Yang Terakhir

Yang Terakhir
123. Serigala Berbulu Domba


__ADS_3

Iden sedang berdiri menatap Raka dengan tajam. Pria blesteran itu tak percaya, sahabatnya itu tega menghianati sahabatnya sendiri. Sejak remaja mereka selalu bersama. Bebagi suka dan duka. Berbagi cerita asmara mereka. Tapi hanya karena gadis yang dicintainya bunuh diri karena cintanya ditolak Arga, sahabatnya itu berubah. Bertahun-tahun lamanya, Raka menyimpan dendam pada Arga. Selama itu pula pria yang memiliki kadar ketampanan di atas rata-rata itu tetap bersikap layaknya seorang sahabat untuk Arga.


"Muna lu!" umpat Iden setelah terdiam cukup lama.


"Ngga nyangka gue, punya teman kayak serigala berbulu domba begini. Ck!" lanjutnya.


"It's not your fucking bussiness, Den. Lu mana tau rasanya kehilangan cewek yang lu cintai." lirih Raka.


"Iya. Lu bener! Gue ngga tau rasanya." sahut Iden ketus, pria blesteran itu tersinggung.


"Tapi kalian berdua itu sahabat gue. Dan yang lu lakuin ke Hania itu keterlaluan banget. Lu bener-bener menghancurkan Arga dan Hania bersamaan!" ketus Iden.


Raka tergelak. Meski tubuhnya sudah terkulai lemas, pria itu masih punya tenaga untuk merayakan keinginannya yang tercapai.


Bugh!


Sebuah tinjuan mendarat di pipi kiri Raka. Iden benar-benar kesal dengan sikap sahabatnya. Dirinya sempat tidak percaya ketika Reza memberitahunya sebelum memberi tahu Arga. Pria bermata coklat terang itu juga sempat mencoba menghubungi Raka sebelum akhirnya nomor kontaknya di blokir.


Sahabatnya itu mengatakan secara gamblang akan menghancurkan Arga karena rasa dendam di masa lalu yang membuatnya terkejut dan kehilangan kata-kata. Bahkan, Raka memintanya untuk tidak ikut campur dalam masalahnya dan Arga.


"Emang bangsat lu!" ucap Iden seraya mengeratkan rahangnya.


Iden benar-benar merasa kecewa pada sahabatnya itu. Pria blesteran itu tidak menyangka Raka tega menghianati sahabatnya sendiri. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana terlukanya Arga. Sebagai orang yang tumbuh besar bersama Arga, Iden sangat mengenal pria yang dikenal paling irit bicara di antara mereka berlima. Arga merupakan anak tunggal yang kesepian. Dan Iden selalu menemaninya. Arga dan Iden bertemu dan bersahabat dengan dengan Raka ketika mereka duduk di bangku esempe.


Arga merasa dunianya tidak sesunyi dulu karena adanya Iden dan Raka. Kedua sahabatnya itu selalu ada untuknya. Arga akan lebih banyak bicara dan tertawa ketika bersama mereka. Iden bisa melihat perubahan sahabat pendiamnya yang berubah lebih ceria setelah beranjak remaja turut merasa senang. Iden tahu betul Arga menyayangi Raka bahkan juga menganggapnya sebagai saudara.


Tapi kini, salah satu sahabat yang membuatnya ceria dulu telah menghancurkannya. Iden bisa merasakan kesedihan pria yang dikenalnya sejak kecil itu. Hidupnya tidak pernah mudah. Sejak kecil sahabatnya itu sudah tertekan. Kurangnya perhatian dari kedua orangtuanya sejak kecil. Di usia remaja pria itu sudah harus belajar bisnis. Beranjak dewasa Arga ditingal sang ayah untuk selamanya dan harus menggantikan posisi sang ayah memimpin perusahaan yang dirintis sang ayah. Waktunya bersenang-senang tersita untuk memikul tanggung jawab yang besar.

__ADS_1


Setelah dewasa pun, perjalanan cintanya tidak mulus. Dihianati mantan istrinya dan di tinggal putra semata wayangnya untuk selamanya. Arga sempat depresi dan trauma untuk menjalin hubungan asmara.


"Lu tau Arga menyayangi lu udah kayak saudaranya sendiri. Soal Rindy, Arga ngga salah, man. Dia emang ngga cinta sama cewek itu. Apalagi dia tau kalau lu cinta sama cewek itu." sesal Iden.


"Tapi Rindy bunuh diri karena dia!" kukuh Raka penuh penekanan.


