
"Mas Ryan." lirih Hania.
Melihat sosok pria tampan yang pernah dicintainya berdiri di hadapannya, membuat Hania langsung mematung. Ada wajah Tiara di wajah tampan itu. Seketika dia teringat putrinya.
"Apa kabar?" sapa Ryan seraya menatap Hania dan menyunggingkan senyum ramahnya.
"Kami baik." Arga menyahut dan menyambut uluran tangan pria yang membuatnya cemburu itu meskipun sebenarnya uluran tangan itu tertuju pada Hania.
Ryan tersenyum masam. Arga benar-benar berperan sebagai tembok yang kokoh untuk Hania. Pria karismatik itu seperti ingin menunjukkan bahwa Hania kini miliknya yang akan dilindunginya. Dan menjauhkan wanita berhati lembut itu dari gangguannya. Ryan dapat melihat dengan jelas, Arga sangat mencintai Hania. Dirinya jadi teringat ketika dia jatuh cinta pada mantan istrinya itu. Dia juga bersikap sama seperti Arga. Tapi dia sudah salah langkah. Dan kini sedang menyesalinya.
Sebenarnya Ryan ingin sekali berbincang sejenak dengan mantan istrinya.
Melepaskan rasa rindunya pada mendiang putrinya dengan memandangi wajah Hania. Karena Ryan pun melihat wajah Tiara ketika melihat Hania.
Ah. Dia baru menyadari. Wajah ayu mantan istrinya memang mirip dengan purinya. Hanya beberapa bagian dari wajahnya yang diwariskan pada Tiara. Tapi sudah cukup membuktikan bahwa gadis kecil seperti boneka itu adalah putri kandungnya.
"Aku akan menemui klien di sini." Ryan mengatakan tujuannya ke restoran Hania ketika menatap wajah Arga yang tak bersahabat.
"Silakan dilanjutkan, Mas. Kami juga akan pulang." ucap Hania.
Wanita cantik itu sudah tidak tahu lagi akan bersikap bagaimana pada mantan suaminya. Hatinya masih beku meski sudah bisa memaafkan penghianatannya. Apalagi ada Arga yang selalu menunjukkan sikap tak ramahnya pada ayah kandung putrinya itu.
"Aku harap kita bisa ketemu lagi dan mungkin bisa sama-sama menziarahi makam Tiara." Hania urung membalikkan tubuhnya.
Mata Hania menatap lekat manik coklat terang mantan suaminya itu. Lalu menghela napas berat. Apa maksudnya? Selama ini, pria yang pernah mengisi hatinya itu adalah sosok yang paling ingin dihindarinya. Melihatnya, membuatnya teringat pada penghianatannya dulu. Pun hingga saat ini. Dan sekarang pria itu menawarinya kebersamaan? Meskipun hanya pergi berziarah? Hania tersenyum masam.
"Entahlah, Mas. Maaf aku duluan." Hania melingkarkan tangannya pada lengan kokoh Arga.
Sepeninggal Hania, Ryan mendesah berat. Mata teduhnya terus menatap punggung Hania hingga menjauh.
"Maafin aku, Dek." ucap Ryan dalam hatinya seraya terus menatap Hania yang semakin menjauh.
Ryan meghela napas berat lalu melangkah meninggalkan ruangan itu meneruskan tujuannya, menemui kliennya.
Arga melajukan sedan mewahnya dengan kecepatan sedang menuju perusahaannya. Tadi Reza menghubunginya. Asistennya itu memintanya datang ke perusahaan. Ada beberapa dokumen yang harus ditanda tanganinya. Sementara dirinya harus menemui utusan dari perusahaan yang ingin menjalin kerjasama.
"Kamu capek? Aku antar pulang ya?" tawar Arga yang melihat Hania hanya diam saja dan murung lagi.
__ADS_1
Hania langsung menggelengkan wajahnya seraya menyunggingkan senyumnya.
"Aku ikut Mas aja. Bosen di rumah terus." ucapnya seraya memalingkan wajahnya lurus ke depan.
"Aku pikir kamu capek, dari tadi diem terus." kata Arga kemudian.
"Aku ngga pa-pa kok." sahut Hania seraya menoleh pada Arga.
Tak dapat dipungkiri setiap bertemu dengan Ryan, ingatan masa lalunya selalu kembali terngiang. Apakah karena dirinya belum bisa benar-benar memaafkan pria itu? Atau tidak bisa melupakan kesalahan mantan suaminya itu?
Sesampainya di parkiran, Arga turun dan membukakan pintu untuk Hania.
"Ngga usah gini juga kali, Mas. Kamu jadi kayak supri." kekeh Hania.
"Aku ngga keberatan, selama yang jadi ratunya kamu." goda Arga seraya mengerlingkan matanya.
"Gombal banget sih? Belajar dimana?" balas Hania namun tak bisa menutupi salah tingkahnya.
"Auto bisa. Soalnya kamu kalau digombalin suka bikin gemes. Bikin ketagihan nggombalin kamu." bisik Arga membuat Hania semakin merona.
Arga tersenyum puas melihat rona merah di pipi Hania yang masih pucat. Pria tampan itu suka gemas dengan tingkah Hania yang malu-malu. Wanita cantik itu selalu salah tingkah dan merona jika Arga menggombalinya.
