
Wanita paruh baya yang lekat menatap Hania itu terkejut hingga menumpahkan gelas yang tadi diletakkannya di depannya. Membuat Iden menggelengkan kepalanya lalu membantu membersihkan meja dengan tisu.
"Ah. Iya. Dia... memang cantik." ucap sang ibu gelagapan.
Wanita paruh baya itu memalingkan wajah seraya mengedip-ngedipkan matanya agar airmata yang sudah menggenang di pelupuk matanya tidak jatuh.
Iden bukannya tidak menyadari sikap sang ibu yang terkejut saat melihat Hania meskipun wanita paruh baya itu berusaha menyembunyikannya. Apalagi pria bermata coklat terang itu beberapa kali memergoki sang ibu menatap lekat ke arah Hania. Seperti barusan. Namun pria blesteran itu hanya diam. Dirinya belum bisa meraba-raba perubahan sikap ibunya itu.
"Den, Mama titip ini untuk Hania dan Arga, ya." ucap sang ibu seraya mengangsurkan sebuah amplop coklat ke arah Iden.
Kabar menikahnya Arga memang sudah didengar ibunya Iden, Ibu Irene. Wanita paruh baya itu ikut berbahagia untuk sahabat putranya yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu. Dengan wajah berbinar, wanita yang masih cantik di usia senjanya itu melangkah menghampiri Arga.
Namun, raut wajah yang tadinya memancarkan aura kebahagiaan berubah menjadi sendu ketika bertemu muka dengan Hania. Saking terkejutnya, Ibu Irene langsung meninggalkan Hania setelah memberinya ucapan selamat yang singkat dan lupa memberikan hadiah yang sudah disiapkannya pada pasangan yang tengah berbahagia itu.
"Kenapa ngga di kasihkan sendiri aja sih, Ma?" protes Iden meski tetap menerima amplop itu.
"Mama buru-buru. Papa barusan telepon minta Mama pulang." Ibunya Iden langsung bangkit meninggalkan Iden yang masih keheranan.
"Kenapa buru-buru? Bukannya Papa sedang di luar negeri?" gumamnya dalam hati seraya mengernyitkan keningnya. Pria blesteran itu menatap punggung Ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Iden masih memperhatikan sang ibu yang sesekali masih menoleh ke arah Hania. Iden pun ikut menoleh, ikut menatap Hania. Mencari letak keganjilan yang membuat sang ibu terkejut ketika menatap Hania dan terus menatapnya.
Hari menjelang sore ketika Iden meninggalkan hotel dimana Arga dan Hania menggelar pesta pernikahan yang terkesan privat itu. Perasaan ganjil yang sedari tadi mengganjal di hatinya harus segera disingkirkan. Pria flamboyan itu merasa tak nyaman, membuatnya terganggu saja.
"Apa Papa sudah di rumah, Bi?" tanya Iden begitu memasuki rumah orangtuanya.
"Belum itu, Den." jawaban Bi Siti, asisten rumah tangga orangtuanya yang membuatnya semakin penasaran.
"Belum?" batin Iden.
"Mama dimana?" tanyanya kemudian.
"Ada, Den. Ibu sudah pulang dari tadi. Beliau ada di kamarnya. Sedari pulang tadi belum keluar lagi." terang Bi Siti.
"Aden mau minum apa?" tanyanya ketika melihat Iden melangkah masuk.
"Ngga usah, Bi. Aku nemuin Mama dulu." tolak Iden dan berlalu meninggalkan Bi Siti.
Prang!!!
Iden baru sampai di pertengahan anak tangga ketika terdengar suara gaduh dan benda berbahan kaca terjatuh, menimbulkan suara nyaring. Pria blesteran itu langsung berlari secepat kilat menuju kamar sang ibu.
Bi Siti yang baru akan sampai di dapur juga ikut mendengar suara kaca pecah. Wanita berusia di akhir 50 tahunan itu langsung berbalik lagi. Dengan tergopoh-gopoh menaiki anak tangga menuju kamar majikannya.
"Bi, tolong ambilin kunci ganda kamar Mama, ya." perintah Iden pada wanita tua itu dengan raut panik.
Kamar sang ibu terkunci. Rupanya wanita paruh baya itu tidak ingin diganggu. Meski sudah berkali-kali mengetuk, daun pintu bercat putih itu sama sekali tidak terbuka. Bahkan Iden berteriak memanggil ibunya, namun tetap tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Membuat pria itu semakin khawatir.
