
"Gila tuh perempuan, masih aja ngarep sama elu, Nyet", celetuk Iden setelah mobil yang mereka kendarai meninggalkan Madewi Building, seraya terkekeh tanpa menoleh pada Arga yang duduk di belakang.
"Seksi sih seksi tapi kalau srudak-sruduk gitu kan malah bikin ngeri, hahaha...", Iden tergelak, Adi yang menyetir mobil disebelahnya ikut tergelak.
"Gue ngga mau bahas dia. Kalau ngga ada topik lain mending lu diem deh, Mbing", sergah Arga, pria tampan itu jadi kesal lagi diingatkan akan kelakuan Syila.
Suasana hening mendominasi ruangan dalam mobil mewah itu. Benar-benar tidak ada topik lain. Yang ada dikepala Iden hanya wanita bernama Syila dan kelakuannya yang dianggapnya murahan.
"Eh, tapi dulu itu, masak lu sama sekali ngga terangsang sih Nyet, waktu dia gerayangin elu?", tanya Iden.
Arga spontan menendang kursi penumpang didepannya yang diduduki Iden. Pria blesteran itu semakin tergelak. Sementara Arga semakin kesal terus-terusan digoda Iden.
"Nyari ribut lu ya!", Arga sudah mulai emosi, sementara Iden malah tergelak melihat reaksi sahabatnya.
Dia jadi teringat petistiwa malam itu. Arga tidak tahu ada apa dengan dirinya, mendadak ingin menyalurkan hasrat seksualnya pada wanita itu. Padahal biasanya tidak begitu. Meskipun Syila telanjang bulat didepannya pun, "jendral jack" nya tak bereaksi. Tapi ada yang berbeda dengan dirinya malam itu. Dugaannya wanita itu telah melakukan sesuatu pada minumannya.
Malam itu Arga ingat bagaimana dirinya berusaha melawan hasratnya. Tapi Syila yang berada disampingnya malah memperkeruh kondisinya. Sentuhan-sentuhan wanita cantik dan juga seksi itu memancing gairah Arga. Ditariknya tubuh sintalnya Syila mendekat kearahnya. Dadanya yang menempel didada wanita cantik itu dapat merasakan kenyalnya benda bulat yang jadi favorit kaum adam itu. Terasa lembut. "Jendral jack" nya sudah bereaksi.
Dalam keadaan begitu, rangsangan-rangsangan Syila terasa begitu nikmat membuatnya mendesah. Diraupnya bibir seksi wanita cantik itu. ********** dengan rakus. Dirinya tidak menampik bahwa dirinya membutuhkan seorang wanita untuk menyalurkan kebutuhannya yang satu itu. Jika dalam keadaan sadar, mana mungkin Arga tertarik pada wanita seperti Syila. Namun, pengaruh sesuatu yang diduga Arga sebagai obat perangsang begitu kuat mendorongnya untuk melakukan hal lebih.
Namun, Arga lagi-lagi beruntung. Lagi-lagi Iden datang bersama kedua asistennya, Reza dan Adi. Mereka menyusuri setiap ruangan VIP di club malam itu. Dan menemukan Arga sedang bercumbu dengan Syila. Sungguh pemandangan yang mengundang hasrat.
Beruntung Arga masih dapat menahan dirinya meski obat perangsang itu mendorongnya lebih dekat ke lubang kenikmatan. Meski sedang dipuncak birahi, Arga masih bisa mengontrol dirinya. Pria tampan itu masih berusaha menolak pesona Syila yang cantik dan seksi. Ketika Iden dan asistennya tiba, Arga sedang berusaha mempertahankan "jendral jack" nya agar tidak disentuh wanita seksi itu.
"Sialan lu!", umpat Arga seraya meninju kursi yang diduduki Iden, membuat Iden semakin tergelak saja.
"Gue akui "jendral jack" keren, kalahnya cuma sama obat perangsang. Hahaha...", ucap Iden sambil membalikkan tubuhnya ke arah Arga yang duduk di belakangnya, sementara itu Adi hanya berusaha menahan tawanya pasalnya dia juga ingat peristiwa itu.
