
Pikiran Hania melayang kemana-mana. Apakah Arga memanggilnya "sayang" hanya untuk menghalau wanita cantik bernama Lala itu? Pria itu pernah memanfaatkannya dulu, sewaktu memperjelas hubungannya dengan seorang wanita cantik bak model bernama Marisa. Mengingat itu, Hania semakin tidak percaya diri. Kata "sayang" itu pasti untuk mengusir wanita seksi itu. Tidak mungkin pria tampan seperti Arga tertarik padanya.
Merasa hanya dimanfaatkan oleh Arga, hati Hania berdenyut nyeri. Dia jadi kembali memikirkan perbedaan antara dirinya dan Arga. Ya. Dia bukan siapa-siapa. Hanya kebetulan dianugerahi wajah cantik dan tubuh yang diidamkan banyak kaum hawa. Tapi jika dibandingkan dengan wanita-wanita yang mendekati Arga, jelas dirinya kalah dari segala sisi.
Memikirkan perbedaan dirinya dan Arga membuatnya merasa semakin tidak sebanding. Harusnya dia menyadarinya dari awal. Sehingga dia bisa mengendalikan perasaannya agar tidak salah paham mengartikan kebaikan pria tampan itu. Mendadak hati sakit. Hania berbalik meninggalkan ruangan itu.
Arga terkejut melihat Hania meninggalkannya di ruangan itu. Hatinya berdenyut. Apakah Hania tidak percaya padanya? Ataukah wanita cantik itu marah? Arga menghela napas dan menghembuskannya dengan kasar.
Arga mengalihkan kembali pandangannya pada wanita didepannya. Ditatapnya wanita yang dianggapnya sialan itu dengan tajam.
"Semua yang kamu lakukan dulu itu bukan tindakan yang bisa kutolerir. Kamu menjebakku dan kita sama-sama tahu apa yang sudah terjadi setelah itu. Jadi jangan bertingkah seolah-olah hubungan kita istimewa!", Arga berhenti sejenak mengatur emosinya.
Mengingat perbuatan wanita itu dulu membuat Arga memandang jijik pada wanita itu.
"Kamu masih bisa berkeliaran bebas begini karena aku masih memandang mendiang ayahmu. Bukannya aku sudah memintamu untuk menjauh sejauh mungkin? Atau aku akan menghabisimu!", Arga menekan kalimat terakhirnya.
Mata wanita seksi itu terbelalak, dia bergidik ngeri melihat wajah Arga yang mengelam ketika mengucapkan kalimat terakhir itu.
Dia bukannya lupa. Kedatangannya ke apartemen Arga memang untuk menemui pria tampan yang masih disukainya itu ketika dia tahu Arga ada di kotanya. Hanya Arga yang bisa membantunya. Dia terpaksa menemuinya. Skandal itu sudah lama berlalu. Dia pikir Arga sudah tidak mempermasalahkannya. Dan memanfaatkan kebaikan pria tampan itu. Tapi dia lupa. Arga tidak suka di tekan.
"Dan perlu kamu tahu, kode password pintu itu adalah tanggal lahir putraku, bukan seperti yang kamu pikirkan!", ucap Arga dingin.
"Sekarang pergilah dan jangan muncul lagi!", perintah Arga dengan intonasi yang meninggi.
"Tapi Arga, aku butuh bantuanmu", ucap Lala memelas.
"Aku sudah tidak peduli lagi padamu atau pada keluargamu! Yang kamu lakukan sudah mencederai kepercayaan dan kedekatan keluarga kita", ucap Arga sambil membalik badannya hendak meninggalkan Lala.
"Jangan pernah menekanku dengan perbuatan bodoh yang pernah kamu lakukan padaku!", peringat Arga.
"Karena mulai sekarang aku tidak akan sungkan-sengkan menghancurkanmu, bahkan keluargamu!"', lanjutnya.
"Keluar!", perintah Arga dingin dengan intonasi yang meninggi.
Wanita itu terkesiap mendengar bentakan Arga. Dengan mata berkaca-kaca, dia keluar dari apartemen Arga sambil membanting pintu.
