
Suasana hati Hania masih sendu setelah tadi pagi dengan berat hati dirinya melepas kepergian Galih. Iya. Dirinya merasa ada yang hilang. Galih yang selalu bisa meluangkan waktu untuknya dan putrinya, yang selalu menghiburnya ketika dirinya dilanda resah, membantunya ketika dirinya sedang dalam masalah, dan masih banyak hal yang sudah dilakukan pria gagah itu untuknya dan putrinya, kini harus meninggalkannya. Dia merasa dirinya akan sendirian. Meskipun dirinya memiliki beberapa sahabat yang tulus dan selalu sedia meluangkan waktu untuknya, tapi entah kenapa keberadaan Galih dirasanya istimewa meski rasa istimewa itu bukan rasa cinta. Hania sangat menyayangi pria itu.
"Nanti aku telpon begitu sampai." ucap Galih sebelum masuk ke ruang tunggu bandara.
Hania menangis tak kuasa menahan sendu. Galih mengusap kepala Hania lalu sedikit menunduk karena tinggi Hania sebatas pundaknya guna menghapus air mata bening itu dengan ibu jari kanannya. Bukannya berhenti, Hania malah semakin terisak. Dengan gerakan lembut Galih menarik Hania ke dalam pelukannya. Mencoba untuk menenangkannya.
Ikatan dengan nama sahabat diantara mereka yang terjalin sejak lama, dan saling memahami situasi masing-masing, ditambah berbagai masalah yang sering mereka lalui bersama membuat mereka sangat dekat bak sepasang sejoli, tapi bukan. Hal itulah yang membuat Hania bersedih hati ketika dia akan berjauhan dengan sahabatnya itu.
"Aku bakal sering hubungin kamu." kata Galih sambil mengusap rambut Hania yang masih dalam dekapannya.
"Kita bisa chat, vc." lanjut Galih mencoba menghibur.
Sikap Hania yang merasa berat berpisah darinya itu, tak ayal membuat Galih merasa tersanjung sekaligus tak tega. Dirinya tidak menyangka respon Hania akan seheboh itu. Menunjukkan betapa Hania menganggapnya berarti. Tapi dirinya tak ingin hanya sekedar berarti sebagai sahabat. Menyadari lamunannya itu, Galih hanya mengulum senyum. Dia mengeratkan dekapannya seakan tak ingin melepaskan wanita cantik kesayangannya itu.
Galih mengakui keputusan yang dibuatnya itu sebenarnya sangat berat untuknya. Dengan menerima tawaran tersebut, itu berarti Galih harus siap ketika suatu ketika Hania bertemu dengan pria lain yang bisa menjadi penggantinya. Apalagi jika sampai Hania mencintai pria lain itu. Terasa berat karena Galih juga merasa dirinya harus melupakan cintanya pada sahabat kesayangannya itu.
Memang sudah menjadi keputusan Galih untuk melindungi Hania dan putrinya. Sejak perceraiannya dengan mantan suami, Hania menutup rapat hatinya. Hanya Galih satu-satunya pria yang dekat dengannya sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda terhadap hubungan mereka. Baik Hania maupun Galih kompak mengabaikan anggapan tersebut dan merasa nyaman-nyaman saja karena toh nyatanya mereka hanya sahabat. Apalagi dampaknya, para pria enggan mendekati Hania. Semakin membuat Hania aman dan semakin bergantung pada Galih.
Setibanya di restoran, terdengar kasak kusuk diantara karyawannya yang menanyakan keadaannya. Raut sendunya jelas terpancar diwajah cantiknya. Hania tidak peduli dan langsung masuk ke ruangan yang menjadi kantornya.
"Maaf Bu, saya bawakan teh chamomile kesukaan Bu Hania." kata Lina yang mengekorinya.
"Ini Mas Ferry yang buat lo Bu, perhatian kan dia." lanjutnya mencoba mencairkan suasana.
"Temen temen pada khawatir sama Ibu, liat Ibu datang dengan wajah ngga semangat gitu mereka jadi takut kalau apa-apa jadi serba salah." gurau Lina kemudian terkekeh.
