Yang Terakhir

Yang Terakhir
163. Kedatangan Tante Monica


__ADS_3

Arga kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda karena kedatangan Hania barusan, setelah wanita cantik itu kembali pulang. Ingin hati mengantarkan sendiri sang istri tercinta tapi apa daya berkas-berkas yang membutuhkan tanda tangannya masih menumpuk di hadapannya. Menahannya pun percuma. Belum-belum, wanita itu sudah mengeluh bosan duluan. Arga sudah mencobanya tadi. Mengingatnya, membuat pria tampan itu senyum-senyum sendiri.


"Kamu mau pulang sekarang, honey?" Arga melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hania, memeluknya dari belakang ketika istrinya sibuk menata peralatan makan di atas meja.


"Ngga mau nemenin aku di sini? Aku pasti tambah semangat kalau ada kamu di sini." rayu Arga melihat respon Hania yang biasa-biasa saja.


"Mas yang semangat, aku yang bosan." keluh Hania tanpa menoleh.


"Kenapa bosan? 'Kan kamu bisa liatin aku." Hania menoleh menatap Arga seolah berkata, oh ya?


"Kenapa? Asal kamu tahu ya, mukaku yang ganteng ini, ngga pernah gagal bikin mata stay fresh lho." nasrsis Arga membuat Hania gemas.


"Iya. Aku tahu itu, Mas. Kalau ngga ganteng, aku juga ngga mau." seloroh Hania seraya terkekeh.


"Tapi apa enaknya duduk-duduk di sini cuma ngeliatin Mas yang sibuk 'ngelus-elus kertas sementara aku dianggurin." cerocos Hania.


Wanita cantik itu tidak menyadari jika ucapannya menimbulkan ide nakal di benak sang suami.


"Jadi, kamu mau dielus-elus juga? Apa yang semalam masih kurang, hum? Kalau gitu, aku 'ngelus-elus kamu dulu aja deh." goda Arga.


Pria tampan itu lalu menyambar bibir merah jambunya Hania. Mel***tnya dengan lembut. Semakin lama semakin rakus. Hania yang terkejut dengan serangan mendadak dari suaminya hanya bisa pasrah dan mulai terbuai dengan permainan sang suami.


Rambut Hania yang tadinya diikat ekor kuda, kini sudah terurai dan sedikit berantakan. Begitu pula kancing blusnya yang sudah terbuka 3 biji, membuat bukit indahnya mengintip manja. Melihat pemandangan yang bikin penasaran itu, jelas saja Arga semakin bergairah dan 'jendral jack'nya semakin meronta.


"I want you." bisik Arga dengan bibir yang menempel di telinga Hania, membuatnya meremang dan semakin terang**ng.


"I'm yours." sahut Hania dengan napas yang sama memburunya.


Mendapat lampu hijau dari Hania, Arga langsung membopong tubuh Hania menuju kamar berukuran sedang yang didesainnya untuk beristirahatnya ketika sedang lembur. Namun, semenjak menikahi Hania, pria tampan itu tidak pernah menggunakannya lagi. Dia lebih suka membawa pulang pekerjaannya yang belum selesai dan bertemu sang istri yang selalu membuatnya rindu. Dan kini, dia menjelajahi nirwana di siang bolong bersama sang istri di ruangan itu. Ruangan yang baru pertama kali digunakannya untuk mereguk kenikmatan duniawi. Bahkan Arga tidak pernah melakukannya di sana bersama mantan istrinya dulu.


Tok tok tok!


Senyum Arga seketika lenyap dari bibir seksinya dan wajahnya berubah menjadi serius kembali ketika pintunya diketuk. Pria itu mengalihkan tatapannya ke arah pintu yang terbuka.


"Maaf, Pak. Ibu Monica ingin bertemu." lapor Dian dari depan pintu yang terbuka setengah.


Arga menganggukkan kepalanya. Pria itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesarannya lalu menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Mata tajamnya memperhatikan seorang wanita cantik dan terawat meski sudah berusia separuh abad, memasuki ruangannya setelah sekretarisnya mempersilakan. Tak lupa wanita itu mengucapkan terimakasih. Sungguh wanita yang santun.


Arga berdiri dari duduknya seraya tersenyum ramah setelah wanita itu semakin mendekat.


"Arga, sayang. Apa kabarmu?" sapa wanita itu seraya memeluk Arga, pun Arga membalas pelukan wanita itu dengan senang.


