Yang Terakhir

Yang Terakhir
98. Foto Dalam Galeri Ponsel


__ADS_3

Malam telah larut ketika Hania bisa memejamkan matanya. Entahlah. Terakhir kali dirinya melihat jam digital yang duduk manis di atas nakas di samping ranjangnya, jarum jam menunjukkan angka 2. Setelah itu dia tidak ingat lagi.


Pagi ini, wanita cantik itu enggan membuka matanya. Tidak ingin mimpi indahnya terganggu. Mimpi indah bersama Arga. Tapi benaknya sudah terlanjur terjaga sejak pertama kali suara deringan alarm mengusiknya. Hania menutupkan selimutnya hingga ke dadanya.


Senyumnya merekah mengingat kejadian semalam. Meski awalnya ingin mengungkapkan rasa kesalnya tapi berakhir dengan pengungkapan perasaan cintanya pada pria tampan itu. Hatinya merasa lega dan berujung enggan menutup matanya meski raganya lelah.


Sementara itu, Arga yang terusik tidurnya karena suara melengking sang ibu yang mengganggunya, terpakasa bangkit dengan kesal. Pasalnya, semalam Arga tidak bisa tertidur hingga adzan shubuh menggema yang menuntunnya untuk menunaikannya terlebih dulu, barulah kantuk itu datang. Pria yang tetap tampan meski baru bangun tidur itu meninggalkan sang ibu yang terus mengomelinya karena sudah semingguan ini putranya itu tidak datang menemuinya.


"Heran deh, kalau ngga ibu yang nemuin kamu kok ngga bakal ketemu. Ibu ini udah tua, Ga. Disayang-sayang kek, biar panjang umurnya.


 Bisa liat kamu nikah lagi, liat mantu ibu yang cantik, lembut, dan baik hati itu, liat kamu punya anak lagi, bahagia hidup sama keluarga kecilmu."


Arga seketika menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar mandinya. Pria itu menoleh pada sang ibu yang barusan menyebut kata-kata mantu, cantik, lembut, dan baik hati. Itu seperti ciri-ciri Hania. Arga menatap ibunya, menelisik tepatnya. Tapi ibunya sepertinya hanya mengungkapkan isi hatinya saja. Ingin memiliki menantu seperti yang dikatakannya barusan. Arga kembali melanjutkan niatnya, mandi.


Tak berselang lama, Arga sudah terlihat menuruni tangga rumahnya dengan pakaian santai tapi pria tampan itu masih saja terlihat menawan. Langkahnya menuju ruang makan. Sudah ada sang ibu yang terlebih dahulu menyantap sarapannya. Arga duduk di seberang sang ibu. Pria tampan itu memilih roti tawar yang sudah diolesi selai coklat oleh sang ibu dan memakannya dengan tenang. Bi Sumi datang mengantarkan kopi hitam kesukaan majikannya itu lalu meninggalkan ruang makan itu.


"Ini, siapa?" tanya sang ibu seraya menyodorkan ponselnya yang menampilkan sebuah foto ke hadapan Arga.


Arga melihat ke arah ponsel itu. Seketika keningnya mengernyit. Diletakkannya roti tawar yang tinggal separuh, lalu mulai sibuk menggeser-geser layar ponsel milik sang ibu.


"Hania?" batinnya.


Arga terkejut karena melihat fotonya dan Hania yang sepertinya dijepret semalam ketika dirinya dan wanita cantik itu menghadiri resepsi anak mitra bisnisnya. Ada beberapa foto candid dengan beberapa gaya. Dan kesemuanya menunjukkan angle yang romantis. Dan foto-foto itu ada di galeri foto dalam ponsel ibunya. Arga menghela napasnya. 


"Ini...?" Arga masih heran bagaimana fotonya bersama Hania sampai ke tangan ibunya.


"Siapa, sih? Mesra sekali." bukannya menjawab, sang ibu malah balik bertanya, menggoda putra semata wayangnya sambil senyum-senyum.


"Dia... Hania." jawab Arga.


"Hania? Cantik. Siapa dia? Pake peluk-peluk segala. Ngga mau ngenalin dia ke ibumu ini?" Arga menggaruk kepalanya yang mendadak gatal mendengar ibunya memyudutkannya.


"Bu. Ibu dapat darimana foto-foto itu?" tanya Arga, dia masih penasaran siapa mata-mata ibunya kali ini.


"Mira." sahut sang ibu singkat.


"Mira?" Arga membeo.


Ah. Kenapa tidak menyadarinya? Mira pasti ada di sana, sebagai perwakilan orangtuanya yang sedang berada di luar negeri. Mira adalah adik sepupunya yang tinggal di Bandung. Kehadirannya di acara resepsi semalam untuk menggantikan orangtuanya. Tapi kenapa Arga tidak melihatnya? Kenapa juga gadis itu tidak menyapanya? Tidak sopan! Arga hanya bisa menghela napasnya lagi.


"Jadi, siapa dia?" sang ibu sepertinya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menginterogasi putranya itu.


"Dia. Perempuan yang akan aku nikahi." jawab Arga gamblang.


