
Klek!
Suara handle pintu diputar terdengar jelas di dalam ruangan Arga yang hening itu. Pria karismatik yang tengah fokus pada berkas di tangannya itu hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus lagi. Dia sudah tahu siapa yang punya kebiasaan buruk itu.
Iden berdecak karena Arga mengabaikannya seperti biasa. Pria blesteran itu langsung duduk di kursi di depan meja kerja Arga. Menunggu dalam diam dan menatap sahabatnya itu.
"Sudah mulai jatuh cinta sama Gue, Lu? Gitu amat ngeliatnya. But, sorry i'm normal." cibir Arga seraya menatap Iden dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya.
"Ck! Sialan Lu!? Gue masih lurus tau!" sergah Iden.
Arga terkekeh. Pria itu lalu memperhatikan Iden yang terlihat tidak nyaman. Gelagatnya seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi ragu.
"Mau curhat apa Lu? Gue bakal tunggu sampe Lu siap berbagi." sindir Arga lagi.
Iden berdehem. Pria bermata coklat terang itu ingin memberitahukan penemuannya terkait perusahaan yang selama ini dicurigainya. Tapi dia ragu. Karena dirinya terlibat. Tepatnya sengaja melibatkan diri demi mendapatkan kepercayaan lawannya. Dia tidak ingin Arga salah paham dan mencurigainya.
Kedatangannya ke ruangan Arga adalah untuk meminta bantuan sahabatnya itu. Dia sudah kehabisan tenaga. Tinggal sedikit lagi tapi sepertinya Bahtiar sudah mulai curiga padanya.
Pria flamboyan itu menggigit bibir atasnya sambil berpikir. Hah. Kenapa setelah sampai di ruangan Arga lidahnya jadi kelu? Apa Arga akan mempercayainya? Atau tidak peduli saja dengan reaksi sahabatnya itu?
"Bro! You look so serious. What the f*** are you thingkin' of?" Arga masih menatap sahabatnya itu.
Arga masih menunggu Iden yang sepertinya sedang merangkai kata. Pria karismatik itu sangat mengenali sahabatnya itu. Dirinya sudah hapal bahasa tubuh Iden. Iden memang bukan orang yang tertib tapi dirinya selalu berpikir jauh sebelum bertindak. Semakin penting suatu masalah semakin dirinya bersikap hati-hati.
"Do you trust me?" bukannya menjawab pertanyaan Arga, Iden malah balik bertanya.
Arga mengernyitkan keningnya. Pria itu merasa aneh. Seharusnya dia yang bertanya, bisakah sahabatnya itu dipercaya?
"I always trust you, as usual, Bro." ujar Arga seraya menatap Iden lekat.
"Is there something happened? Apa ada hubungannya sama Gue?" tanya Arga, pria itu kini menumpukan kedua sikunya ke meja kerjanya dan menautkan jari-jarinya.
Iden menghela napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Pria blesteran itu melakukan hal yang sama dengan Arga. Mengubah posisi duduknya menjadi tegak dan menautkan jari-jarinya dengan siku yang bertumpu di atas meja.
"Ini tentang Oom Aris." ucap Iden membuat Arga mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Apa ada yang Lu temuin yang ngga Gue temuin?" kini wajah Arga tampak lebih serius.
"Dia bikin perusahaan ekspor impor di bawah bendera perusahaan ini. Auto pajak larinya ke sini." Arga mengeraskan rahangnya demi mendengar temuan Iden.
"Ekspor impor? Sejak kapan? Setau Gue dia nyelundupin barang langka lewat pengiriman yang kita lakukan." ucap Arga.
"Siapa informan Lu? Apa ini valid?" Arga berpura-pura tidak tahu.
"Bahtiar. Orang kepercayaan Oom Aris." ungkap Iden sembari menyandarkan tubuhnya kembali.
"Gue, Gue sedikit melibatkan diri supaya Bahtiar percaya sama Gue." ungkap Iden lirih.
Pria flamboyan itu terlihat menghela napasnya berat setelah mengungkapkan fakta yang diketahuinya dan ketelibatannya. Tapi dirinya belum bisa bernapas lega. Apalagi, Arga terus diam tak bereaksi apapun setelah mendengar keterangan sahabatnya itu.
Tok tok tok!
Ketukan di pintu mengalihkan perhatian kedua pria yang sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing itu. Mencairkan ketegangan yang tercipta di ruangan Arga.
"Silakan, Bu." Dian mempersilakan seorang wanita paruh baya yang ternyata ibunya Arga memasuki ruangan atasannya itu.
Hania ikut masuk ke dalam ruangan Arga sambil membawa beberapa paperbag. Arga langsung berdiri menyambut kedua wanita yang berarti baginya itu. Iden pun melakukan hal yang sama. Arga mencium punggung tangan sang ibu dengan takzim lalu memeluknya. Entah kenapa pria itu merindukan sang ibu.
"Tante." sapa Iden seraya mencium punggung tangan ibunya Arga dengan takzim.
