak Pratama menengahi kedua wanita itu.


Ibu Anna sudah bersiap-siap menerima kejutan dari dalam kotak kecil berbentuk segi empat yang persis kotak dompet itu. Lantaran sebelumnya, dirinya sempat hampir jantungan saat menerima kabar tentang Hania.


Pak Pratama membuka pita berwarna putih dan hijau yang melilit kotak itu dengan sabar. Lalu membuka sampul yang membungkusnya. Masih dengan sabar. Kini tampaklah kotak itu yang ternyata berwarna putih polos. Pria paruh baya itu pun tak kalah gugupnya. Baru kali ini, dirinya menerima hadiah tapi membuatnya gemetar.


"Papa nervous?" lirih Bu Irene.


"Hehehe.... Iya nih, Ma. Baru kali ini, Papa buka kado tapi malah gugup begini." celetuk Pak Pratama yang lagi-lagi mengundang tawa.


Pak Pratama meraih sebuah stik dengan indikator bertanda positif di salah satu bagiannya. Mengangkatnya sebatas dadanya. Memamerkannya. Hingga terlihat oleh yang lainnya. Senyum pria tua itu mengembang diikuti senyuman yang lainnya.


Ibu Irene meraih beberapa lembar foto hasil USG dari dalam kotak berbentuk segi empat tadi, membaginya dengan Ibu Anna.


Tidak ada ekspresi berlebihan karena hadiah dari Arga dan Hania. Tapi lagi-lagi air mata dan pelukan yang menjadi bukti bahwa mereka sangat senang dengan kejutan itu.


Terutama Ibu Anna. Wanita paruh baya itu menangis cukup lama dalam pelukan Arga. Bagaimana tidak? Sudah sangat lama dirinya menanti kehadiran cucu di dalam keluarganya setelah kepergian Devan. Setelah semua drama kehidupan yang dilalui putra semata wayangnya, akhirnya putranya itu menemukan kembali tambatan hatinya dan mau memulai untuk mencinta lagi dan memulai untuk menyongsong hidup baru.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa tap like, vote ya.... Mau komen? Boleh dong. Mau kasih krisan? Monggo. Mau kasih hadiah? Mau banget!


Jangan lupa ini senin, waktunya vote 😉

__ADS_1


🥰🥰🥰


__ADS_2