"Ini, Den." kata Bi Siti seraya mengangsurkan serenteng kunci ganda.
__ADS_1
Iden langsung menyerbu masuk kamar sang ibu begitu pintu itu terbuka. Matanya seketika terbelalak melihat ibunya tergeletak di lantai dekat ranjang. Rupanya wanita paruh baya itu sempat berpegangan pada nakas sebelum akhirnya ambruk, berserta nakasnya. Tak pelak vas bunga berbahan kaca di atas nakas pun ikut terjatuh dan menimbulkan suara nyaring.
"Mama!" pekik Iden.
Pria tampan itu segera memangku kepala sang ibu dan mencoba menyadarkannya dengan menepuk-nepuk pipinya. Dan akhirnya memutuskan membawa sang ibu ke rumah sakit karena sang ibu tidak kunjung siuman.
"Bi, telpon Bang Rendy! Suruh dia nyusul ke rumah sakit Harapan!" perintah Iden sambil menggendong ibunya keluar kamar.
Bi Siti menganggukkan kepalanya. Meski usianya sudah senja, wanita itu masih gesit dalam melakukan tugasnya dan perintah dari majikannya.
"Mama gimana?" tanya Rendy yang baru tiba di rumah sakit. Wajahnya tak kalah paniknya.
Saat ini, Ibu Irene sudah ditempatkan di ruang VIP. Dokter yang menangani wanita paruh baya itu mengatakan bahwa sang ibu mengalami syok hingga membuat tensinya naik drastis. Beruntung saat jatuh tadi tidak ada pembuluh darah yang pecah. Wanita yang masih cantik di usia senjanya itu hanya memerlukan istirahat yang cukup dan juga terapi obat penurun tensi.
"Kenapa tiba-tiba Mama ngedrop? Bukannya kalian tadi ke wedding party nya Arga?" cecar Rendy.
"Gue ngga tahu, Bang. Tadi Mama pulang duluan sama sopir. Sore baru gue susul. Ternyata Mama udah pingsan." terang Iden, sedikit menutupi kecurigaannya terhadap perubahan sikap sang ibu.
Bi Siti menyusul ke rumah sakit dengan membawakan pakaian ganti untuk Rendy. Malam ini gilirannya berjaga. Sementara Iden yang penasaran, beralasan harus menemui kliennya. Padahal, pria blesteran itu ingin memperjelas dugaannya, jika sang ibu sedang menyembunyikan sesuatu.
Sesampainya di kediaman orangtuanya, Iden langsung menuju kamar orangtuanya. Tadi, dirinya sempat melihat selembar foto berukuran 10 R tergeletak di bawah ranjang.
Matanya membola, tangannya bergetar. Melihat gadis kecil di dalam foto itu mengingatkannya pada mendiang Tiara, putrinya Hania.
"Tiara?" gumamnya.
"Apa hubungan Mama dengan Tiara?" batinnya.
"Inka?" gumamnya lagi.
"Gadis kecil ini namanya Inka? Kenapa mirip Tiara?" batin Iden seraya mengurut pelipisnya, pria itu mendadak pusing.
Tidak mau berpikir macam-macam, Iden merogoh benda pipih berharga puluhan juta rupiah itu dari saku celana bahannya. Lalu mulai fokus mencari sebuah nama.
"Lik! Cari informasi soal Mama gue!" perintah Iden pada Kelik.
"Gimana, Bos?" sahut Kelik terdengar ragu.
"Lu denger yang barusan gue bilang 'kan!? Dan inget, jangan ada yang tahu! Termasuk abang gue! Arga juga!" tekan Iden.
"Gue kirimin juga foto gadis kecil. Selidiki, apa hubungan Mama gue sama gadis kecil itu!" perintah Iden.
"O-oke, Bos!" sahut Kelik masih ragu.
Iden langsung mengakhiri panggilannya. Sementara itu, Kelik masih menatap ponselnya yang sudah mati layarnya. Apa-apaan bosnya itu? Masa' iya memintanya menyelidiki ibunya sendiri? Apa bosnya itu sedang mencurigai ibunya? Ibunya selingkuh begitu? Atau menggelapkan dana perusahaan? Kelik menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Sekate elu deh, Bos. Moga yang gue pikirin ngga terjadi." gumam Kelik seraya menatap layar ponselnya.
