Yang Terakhir

Yang Terakhir
134. Terbayang Lagi


__ADS_3

Hania makin melongo mendengar perkataan Arga.


"Bisa kujual lagi nanti, katanya?" batin Hania.


Wanita cantik itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Apakah begitu sikap orang yang kelebihan uang? Seenaknya saja membeli barang yang sudah pasti tak terpakai.


"Kenapa belinya 2?" Hania tergelitik untuk bertanya.


"Supaya tangan manapun yang kamu pilih, model cincinnya sama." sahut Arga enteng.


"Cuma itu?" Hania semakin terheran-heran dengan pemikiran pria tampan itu dan pria tampan itu mengangguk.


Hah? Lagian darimana juga kekasihnya itu mendapat ide melamarnya dengan cara seperti itu? Merepotkan diri sendiri saja. Lagi-lagi Hania tak habis pikir.


"Lagipula, aku suka cincinnya. Cincin ini manis dan tambah manis di jarimu." Arga memandangi jari manis Hania yang barusan disematkan cincin.


"Yang ini, kamu simpan aja. Karena di dunia cuma ada 2 ini aja yang kayak gini." pinta Arga seraya meletakkan cincin yang sama bentuk dan modelnya ke dalam telapak tangan Hania.


"Cuma ada 2? Ngga jadi boleh dijual? Kalau dijual harganya pasti mahal banget." goda Hania.


"Itu custom, honey. Aku pesennya jauh-jauh ke negeri menara eiffel. Aku udah beli hak patennya juga untuk bentuk dan model seperti ini. Jadi yang punya cuma kamu." ucap Arga seraya seraya memegang dagu Hania dan mengarahkannya untuk menatapnya.


"Benarkah? Baiklah, aku simpan juga yang ini." Hania menyematkan cincin kedua yang diterimanya itu di jari yang sama.


Arga bangkit dari duduknya dan memakai pakaian khusus untuk memasuki ruang icu dimana sang Ibu dirawat. Pria tampan itu berniat memberi tahukan lamarannya diterima Hania. Wanita paruh baya itu sudah lama menginginkan Arga menikahi Hania.


"Aku harap Ibu lekas membaik dengan kabar baik ini." batin Arga seraga membuka pintu ruangan itu.


Seorang perawat yang sedang memeriksa kondisi sang Ibu hanya mengangguk dan meneruskan tugasnya ketika melihat Arga masuk. Sementara Arga langsung mencium tangan ibunya dengan takzim lalu memcium pipi kiri wanita paruh baya itu.


Masih sambil menggenggam tangan ibunya, Arga mendudukkan dirinya di kursi di samping ranjang pasien.


"Assalamu'alaikum, Bu. Ada kabar bagus untuk Ibu." ucap Arga seraya mengusap punggung tangan ibunya.


"Aku udah melamar Hania. Ibu tau dia bilang apa?" Arga menjeda kalimatnya sendiri.


"Dia bilang iya, Bu." ucap Arga dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


Arga adalah anak yang dekat dengan orangtuanya. Meskipun kebersamaan dengan keduanya jarang sekali terjadi karena kesibukan kedua orangtuanya, namun ketika luang mereka akan menghabiskan waktu bersama putra sewayang mereka.


Perawat yang berada di ruangan itu hanya tersenyum melihat Arga yang sepertinya ingin mencurahkan isi hatinya pada sang Ibu. Di mata perawat paruh baya itu, Arga tampak seperti anak lelaki kecil yang bermanja-manja pada ibunya. Membuatnya terharu.


"Ibu cepat sembuh ya. Bukannya Ibu pengen liat aku sama Hania menikah?" ucap Arga lagi.


"Aku akan wujud in harapan Ibu, tapi Ibu cepet sehat ya." Mata Arga sudah mengembun.


Lama-lama dirinya larut juga dengan perasaannya yang campur aduk. Di sela-sela rasa bahagianya karena kekasihnya mau melangkah ke pelaminan bersamanya, sang Ibu tengah berjuang melawan sakitnya yang tiba-tiba kambuh. Ada sesak yang bergejolak di dadanya dan rasanya berlawanan. Ingin merayakan rasa bahagianya tapi juga harus merasakan kesedihan.


Tanpa dapat ditahannya lagi air mata yang tadi menggelayut manja di pelupuk matanya mulai mengalir. Dengan cepat Arga mengusapnya dengan punggung tangannya. Dia tidak ingin ibunya mendengarnya menangis lagi.


Tanpa ada yang menyadari, mata sang Ibu bergerak-gerak. Wanita paruh baya itu bereaksi pada cerita Arga.


Arga segera meninggalkan ruangan icu itu. Di luar, Hania memperhatikan Arga yang mengajak ibunya berinteraksi. Dokter Dana memang menyarankan begitu; memgajak sang Ibu berbicara. Terutama membicarakan hal-hal yang menyenangkan.


Hania memasang senyum semanis madunya ketika Arga muncul dari balik pintu ruangan sang Ibu. Senyum yang selalu bisa menenangkan Arga. Rasanya pria itu akan bersyukur berkali-kali karena memiliki Hania, wanita cantik itu memiliki kemampuan mengusir rasa gundah gulana di hatinya.


Seperti ingin mencari tempat bersandar, Arga yang sudah tahu tempat ternyamannya, langsung memeluk Hania. Tubuhnya terasa bergetar. Pria karismatik itu menangis lagi.


Dia ingat ucapan Dana kemarin, jika ibunya mendapat serangan jantung karena syok. Seperti halnya Dana, Arga pun tidak tahu apa yang terjadi pada ibunya setelah dirinya meninggalkan sang ibu, dan apa saja yang dilakukan wanita yang telah melahirkannya itu bersama teman-temannya.