"Aku baik, Tante. Kapan Tante pulang? Kenapa ngga ngabari aku? Sudah ketemu Ibu?" tanya Arga setelah melepas pelukannya.


"Tante langsung kesini setelah beristirahat sebentar tadi. Ibumu juga ngga angkat ponselnya sewaktu Tante telpon." sahut Tante Monica seraya berjalan ke arah sofa.


"Wah, aku tersanjung, Tante." ucap Arga berbasa basi.


"Jangan bermanis mulut padaku, Arga." sergah Tante Monica membuat Arga tertawa.

__ADS_1


"Baiklah Tanteku sayang. Maaf." ucap Arga lagi seraya tersenyum manis.


"Ngomong-ngomong. Selamat atas pernikahanmu. Sungguh, Tante seneng dengernya. Dan juga, Tante ikut sedih karena kalian harus kehilangan calon bayi kalian." ucap Tante Monica tampak tulus, terlihat dari matanya yang tiba-tiba berkaca-kaca.


"Itu... Hah!" potong Arga lirih.


Senyum Arga seketika lenyap. Hatinya kembali terasa nyeri. Entah nyeri karena apa? Apakah karena kehilangan calon anak yang sudah mulai disayanginya? Atau karena calon anak itu adalah benih mantan sahabatnya? Dia seperti kembali diingatkan pada peristiwa kelam yang menimpa Hania beberapa bulan yang lalu.


"Terimakasih, Tante. Itu sudah berlalu. Aku dan Hania sekarang sedang berusaha menerima keadaan ini. Doakan kami segera mendapatkannya lagi." balas Arga dengan rasa sesak di dada.


"Aamiin. Semoga, ya, sayang." sahut Tante Monica seraya menepuk lengan Arga.


Tok tok tok!


Ketukan di pintu membuat Tante Monica mengurungkan niatnya untuk berbicara. Seorang office boy masuk dengan nampan yang berisi 2 cangkir teh. Pastilah Dian yang mengaturnya tanpa diminta oleh Arga. Benar-benar sekretaris yang cekatan.


"Terimakasih." ucap Arga dan Tante Monica bersamaan.


"Ada apa, Tante? Sepertinya ada yang mau disampaikan." selidik Arga setelah office boy tadi meninggalkan ruangannya.


Kedatangan Tante Monica yang tanpa ada angin dan hujan itu membuat Arga sedikit bertanya-tanya. Bukan masalah sebenarnya jika wanita paruh baya itu mengunjunginya. Dirinya pun sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri.


"Ini, masalah Raka." ucap Tante Monica dengan ragu.


Arga mendesah dan terdiam. Mendengar nama Raka mendadak suasana hatinya memburuk. Seandainya yang di hadapannya itu bukan Tante Monica, wanita yang juga dihormatinya, sudah pasti akan langsung diusirnya.


"Arga. Saat ini, perusahaan kami sedang goncang. Kamu pasti tahu 'kan? Dan Raka sepertinya sudah hampir putus asa." Tante Monica menjeda kalimatnya karena rasa sesak di dadanya, beberapa kali dia menarik napas untuk menetralkan rasa itu.


Arga lagi-lagi mendesah. Dirinya tidak tega melihat Tante Monica seperti itu. Memohon padanya. Bukan itu yang dia inginkan. Tujuannya adalah menghancurkan Raka dan membuat mantan sahabatnya itu menyadari kekeliruannya lalu meminta maaf dan menghilang.


Ruangan Arga yang biasanya hening, kini tidak lagi hening. Isak tangis tante Monica terdengar rapat di ruangan itu. Arga gamang. Namun, dia harus tega kali ini. Demi Hania.


"Aku ngga bisa bantu, Tante." putus Arga membuat Tante Monica menatapnya lekat tak percaya.


"Maaf." lirih Arga seraya menatap lembut mata wanita paruh baya itu.


"Tapi kenapa?" tanya Tante Monica dengan suara bergetar.


"Bukannya kalian selalu bekerjasama?" lanjutnya lagi karena Arga tak kunjung menjawab.


"Arga!" seru Tante Monica yang mulai kesal karena Arga hanya diam.


Wanita paruh baya itu, jauh-jauh datang dari Jerman, negara asal suaminya, ayah tiri Raka, demi meminta pertolongan Arga agar mau membantu perusahaan putranya, Raka. Dengan percaya diri, Tante Monica yakin jika Arga akan mau membantu. Tapi yang didengarnya diluar dugaannya. Arga menolak membantu Raka. Sahabat putranya, yang sudah dianggapnya seperti putranya sendiri, tidak mau mengabulkan permohonannya. Hatinya berdenyut nyeri.