"Lu emang buta ya? Huh!" cibir Iden.


"Arga ngga kayak kita bertiga, Ka. Bisa jalan sama cewek mana aja yang penting cantik dan seksi meski ngga cinta. Itu aja kita juga pilih-pilih. Apalagi Arga. Dia selalu punya banyak pertimbangan kalau mau jalan sama cewek. Rindi bukan tipenya dan lagi dia tau lu cinta sama Rindy." ucap Iden seraya menatap Raka.


"Bukan Arga yang bikin Rindy depresi. Tapi salahnya cewek itu sendiri nyatain perasaannya di depan banyak orang. Bahkan lu tau sendiri kejadian itu." sambung Iden.


Ya. Raka juga ikut menyaksikan aksi nekat Rindy sore itu. Dengan percaya diri, gadis cantik berkaca mata itu mendatangi Arga yang tengah berkumpul dengan timnya termasuk diriya, di tepi lapangan basket sehabis bertanding. Tentu saja aksinya itu tidak hanya dilihat dan didengar Arga dan kawan-kawannya, tapi juga kelompok cheerleader yang berkumpul tak jauh dari tempat Arga dan kawan-kawanya berkumpul.


"Apa lu liat, Arga langsung nolak Rindy? Bicara kasar ke Rindy? Atau menertawakan sikap Rindy? Ngga 'kan?" Iden mencecar Raka dengan pertanyaan yang jawabannya sudah diketahui sahabatnya itu


"Kalau ada cewek yang bukan tipe lu datang trus bilang suka sama lu, pasti bakal lu tolak 'kan? Arga juga begitu. Jadi, jangan egois deh lu!" sarkas Iden.


Sementara itu, Arga yang masih menenangkan Hania dibuat panik ketika tiba-tiba wanita cantik itu mendadak terkulai lemas dalam pelukannya. Dengan gerakan cepat pria tampan itu menggendong Hania dan berjalan setengah berlari menuju mobilnya. Reza juga langsung mengekor di belakangnya. Asisten tampan itu selalu siaga mengantar dan menemani atasannya ketika berada di sekitar Arga.


"Cari rumah sakit terdekat, Za!" perintah Arga begitu mobil sudah melaju di jalan raya.


Pria berkacamata itu hanya menganggukkan kepalanya, matanya fokus pada jalanan yang menurun.


Arga terus membelai rambut dan wajah Hania dengan gelisah, berharap wanita itu cepat siuman. Namun, hingga tiba di rumah sakit terdekat yang tidak terlalu besar, Hania masih setia menutup matanya.


Reza menghela napasnya. Pria itu terenyuh melihat Arga. Sejak menjadi asistennya, Reza baru melihat atasannya itu benar-benar bahagia, mudah tertawa lepas, selalu tersenyum, dan lebih hangat, sejak mengenal Hania.

__ADS_1


Pria berkacamata itu dapat merasakan kesedihan atasannya itu. Meski tidak sering berinteraksi dengan Hania karena Arga selalu menjadi yang terdepan melarangnya berlama-lama berbicara pada wanita berhati lembut itu, tapi dirinya juga merasakan dihargai oleh seorang wanita. Sudah sepantasnya Arga sangat jatuh cinta pada Hania. Dan kini, wanita itu dihancurkan sahabat atasannya sendiri. Tentu hal itu ikut menghancurkan Arga.


"Pak, kita sudah sampai." ucap Reza lalu membuka sabuk penganmannya dan keluar.


Arga menggendong Hania keluar dari mobilnya. Reza datang bersama 2 orang perawat yang membawa brankar.


"Za, jangan bilang sama Ibu saya tentang kondisi Hania yang sebenarnya! Saya ngga mau Hania kehilangan rasa percaya dirinya dan jadi rendah diri. Biarkan itu jadi rahasia!" perintah Arga.


"Ah. Sekalian jangan mengabari Ibu saya. Biar nanti saja!" perintah Arga selanjutnya.


Reza hanya menganggukkan kepalanya.


"Ohya, apa polisi sudah datang ke vila itu?" tanya Arga tanpa menolehkan kepalanya.


"Belum, Pak." sahut Reza.


"Bawa Raka pergi dari sana! Aku belum selesai dengan dia!" suara Arga berubah dingin dan penuh tekanan, sebutan untuk dirinya pun berubah menjadi 'aku'.


Reza segera memghubungi Kelik dan memintanya melakukan perintah Arga.


********


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.


🤗🤗🤗😘

__ADS_1


__ADS_2