Yang Terakhir

Yang Terakhir
19. Ketakutan Tiara


__ADS_3

Ting tong..


Bel apartemen berbunyi. Anak buah Reza membukakan pintu, dan dokter yang ditunggupun masuk.


"Kamu keliatannya baik-baik aja." selidik Rizal mendekati Arga.


Arga hanya menatapnya datar. Dirinya sedang tidak ingin bercanda.


"Maaf Pak Rizal, pasiennya di sini." sela Reza.


Rizal menaikkan alisnya seraya menatap pria tampan itu. Memikirkan Arga yang dulu suka membuat ulah. Ya. Rizal, sang dokter tampan nan karismatik itu tahu betul bagaimana kelakuan Arga sewaktu masih kuliah. Meski tidak satu jurusan, Rizal sering melihat Arga adu jotos dengan mahasiswa lainnya yang membuat ulah dengannya.


Rizal mulai menjalin persahabatan dengan Arga ketika Arga menolong Rizal yang dihadang beberapa preman. Rizal yang hanya sedikit menguasai ilmu bela diri, jelas kalah melawan para preman, apalagi jumlah para preman itu ada 4 orang. Kebetulan Arga melintas bersama Iden. Karena mengenali wajah Rizal, Arga pun turun tangan membantu Rizal.


"Cari hiburan itu yang bikin hepi tapi ngga bikin orang lain keki lah Ga." ejek Rizal seraya melangkah meninggalkan Arga yang tidak mempedulikannya.


Rizal terkejut kala mendapati seorang pria paruh baya sedang terkulai tak sadarkan diri bersimbah darah di atas ranjang. Dirinya berdecih lalu mendesah. Membenarkan dugaan bahwa Arga lagi-lagi membuat ulah.


Tangan dan kaki pria paruh baya itu masih terikat tapi pada ujung ujung ranjang. Rizal memeriksanya, membersihkan dan mengobati luka lukanya.


"Dia,, Oom Aris kan?" tanya Rizal sambil melangkah mendekati Arga, yang hanya diangguki Arga.


Dokter berwajah teduh itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu duduk di sofa tunggal di seberang Arga. Matanya memindai tubuh Arga. Sebagai dokter, dirinya terbiasa memakai logika. Benar saja, jari-jari Arga terlihat lecet-lecet di sana sini.


"Kemarikan tanganmu." pinta Rizal yang sudah duduk di sebelah Arga, berniat mengobati luka-luka Arga.


"Tanganku ngga pa-pa, jangan kuatir." Arga menatap jari-jarinya lalu menatap Rizal sekilas.


Rizal semakin sewot saja melihat sikap Arga yang mengacuhkannya. Ditariknya tangan Arga dan menahannya ketika pria itu mencoba menarik kembali.


"Wes ta lah. Nurut ae po'o!" perintah Rizal mulai kesal yang dibalas dengusan oleh Arga. (Udahlah. Nurut aja sih!).


Meskipun tidak bisa berbicara dalam bahasa Jawa, Arga mengerti maksud perkataan dokter yang jadi sahabatnya itu. Dan meskipun tidak ingin jari-jarinya diobati tapi Arga menurut juga.


Rizal terkekeh ketika sesekali terdengar Arga mendesis menahan perih. Lecet di jari- jari tangannya memang agak parah.


"Untung aja kondisinya ngga parah. Tapi harus rongent untuk memastikan ngga ada yang retak. Kepalanya juga cuma benjol, kurasa ngga sampelah gegar otak." diagnosa Rizal atas kondisi Oom Aris, sedangkan Arga tampak tidak berminat mendengar diagnosanya.


"Dia mati juga aku ngga peduli!" sahut Arga ketus sambil memalingkan wajahnya.


Rizal hanya mendesah. Sepertinya sahabatnya itu sedang kesal setengah mati pada sang paman yang juga dikenalnya karena sama-sama tinggal di Surabaya dan beberapa kali bertemu. Dia tidak ingin bertanya apapun. Dia tidak ingin mencampuri urusan keluarga. Dia pikir yang terjadi saat itu adalah masalah keluarganya Arga.

__ADS_1


"Lukamu ngga bisa cuma dibilang lecet Ga. Cepet ganti sama perban baru kalau basah." nasehat Rizal sambil membalut jari-jari Arga.


