Yang Terakhir

Yang Terakhir
200. Akur Dengan Mantan


__ADS_3

Arga membelokkan sedan mewahnya ke halaman parkir sebuah pemakaman umum dan memarkirnya tepat di sebelah sebuah sedan mewah lainnya. Tanpa pikir panjang Arga mengajak Hania memasuki area pemakaman menuju makam mendiang Tiara.


Setelah melalui drama yang menggetarkan hati, akhirnya pasangan suami istri itu sampai juga di pemakaman. Meski kondisi Hania tidak begitu baik, pria tampan itu memilih mengalah dan menuruti kemauan sang istri. Daripada masalah yang dianggapnya sepele itu berubah menjadi masalah besar dan pasti akan menyulitkannya nanti. Menurutnya, wanita memang pintar membesar-besarkan masalah.


Dari kejauhan tampak seorang pria sedang tertunduk khusyuk di samping sebuah makam. Posisi pria itu membelakanginya. Di tangannya, ada sebuket bunga dan sebuah boneka berwarna putih. Arga hanya menatap tanpa ingin menelisik. Padahal dia tahu di sekitar situ ada makam Tiara.


Sementara itu, Hania semakin memperlambat langkahnya. Padahal tadi wanita cantik itu begitu bersemangat sampai-sampai mengabaikan kondisi fisiknya yang dirasanya lemas. Matanya menatap ke arah yang sama dengan Arga. Menatap lekat punggung tegap yang berdiri di kejauhan itu.


"Mas Ryan?" gumam Hania tanpa melepas tatapanya, namun masih bisa di dengar Arga.


"Ryan?" ulang Arga seraya menoleh ke arah Hania.


Pria karismatik itu mengikuti arah tatapan mata istrinya. Seketika ekspresi Arga berubah menjadi datar. Dadanya berdebar kencang membuatnya sesak. Saking sesaknya dadanya serasa akan meledak. Udara pagi itu mendadak terasa panas baginya.


"Dia di sini?" batin Arga.


Melihat pria yang pernah menjadi pria paling istimewa bagi istrinya berada di tempat yang sama dengannya, membuat emosi Arga mendadak naik level. Bahkan Arga menghentikan langkahnya.


"Kamu liatin apa, honey?" tegur Arga yang tidak suka Hania menatap lekat mantan suaminya.


Hania mengerjapkan matanya beberapa kali menyadari sikapnya yang bisa memicu amarah Arga. Apalagi nada suara suaminya itu sudah berubah datar dan dingin meski masih memanggilnya dengan panggilan sayang. Sudah pasti sikapnya sudah membuat suaminya itu salah paham.


Ah, kenapa dia harus bertemu mantan suami yang ingin dihindarinya itu? Iya. Menghindarinya. Bukan karena Hania masih memiliki rasa, tapi memang sejak dulu hubungan mereka tidak pernah baik-baik saja.


"Mas, maaf." lirihnya seraya melirik Arga.


Arga melanjutkan langkahnya dengan tangan Hania yang tetap melingkar di lengannya. Namun wajahnya tetap datar dan dingin.


"Aku, aku ngga mau ketemu dia." ucap Hania tiba-tiba dengan mata berkaca-kaca.


Wanita cantik itu menghentikan langkahnya membuat Arga menoleh. Dapat didengarnya Arga menghela napasnya tapi pria itu masih diam. Hania tetap tidak mau bertemu mantan suaminya.


Bertemu Ryan, membuat Hania mengingat kembali betapa tidak berharganya dirinya di mata suaminya itu dulu. Dengan mudahnya dia dicampakkan dan dilupakan seolah tidak pernah ada hal istimewa yang tersisa. Betapa hancurnya dirinya hingga merasa tidak akan bisa menjalani hidup dengan baik lagi. Hatinya masih sakit.


"Kita ke sininya kapan-kapan aja." putus Hania lalu melepaskan tangannya yang melingkar di lengan Arga dan berbalik hendak meninggalkan tempat itu.


Langkah Hania urung berlanjut saat tangannya digenggam Arga. Pria karismatik itu menarik tubuh Hania lebih mendekat padanya. Sorot matanya mulai menghangat.


