
Sepeninggal anak buahnya, pria tampan itu mendekat dan mengamati wajah dan tubuh wanita yang sedang tergeletak itu.
Wajahnya cantik alami, kulit kuning langsat, mulus, tubuhnya ramping meski bukan gadis lagi. Dan tatapannya tertuju pada bibir merah jambu yang tidak tipis dan tidak juga tebal. Seringainya muncul. Pria itu mengukung tubuh ramping itu. Perlahan mendekatkan bibirnya ke arah bibir wanita cantik itu, lalu mengecupnya.
Pria bertubuh proporsional itu segera bangkit dari atas tubuh ramping wanita cantik itu. Dia memegang dadanya. Entah kenapa jantungnya di dalam sana mendadak berdegup kencang ketika dia mengecup bibir merah jambu itu. Pria tampan itu mendesah dan segera berlalu dari kamar itu.
"Kunci pintunya dan kalian berjaga disini malam ini. Kasih tau gue kalau dia udah bangun!" perintah pria tampan itu pada 2 orang anak buahnya.
"Siap, bos." sahut kedua pria bertubuh kekar itu.
"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, silakan hubungi beberapa saat lagi." begitulah suara operator menjawab panggilan Arga.
Berkali-kali Arga melakukan panggilan ke ponsel Hania tapi berkali-kali pula suara operator yang merdu itu yang menjawabnya. Membuatnya kesal.
Saat ini, Arga sedang berada di rumah Hania bersama Reza. Pria karismatik itu duduk di halaman belakang rumah Hania sementara Reza menunggunya di meja makan. Arga sedang ingin sendiri katanya.
Pria yang sekarang wajahnya berubah dingin itu ingat perkataan Kelik. Tadi sewaktu Kelik tiba di rumah Hania, kunci rumah itu sudah tergantung di lubang kunci dalam posisi tidak mengunci. Dan tidak ada tanda-tanda pemaksaan. Keadaan dalam rumah juga rapi.
"Tidak mungkin 'kan Hania ikut dengan sukarela?" tanya Arga dalam hati.
Malam sudah semakin larut. Tapi orang-orang Arga belum mengetahui kemana penculik itu membawa Hania. Mereka terus bergerak menyisir seluruh tempat.
Sementara itu, wanita cantik yang baru siuman dari pingsannya tengah mengedarkan pandangannya menatap setiap sudut kamar dimana dirinya berada sekarang.
"Dimana ini?" gumamnya.
Wanita itu bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah jendela di sisi lain kamar itu. Disingkapnya gorden jendela dan melongok keluar. Ternyata kamar itu berada di lantai 2 dan jauh dari pemukiman warga. Dilihatnya juga jendela itu sama sekali tidak bisa dibuka. Hanya untuk pencahayaan ruangan itu sedangkan di atasnya terdapat ventilasi berbahan roster.
Wanita itu kembali menelisik tiap sudut kamar itu. Kini langkahnya menuju sebuah pintu yang diduganya kamar mandi. Benar. Ruangan dibalik pintu itu adalah kamar mandi. Dia mendongakkan kepalanya. Lagi-lagi hanya jendela kecil dan ventilasi berbahan roster.
Dia kembali ke ranjang dan duduk di tepiannya lagi.
Klek! Klek!
Suara pintu yang dibuka dari luar mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Seorang pria bertubuh kekar berwajah sangar membuka pintu, lalu muncul seorang pria tampan bertubuh tinggi proporsional dari belakang pria kekar tadi. Menatap wanita yang disanderanya lekat. Wanita itu langsung bangkit dark duduknya dan membelalakkan matanya.
"Kamu?" suara lirih wanita itu tercekat.
"Kalian keluar!." perintah pria itu tanpa mengalihkan tatapannya dari wanita cantik itu.
"Hai Hania, kamu pasti ingat aku 'kan?" pria tampan tadi berjalan mendekati wanita cantik yang ternyata adalah Hania seraya menyeringai tipis.
"Iya. Ini aku. Raka." ucap pria tampan itu.