Dokter spesialis jantung itu khawatir jika reputasi dan prestasi Arga membuat pesaing bisnisnya membuat ulah. Sudah banyak peristiwa serupa yang terjadi yang menimpa orang-orang terdekat direktur utama perusahaan furnitur itu. Kejadian yang masih hangat adalah meninggalnya Tiara dan kejadian traumatik yang menimpa Hania. Bahkan dirinya pun pernah menjadi korban teror juga.


"Kalau itu sudah pasti ada. Cuma aku ngga bisa nuduh sembarang orang tanpa bukti 'kan Bang?" sahut Arga yang teringat beberapa pesaing bisnis yang menunjukkan gelagat yang mencurigakan.


"Apa menurut Abang, Ibu diganggu orang-orang yang merasa tersaingi olehku?" tanya Arga menatap dokter berwajah tenang itu.


Dana hanya menggelengkan kepalanya. Dia juga tidak yakin. Bisa jadi seperti itu. Bisa juga karena kejadian lainnya.


"Selalu berhati-hatilah. Dan mulai perketat penjagaanmu di sekitar rumahmu. Lawanmu mungkin sudah tahu dimana letak kelemahanmu." Dana memperingatinya dan memberikan nasehatnya sebagai seorang kakak laki-laki pada adiknya.


Hania bisa merasakan betapa galaunya Arga. Bagaimana tidak? Ibu, satu-satunya keluarga yang tersisa, sedang terbaring tak berdaya dengan berbagai peralatan medis menempel di tubuhnya. Yang membuatnya juga terkejut adalah dugaan Arga dan Dana yang mencurigai adanya seseorang yang mengganggu sang Ibu. Mungkin pesaing Arga.


Wanita cantik itu semakin mengeratkan pelukannya ke pinggang Arga. Rasanya tidak tega membiarkan Arga memikul sendirian tanggung jawab besar itu. Apalagi melihat kekasihnya itu sampai menangis. Sudah menjadi bukti bahwa pria tampannya sedang tidak baik-baik saja. Hania tentu tidak bisa berbuat banyak selain menenangkan pria tampan itu.


Drrrt drrrt drrrt!

__ADS_1


Ponsel Hania bergetar di dalam tasnya yang tergeletak di sofa panjang. Hania dan Arga mengalihkan pandangan mereka ke arah tas Hania tanpa mengurai pelukan. Tapi suara ponsel yang bergetar itu terdengar bagai lebah yang mendengung di dalam ruangan tenang itu, membuat Arga tak tahan. Pria itu melepas pelukan Hania.


"Liat siapa yang telepon, siapa tau penting." ucap Arga meniru ucapan Hania beberapa hari yang lalu.


Galih. Sebuah nama milik sahabat yang sudah lama tak dijumpainya. Hania melirik Arga yang masih berdiri di tempatnya tadi seraya menatapnya. Wanita itu jadi ragu untuk menerima panggilan di ponselnya. Dia tidak ingin Arga mencemburui Galih. Iya. Wanita itu ingat betul Arga itu pencemburu.


"Galih?" Hania tersentak, segera mendongak melihat ke arah Arga yang tadinya menunduk melihat layar ponselnya.


Suara bariton Arga yang lirih terdengar tepat di depannya. Pria itu tiba-tiba sudah berdiri di depannya ikut menatap layar ponselnya yang menampilkan nama Galih di sana.


"Kenapa ngga diangkat?" tanya Arga namun dengan nada tak suka, pria itu cemburu.


Hania tengah menimbang akan menerima panggilan itu atau tidak. Tapi demi mendengar pertanyaan Arga dengan nada tak sukanya membuatnya yakin untuk mengabaikan panggilan Galih. Hingga ponselnya tak bergetar lagi.


Bukannya menjawab pertanyaan Arga, Hania malah mengalungkan kedua tangannya dan bertaut di leher kokoh Arga. Dengan perlahan dan senyum yang mengembang manis, wanita cantik itu mendekatkan wajahnya ke arah Arga. Cup.


Arga sempat terkesiap merasakan bibirnya dik*c*p tipis oleh Hania. Seolah tak ingin kehilangan kesempatan bagus itu, Arga langsung menahan tengkuk Hania dan membalas ci***n manis itu. Semakin lama semakin dalam. Lum**an yang tadinya lembut jadi semakin menuntut.


Tiba-tiba bayangan Raka yang menc*mb*nya kembali terlintas di benaknya. Seketika matanya terbuka dan pag*tannya terlepas. Wajah ayu Hania mendadak pias. Arga yang merasakan perubahan Hania hanya bisa menenangkan wanita cantik itu dengan memeluknya. Pria itu tahu Hania sedang teringat kembali pada kejadian yang menghancurkan kehormatannya.


"Honey? Ini aku, hanya ada aku." ucap Arga setengah berbisik untuk menyadarkan Hania.


"Kamu aman di sini. Ada aku yang akan melindungimu." Arga mengeratkan pelukannya dan menciumi puncak kepala wanitanya.


Hania sudah menangis tergugu di pelukan Arga. Wanita itu pikir sudah bisa mengenyahkan bayangan Raka dari benaknya. Dia sudah mencobanya. Namun bayangan itu kembali lagi.


"Maaf." hati Arga berdenyut nyeri mendengar Hania tertekan begitu.


Di balik punggung kekasihnya, tangan Arga mengepal erat, rahangnya mengeras, dan sorot matanya menatap nyalang.


"Raka, sialan lu!" batin Arga.


********


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote tiap senin, dan kasih hadiah ya ... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2