"Kenapa ngga mau ketemu dia?" tanya Arga dengan nada suara yang melembut.

__ADS_1


Arga menekan segala emosi di hatinya. Melihat mata Hania berkaca-kaca, pria itu seakan tersadar dari sikapnya yang terlalu mencemburui sang istri. Iya. Arga cemburu. Cemburu pada semua pria yang pernah dekat dengan Hania. Bahkan sikap Hania yang terkejut saat mengetahui sang mantan ada di tempat yang sama membuatnya berasumsi bahwa Hania masih memiliki rasa.


Dia lupa bagaimana tidak akurnya kedua mantan pasangan suami istri itu. Dia lupa bagaimana kerasnya usaha Hania menghindari mantan suaminya agar bisa melupakan rasa traumanya. Dia lupa betapa sakitnya hati istrinya itu karena perlakuan mantan suaminya. Dia juga lupa, bahkan dirinya lah tempat Hania berlindung dari pria itu setelah dirinya bisa meyakinkan wanita cantik itu.


"Apa masih ngerasa ngga nyaman saat ketemu sama dia?" tanya Arga lagi.


Hania tampak beberapa kali menghela napas dan mengembuskannya dengan kasar.


"Honey, jangan bersikap begini. Kamu tahu aku cemburuan. Sikapmu yang seperti ini bisa buat aku jadi mikir yang ngga-ngga, meski aku tahu persis yang sebenarnya terjadi. Aku minta maaf. Tapi itu yang aku pikirin. Apalagi mantanmu itu seperti masih menginginkanmu." ucap Arga panjang.


"Mas mikirnya terlalu berlebihan. Kalau dia masih cinta sama aku, mestinya dia ngga akan kemana-mana." sangkal Hania.


"Kamu bener. Kalau cinta pasti akan bertahan. Tapi kalau dia ngga kemana-mana, aku gimana? Pasti aku masih terus cuma sibuk sama kerjaan." kekeh Arga.


Arga merapatkan tubuhnya dan mengecup kening Hania sesaat. Lalu melingkarkan tangannya di pinggang ranping Hania. Pria itu membawa Hania melangkah lagi.


"Ayo! Kita temui mantanmu sama-sama. Dan selesaikan masalahnya. Ada aku di sampingmu, honey. Cukup hadapi dia, sisanya biar aku yang beresin, oke?" ucap Arga tapi Hania masih merasa ragu, langkahnya pun sedikit tertahan.


"Kamu mikir apa lagi, honey? Ini kesempatanmu kar'na setelah ini aku ngga akan biarin kamu ketemu dia lagi." tegas Arga.


Hania menghela napas lagi sebelum akhirnya mengikuti langkah Arga. Mungkin, ini saatnya berdamai dengan Ryan, mantan suaminya. Dan keberadaan Arga di sampingnya dirasa cukup membuatnya lebih tenang.


Rupanya alam mengamini keinginannya itu. Meski ada rasa kecewa karena Hania tak datang sendiri. Melihat pria karismatik di samping Hania, Ryan jadi tersadar bahwa kini Hania telah memiliki penggantinya. Tidak peduli sebesar apa rasa yang masih dimilikinya untuk wanita cantik yang dulu pernah menjadi yang paling istimewa baginya. Nyatanya pria itulah yang memiliki mantan istrinya.


"Dek."


"Mas."


Sapa Ryan dan Hania bersamaan. Membuat suasana jadi canggung. Sementara Arga masih enggan untuk menyapa Ryan.


"Apa kabarmu?" tanya Ryan membuka obrolan terlebih dahulu karena sepertinya Hania masih enggan untuk memulai.


Sungguh Ryan bukan hanya berbasa-basi menanyakan kabar Hania. Dia betul-betul ingin tahu bagaimana keadaan Hania saat itu. Selama ini, sebelum mantan istrinya itu menikah lagi, dia selalu memantau keadaannya juga putrinya. Tapi setelah Hania menikah lagi, dia seperti merasa lancang jika masih melakukan kebiasaannya, memantau mantan istrinya itu.


"Aku baik. Mas Ryan apa kabar?" balas Hania.


Jelas Hania hanya berbasa-basi. Untuk apa dirinya memikirkan pria yang sudah mencampakkannya demi wanita lain. Sudah pasti wanita lain itu akan mengurusnya.


