Yang Terakhir

Yang Terakhir
189. Rencana Galih


__ADS_3

Mata Galih masih menatap tajam pada Rosa yang kini duduk sendiri setelah menolak seorang pria yang mendekatinya. Sepertinya wanita itu masih ingin menikmati malam dengan mendengarkan musik yang dimainkan sang dj sambil menyeruput minuman yang dipesannya.


"Sepertinya gue butuh bantuan lu. Bisa?" ucap Galih yang kini beralih menatap John.


"Bantuan yang kayak apa nih, Bos?" tanya John yang tak serta merta menerima permintaan Galih.


Galih meminta bartender bernama John untuk mendekat padanya. Pria berwajah manis itu berbicara pelan dan hanya bisa didengar John ketika pria itu mendekatkan telinganya. Tampak keduanya mengobrol serius kemudian diikuti anggukan kepala beberapa kali sambil mengacungkan jempolnya.


"Sip. Mengerti, Bos!" ucap John menyanggupi permintaan Galih.


Galih pun bersiap menghampiri Rosa. Tanpa butuh banyak usaha pria tegap itu sudah akrab begitu saja dengan wanita seksi itu. Tanpa sepengetahuan Rosa, Galih memberi isyarat pada John yang selalu mengawasi Galih, siap-siap menerima perintah dari pria gagah itu.


Begitu mendapat kode dari Galih, bartender andalan club malam itu beraksi menyiapkan pesanan Galih. Tak lupa memasukkan bubuk putih yang diminta pria itu ke dalam salah satu gelas yang sudah diberi tanda yang hanya diketahui keduanya. Lalu meminta seorang waitres mengantarkannya ke meja Galih dan Rosa.


Galih hanya menyeringai ketika Rosa tidak menolak ataupun curiga padanya bahkan menyukai minuman itu. Tidak salah Galih percaya pada John. Racikannya bisa mengalihkan rasa dan aroma bubuk putih tadi.


Tanpa rayuan maut dan sentuhan-sentuhan menggoda, Rosa jatuh dengan sendirinya ke dalam pesona Galih yang tenang dan jantan. Wanita seksi itu benar-benar merasa diperlakukan dengan baik membuatnya tersanjung. Galih tak terlihat jelalatan atau berusaha menggodanya.


Dalam waktu singkat wanita seksi dambaan banyak pria mes*m di dalam club malam itu takluk pada Galih. Dengan mudahnya Galih membuat Rosa begitu mendambanya dan membawanya meninggalkan tempat itu. Karena sepertinya obat yang dicampurkan John tadi sudah mulai bereaksi.


Sesampainya di kamar hotel yang dipesannya, kedua insan yang sedang dilanda ga*rah itu meneruskan aksinya yang sedari tadi ditahannya. Baik Galih maupun Rosa, keduanya saling mem*g*t dengan penuh hasrat. Namun, ditengah-tengah kegiatan panas mereka itu, tiba-tiba Rosa merasa tubuhnya lemas dan pandangannya buram, sesaat kemudian tak sadarkan diri.


Galih langsung bangkit dari atas tubuh Rosa yang sudah hampir polos itu. Hanya mengenakan b*a dan segitiga pengaman yang sebetulnya sangat menggodanya. Sembari merogoh ponsel di dalam kantong celananya, pria berwajah manis itu menyingkap rambut yang menutupi sebagian wajah Rosa.


"John, suruh dia ke sini, gue share lokasinya." perintahnya pada John, lalu memutus sambungan ponselnya setelah bartender itu menyahutinya.


Galih kembali menatap wajah Rosa yang memang cantik lalu menyeringai.


"Cantik. Tapi sayang, lu licik." gumamnya.


Ketukan di pintu kamar hotel yang dipesannya, membuat Galih mengalihkan tatapannya dari tubuh seksi wanita cantik itu.


"Come on in!" perintahnya pada seorang pria bertubuh tinggi atletis sepertinya dan berwajah oriental yang tampan.

__ADS_1


(Masuklah!).


Pria berwajah oriental itu mengangguk lalu masuk. Diedarkannya tatapannya menyapu isi kamar itu. Hingga tatapannya jatuh pada tubuh yang tertutup selimut sebatas dada namun masih memperlihatkan bahunya yang mulus. Tatapan pria itu lekat pada wajah cantik Rosa.


"You're Jimmy, right?" tanya Galih yang berdiri di belakang pria itu membuatnya menoleh.


(Kamu Jimmy, 'kan?).


"Yes, sir!" sahut pria itu.


"John menghubungiku, ada pekerjaan untukku katanya." lanjutnya dalam bahasa inggris yang fasih.


"Ya. Aku yang minta." kata Galih seraya berjalan ke arah ranjang dimana Rosa terbaring dalam tidurnya.


"Dia, namanya Rosa. Dia dalam pengaruh obat yang membuatnya tertidur dan berhalusinasi. Aku ingin kamu malam ini berc*nt* dengannya." terang Galih gamblang.


"Dia cantik. Apa anda ngga tertarik? Dan malah memintaku melakukannya. Ini aneh." tanya pria bernama Jimmy itu.


"Aku sedang melakukan tugasku. Ngga bisa tidur dengannya begitu aja." sahut Galih.