__ADS_1
Hania menatap Raka tajam.
"Kamu sahabatnya Arga 'kan? Kenapa kamu nyulik aku!?" tanya Hania antara tidak percaya dan bingung.
"Sahabat? Mungkin dulu iya. Tapi sekarang? Dia bukan sahabatku lagi." sahut Raka yang kini berdiri di hadapannya.
"Ke-kenapa? Bukannya kalian baik-baik aja?" cecar Hania.
"Ngga seperti kelihatannya. Aku membenci Arga lebih dari yang dia tau. Aku juga ingin Arga ngerasain apa yang kurasain. Ditinggalin wanita yang dicintainya." suara Raka seketika berubah dingin membuat nyali Hania semakin menciut.
Wanita itu perlahan menggeser tubuhnya. Tapi tangan kokoh Raka tiba-tiba meraih pinggangnya dan menariknya mendekat ke tubuhnya, membuat tubuh Hania menempel pada tubuh kekar itu.
"Arga membuat orang yang sangat kucintai bunuh diri. Dan itu menyakitiku. Sangat menyakitiku." Raka mengeratkan rahangnya ketika mengungkap kesalahan Arga di masa lalu.
"Apa? Ngga mungkin! Kamu pasti salah paham!" bela Hania, dia tak percaya.
Raka terkekeh.
"Salah paham? Karena Arga lah, wanitaku mati dihadapanku, Hania. Aku tau pasti apa penyebabnya!" tekan Raka mencengkram pipi Hania.
Hania gugup tapi berusaha bersikap tenang. Dia tidak mau Raka menyakitinya.
"Aku akan membalas Arga, Hania. Lewat kamu!" ucap Raka penuh penekanan.
"Gimana kalau kekasih yang dicintainya juga mengalami hal yang sama dengan wanitaku?" Hania membelalakkan matanya dan mulai meronta-ronta, sementara Raka menyeringai.
"Ngga! Lepasin!" Hania mendorong tubuh Raka yang menempel padanya.
Tenaga Hania yang bertubuh ramping sangat tidak sepadan dengan tubuh Raka yang tinggi dan berotot. Usahanya menyingkirkan tubuh kekar itu sia-sia. Raka masih melingkarkan tangannya di pinggnag ramping Hania, bahkan makin erat.
"Ssst! Diamlah jangan banyak bergerak. Gerakan tubuhmu bisa membuat sesuatu dibawah sana terbangun, Hania." bisik Raka di telinga Hania.
Hania menjauhkan kepalanya. Hembusan napas Raka membuatnya merinding. Wanita cantik iti semakin bergidik ketika Raka mencium pipinya. Tangannya reflek menampar pipi pria itu yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
Raka mengusap bekas tamparan di pipinya seraya menyeringai.
"Kamu galak juga, Hania. Tapi aku suka." ucap Raka sedikit berbisik.
Tangannya mengusap pipi mulus Hania tanpa wanita cantik itu bisa mengelak. Raka benar-benar menguncinya. Dia hanya bisa membuang mukanya ke kanan dan ke kiri untuk menghindari usapan-usapan jari pria tampan itu.
"Lepasin! Raka, please!" pinta Hania dengan suara bergetar.
Tapi Raka menulikan telinganya. Pria tampan itu menahan kepala Hania agar tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Dengan lembut, pria bertubuh atletis itu mel***t bibir Hania. Semakin lama semakin dalam. Bibir Hania membuatnya larut dalam permainannya sendiri.
__ADS_1
"****! Kenapa bibirnya legit banget sih?" umpat Raka dalam hatinya.
Maksud hati hanya ingin sedikit bermain-main dengan kekasihnya Arga itu tapi sepertinya pesona wanita cantik itu malah membuatnya semakin berhasrat. Apalagi ketika pria tampan itu menc***i leher jenjang Hania. Tercium aroma bunga lili yang lembut, membuatnya semakin ingin merasakan tubuh wanita itu.
