Yang Terakhir

Yang Terakhir
61. Wanita Penggoda Lainnya


__ADS_3

"Gue siap ketemu bidadari Madewi Building", Iden tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Arga hanya menoleh sekilas lalu mengalihkan perhatiannya lagi pada berkas kerjasama yang akan dibawanya menemui Madewi. Pria tampan itu sedang malas meributkan hal sepele.


Iden duduk di kursi didepan meja Arga. Menyandarkan tubuhnya dan menyilangkan kakinya. Memutar-mutar bolpoinya sembari memainkan ponselnya.


"Kita berangkat sekarang?", tanya Arga tapi lebih seperti ajakan.


"I'm ready!", sahut Iden semangat.


Duo pimpinan perusahaan furniture itu berjalan beriringan. Adi mengekor di belakangnya. Trio itu kontan menarik perhatian karyawati yang dilewati. Pemandangan seperti itulah yang dinantikan para karyawati itu. Disela-sela kesibukan tak terbatas dan tingkat stres yang tinggi, wajah-wajah tampan pemimpin perusahaan itulah yang bisa menjadi mood booster mereka.


Seorang wanita berpostur tinggi semampai, berwajah cantik, dan menguarkan aura seksi menyambut kedatangan pria-pria tampan itu. Perusahaan yang hampir semua karyawannya wanita itu langsung heboh. Pesona ketiga pria itu menghipnotis kesadaran mereka. Para karyawati itu menatap penuh damba pada ketiga pria itu. Hanya Arga yang bersikap dingin tapi justru auranya yang paling menonjol. Sementara Iden sibuk menebar pesona pada karyawati yang rata-rata cantik itu. Adi, sang asisten bersikap ramah sewajarnya saja.


"Silakan, Bu Syila sudah menunggu anda", ucap wanita cantik itu seraya membukakan pintu ruangan atasannya.


Sudah ada seorang wanita muda yang cantik dan seksi duduk dikursi pimpinan perusahaan itu. Arga mengerutkan keningnya menatap wanita itu. Sejak tadi ingin bertanya pada wanita cantik yang membukakan pintu untuknya. Siapa Syila? Seingatnya perusahaan itu dipimpin seorang wanita paruh baya bernama Madewi. Lalu siapa wanita itu? Apakah putrinya? Dia memang tidak terlalu dekat dengan pemilik perusahaan itu tapi dia tahu silsilah keluarga besar keluarga Madewi, hanya saja dirinya tidak hapal dengan wajah-wajah dalam keluarga itu


"Selamat datang di perusahaan kami. Silakan duduk", sapa wanita itu dan mempersilakan tamunya duduk di sofa yang ditunjuknya.


Arga menatap wanita itu lalu menghela napasnya. Kenapa namanya jadi Syila? Pria berkarisma itu ingat dimana dia bertemu wanita itu dan setahunya namanya bukan Syila. Jujur dia terkejut bertemu wanita cantik itu. Namun segera dapat menguasai keterkejutannya.


"Terimakasih", sahut Arga lalu duduk di sofa diikuti Iden dan Adi.


"Perkenalkan saya Key Syila Madewi. Putri ibu Madewi. Saya menggantikan ibu saya disini", wanita bernama Syila itu memperkenalkan dirinya.


"Anda terkejut Pak Arga?", wanita itu tersenyum, manis sekali.


"Rekan-rekan manggil saya Key tapi semua keluarga manggil saya Syila", ucap Syila seolah mengetahui keterkejutan Arga.


Iden hanya diam saja tidak terpengaruh dengan basa-basi wanita itu. Dia juga terkejut tapi tidak peduli. Adi pun sama. Dirinya tidak menyangka atasannya itu akan bertemu wanita itu lagi. Lebih terkejut lagi ternyata wanita itu pimpinan di perusahaan yang mereka datangi.

__ADS_1


"Senang bisa bertemu dengan anda lagi Pak Arga", ucap wanita itu berbasa-basi seraya menjabat tangan Arga.


Semua pengusaha di negeri tanah surga ini juga mengetahui siapa Arga. Pengusaha muda yang sukses mengembangkan perusahaan keluarganya. Meskipun perusahaan warisan, tapi pria berkarisma itu mampu membuat perusahaan itu terkenal di manca negara.


Apalagi kondisi fisiknya yang bertubuh tinggi atletis dan berwajah tampan, membuat kaum hawa berlomba-lomba mendekatinya. Termasuk Syila. Wanita cantik itu sudah menyukai Arga sejak pertama kali melihatnya di sebuah gala dinner yang diperuntukkan para pengusaha 6 tahun yang lalu. Namun sayang, Arga saat itu masih beristri.


Arga hanya mengangguk menanggapi ucapan Syila. Kemudian menjelaskan maksud kedatangannya menemui wanita itu tanpa mau berbasa basi.


Arga merasa sambutan yang diberikan wanita itu berlebihan, yang pastinya untuk menarik perhatiannya. Gaya bicara yang dibuat sensual, dan selalu menatapnya dengan tatapan menggoda. Wanita cantik itu bahkan menahan genggaman tangan Arga ketika berjabat tangan barusan. Sungguh membuatnya kesal tapi perusahaannya sedang membutuhkan bantuan wanita itu.


Pria berkarisma itu bukannya tidak tahu jika wanita cantik di depannya itu tertarik padanya. Dia ingat bagaimana dirinya bertemu Syila. Wanita cantik yang saat itu memakai gaun dengan punggung yang terbuka sengaja mendatanginya di pesta sahabatnya di sebiah club malam. Dan mengaku bernama Key. Arga yang baru bercerai dengan mantan istrinya dan ditinggalkan putranya, tidak begitu menanggapi wanita itu tapi wanita itu terus mencari perhatiannya. Bahkan Arga yang sudah dalam pengaruh alkohol terus diberi minuman keras itu.


