
Hania yang duduk bersandar pada sofa, langsung menegakkan tubuhnya dengan mulut menganga dan mata terbelalak. Dia sungguh terkejut tiba-tiba suaminya muncul di depannya.
"Mas udah di rumah?" hanya kalimat itu yang terpikirkan oleh Hania.
Namun kesadarannya kembali dalam hitungan detik. Diputusnya sambungan ponsel yang masih terhubung dengan ponsel Arga.
"Iseng banget, sih!?" gerutunya seraya meletakkan ponselnya di meja.
Arga melangkah masuk ke dalam kamar. Melepaskan ikat pinggang yang membelitnya semenjak pagi tadi, dan membuka 3 kancing kemejanya hingga menampakkan dadanya yang liat. Pria yang kini tampak seksi di mata Hania itu menghampir Hania dan semakin mengikis jarak dengan istrinya.
"Jadi, Galih mau ke sini? Yakin mau nemuin dia sendirian?" Arga menarik pinggang ramping Hania hingga menempel sempurna pada tubuhnya yang atletis.
"Tadinya kupikir begitu, kalau Mas ngga bisa pulang malam ini." sahut Hania seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Arga.
"Awas ya, kalau sampai berani nemuin dia tanpa aku." tekan Arga.
"Aku pasti bakal hukum kamu." lanjutnya.
"Mas masih cemburu sama Galih? Oh, ya ampun." cibir Hania.
"Selama dia belum punya pendamping aku bakal cemburu terus sama dia. Aku ngga suka ada laki-laki lain yang cinta sama istriku ini." sahut Arga.
"Ck! Dia ngga mungkin gangguin aku. Dia bakal senang kalau aku senang. Jadi, Mas harus bikin aku senang terus." Hania kekeuh membela Galih.
"Aku janji, Hania. Aku bakal bikin kamu senang terus sampai kamu lupa gimana rasanya sakit. Kamu harus percaya sama aku. Mau 'kan?" ucap Arga sungguh-sungguh, bahkan matanya berkaca-kaca ketika mengucapkan janjinya.
Cup. Hania mengec*p bibir Arga sekilas. Lalu tersenyum semanis madu. Hatinya menjadi tenang mendengar janji Arga. Kemudian mengangguk. Iya. Hania selalu percaya pada Arga. Pria tampan itu tidak pernah mengecewakannya.
Mendapat kec*pan singkat dari istrinya, Arga tak terima. Pria itu sedikit menundukkan wajahnya agar bisa membalas perbuatan Hania yang tiba-tiba menci*mnya.
"Kamu sengaja 'kan godain aku? Tapi aku suka, honey." Hania mengedipkan matanya beberapa kali demi melihat perubahan raut wajah suaminya.
Hania merasakan suasana di sekelilingnya mendadak menjadi hangat. Apalagi Arga semakin mempererat pelukannya dan memperdalam ci*mannya.
Sementara itu, di sebuah kafe tak jauh dari kantor polisi, Galih tengah duduk bersandar sambil memutar-mutar gelas kopi miliknya.
"Bukannya lu bilang kembaran Hania sudah meninggal?" tanya Galih pada Iden yang duduk berseberangan dengannya sementara matanya masih menatap lekat pada seorang gadis yang duduk di sebelah Iden dengan menundukkan wajahnya.
Galih sudah mengetahui tentang Hania yang adalah kembaran adik kandung Iden dari Arga. Sekembalinya dari negara tetangga, Arga mengajaknya bertemu dan menjelaskan dengan detil tentang Hania.
__ADS_1
Pria itu terkejut sekaligus senang mengetahui jika sahabat yang dicintainya akhirnya menemukan keluarga kandungnya. Meskipun dalam keluarganya dulu, Hania tidak kurang kasih sayang. Kedua orangtua angkat wanita itu begitu menyayanginya. Sampai-sampai tak menyangka jika Hania bukanlah anak kandung mereka.
"Hania pasti terguncang. Apa dia baik-baik aja?" tanyanya tak bisa menutupi raut cemas di wajahnya saat Arga mengatakan fakta itu.
Ya. Galih mencemaskan sahabat cantiknya itu. Bayangan buruk sudah berseliweran di benaknya. Dia ingat bagaimana hancurnya wanita itu ketika suaminya menghianatinya dulu. Hania tampak begitu terpuruk. Bertahun-tahun menjalani hidup dalam kubangan masa lalu yang traumatis. Selama itu pula dia menemani Hania.
Kini, apakah Hania akan baik-baik saja? Dia bahkan belum bertemu dengan sahabatnya itu sejak kembali dari negeri singa putih. Meski khawatir sekali tapi dia berusaha untuk percaya pada Arga yang sudah dipilih Hania menjadi suaminya.
Ya. Mungkin sudah saatnya dia mengubur perasaan cintanya pada Hania. Dia semakin yakin jika Arga akan selalu berusaha melindungi dan membuat Hania bahagia. Seperti yang selama ini dilakukannya. Dia sudah melihat sendiri bagaimana rivalnya itu berjuang melindungi sahabat tercintanya. Bahkan menurunkan egonya yang seringgi langit ke tujuh mentok itu demi meminta bantuannya. Suatu hal yang langka, Arga mau mengalah padanya.
"Dia pastinya terguncang, bahkan pingsan beberapa kali, tapi dia baik-baik aja sekarang." terang Arga dengan tenang.
"Apa Hania udah ketemu orangtuanya setelah mengetahui kenyataan itu?" tanya Galih.
"Belum. Gue belum nemu waktu yang tepat. Beberapa minggu kemarin benar-benar 'nguras energi gue. Mungkin setelah ini." sahut Arga seraya menghela napas dalam-dalam.