"Mas! Jangan gitu ah! Ini 'kan di lift. Kalau ada yang liat, gimana?" Hania mendelik kesal pada pria yang mencuri ciumannya barusan.
"Aku ngga tahan lagi, honey. Gemes." ucap Arga seraya mencubit dagu Hania.
"Lagian 'kan cuma ada kita berdua." imbuhnya.
"Tapi 'kan tetep aja ini lift, tempat umum!" Hania semakin kesal.
"Umm... Berarti kalau ngga di tempat umum boleh dong." goda Arga lagi yang mendapatkan lirikan tajam dari Hania.
"Aww!" pekik Arga seraya memegangi tangan Hania yang menempel di perut liat pria atletis itu.
"Aduh, duh! Sakit, honey." Arga meringis menahan sakitnya cubitan Hania.
"Syukurin!" cemooh Hania setelah melepas cubitannya.
__ADS_1
Pintu lift terbuka. Tampak sekretarisnya Iden, Bela, berdiri di luarnya. Dengan pakaiannya yang kekurangan bahan hingga menampakkan pahanya yang putih mulus. Arga langsung menampakkan ekspresi tak sukanya. Apalagi sekretarisnya Iden itu nekat ikut masuk ke dalam lift itu.
"Selamat siang, Pak." sapa sekretarisnya Iden dengan suara seksinya.
Seperti biasa, Arga sama sekali tak menggubris wanita seksi itu. Sementara Hania, kekasih Arga itu terus memperhatikan Bela. Lalu pandangannya beralih pada Arga. Pria tampan itu tengah menatapnya seraya tersenyum membuat Hania memalingkan wajahnya lagi dan melirik pada Bela. Tiba-tiba tangan Arga melingkar di pinggang Hania dan menarik tubuhnya mendekat.
"I love you." bisik Arga dan Hania tersenyum tipis.
Melihat gelagat Hania yang tak tenang seperti sebelum Bela ikut memasuki lift itu, Arga tahu jika Hania merasa tak nyaman dengan keberadaan wanita seksi itu. Sedari Bela masuk, Hania sudah menunjukkan gelagat itu, dan Arga terus memperhatikannya. Apa wanitanya itu sedang cemburu? Seulas senyum terbit di bibir seksinya.
Ting!
Pintu lift terbuka. Bela menepi, membiarkan atasannya itu keluar terlebih dahulu. Arga melewatinya tanpa menoleh padanya. Hanya Hania yang melemparkan senyum manisnya dan sedikit menganggukkan kepalanya seolah berkata, mari!
Tangan Arga tetap melingkar di pinggang ramping Hania. Dan Bela harus melihat pemandangan yang membuatnya iri itu. Ruangan Iden berada di lantai yang sama dengan ruangan Arga, namun terletak di sisi yang lain. Kantor Arga memang hanya bertingkat 4 tapi luasnya mencapai 4 kali lapangan sepak bola. Dan untuk sampai di ruangan Iden, Bela harus melewati ruangan Arga. Itu artinya, dia akan terus melihat sikap mesra pimpinan yang membuatnya berhasrat itu. Sial!
Dian yang melihat kedatangan Arga langsung berdiri menyambutnya dengan senyum semanis gulanya.
"Siang, Pak. Siang, Bu Hania." Dian sudah beberapa kali bertemu Hania jadi sekretarisnya Arga itu juga menyapanya.
"Siang, Mba Dian." balas Hania, sementara Arga hanya menganggukkan kepalanya, mode dinginnya aktif.
Dian mengekori Arga yang memasuki ruangannya dengan setumpuk berkas yang harus ditanda tanganinya.
Sesampainya di ruangan Arga, Hania mendudukkan dirinya di sofa tamu di seberang meja kerja Arga. Memperhatikan pria itu bekerja. Kekasihnya itu terlihat serius memperhatikan penjelasan sekretarisnya.
"Dian cantik, juga seksi. Apa Mas Arga ngga pernah jatuh suka dengan sekretarisnya itu? Atau sebaliknya? Bisa jadi 'kan? Mereka tiap hari ketemu dan sering bareng." pikiran Hania mulai melayang kemana-mana membayangkan berbagai kemungkinan.
"Kenapa juga Mas Arga ngga suka sama sekretaris Mas Iden? Apa pernah terjadi sesuatu di antara mereka? Apa Mas Arga pernah menjalin hubungan dengannya dan berakhir memgecewakan?" kembali pikiran Hania menduga-duga, padahal sebelumnya wanita cantik itu tidak pernah berpikiran seperti itu.
Hania masih menatap Arga yang mendengarkan sekretarisnya dengan ekspresi serius. Hah. Hania mendesah. Pria itu memang tampan dan menawan. Sudah tentu banyak wanita yang menginginkannya. Dan dia pernah melihat bahkan bertemu dengan wanita-wanita yang mencoba mendekati Arga. Cantik, seksi, dan kaya raya. Apalah dirinya jika dibandingkan dengan wanita-wanita itu. Apalagi dirinya pernah ternoda. Benar-benar tak sebanding. Hania mendesah lagi.
*******
Thanks for reading!
Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.
__ADS_1
🤗🤗🤗😘