Hania hanya tersenyum menanggapi ocehan Lina yang panjangnya bukan kepalang macam ular naga itu. Melihat mood atasannya mulai membaik, staf keuangan andalan restorannya Hania itu mencoba menghibur lagi.
"Pak Galih pasti ngga suka kalau Bu Hania sedih terus gini, ngga ceria, ngga semangat." hibur Lina.
"Tenang Bu, Pak Galih ngga akan macam-macam di sana, Bapak sudah cinta mati sama Ibu." Hania hanya melirik stafnya itu.
Hania mendesah, bahkan orang yang berada disekelilingnya tiap hari itu juga mengira Galih adalah kekasihnya. Dia tersenyum masam. Padahal yang sebenarnya tidak seperti itu. Dirinya merasa bersalah pada pria tampan itu. Karena rasa aman dan nyaman yang Galih berikan padanya, membuatnya terlena tapi tidak pernah bisa memberi pria tampan itu status yang diharapkannya. Dirinya jadi merasa seperti hanya memanfaatkan pria yang disayanginya itu saja.
__ADS_1
Karena tak ingin merasa kesepian seperginya Galih ke Bandung, Hania menghabiskan waktunya di kantornya yang berada di lantai atas restorannya. Dia sengaja menyibukkan diri dengan membantu Lina. Dia juga turun tangan membantu Ferry, chef tampan bertubuh atletis idola pelanggan wanita restorannya. Siang itu pengunjung membludak. Tak terasa waktu sudah semakin sore, Hania pamit menjemput putrinya dari sekolahnya.
"Sayang, udah siap?" tanya Hania pada putrinya.
"Udah dong." jawab Tiara dengan ceria.
"Nanti di rumah Mama Niken, Tiara ngga boleh nakal ya, jangan usil sama Mas Bayu atau Mba Binar ya?" pesan Hania.
"Siap Ma!" jawab Tiara singkat.
Ya. Hania akan mengantarkan putrinya itu ke rumah Mba Niken. Hania akan kembali ke restorannya. Barusan Anja, salah satu karyawannya mengabari bahwa Sani, chef yang kebagian shift 2 berhalangan datang karena istrinya melahirkan, dan Hania akan menggantikannya.
"Nanti Mama jemput Tiaranya malam lagi ya Ma?" tanya Tiara polos.
Mendengar pertanyaan Tiara yang sederhana itu membuat hati Hania mencelos. Ada rasa bersalah menelusup ke dalam hati. Menusuk nusuk di sana. Rasanya perih. Hania hanya mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan putri cantiknya. Bibirnya seolah kelu.
Meninggalkan Tiara bersama putra putri Mba Niken dengan dijaga oleh ART di sana sementara Mba Niken sedang menemani sang suami berbisnis, membuat Hania sedikit merasa tidak enak hati sebenarnya.
Sejak awal, kedua anak Mba Niken menyukai Tiara dan jatuh sayang pada gadis kecil itu karena memanglah Tiara anak yang menyenangkan sehingga tidak sulit untuk Bayu dan Binar menyukainya. Bahkan mereka berdua menganggap Tiara sebagai adik mereka.
Suasana masih lengang ketika Hania tiba di restorannya. Bergegas ke dapur dan mengenakan apronnya. 1 pesanan menu andalan restoran itu diterimanya. Dengan lihai, Hania mengolah bahan yang sudah disiapkan asistennya. Tidak butuh waktu lama, semua menu sesuai pesanan siap diantar. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi kemudian Ferry datang membawakan teh chamomile kesukaannya.
"Makasih, tau aja aku butuh yang panas panas." ujar Hania sambil tersenyum, begitu Ferry meletakkan secangkir teh chamomile.
"Kupikir udah balik." lanjutnya lalu menyesap tehnya.
"Ya ngga mungkinlah mba aku ninggalin kapal tanpa nahkoda." ujarnya sambil terkekeh.