Arga mendengus kesal, mengalihkan tatapannya keluar jendela mobil. Pria tampan itu mendesah. Dirinya sudah berjanji tidak akan mabuk lagi. Dua kali dirinya mengalami peristiwa yang merugikannya, memastikan tidak akan terulang lagi.
"Cih! Kalian ngga tau aja, kini ada mahkluk cantik yang bisa membangkitkan "jendral jack" ku", gumamnya dalam hati.
Adi membelokkan mobil mewah yang disetirinya ke sebuah caferesto tak jauh dari Madewi Building.
"Kita sudah sampai", suara Adi membuat dua pria tampan itu kembali menatap ke depan.
"Kira-kira, calon klien kita ini 'nggandeng perempuan cantik ngga ya?", celetuk Iden seraya melepaskan sabuk pengamannya yang disambut kekehan oleh Adi.
"Heh, Nyet. Siap-siap deh lu, jadi santapan tatapan liar. Hahaha...", Arga mendengus seraya menatap tajam sahabatnya itu, yang ditatap malah semakin tergelak.
"Keluar lu!", usir Arga, Iden hanya mengendikkan bahunya seraya terkekeh lalu keluar dari mobil.
Adi menanyakan keberadaan klien mereka pada seorang waitres, lalu berjalan didepan barisan pria-pria tinggi itu menunjukkan jalannya. Kontan saja waitres itu grogi berjalan didepan pria-pria tampan.
Setibanya didepan sebuah ruangan privat yang sudah direservasi Dian, waitres tersebut mengetuk pintu lalu membukakan pintu untuk ketiga pria tampan itu. Arga masuk terlebih dahulu, disusul Iden dan Adi. Arga melihat seorang pria tinggi bertubuh atletis dan berwajah tampan sedang duduk sambil memainkan ponselnya, bersama seorang wanita cantik dan berpakaian sedikit mini. Mungkin sekretarisnya.
Iden langsung terpesona pada wanita cantik itu. Gayanya mirip Dian, sekretaris Arga. Ya. Sebenarnya Iden masih menyukai Dian, namun jiwa petualangnya menginginkan lebih. Dan kini dirinya bertemu dengan wanita yang seperti Dian dari segi penampilannya. Pria tampan khas bule itu spontan bersiul melihat wanita yang ternyata juga meliriknya itu. Arga dan Adi langsung meliriknya.
__ADS_1
"Selamat siang, selamat datang. Silakan duduk", Galih bangkit dari duduknya menyapa Arga seraya menjabat tangan Arga, lalu Iden, dan Adi, begitu pula wanita yang diduga sekretarisnya.
"Terimakasih", ucap Arga, lalu duduk di depan Galih.
"Saya Galih dari Great Interior Bandung, dan ini sekretaris saya, Novita", ucap Galih memperkenalkan dirinya dan juga sekretarisnya.
Arga pun memperkenalkan dirinya dan orang-orang yang bersamanya.
Setelah berbasa-basi sejenak, mereka fokus membicarakan kesepakatan kerjasama. Galih melakukan presentasinya di depan Arga dengan sangat baik membuat Arga yakin melanjutkan permintaan kerjasama dengan perusaahaan yang diwakili Galih.
Penandatanganan kontrak kerjasama pun langsung dilakukan di tempat. Kedua pihak benar-benar mempersiapkan berkas kontrak kerjasama itu sebelumnya, meskipun belum terjadi kesepakatan. Sehingga ketika kesepakatan disetujui, bisa langsung di tandatangani saat itu juga. Galih benar-benar sudah memprediksi jika perusahaan Arga akan setuju bekerjasama dengan perusahaan tempatnya bekerja.
Galih sosok pekerja keras dan optimis. Karakternya itu bisa dilihat Arga. Pria tampan itu merasa Galih setipe dengannya yamg membuatnya nyaman membicarakan banyak hal baik pekerjaan maupun diluar pekerjaan. Iden pun merasa Galih memiliki karakter yang hampir sama dengan sahabatnya, sehingga dirinya juga bisa mengimbangi pembicaraan dua pria yang baru kenal itu, selain sibuk menebar pesona pada Novita yang lebih suka jadi pendengar. Sementara Adi hanya sesekali menimpali.