Dokter berwajah teduh itu melihat jam tangannya, lalu pamit undur diri. Arga hanya menatap punggung Rizal.


"Sampe kapan kamu disini?" tanya Rizal ketika akan memutar handle pintu.


"Mungkin lusa aku balik." jawab Arga menatap dokter itu datar sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


"Kita belum hanging out bareng selama kamu disini." ujarnya.


"Kusesuaikan dulu, aku juga pengen cepet-cepet balik." balas Arga, Rizal mengendikkan bahu.


Tentu saja dirinya ingin secepatnya kembali. Membayangkan wajah wanita cantik bermata kelinci bernama Hania saja membuat hatinya menghangat dan merasa senang. Apalagi jika bertemu langsung. Seulas senyum terbit di bibir yang dianggap Hania seksi itu.


Rizal yang masih berdiri di depan pintu memperhatikan perubahan ekspresi yang kontras itu. Lalu menoleh pada Reza yang juga berdiri di sampingnya. Tatapannya seolah bertanya, ada apa dengan pria itu? Reza yang juga memiliki banyak pertanyaan seputar perubahan ekspresi dan mood atasannya itu belakangan ini hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Ga?" panggil Rizal tapi diacuhkan Arga sebab dirinya asik dengan pikirannya yang melayang membayangkan Hania.


"Yah, areke ngelamun, bayangno opo seh? Serius temen." keluh Rizal. (Yah, anaknya ngelamun, bayangin apa sih? Serius banget).


Diambilnya bolpoin di saku kemeja Reza lalu melemparkannya ke arah Arga. Bolpoin itu tepat sasaran bersarang di jidat mulusnya.


"Aww! ****!" umpat Arga.


"Kambing sialan! Kamu harus tanggung jawab kalo jidatku ini kenapa-napa. Ini tuh aset tau!" omel Arga.


Rizal berdecih lalu membuka pintu tapi sebelum melangkah keluar ruangan apartemen, dokter itu kembali membalik badannya.


"Besok hubungi aku kalo senggang, kita hangout di apartemenmu ngga pa-pa lah." pinta dokter karismatik itu kemudian benar-benar meninggalkan apartemen itu.


"Cih! Mana ada hangout di apartemen?" Arga terkekeh menanggapi celetukan sahabatnya itu.


Sepeninggal Rizal, Arga dan Reza mulai sibuk kembali mempersiapkan gugatannya terhadap sang paman. Sang pengacara yang datang jauh-jauh dari Jakarta pun sudah tiba. Dirinya tidak ingin menggunakan pengacara perusahaan cabangnya. Rasa tidak percayanya masih menggelayut di pikirannya.


Selama berdiskusi, Reza sesekali memantau keadaan sang paman. Ada terbersit rasa cemas. Kenapa belum sadarkan diri? Dirinya berharap semoga saja cederanya tidak parah. Bisa menghambat jalannya pemeriksaan nanti.


Jarum jam dinding di apartemen itu menunjukkan tepat angka 2 dinihari. Arga dan Reza kembali ke apartemen Arga, dan sang pengacara kembali ke hotel tempatnya menginap selama di kota pahlawan itu.


Malam ini Arga bisa merasa lega, pasalnya permasalahan di kantor cabangnya sudah menemukan sumber masalahnya. Tinggal menuntaskannya. Dan Arga menyerahkan sepenuhnya pada pengacara kepercayaannya.


Arga mendudukkan tubuh atletisnya di sebuah kursi kayu jati di balkon kamarnya. Ditatapnya langit berwarna kuning keemasan di ufuk timur. Matahari sebentar lagi terbit. Namun pemilik wajah tampan itu belum juga mengistirahatkan raganya. Matanya masih betah memicing.

__ADS_1


Entahlah. Perasaan leganya memenuhi rongga dadanya hingga dirinya kesulitan bernapas dengan baik. Antara lega karena berhasil menyelesaikan masalah, dan ingin secepatnya kembali ke Jakarta lalu menemui wanita bermata kelinci itu. Ah, Hania. Memikirkan wanita itu saja sudah membuat jantungnya berdetak kencang.