"Aku baik." sahut Ryan.

__ADS_1


"Juga kangen kamu, Dek." Ryan mengucapkan kalimat terakhirnya cukup di dalam hatinya saja.


Meski dulu dirinya memilih kembali pada mantan kekasihnya, tapi tidak serta merta melupakan rasa cintanya pada Hania. Pria itu hanya tidak bisa bersikap tegas dalam memprioritaskan keluarganya.


Di atas rasa bahagia dalam pernikahan dengan mantan kekasihnya pun Ryan masih tidak bisa melupakan mantan istrinya begitu saja. Dalam hatinya masih tersimpan nama Hania yang baru disadarinya setelah tahun ke 3 perpisahannya dengan wanita cantik itu.


Berawal dari rasa bersalah karena harus meninggalkannya, membuatnya merasa harus selalu mengetahui keadaan mantannya. Dan dari keingintahuannya itu, dirinya semakin merasa tidak bisa melepas Hania tapi juga tidak ingin semakin menyakiti wanita itu. Katakan saja dirinya serakah. Ingin memiliki Hania lagi. Berbagai upaya untuk mendekati lagi pun sudah dilakukan tapi Hania terlanjur menutup semua pintu hatinya. Menemuinya saja wanita itu tidak mau.


Dan kini, Hania tidak bisa lagi didekatinya. Posisi yang diinginkannya sudah tergantikan. Ryan menghela napas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Selamat, ya, atas pernikahanmu." ada rasa nyeri yang meremas hatinya saat Ryan mengucapkan kalimatnya barusan.


"Jadi Mas Ryan udah tau, ya?" ucap Hania seraya tersenyum.


Nyes!


Hati Ryan merasa sejuk saat melihat senyum Hania. Senyum itu yang dulu selalu menyambutnya, menghiburnya, dan mengalihkan dunianya.


"Ehem!" Arga berdehem membuat Ryan mengalihkan tatapannya ke arahnya.


Suami mana yang suka jika istrinya ditatap penuh damba dan kerinduan oleh pria lain, terlebih pria itu adalah mantan dari sang istri. Begitu pula dengan Arga. Dirinya cukup menahan diri melihat dan mendengar sang pria itu bernostalgila dengan istrinya.


Iya. Nostalgila. Sebagai sesama pria, Arga tahu mana tatapan yang sekedar senang bertemu kembali, dan mana tatapan penuh minat dan harapan. Arga dapat melihat dengan jelas bahwa mantan suami sang istri masih menyimpan rasa pada istrinya.


"Maaf, anda sudah selesai 'kan? Bisa kita gantian? Saya dan istri saya juga merindukan mendiang Tiara, dan ingin mendoakan putri kami." sindir Arga.


Hati Ryan semakin berdenyut nyeri. Pria itu tahu kedekatan mendiang putrinya dengan suami mantan istrinya itu. Tiara begitu lengket dan menerima kehadiran Arga. Tak seperti saat bersamanya. Tiara seolah tidak mengenalnya dan bahkan merasakan takut padanya.


"Kalau belum selesai, kita bisa doain Tiara sama-sama, Mas. Ya 'kan, sayang?" tawar Hania lalu menekan Arga dengan panggilan keramat agar suaminya itu setuju.


"Iya. Begitu juga bagus. Kita bisa doain sama-sama. Tiara pasti seneng liat orangtuanya akur meski udah punya pasangan masing-masing." Arga yang tersanjung, setuju-setuju saja, tapi tetap memberi penekanan bahwa mereka sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi.


Senyum Ryan terkembang. Mendengar penawaran Hania, sepertinya wanita cantik itu mulai mencoba membiasakan diri dengan kehadirannya. Meski tetap berat untuk mengakui kenyataan Hania yang telah bersuami lagi tapi Ryan sepertinya harus mulai merelakannya. Pria yang juga tampan itu menerima tawaran Hania. Bersama mendoakan Tiara, putri kandungnya.


*******


Thanks for reading!


Boleh dong tap like & vote nya.

__ADS_1


Boleh juga ninggal krisan dan komen 🥰🥰🥰


__ADS_2