"Apa yang kamu lakuin, brengsek!" sentak Hania seraya menjauhkan wajah Raka dengan mendorongnya menggunakan telapn tangannya.
Tapi bukannya mengendur, Raka semakin tergoda untuk menaklukkan Hania. Pria itu menghempaskan tubuh ramping itu ke atas ranjang, membuat kepala Hania terasa sakit karena terbentur busa ranjang itu.
Belum sempat Hania bangkit, Raka sudah merangkak di atas tubuhnya dan mengungkungnya. Tubuhnya sudah setengah telanjang. Entah kemana perginya kaos yang tadi membungkus tubuh pria tampan itu. Kini Hania dapat melihat tubuh liat di atasnya. Mirip tubuh Arga. Seketika dirinya teringat Arga. Hah. Kemana perginya pria yang sudah mencuri hatinya itu? Kenapa tak kunjung menolongnya?
Raka terus mel***t bibir merah jambu Hania yang membuatnya tergoda. ******* yang awalnya kasar berubah menjadi lembut dan dalam. Lalu kecupan itu turun ke leher jenjang Hania. Menyesap dan menimbulkan bekas kemerahan. Sementara Hania sudah menangis sesenggukan dan terus meronta.
"Kamu bener-bener bandel ya, Hania. Tapi aku suka. Semakin membuatku menginginkanmu." bisik Raka lalu menj***ti telinga Hania.
"Raka, please! Jangan begini padaku." mohon Hania untuk ke sekian kali.
Tapi lagi-lagi Raka tak menggubrisnya. Pria berperawakan sebelas duabelas dengan Arga itu sudah dimabukkan hawa nafsunya seiring dengan benda pusakanya yang sudah menegang. Bahkan dengan kasar pria itu merobek kemeja Hania. Hingga menampakkan 2 gunung kembar berbalut b** putih dengan ukuran yang pas di genggamannya. Dengan cekatan dilepasnya penutup gunung kembar itu.
Satu tangannya memegang tangan Hania di atas kepalanya dan yang satu lagi sibuk memainkan benda kenyal milik Hania. Pria itu mer***s dan meng***p pa**d*** Hania dan memainkan lidahnya di sana. Rasanya berbeda dengan pa**d*** para wanita cantik dan seksi yang pernah menghangatkan ranjangnya. Milik Hania terasa lebih menggoda.
"Sial! Gue ngga bisa berhenti. Kenapa rasanya berbeda? Aaargh! Pers*t*n!" umpat Raka dalam hati.
Dengan sekali gerakan, rok A line Hania juga sudah melayang menampakkan area segitiga bermuda yang tertutup underwear putih. Sementara Hania yang tubuhnya sudah lelah, tak berdaya lagi melawan Raka. Wanita cantik itu terus menagis lirih merasakan pria bertubuh atletis itu mengerjai tubuhnya.
"Sssh! Aah! You bite me, dear." bisikan Raka benar-benar membuatnya hancur.
Pria tampan bertubuh seksi itu mengakhiri permainannya dengan tubuh Hania dengan perasaan puas luar biasa. Direbahkannya tubuh berkeringatnya di samping Hania lalu memeluk tubuh ramping wanita cantik yang baru saja digagahinya itu.
Raka mengusap bahu Hania yang meringkuk membelakanginya lalu mengecupnya. Wanita cantik itu masih tergugu. Mendadak dirinya merasa bersalah. Pria itu menyelimuti tubuh polos Hania. Jika dibiarkan, bisa-bisa dirinya akan tergoda lagi. Raka bangkit dan mengenakan pakaiannya kembali.
"Panggil Opi!" perintah Raka pada seorang anak buahnya di ujung ponselnya.
Tak berselang lama. Ketukan di pintu kamar itu terdengar. Seorang wanita cantik tapi berpenampilan tomboy tampak mengangguk ke arah Raka ketika pria itu muncul dari balik pintu.
"Berikan dia pakaian!" perintah Raka pada wanita bernama Opi.
********
Thanks for reading!
Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... Komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.
🤗🤗🤗😘
__ADS_1