"Tante, bukannya aku ngga mau bantu Raka. Tapi apa yang sudah Raka lakukan padaku membuatku ngga ingin bantu dia." terang Arga menekan rasa ibanya membuat Tante Monica mengernyitkan keningnya.


"Memangnya apa yang dilakukan Raka sampai kamu ngga mau bantu dia, Ga? Tante minta maaf atas nama Raka. Tolong kamu maafin dia, ya. Kamu bantu dia. Kalian udah sahabatan lama banget. Masalah apa yang bikin kamu kayak gini?" cerocos Tante Monica.


Arga menatap iba pada Tante Monica. Wanita paruh baya itu dikenalnya sangat penyayang dan perhatian seperti ibunya. Layaknya seorang ibu, demi putranya, dia akan melakukan apa saja. Seperti saat ini. Tanpa tahu kesalahan putranya, Tante Monica meminta maaf padanya. Sial Raka!


"Apa Raka ngga cerita sama Tante?" tanya Arga seraya menahan emosi.

__ADS_1


Arga merasa semakin marah pada Raka. Tega sekali membuat ibunya memohon pada orang lain. Anak tak berguna! Entah sudah berapa kali Arga mengumpati Raka di dalam hatinya.


Brak!


Iden masuk ke dalam ruangan Arga tanpa mengetuk. Bahkan membuka pintu dengan kasar. Di belakangnya ada Reza.


"Ga?" Iden menjeda perkataannya demi melihat Tante Monica di ruangan Arga.


"Tante." sapa Iden kikuk, antara bingung dan emosi.


"Ada apa?" tanya Arga dengan nada datar.


"Umm... Itu...." Iden melirik Tante Monica yang juga menatapnya.


"Lu kenapa, sih?" kesal Arga.


"Itu...." Iden mendadak kelu.


"Bu Hania di culik Pak Raka, Pak." sambar Reza yang tahu Iden sungkan akan memberitahukan kabar hilangnya Hania karena keberadaan Tante Monica.


"Apa!?" Arga dan Tante Monica sama terkejutnya.


Saking terkejutnya kedua insan beda generasi itu sama-sama berdiri dari duduknya. Tapi tak lama kemudian, Tante Monica kembali terduduk di sofa. Kakinya terasa lemas seperti jeli dan kepalanya mendadak berputar.


"Tante!"


"Bu Monica!"


Ketiga pria bertubuh atletis itu sama-sama terkejut dengan keadaan Tante Monica.


"Lu tungguin Tante Monica di sini! Minta bantuan Dian!" perintah Arga pada Iden.


"Za!" seru Arga meminta Reza mengikutinya.


Arga berjalan dengan langkah panjang-panjang. Wajahnya memancarkan kemarahan yang teramat sangat. Kesabarannya benar-benar dipermainkan. Sementara Reza mengikuti Arga dengan tenang meski sebenarnya dirinya juga tegang. Pria manis berkaca mata itu tahu betul jika saat ini atasannya sedang diliputi emosi. Dia merasa jika dia lah yang akan menjaga Arga dari tindakannya yang akan merugikan di kemudian hari. Begitulah. Jika Arga sedang emosi, Reza lah yang akan mengontrolnya.


Ciiiit! Dug!


Tanpa bisa dihindari, sebuah mobil yang tiba-tiba muncul menabrak mobil Ferdi, ketika mobil sport itu akan berbelok memasuki komplek apartemen dimana unitnya berada. Untung saja dirinya dan pengendara mobil yang menabraknya sempat menginjak pedal rem tepat waktu hingga benturan yang terjadi tidak terlalu keras. Mungkin hanya sedikit tergores.


Tampak sekali pengendara mobil di depannya itu terburu-buru. Alih-alih membuka kaca mobil sebagai tanda permintaan maaf, pengendara mobil itu malah membunyikan klakson memintanya menyingkir. Jangankan untuk meminta ganti rugi, yang ada pasti nantinya akan berakhir dengan perdebatan panjang. Ah sudahlah!


Dengan kesal Ferdi menepikan mobilnya. Matanya terus memperhatikan pengendara yang terlihat samar. Namun matanya seketika membelalak ketika melihat seorang wanita yang sedang tertidur, mirip dengan wanita yang selama ini masih bersemayam di hatinya.


"Hania?" batin Ferdi.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2