"Maksud anda, aku menggantikan anda untuk menidurinya?" Galih menyeringai seraya mengangguk.


"Lakukan dengan baik! Jangan buat aku malu!" Jimmy mengangguk mantap mengerti maksud Galih.


"Besok pagi, beri tahu aku kalau dia sudah tertidur. Kita berganti peran lagi. Aku harap kita bisa bekerja sama selama 4 hari ke depan. Berikan nomor rekeningmu!" terang Galih.


Galih masih terduduk bersandar pada kepala ranjang dengan pakaian komplit. Sesekali menoleh ke arah Rosa yang terbaring di sebelahnya. Sepertinya masih enggan membuka mata. Jimmy benar-benar melakukan tugasnya dengan baik. Terbukti dari Rosa yang mengakui permainan hebatnya dan membuatnya ingin lagi. Tapi Galih selalu menolak jika wanita itu memintanya di sepanjang pagi hingga sore.


Seperti pagi ini. Meski matahari sudah mulai tinggi tapi wanita itu masih setia memejamkan matanya. Tampaknya pergelutan panas sepanjang malam tadi benar-benar membuatnya lelah. Dan itu tidak terjadi di pagi kali itu saja tapi begitu juga dengan pagi-pagi sebelumnya.


Wanita itu, setiap malam akan diberi minuman yang sudah dicampur bubuk putih yang akan membuatnya tak tertidur dan ketika bangun akan berhalusinasi. Beberapa malam berc*nt* dengan Jimmy tapi dalam penglihatannya yang tampak adalah wajah Galih yang samar-samar saja tapi tubuh dan aroma parfumnya mirip dengan Galih. Tentu saja dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar itu, Rosa tidak begitu bisa membedakan dengan siapa dia menghabiskan malam panas yang bergelora tiap malamnya. Yang terasa padanya hanya rasa terpuaskan oleh sang pria.


Sebelum tak sadarkan diri, Rosa akan seperti orang mabuk. Bicara melantur. Dan itu dimanfaatkan Galih untuk mengorek informasi darinya. Tentu saja sambil memberinya rangs*ng*n yang terus membuai wanita seksi itu. Dan setelah tak sadarkan diri, dia berganti peran dengan Jimmy, pria yang memiliki postur tubuh yang mirip sepertinya. Begitulah malam-malam panas yang dilalui selama 4 hari kemarin.

__ADS_1


Galih menghela napasnya dan membuangnya dengan kasar. Hari ini, dia akan membawa Rosa kembali ke tanah air. Melengkapi susunan rencana yang sudah dirancang Arga dan Iden.


Kemarin siang, wanita itu sudah setuju untuk ikut dengannya kembali karena tidak ingin berjauhan dengan pria itu. Galih berkata tidak akan kembali ke negara itu dalam waktu yang lama dan Rosa tidak ingin ditinggal lama-lama. Sepertinya, wanita cantik dan seksi itu sudah mulai membawa perasaan dalam hubungannya dengan Galih.


"Lu udah bangun?" Galih tersentak dari lamunannya dan hanya pertanyaan macam itu yang terpikirkan dengan cepat olehnya ketika Rosa membelai pipinya.


Rosa mengangguk lalu tersenyum. Lalu mendudukkan tubuh polosnya yang tertutupi selimut sebatas dada di samping Galih kemudian melingkarkan tangannya ke lengan berotot lengannya Galih.


"Kalau begitu bersiaplah! Kita berangkat 2 jam lagi." perintah Galih dan Rosa menurut seperti kerbau dicocok hidungnya.


Drrrt! Drrrt! Drrrt!


Galih merasakan ponselnya bergetar tapi menunggu sampai Rosa masuk ke dalam kamar mandi. Sambil melihat siapa gerangan pengganggunya pagi itu, Galih membuka pintu kamar dan keluar dari sana. Tidak aman baginya menerima panggilan yang ternyata dari Arga disana.


"Kangen banget lu sama gue? Sampai ngga sabar banget nunggu gue datang!" cibir Galih ketika di seberang sana Arga bertanya kapan tepatnya dia kembali.


"Iya. Gue kangen banget sama elu sampai pengen gue cek*k lu begitu lu nginjakin kaki disini!" sarkas Arga membuat Galih terkekeh.


"Gue kabari begitu boarding." ucap Galih.


"Ngomong-ngomong, tangkapan lu b*nal juga dulu." sindir Galih.


"Ngomong yang jelas!" ketus Arga yang tidak mengerti sindiran Galih.


"Rosa. Dia keren di ranjang. Pasti lu ketagihan." ucap Galih mengejek Galih.


"Sialan lu! Gue bahkan ngga pernah making love sama dia! Gimana ceritanya gue ketagihan! Awas lu! Gue beri lu!" sungut Arga yang membuat Galih semakin tergelak.


Hingga sambungan ponselnya terputus, Galih masih saja terpingkal-pingkal. Puas rasanya membuat pria itu kesal.


Tapi tunggu! Tadi Arga bilang tidak pernah menyentuh Rosa 'kan? Hah! Syukurlah dirinya juga tidak sampai masuk kesana. Entah kenapa, Galih merasa tidak kalah dengan Arga kali itu hanya karena tidak sampai bermain dengan Rosa, mantan Arga.


*******

__ADS_1


__ADS_2