Arga merengkuh pinggang Hania ketika wanita cantik itu mendekat lalu melayangkan kecupan lembut di kening wanita pujaannya itu. Hania merona, antara malu dan tersanjung. Malu karena Arga kini tidak lagi sungkan-sungkan menunjukkan sikap mesranya di hadapan oramg lain. Dan tersanjung karena Arga memperlakukannya istimewa.
Iden menatap setiap perlakuan Arga pada Hania dan betapa sahabatnya itu tampak bahagia bersama kekasihnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Perasaannya mendadak hampa. Dirinya tidak bisa merasakan hangatnya sebuah hubungan yang dilandasi cinta. Baginya, cinta itu rumit.
"Hania." Iden juga menyapa Hania yang tersenyum padanya sembari menganggukkan kepalanya yang dibalas anggukan oleh Hania.
"Kebetulan banget kamu juga di sini, Den. Kita bisa makan siang bareng. Tante abis dari restorannya Hania, sekalian aja yang punya diajak ke sini. Kamu ngga ada janji makan siang sama orang lain 'kan?" sang ibu langsung mengeluarkan isi paperbag yang tadi dibawa Hania.
"Siapa yang akan menolak makanan gratis, tante?" seloroh Iden.
Pria blesteran itu langsung menghampiri ibunya Arga dan membantu mengeluarkan isi paperbag itu.
__ADS_1
Tok tok tok!
Pintu ruangan Arga diketuk kembali. Seorang office boy masuk mengantarkan piring dan sendok yang tadi diminta sang ibu melalui Dian. Dan mulai bersantap siang bersama. Tidak terlihat ketegangan yang sempat muncul beberapa saat yang lalu antara Arga dan Iden. Mereka bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Seperti biasa, mereka saling melempar candaan dan cemoohan.
Obrolan berlanjut hingga mereka menghabiskan semua hidangan yang dibawa Hania dan sang ibu. Iden yang semula hanya sebatas mengetahui Hania sebagai wanita pujaannya Arga, kini lebih mengenal wanita cantik yang bukan tipenya itu. Dirinya yang flamboyan bisa dengan cepat mengakrabkan diri dengan kekasih sahabatnya itu. Tentu saja dengan banyak peringatan dari sang pawang jika dia terlalu banyak melakukan kontak fisik dengan Hania.
Pria blesteran itu merasa langsung cocok dengan Hania yang diketahuinya kalem dan pendiam. Tapi ternyata mudah akrab jika memiliki kecocokan dan mampu mengimbangi obrolannya. Sifatnya yang mudah akrab itu membuat Hania dan Iden seperti sudah saling mengenal sejak lama saja. Apalagi obrolan terus mengalir. Arga sampai harus berdehem beberapa kali karena merasa diabaikan yang justru semakin membuat Iden ingin menggodanya.
Sepertinya Iden menyukai Hania. Dalam arti sebagai orang yang baru dikenalnya. Entah perasaan apa yang menelusup di hatinya, pria flamboyan itu seperti ingin melindungi Hania. Mengingat dia banyak tahu tentang masa lalu wanita cantik itu.
Tring!
Ponsel sang ibu berbunyi. Setelah membaca pesan yang baru masuk itu, wanita paruh baya itu bergegas meninggalkan perusahaan Arga. Inginnya sih mengajak Hania dan akan memperkenalkannya pada teman-teman sosialitanya tapi tentu saja Arga menahan wanita cantik bermata kelinci itu.
"Kamu ngga apa-apa 'kan kalau di sini dulu?" tanya Arga pada Hania yang merasa tak enak hati pada sang ibu.
"Aku masih kangen." bisik Arga manja tapi masih bisa didengar sang ibu.
"Ck! Ya sudah. Kamu temani dia aja, Sayang. Biar terbiasa punya bayi besar." putus ibunya Arga yang merasa lucu dengan tingkah putra semata wayangnya.
Hania dan Iden terkekeh mendengar ucapan sang ibu. Tapi ada benarnya juga. Hari ini, Hania dan Iden pun merasa Arga begitu manja seperti bayi. Iden menggeleng-gelengkan kepalanya. Sahabatnya itu tidak pernah bersikap begitu selama ini. Memamerkan kemesraannya pada orang lain.
"Oke, Cantik. Aku lanjut kerja dulu ya biar makin disayang sama Pak Bos." pamit Iden sambil menunjuk Arga dengan dagunya.
"Kalau kerepotan sama bayi besarmu itu, just call me." bisik Iden seraya mengerlingkan matanya dan tersenyum manis.
"Gue denger, Mbing! Jangan coba-coba nebar racun di sini!" peringat Arga.
"Oops! Udah ya, nanti aku kena potong gaji." seloroh Iden seraya melenggang meninggalkan Hania yang masih terkekeh.
*******
Thanks for reading!
Like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya, untuk dukung karya ini. 🤗🤗🤗
__ADS_1