Sementara Arga sibuk dengan pikirannya tentang Hania, justru wanita cantik itu tengah terlelap sambil memeluk putri kecilnya. Sejak dijemput dari rumah Bayu dan Binar, Tiara terlihat lebih manja pada ibunya itu. Hania sampai kewalahan. Pasalnya, Tiara sama sekali tidak ingin jauh-jauh dari ibunya.


Gadis kecil itu tidak mengizinkan Hania memasak makan malam mereka hingga terpaksa delivery dari restorannya, tidak boleh melakukan aktifitas yang biasa dilakukannya sepulang dari restoran seperti mencuci pakaian, dan beres-beres rumah. Bahkan Hania tidak diizinkan mandi. Alhasil, jam 10 malam Hania baru bisa melakukan pekerjaan ini itu dan membersihkan dirinya ketika Tiara sudah tertidur pulas.


Besok dia akan bertanya pada Tiara tentang sikapnya yang tiba-tiba manja itu. Tepat jam 1 dinihari dirinya menyusul putri kecilnya yang tertidur di kamarnya.


Keesokan paginya, Hania bangun kesiangan. Putri kecilnya itu merengek minta ditemani ke kebun binatang. Padahal, Hania sudah membayangkan akan beriatirahat di rumah saja. Tubuhnya terasa letih sekali. Tapi sepertinya tidak akan terwujud. Diliriknya jam waker di atas nakas. Jam 9. Dengan langkah gontai, Hania berjalan ke kamar mandi. Membasuh muka dan menggosok gigi. Lalu ke dapur menyiapkan sarapan untuknya dan putrinya.


Di sofa panjang, Tiara sudah duduk dengan manis ditemani film kartun doraemon kesukaanya. Sudah rapi dan wangi. Niat sekali sepertinya. Di depannya terdapat kotak minuman jus jambu yang sudah habis isinya dan sebungkus snack kentang kesukaannya.


"Tiara, pagi-pagi kok udah ngemil sih?", tegur Hania yang dibalas cengiran Tiara.


Hanya mendapat cengiran, Hania pun bergegas ke dapur secepatnya membuat sarapan bergizi untuk putrinya.


"Sayang Mama, tadi malam kenapa kok tiba-tiba manja banget sama Mama?" tanya Hania ketika tengah menikmati sarapan mereka.


"Kangen aja." jawab Tiara.


"Ah, masak sih? Biasanya juga Tiara seharian ngga ketemu mama, malamnya baru ketemu." pancing Hania.


Tiara terdiam sejenak, dirinya seperti sedang berpikir. Menundukkan wajahnya sambil mengaduk aduk nasi gorengnya.


"Anak Mama kenapa sih?" tanya Hania penasaran.


"Ma, Mama ngga bakal ninggalin Tiara kan nanti?" Tiara membuka suaranya yang terdengar sendu.


Hania mengernyitkan dahinya. Feelingnya sebagai seorang ibu mengatakan pasti telah terjadi sesuatu pada putrinya itu.


"Ninggalin gimana nih maksudnya sayang?" korek Hania.


"Ngg... Mama tau kan Bela? Dia kan juga ngga punya Papa kayak aku. Nah sekarang tuh udah punya Papa baru. Dia disuruh tinggal sama Omanya Ma karena Papa barunya ngga suka sama Bela." deg, Hania sudah pusing mendengar cerita Tiara, kok bisa bisanya hal seperti ini jadi konsumsi anak-anak.


"Tiara ngga mau nanti Mama ninggalin aku ka kalau kete ketemu sama Papa baru.... Huaaaa!" hati Hania mencelos, lalu dipeluknya putrinya yang sudah banjir air mata itu.


"Tiara Sayang, kamu itu anak berharganya Mama. Belahan hati Mama. Mama sayaaang banget sama Tiara. Jadi, ngga mungkin dong Mama ninggalin Tiara." hibur Hania.


Hania merasakan kesedihan putrinya itu. Selama ini terbiasa hidup berdua dengannya tanpa mengenal ayahnya. Satu-satunya pria yang hadir dan dikenalnya dekat hanyalah Galih. Kini Galih berada di kota lain. Apakah putrinya itu berpikir dirinya akan memiliki pasangan baru?


********

__ADS_1


Dukung karyaku terus ya... Dengan like, favorit, dan vote 😊😊😊


__ADS_2