Hari sudah semakin sore ketika Arga meninggalkan caferesto itu. Dilihatnya jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Jam 5.
"Lu ngerasa si Novita mirip Dian ngga sih, Nyet?", tanya Iden memecah keheningan.
"Bilang aja lu masih belum move on dari Dian", ejek Arga yang membuat Adi terkekeh.
"Eh iya lo, sekretaris lu tambah seksi aja sih Ga, lu apain?", selidik Iden.
Arga langsung menendang kursi didepannya yang diduduki Iden. Dirinya kesal disangka berbuat yang tidak-tidak pada Dian. Jelas sangkaan yang salah. Meski dia tahu Iden hanya menggodanya tapi tetap saja dia kesal jika dihubungkan dengan wanita-wanita cantik dan seksi disekitarnya. Sudah bukan tipenya. Dulu, dia akan bersaing dengan Iden untuk menarik perhatian wanita cantik dan seksi tapi kini wanita-wanita seperti itu tidak menarik lagi dimatanya. Seleranya berubah ketika dirinya bertemu Hania, wanita cantik bermata kelinci.
Hari ini Iden puas menggoda Arga, membuat Arga kesal menjadikan pria dingin itu seperti hidup kembali.
Arga dan Iden turun di lobi perusahaannya, sementara Adi memarkirkan mobil mewah di parkiran basement. Suasana perusahaan sudah lengang, hanya beberapa karyawan yang masih berkutat dengan pekerjaan yang belum selesai. Sesekali berpapasan dengan karyawan yang akan pulang.
Tak berselang lama, teh pesanannya tiba. Dihirupnya aroma teh itu sebelum menyesapnya. Benar-benar memberi efek tenang.
"Pantas saja Hania menyukai teh chamomile", gumam Arga mengingat kebiasaan Hania.
Pria seksi itu menyunggingkan senyumnya demi mengingat pujaan hatinya. Ah. Kenapa tiba-tiba rindu sekali. Arga menyesap teh cahmomile yang mulai hangat itu hingga tetes terakhir. Kemudian bangkit menuju ruang istirahat yang dibuat khusus untuk sekedar beristirahat sejenak. Ruangan itu seperti sebuah kamar. Lengkap dengan kamar mandi. Layaknya kamar, didalamnya terdapat tempat tidur berukuran sedang, dua sofa tunggal, meja kaca, dan lemari pakaian 2 pintu, juga cermin setinggi Arga.
Pria tampan itu memasuki kamar mandi setelah melepas pakaian luarnya. Tak berselang lama, Arga sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya sebatas pinggang. Dada bidang dan perut kotak-kotaknya terekspos sempurna. Rambutnya yang basah masih menitikkan air menambah kesan seksi. Arga memilih kaos rajut berlengan panjang berwarna abu-abu dan celana jins hitam. Sepatu kets putih melengkapi penampilannya, tidak lupa jam tangan bermerknya. Sungguh pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Tampan paripurna.
Arga meninggalkan gedung perusahaannya dengan mobil sedan mewahnya. Menuju rumah Hania. Pria berkarisma itu sudah merindukan wanita cantik itu. Seharian tidak bertemu dan tidak bertukar kabar karena kesibukan, begitupun Hania.
Di rumahnya, Hania sebentar-sebentar melihat ponselnya. Berharap seseorang menghubunginya. Paling tidak meyapanya seperti biasa. Tapi sepertinya pria tampan yang belakangan membuatnya sering salah tingkah itu sedang sibuk sekali. Hingga hari berganti malam, pria itu tidak juga menunjukkan batang hidungnya.
Sementara Galih dan Tiara sedang asik melepas rindu. Tiara yang sudah mengenal Galih sejak masih merah, tentu sangat senang ketika pria dewasa itu datang berkunjung lagi. Sudah lama sekali dari hari terakhir Galih menginjakkan kakinya di rumah itu. Tidak banyak yang berubah. Yang berubah hanya Hania. Wanita cantik itu terlihat lebih bahagia sekarang.
"Kamu nunggu seseorang?", tanya Galih ketika Tiara berlalu ke kamarnya.