"Iya. Sebaiknya cari waktu yang tepat." dukung Galih.
"Lagian, semua masalah udah menemukan titik terang. Tinggal nunggu hasilnya." lanjutnya lagi lalu menyeruput kopinya yang mulai dingin.
"Boleh gue ikut? Nanti, waktu Hania ketemu orangtuanya?" tanya Galih lagi setelah hening sejenak dengan tatapan memohon.
"Nanti gue kabarin." Arga secara tak langsung memberi izin pada rivalnya itu.
"Boleh gue nemuin Hania?" tanya lagi.
Arga menoleh. Keningnya mengernyit. Menatap heran pada Galih.
"Tumben lu minta izin gue. Biasanya lu datang, datang aja." cibir Arga seraya menyeringai.
"Lu di sini! Dia istri lu! Dan gue punya attitude yang baik. Biasanya gue ilfil mau ketemu sama elu!" tukas Galih yang merasa tersindir.
"Apa!?" ekspresi Arga sudah mulai berubah.
"Lu emosi mulu kalau ketemu gue. Awas darting loh, bisa stroke. Nanti yang jagain Hania siapa? Masak gue? Nih! Kopi lu dingin." ejek Galih seraya meyodorkan cangkir kopi Arga yang juga mulai dingin.
Arga meraih cangkir kopinya dan menyeruputnya. Garis bibirnya melengkung tipis. Hampir tak tampak. Sementara Galih menyeringai menampakkan deretan gigi putihnya lalu mengikuti tindakan Arga, menyeruput kopi dinginnya.
Keduanya menikmati kopi dingin dalam diam dengan pikiran masing-masing. Sungguh pemandangan luar biasa melihat kedua pria dewasa itu rukun dan bisa berbincang dengan santai. Biasanya yang tampak hanya persaingan dan saling menyindir.
__ADS_1
Galih menghela napasnya dan menghembuskannya dengan kasar begitu tersadar dari pikirannya yang melayang-layang beberapa saat yang lalu. Dia menegakkan posisi duduknya.
"Tapi, dia mirip Hania." tukas Galih ketika Iden menganggukkan kepala membenarkan ucapan Galih.
"Lu ngga 'ngenalin dia?" kini Iden yang bertanya.
Pria itu menemukan foto Galih ada di kamar Syana kemarin. Iden pikir pastilah Galih orang penting di hidup gadis itu.
Galih memperhatikan wajah Syana dengan cermat. Jika diperhatikan begitu, ada perbedaan antara gadis itu dengan Hania. Bentuk mata dan warna bola matanya. Iya. Dia hapal betul Hania memiliki bentuk mata seperti mata kelinci dan bola matanya berwarna coklat muda. Sedangkan gadis di depannya itu memiliki bentuk mata yang agak bulat dan bola matanya berwarna hitam. Semakin memperhatikan Galih semakin tidak mengenal gadis itu. Dia tidak ingat jika pernah bertemu gadis itu.
"Ngga. Emang gue pernah ketemu dia dimana?" tanya Galih acuh.
"Lu bener-bener ngga ingat dia?" tegas Iden lagi meminta Galih untuk mengingat, namun hanya mendapat gelengan dari Galih.
Sementara Syana hanya menundukkan kepalanya dalam diam seraya memainkan sedotan di gelasnya. Mengaduk isinya dengan sedotan itu dan sesekali menyeruputnya. Dan mendengar dengan jelas obrolan kedua pria yang usianya lebih tua beberapa tahun darinya itu. Tidak sopan memang. Kedua pria tampan itu mengghibahinya tepat di depan hidung mancungnya.
Iden mengeluarkan selembar foto. Galih mengangkat sebelah alisnya. Dia semakin bingung.
"Ini, foto gue?" gumamnya namun masih dapat didengar Iden dan Syana dengan cukup jelas.
Syana langsung mengangkat wajahnya. Menatap selembar kertas yang dipegang Galih. Lalu menatap Iden seolah bertanya, kenapa fotonya diliatin ke dia?
Syana kembali menundukkan kepalanya ketika Gakih menatapnya. Dia gugup dan malu karena sudah menyimpan foto pria itu. Dia memang lupa ingatan tapi Iden sudah menjelaskan semuanya. Iden bahkan meminta Syana untuk mencoba mengingat apa hubungannya dengan Galih. Dia benar-benar tidak ingat. Apakah dirinya mengenal pria ganteng itu? Dimana? Bahkan dirinya baru tahu jika rumahnya berada di kota kembang. Dia bukan orang ibukota.
Hah! Syana jadi kesal. Ingin rasanya marah pada Handoko. Meski karena bantuannya lah dia masih hidup hingga sekarang. Tapi karena pria paruh baya itu juga lah dia terlibat masalah yang menyusahkannya. Jika dipikir-pikir, Handoko hanya memanfaatkannya saja.
"Kalau dia, lu ingat?" Iden kembali mengangsurkan selembar foto lagi pada Galih yang membuat mata pria ganteng itu membola.
"Mereka gadis yang sama kalau lu ngga tahu." imbuh Iden.
Dia menatap Syana dan membandingkannya dengan gadis di dalam foto yang dipegangnya.
Benarkah dia Syana? Kenapa berbeda? Hah. Iya. Ini semua karena Handoko.
"Pria tua itu!" geramnya dalam hati, tangannya sudah meremas lembar foto yang dipegangnya.
*******
Thanks for reading... Jangan lupa like ya...Tunggu terus kelanjutannya ya 😉
__ADS_1