__ADS_1
Arga bergegas mencari Hania. Tadinya, dia kembali ke apartemen berniat mengajak wanita cantik dan putrinya itu makan siang di luar. Tapi kedatangan tamu yang tak diundangnya mengacaukannya. Dia harus mememui Hania dan menjelaskan skandal yang tadi didengar Hania, agar wanita cantik itu tidak salah paham.
Arga mengetuk pintu kamar yang ditempati Hania dan putrinya. Tidak ada sahutan. Arga mencoba lagi. Beberapa kali mengetuk akhirnya pintu itu terbuka. Bukan Hania yang dilihatnya di balik pintu itu, tapi gadis kecil berlesung pipi yang sepertinya baru bangun tidur.
"Sayang, maaf ya Oom ganggu kamu bobo'", ucap Arga sambil merendahkan tubuhnya menyesuaikan tinggi Tiara.
"Aku udah bangun kok Oom", sahut Tiara.
"Mama mana sayang?", tanya Arga yang tidak melihat Hania di kamar itu ketika dia melongokkan kepalanya tadi.
"Mama sedang di kamar mandi Oom", jawab Tiara sambil berjalan masuk ke kamar lagi, Arga mengekorinya.
Arga menunggu Hania di kamar itu. Dia harus segera menjelaskan permasalahan tadi pada Hania. Dia tidak ingin wanita itu salah paham. Dia takut wanita itu menjauh. Arga sedang bermain "abc lima dasar" dengan Tiara ketika Hania keluar dari kamar mandi. Wanita cantik itu tampak terkejut mendapati Arga ada disana.
"Han, bisa kita bicara sebentar? Aku harus jelasin masalah tadi ke kamu", pinta Arga seraya menatap Hania sendu.
"Kenapa Mas merasa harus menjelaskan masalah tadi ke aku?", tanya Hania sedikit ketus.
Tiara langsung menatap ibunya. Gadis kecil itu tahu ibunya sedang marah. Lalu berbalik menatap Arga yang duduk di depannya, wajahnya sendu. Sepertinya pria dewasa didepannya ini sudah melakukan kesalahan. Arga yang melihat reaksi Tiara langsung mengerti bahwa gadis kecil foto kopian ibunya itu sedang mencoba memahami yang sedang terjadi antara dirinya dan ibunya.
"Han, bisa kita ngomong di luar?", pinta Arga.
"Sayang, sebentar ya, Mama sama Oom mau ngobrol penting di luar", ucap Hania sambil mendudukkan dirinya di samping Tiara.
"Tiara mandi dulu ya, bau asem", gurau Hania seraya menutup hidungnya, terdengar Tiara terkekeh.
Arga berjalan meninggalkan kamar itu diikuti Hania. Pria itu berjalan keluar menuju kolam renang yang ada di sebelah ruang santai. Lalu duduk di sebuah kursi malas di sana. Hania mengikuti Arga, duduk di kursi malas lainnya di depan Arga.
"Han, aku harap kamu ngga salah paham setelah mendengar perempuan sialan itu", ucap Arga membuka obrolan.
"Apapun masalah Mas dulu bukan urusanku dan aku ngga mau ikut campur, dan bukan hakku juga untuk tau", sahut Hania sedikit ketus.
Mendengar Hania berbicara sedikit ketus padanya, hatinya berdenyut.
"Kamu marah? Han? Tolong jangan seperti ini", wajah Arga semakin sendu, dia pikir Hania marah dan kecewa.
__ADS_1
"Aku bahkan ngga berhak marah sama Mas", Hania memalingkan wajahnya, dia tidak mau melihat wajah Arga, dia takut tidak tega dan luluh pada pria tampan itu lagi.
Arga mengulum bibirnya. Hania tetap menyematkan panggilan "mas" padanya meskipun sedang marah. Satu hal yang dia sukai dari wanita yang sedang tidak ramah padanya itu. Wanita itu benar-benar menghargai Arga. Pria itu menghela napasnya.