Pria itu tidak ingin menyembunyikan apapun lagi dari ibunya. Meski waktunya tidak seperti yang direncanakan. Meski nanti akan membuat Hania terkejut. Setidaknya pria itu tahu bagaimana reaksi sang ibu.


"Benarkah?" wajah sang ibu langsung berbinar, namun matanya berkaca-kaca begitu mendengar Arga akan menikah.


Wanita paruh baya itu terharu dan terkejut dalam waktu yang bersamaan. Arga memberi kabar yang selama ini ditunggu-tunggunya. Ya. Sudah lama sekali wanita tua itu menanti Arga menemukan wanita yang dapat mengisi hati putranya itu. 

__ADS_1


"Oke. Siapa perempuan itu, Ga? Dari keluarga mana? Apa ibu mengenal orangtuanya? Kenapa ngga pernah cerita ke ibu kalau kamu lagi deket sama perempuan?" sang ibu memberondong Arga dengan pertanyaan yang semua jawabannya berbading terbalik dengan yang ingin diketahui ibunya.


"Dia yatim piatu Bu. Orangtuanya sudah meninggal, dan dia sebatang kara. Ngga punya saudara karena ayahnya anak tunggal dan ibunya tumbuh besar di panti asuhan." Arga mengenalkan sosok Hania pada ibunya dengan perlahan, agar sang ibu tidak terkejut.


Senyum sang ibu memudar seketika setelah mendengar cerita Arga. Melihat ekspresi ibunya, pria karismatik itu menjadi cemas. Dia khawatir jika wanita paruh baya itu tidak merestuinya.


"Kasihan. Dia pasti kesepian. Udah ditinggal orangtuanya. Ngga punya saudara pula." Arga melongo mendengar komentar sang ibu yang disangkanya tidak menyukai Hania.


Sang ibu tidak peduli dengan latar belakang wanita bernama Hania itu. Dirinya sudah sangat bersyukur Arga menemukan wanita yang akhirnya bisa membuat putranya itu yakin untuk menikah lagi. Dan wanita itu pastilah istimewa karena bisa menaklukkan Arga.


"Ibu mau ketemu." seru sang ibu.


"Ibu yakin?" tanya Arga yang tak yakin.


"Tapi aku belum selesai ceritanya, Bu." ucap Arga.


"Ceritanya sambil jalan aja. Ayo! Dia tinggal di kota ini 'kan?" sang ibu sepertinya sudah tidak sabar ingin bertemu Hania.


Arga menghela napasnya. Ibunya itu bersemangat sekali. Belum juga Arga selesai bercerita sang ibu sudah minta bertemu. Membuatnya jadi de-degan.


"Dia, janda, Bu." ucap Arga berniat melanjutkan ceritanya tentang Hania.


"Terus kenapa? Kamu juga bukan perjaka." kekeh ibunya sepertinya tak masalah dengan status Hania.


"Dia juga punya anak." lanjut Arga seraya terus fokus mengemudi.


"Bagus dong! Langsung dapat anaknya juga. Paket hemat namanya. Ibu juga udah pengen punya cucu lagi. Kalau nunggu kamu nikah, terus istrimu hamil dan melahirkan, rasanya lama. Ya kalau dia bisa cepat hamil, kalau lama, gimana?" cerocos sang ibu bersemangat.


"Ohya? Dia kerja? Dimana? Kalau udah nikah sama kamu nanti, suruh dia berhenti aja. Fokus untuk hamil lagi. Biar rame rumah besarmu itu." Arga menggaruk alis tebalnya yang mendadak gatal mendengar ucapan ibunya.


Belum juga menikah, sarannya sudah antri duluan. Arga hanya tersenyum menangnggapi komentar sang ibu yang sedang bersemangat itu.


"Dia yang punya restoran langganan ibu." ucap Arga seraya melirik ibunya.


"Apa? Dia pemilik Rasa Sayang?" sang ibu membeo.


Arga menganggukkan kepalanya. Kini sang ibu menyerongkan tubuhnya menghadap ke arahnya Wanita paruh baya itu mentap Arga.


"Tapi... Dia'kan... Gosipnya?" tanya sang ibu tapi lebih seperti bergumam pada dirinya sendiri, air mukanya juga sudah berubah.


"Ngga, Ngga, Ga. Ibu ngga mau kamu sama perempuan seperti itu." ucap sang ibu, yang pastinya tidak ingin putranya kembali mengalami kejadian yamg sama. Bertemu wanita yang tidak baik.


Arga yang merasa perubahan sikap ibunya itu segera menghentikan mobilnya di tepi jalan yang tidak terlalu ramai. Pria tampan itu tahu apa yang dipikirkan sang ibu, dan dia merasa harus menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Hingga ibunya memahami keadaan yang sebenarnya. Barulah dia akan mengajaknya bertemu Hania.


"Bu, Hania tidak seperti itu. Itu cuma gosip. Aku yang tau gimana dia." bela Arga.


"Tapi ibu sering denger dari temen2 ibu arisan, Ga." kukuh sang ibu.