Hampir jam 1 dinihari ketika Iden tiba di kamar rawat sang ibu. Dilihatnya Rendy sedang sibuk dengan laptop dan tabletnya. Apalagi jika bukan urusan pekerjaan yang dibawa pulang. Tak berbeda dengannya. Beralih dari Rendy, Iden menatap lekat wajah Bu Irene yang tampak pucat. Dalam keadaan begini, barulah pria itu menyadari jika ibunya itu sudah semakin menua.
__ADS_1
"Apa yang Mama sembunyiin? Kenapa kaget waktu liat Hania? Siapa Inka? Kenapa wajahnya mirip Tiara?" tanya Iden dalam hatinya.
Iden menghela napasnya dalam-dalam. Pria itu duduk di kursi di sebelah brankar dimana sang ibu terbaring tenang. Diraihnya tangan ibunya yang sudah nampak kerutannya, menciumnya dan menempelkannya di pipinya. Tak terasa bulir bening membasahi sudut matanya, lancang mengalir menuruni pipinya. Sesekali pria flamboyan itu mengusapnya hingga airmata itu tidak mengalir lagi.
"Den." Iden menggeliatkan tubuh atletisnya yang masih berbalut kemeja yang dipakainya untuk menghadiri pestanya Arga dan Hania.
"Pindah kasur, gih!" suara Rendy sayup-sayup terdengar di telinganya.
Pria itu memicingkan matanya, menatap ke sekitar ruangan.
"Jam berapa?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
Hah. Rupanya Iden tertidur cukup nyenyak barusan. Matanya sekarang sudah terbuka lebar-lebar dan merasakan tubuhnya lebih segar meski sedikit merasa pegal pada bagian tangan yang dipakainya memangku kepalanya. Pria itu tertidur sambil terduduk di kursi di samping brankar.
"Hampir jam 6. Lu ngantor?" sahut Rendy seraya berjalan memasuki kamar mandi.
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
Iden mengerutkan keningnya demi membaca pesan dari Reza. Asisten Arga itu memintanya menggantikan Arga menemui klien mereka yang akan berkunjung pagi ini.
"Bang, lu disini 'kan? Gue harus nemuin klien dulu. Abis itu gue ke sini lagi." tanya Iden begitu Rendy keluar dari kamar mandi.
Apalah dayanya, meski termasuk atasan di perusahaan Arga, tetap saja dirinya seorang karyawan di perusahaan itu.
"Gue ke kantor setelah jam 10." sahut Rendy lalu duduk lagi di depan laptopnya.
"Bang, lu ngga tidur dari semalem? Terakhir gue liat, lu masih di depan laptop." Iden tergelitik juga untuk bertanya seraya menatap kakak kandungnya itu. Pasalnya, sejak dirinya tiba di kamar sang ibu, abangnya itu sudah sibuk berkutat dengan pekerjaannya.
"Tidur. Kenapa?" Iden hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Rendy lalu berlalu meninggalkan kamar VIP tempat ibunya dirawat.
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
Iden sudah berada di ruangannya setelah menemui klien perusahaan Arga dan sedang menyelesaikan sedikit pekerjaan yang tertunda, ketika ponselnya bergetar. Pria tampan itu menyambar benda pipih yang terletak dihadapannya tanpa melihat layarnya. Matanya masih terfokus pada berkas yang dibacanya.
"Gimana?" tanyanya setelah mendengar suara yang akrab di telinganya. Iden seketika menghentikan kesibukannya. Jantungnya berdebar kencang menunggu jawaban dari Kelik.
"Gini, Bos. Sewaktu Bos masih kecil, orangtua Bos pernah berpisah karena kesalahpahaman diantara mereka. Ibu Irene sangat marah waktu itu dan memilih pergi, meninggalkan Bos dan Pak Rendy tinggal bersama kakek nenek Bos." Kelik langsung memberitahukan informasi yang didapatnya.
Iden membelalakkan matanya demi mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Kelik. Sungguh pria blesteran itu sangat terkejut. Ternyata selama ini orangtuanya menyimpan rahasia sebesar itu darinya. Apakah Bang Rendy mengetahuinya?
Iden mengepalkan tangannya. Semakin mendengar keterangan Kelik, hatinya semakin merasakan nyeri. Tanpa terasa airmatanya mulai membasahi sudut matanya.
"Mama." lirihnya.
*******
Thanks for reading!
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
__ADS_1
🤗🤗🤗😘