Ferry berusia 30 tahun. 3 tahun lebih muda dari Hania. Bekerja menjadi chef di restoran Hania sejak Hania membuka restorannya. Kala itu, Ferry baru menyelesaikan studinya dengan jurusan tata boga.
Hobinya memasak yang cenderung dikenal sebagai bidangnya wanita berbanding terbalik dengan tampangnya yang macho. Awalnya, Ferry bekerja di restoran Hania karena penasaran dengan rasa makanan yang diolah di restoran itu terasa berbeda, lebih pas di lidahnya, yang menggelitik jiwa chef mudanya yang haus ilmu.
Mengetahui kemampuan Hania yang seorang wanita muda yang usianya hanya terpaut 3 tahun lebih tua darinya, membuatnya kagum. Tidak ada resep khusus, semua sama persis dengan yang pernah dipelajarinya.
__ADS_1
"Bumbu dan bahan boleh sama Fer, yang bikin beda itu, kalau aku, masaknya pake perasaan. Perasaan kok kurang asin, ya tambah garam, perasaan kurang manis, ya tambah gula. Gitu." kata Hania sambil berseloroh ketika dia menanyakan resepnya yang membuat masakannya menjadi lezat, yang disambut tawa Ferry.
Tahun ini adalah tahun ke enam Ferry bekerja dan menjadi chef kesayangan Hania. Bagaimana tidak sayang? Ferry tetap bertahan walau restoran sempat mengalami krisis. Dia membantu Hania sepenuh hati, rela menerima bayaran yang hanya separuh dari yang seharusnya. Bahkan karena kurangnya bayaran yang diterimanya, Ferry harus rela meninggalkan kamar kostnya yang menunggak bayaran dan tinggal di kamar sempit yang ada di belakang gedung restoran itu.
Ferry juga tahu benar perjalanan cinta dan rumah tangga atasannya itu. Dia juga saksi bagaimana Galih berusaha mengembalikan kepercayaan diri Hania. Bisa Ferry lihat betapa besarnya cinta Galih untuk Hania. Tapi Ferry tak habis pikir dengan sikap Hania terhadap Galih. Hati wanita yang dikaguminya itu seperti terbungkus rapi. Meski dekat Hania seperti tidak yakin pada cinta Galih.
"Udah sore tuh, ngga pengen balik?" tanya Hania lagi yang melihat Ferry masih betah duduk di depannya.
"Aku mau bantu-bantu bentar di sini, mba pasti capek, tadi juga udah turun ke dapur" ucapnya.
Hari sudah semakin sore, pengunjung yang datang belum terlalu banyak. Setelah menyelesaikan pesanan 50 porsi daging lada hitam yang dibantu Ferry, Hania didatangi salah satu waitres. Waitres itu melaporkan adanya pelanggan yang keberatan dengan adanya seorang pemulung di sekitar mereka.
"Yang kemaren ke sini bukan?" tanya Ferry yang diangguki waitres tadi.
"Kemaren? Udah sering kesini ya?" tanya Hania.
"Setauku udh 2 kali, kalo sama sekarang 3 kali, selalu jam segini." jelas Ferry.
"Titip dapur!" pintanya pada Ferry, yang diacungi jempol oleh Ferry.
Hania berjalan dengan langkah cepat tapi ketika didepan pengunjung dia akan mengurangi kecepatannya supaya tidak menarik perhatian. Diikuti waitres yang melaporkan masalah barusan, menemui pemulung yang dimaksud. Hania tidak ingin pengunjung restorannya merasa tidak nyaman jadi sebisa mungkin langsung mengatasinya.
Di sebelah kanan pintu masuk restoran, dilihatnya seorang anak lelaki berusia sekitar 10 tahunan sedang memunguti botol bekas yang entah kenapa bisa teronggok di sana.
"Ehem!" dehem Hania mengusik anak lelaki tadi.
******
Happy reading Novelians...
Dukung aku terus ya... jangan lupa like dan vote.
Krisannya selalu kutunggu, supaya bisa lebih memahami kalian 😊😊
__ADS_1