"Tapi aku yang paling tau gimana dia, Bu. Sedang mereka ngga. Aku lebih mengenal Hania dengan baik. Aku ngga mungkin seyakin ini ingin nikah sama dia kalau aku ngga kenal dia. Ibu juga tau gimana aku. Aku bahkan ngga kepingin nikah lagi sampai aku ketemu dia. Karena aku ngga mau kegagalanku yang dulu terulang lagi. Ibu harus percaya sama aku." ucap Arga meyakinkan sang ibu.

__ADS_1


"Setelah kegagalanku yang dulu, aku ngga gampang percaya sama perempuan manapun termasuk yang ibu kenalkan padaku. Bagiku mereka sama, meski kenyataannya ngga begitu cuma aku yang merasa begitu. Ibu yang paling tau gimana aku memandang perempuan-perempuan itu." ungkap Arga tentang apa yang dirasakannya.


Iya. Sang ibu tahu bagaimana kerasnya putranya itu menolak perjodohan yang dilakukannya. Arga sering menghindar dengan berbagai cara yang berbuah omelan darinya. Dan putranya itu juga tidak pernah dekat dengan perempuan manapun. Wanita paruh baya itu tahu rasa sakit dan trauma pada masa lalu yang dialami Arga benar-benar menghancurkan putranya itu. Hingga putranya enggan membuka hati atau sangat berhati-hati? Mungkin seperti itu.


"Tapi dengan Hania, aku merasa berbeda, Bu. Dia ngga seperti perempuan lainnya baik yang ibu kenalkan ke aku atau yang memang sengaja mendekatiku. Hania tidak pernah melakukan tindakan apapun untuk menarik perhatianku. Dia bahkan sempat menolakku." Arga terkekeh mengingat awal pertemuannya dengan Hania.


Sang ibu masih menatapnya. Masih setia mendengar cerita Arga. Seperti sedang mendengar putranya itu mencurahkan isi hatinya yang selama ini terpendam. Hah. Ada rasa menyesal sudah memaksa Arga melakukan kencan buta dengan wanita-wanita pilihannya.


"Hania menolakmu? Kenapa?" kini sang ibu memutuskan menjadi teman curhat yang baik untuk putranya itu.


"Dia ngga yakin sama aku. Karena dia juga mengalami hal yang sama denganku. Dihianati orang yang kita cintai." suara Arga terdengar lirih.


Sang ibu hanya mangangguk-anggukkan kepalanya mendengar tiap kata yang keluar dari mulut Arga.


"Itu yang kegatelan yang lakinya kalau begitu!" ucap sang ibu berapi-api setelah mendengar cerita Arga sepenuhnya.


Kini mereka sudah beralih ke sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari Arga menghentikan mobilnya tadi.


Arga hanya mengulum senyumnya melihat respon sang ibu yang lebih membela Hania. Pria tampan itu lega, sang ibu lebih bisa menerima keadaan Hania.


"Ayo! Kita temui calon mantu ibu." ucapnya bersemangat.


Wanita paruh baya yang masih cantik itu, langsung berdiri dari duduknya, menyambar tas brandednya, lalu melangkah mendahului Arga.


Di tempat lain, seorang pria sedang berdiri sambil berkacak pinggang di hadapan 3 orang yang sepertinya anak buahnya. Tampak sekali sedang diliputi emosi. Wajahnya kaku, matanya menyorot tajam menatap ke arah anak buahnya. Napasnya memburu.


"Kalian ngga bisa kerja atau gimana!? Masak nyari celah aja ngga bisa!? Udah berapa lama waktu yang terbuang karena kalian lelet!?" bentak pria tinggi dan tampan itu.


"Maaf bos. Soalnya Pak Arga ngga pernah sendirian. Dan ngga pernah ke luar kota juga. Kalau dilakukan di sini, bukankah jadi gampang diselidiki?" sahut salah satu anak buah yang badannya lebih besar dari kedua temannya.


"Aku akan carikan celah. Kalian beresin dia begitu dapat kabar dariku. Dan ingat! Kali ini tidak boleh gagal." ancam pria itu.


"Apakah harus dihabisi, bos?" tanya pria yang berbadan paling besar tadi.


"Emm.. Jangan. Buat saja dia cacat." perintahnya dengan suara dingin.


"Tunggu perintahku. Kalian bisa pergi!" perintahnya lagi.


Sepeninggal ketiga anak buahnya, pria tinggi dan tampan itu menghempaskan tubuhnya ke atas sofanya yang empuk. Disandarkannya kepalanya di sandaran sofa. Matanya menerawang mentap langit-langit ruang tengah apartemennya.


"Kenapa rasanya sakit banget, kalau liat Lu yang bisa hidup bahagia dengan pasangan Lu!? Sementara Gue? Gue harus kehilangan kepercayaan dengan yang namanya cinta. Brengsek! Aarrrgh!" pria itu meluapkan emosinya.


Prang!!!


Ditendangnya meja kaca di depannya hingga terbalik dan hancur berantakan.


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Like dan favoritkan ya, supaya ngga ketinggalan ceritanya.


Jangan lupa Vote tiap hari Senin, untuk terus dukung karya ini 😊


__ADS_2