"Ah, ngga. Ngga nunggu siapa-siapa. Kamu udah lapar? Aku siapin makannya sekarang ya?", Hania berkilah.
Galih hanya memandang punggung Hania yang menjauh. Pria gagah itu menghela napasnya. Dirinya merasa sahabatnya itu menyimpan sesuatu.
__ADS_1
"Mau main rahasia-rahasiaan rupanya", batin Galih seraya berkacak pinggang.
Hania sedang sibuk, bukan, tapi menyibukkan diri supaya sahabatnya itu tidak banyak menanyainya. Sedari tadi ada saja yang ditanyakannya. Yang katanya dirinya berubah lah, kelihatan lebih bahagia lah, apa ada yang membuatnya senang lah. Hania sampai pusing memikirkan jawabannya. Meski jawabannya hanya satu yaitu Arga. Tapi mana mungkin dirinya menjawab begitu. Bisa panjang ceritanya dan berakhir pada memata-matai Arga.
Ting tong!
Bel pintu rumah Hania mengusik Galih yang sedang memperhatikan Hania yang sibuk sambil melamun.
"Galih, tolong dong bukain pintunya. Aku ngga bisa ninggal ini", seru Hania dari dapur.
Galih menurut perintah Hania. Sosok pria tampan yang baru tadi sore ditemuinya tengah berdiri di depan pintu. Senyum keduanya surut. Saling menatap dan menunjuk seolah berkata, kamu?
"Pak Arga?"
Pak Galih?"
Kedua pria itu berbicara bersamaan.
"Anda disini?", tanya Arga mulai menelisik, ada rasa tidak suka melihat Galih di rumah Hania, dia cemburu.
"Anda sendiri?", bukannya menjawab, Galih malah balas bertanya.
"Saya ada perlu dengan Hania", sahut Arga datar.
Galih menatap Arga. Ada apa pria ini ingin bertemu dengan Hania? Apa mereka punya hubungan spesial? Jangan-jangan... Pikiran Galih melayang-layang.
"Siapa Lih? Kok dibiarin diluar?", Hania muncul sembari melipat apron dan meletakkannya di rak partisi.
Galih menoleh dan mengubah posisinya hingga tampak Arga yang juga menoleh ke arahnya. Hania agak terkejut. Juga senang. Pria yang diharapkan kehadirannya ada didepan pintu rumahya.
"Oh, ini, Pak Arga. Katanya ada perlu sama kamu", sahut Galih sambil menatap Arga.
Arga mengernyitkan keningnya. Mendengar pembicaraan Galih dan Hania, sepertinya mereka memiliki hubungan dekat. Arga masih menatap Hania dari tempatnya berdiri. Jujur dia cemburu.
"Maaf, Pak Galih, kalau saya mengganggu", ucap Arga.
Inginnya Arga segera berlalu dari rumah Hania. Sungguh pria tampan itu tidak sanggup menahan rasa cemburu dihatinya, membuatnya sakit. Tapi dia juga harus meminta penjelasan pada wanita itu. Memastikan siapa pria yang kini berada di rumah Hania. Dia sangat tidak suka ada pria lain di rumah wanita pujaannya, apalagi pria itu tampak akrab dengan wanitanya.
"Mas Arga?", panggilan lembut Hania membuyarkan lamunan Arga, pria tampan itu menoleh.
Mas? Hania memanggil kliennya dengan sebutan 'mas'? Sedekat apa hubungan mereka? Galih terus memperhatikan interaksi sahabat yang dicintainya itu dengan pria yang diakuinya tampan.
"Kalian sudah saling kenal?", tanya Hania menoleh pada Galih lalu pada Arga.
Wanita lembut itu merasakan ada aura permusuhan disana terutama dari Arga. Dirinya memang tidak pernah bercerita memiliki sahabat dekat yang sudah seperti saudara baginya. Dan kini mereka bertemu. Pria tampan itu pasti tidak suka dengan kehadiran Galih di rumahnya dan berpikir yang tidak-tidak.
************
__ADS_1
Thanks for reading!
Like di setiap babnya ya... Boleh dikomen juga 😊