Dalam keadaan setengah sadar, Arga ingat bagaimana wanita itu memperlakukannya. Dia ingat, wanita itu mencium pipinya dan akan mencium bibirnya tapi Arga langsung menghindar. Bukannya berhenti wanita itu malah duduk dipangkuannya dan membuka kancing kemeja Arga lalu mulai menggerayanginya seraya menciumi lehernya. Menempelkan dadanya yang berisi dan padat ke dada Arga. Sepertinya wanita itu juga dalam pengaruh alkohol. Entahlah, dia juga tidak begitu sadar waktu itu. Untungnya, Reza segera datang dan menyingkirkan wanita itu.


Setelahnya, wanita itu masih berusaha mendekatinya. Key atau Syila memanfaatkan keadaan Arga yang sedang frustrasi. Datang ke club malam yang sama dengannya dan menemaninya minum. Namun, dirinya selalu berakhir di ranjang di kamarnya.


Arga sebenarnya kesal dan merasa terganggu setiap wanita itu datang dan memberi perhatian padanya. Dirinya sudah menolak dan bahkan mengusirnya tapi wanita itu bergeming.


Dirinya  mendatangi perusahaan itu karena ikatan janji di masa lalu. Dulu, ketika keluarga Madewi sedang terpuruk, mendiang ayahnya lah yang mau mengulurkan bantuan dan mengucurkan dana sekian M untuk membantu perusahaan itu bangkit kembali. Dan sekarang itulah tujuan Arga, menagih janji. Hah. Seandainya sang paman tidak menghianatinya, mana mungkin pria tampan itu ada disana. Dalam hatinya Arga mengutuk penghianatan pamannya yang membuatnya tanpa sengaja bertemu wanita itu lagi


Gelagat Syila yang menyukai Arga tidak luput dari perhatian Iden. Wanita itu menunjukkan ketertarikannya pada Arga secara terang-terangan. Iden yang notabene seorang playboy saja ilfil padanya apalagi Arga. Iden tersenyum sinis. Apalagi, dirinya juga tahu bagaimana wanita itu merayu Arga dulu.


Ditempat lain, Hania sedang senang. Pasalnya, sahabatnya yang tak lain adalah Galih sedang berada di ibukota dan berjanji akan menemuinya nanti, setelah segala urusannya selesai. Saat ini, wanita cantik pujaannya Arga itu sedang berbalas chat dengan Galih.


Sementara Hania sedang senang, Arga justru sedang menghalau resa kesalnya dengan memikirkan wanita bermata kelinci itu. Ah. Sedang apa wanita cantiknya sekarang? Dirinya berencana menemui Hania sepulang dari perusahaannya dan melepaskan rindu dan mengobati rasa kesalnya.


"Baiklah, sesuai permintaan ibu saya, kami akan setuju bekerjasama dengan perusahaan anda. Karena kami berhutang budi di masa lalu. Saya harap setelah ini kita dapat bekerjasama secara profesional", putus Syila seraya meletakkan berkas proposal Arga.


"Dalam mimpimu", batin Arga.

__ADS_1


Meski kesal dengan Syila yang terang-terangan menggodanya, tetap saja ada rasa lega yang menelusup ke dalam hatinya. Hanya saja Arga bereaksi sewajarnya. Pria berkarisma itu menyunggingkan senyum tipisnya. Dan senyum itu dilihat Syila, membuat wanita cantik itu semakin terpesona.


"Hah. Pria tampan ini tidak tersenyum sedari tadi, sekalinya tersenyum membuat jantungku berdebar saja", gumamnya dalam hati.


Tatapan mata Syila terputus ketika tiba-tiba Iden sengaja menjatuhkan bolpoinnya dan bereaksi berlebihan.


"Astaga! Bolpoin aja licin kayak belut", celetuknya bermaksud menyindir Syila.


"Sulit di pegang ya, Pak Iden?", balas Syila seraya menatap pria blesteran itu.


Syila adalah wanita cerdas, dia tahu maksud perkataan Iden tadi untuk menyindirnya. Sungguh wanita cantik itu tersinggung dibandingkan dengan belut. Tapi dirinya tidak mau terbawa perasaan.


"Iya, tapi saya suka nangkap belut. Ada tantangannya", sahut Iden seraya terkekeh.


Pria flamboyan itu menanggapi celetukan Syila dengan santainya. Dia tidak peduli jika wanita cantik itu bakal sakit hati. Dirinya ikutan kesal dengan kelakuannya yang terkesan murahan.


"Benar, pria biasanya menyukai tantangan", tekan Syila seraya melirik Arga, tapi pria yang dilirik malah sibuk dengan ponselnya, membuatnya kesal.


"Bagaimana kalau kita rayakan kesepakatan kerjasama kita malam ini?", usul Syila.


"Maaf, kami tidak bisa. Setelah ini kami masih harus bertemu klien kami", tolak Arga.


"Jangan lupa, elu punya janji makan malam sama calon elu. Kita double date", Iden berbisik dengan suara yang sedikit dikeraskan agar Syila juga mendengarnya.


Iden sengaja mengarang cerita, tentu saja tanpa sepengetahuan Arga membuat Arga menatapnya bingung. Namun, sejurus kemudian dia paham maksud sahabatnya itu.


Syila terkejut. Arga punya calon istri? Selama ini kemana aja dirinya? Kenapa tidak tahu jika pria tampan yang disukainya itu memiliki kekasih?


*******

__ADS_1


Thanks for reading!


__ADS_2