"Kematian Devan terus menghantuiku. Aku benar-benar frustrasi dan tertekan. Aku hancur waktu itu. Disaat mantan istriku meninggalkanku dengan sekingkuhannya, putraku pun meninggalkanku. Aku kehilangan orang yang seharusnya kulindungi disaat aku membutuhkannya sebagai penghiburanku. Rasanya waktu itu aku ingin menyusulnya saja", Arga menatap kolam renang dan mulai menceritakan masa lalunya.
Hania mengalihkan tatapannya pada Arga lagi. Dia melihat kesedihan di wajah pria tampan itu. Mendadak hatinya ikut bersedih. Dia jadi tidak tega untuk marah-marah pada pria itu.
"Aku melampiaskan kesedihan, penyesalan, rasa bersalah, kecewa, dan marahku ke minuman beralkohol. Siang dan malam aku selalu mabuk-mabukan untuk bisa melupakan masalahku", lanjutnya lagi.
"Hingga malam sial itu datang", Arga menghentikan ceritanya.
Hania menoleh menatap Arga. Sebenarnya dia penasaran dengan yang terjadi pada pria karismatik itu dengan wanita cantik bernama Lala tadi. Tapi dia gengsi untuk bertanya. Hatinya terlanjur sakit dan mengira Arga telah memanfaatkannya. Jadi dia diam saja.
"Reza yang selalu menjagaku ketika aku mabuk tapi malam itu sepertinya aku sedang sial. Aku mabuk sendirian. Aku bahkan ngga tau siapa wanita yang bersamaku. Tapi ternyata dia memanfaatkan kondisiku yang mabuk", Mendadak napas Arga menjadi berat mengingat malam sialan itu.
"Dia menaruh obat perangsang di minumanku, aku ngga ingat apapun, tau-tau aku terbangun di rumah sakit dengan infus menancap di pergelangan tangan", Arga melewatkan bagian bagaimana dia mencumbu wanita yang dianggapnya sialan itu, dia tidak ingin Hania berpikir macam-macam.
"Reza dan Iden yang nolong aku waktu itu. Menyadari aku ngga ada di rumah, mereka mencariku di club malam yang biasa aku datangi. Untungnya mereka melihat wanita itu saat membawaku keluar dari sana dan mengikutiku. Mereka datang tepat waktu. Jadi tidak sampai terjadi apapun", terang Arga.
Hania ikut lega mendengar Arga tidak berbuat yang tidak-tidak. Dia sudah membayangkan Arga beradegan 21+ bersama wanita tadi. Bagaimanapun Arga adalah seorang pria yang sedang mabuk. Bersama wanita seseksi Lala pastilah akan tergoda. Hih. Hania meringis.
Hania jadi membayangkan tubuh Arga yang atletis itu memeluk tubuh wanita lain, dan bibirnya yang seksi itu mencumbu bibir wanita lain, kemudian memperlihatkan otot-otot kekarnya, yang hanya dirasakan Hania ketika pria itu memeluknya, pada wanita lain. Dan puncaknya... Ah. Hania menggeleng-gelengkan kepalanya. Mendadak merasa pusing dengan pikirannya yang melantur kemana-mana.
"Han, are you okay?", tanya Arga sambil menyentuh tangan Hania.
Pria tampan itu duduk di depan Hania. Sudah pasti dapat melihat dengan jelas setiap perubahan ekspresi di wajah wanita cantik itu.
"Ya?", Hania menatap Arga yang sedang menatapnya seraya menyunggingkan senyum di bibir seksi yang barusan dibayangkannya.
"Kamu mikir apa? Serius banget", goda Arga.
Hania hanya menggeleng sebagai jawaban. Tidak mungkin dia berterus terang pada pria tampan itu.
Hania akan menarik tangannya yang digenggam Arga tapi pria tampan itu malah semakin mengeratkan genggamannya. Dia ingin wanita cantik yang selalu dipikirkannya itu tidak menjauh darinya. Bila perlu bergantung padanya. Ah. Kenapa baru kepikiran sekarang? Lalu bagaimana caranya membuat wanita semandiri Hania bergantung padanya? Otak cerdas Arga mulai bekerja.
__ADS_1
*******
Thanks for reading